//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Renungan, Review

Mengatasi Ledakan Emosi Anak

Oleh: Daniel Sember
(Disarikan dari Makalah Bang Adriano Rusfi atau Bang Aad)

Dunia dewasa ini sedang mengalami suatu krisis dalam mengasuh anak. Setiap hari, semakin banyak terdengar laporan tentang anak kecil dan remaja yang disiksa, tidak dihargai, tentang gangguan karena kurang mendapat perhatian, anak melarikan diri dari rumah, kehamilan remaja, perkelahian anak-anak dan remaja, dan kasus bunuh diri anak. Hampir semua orangtua zaman sekarang mempertanyakan mengenai cara mengasuh anak yang efektif. Kelihatannya tidak ada metode yang efektif yang bisa dipakai lagi, dan masalah anak-anak kita semakin banyak dan kompleks. Anak-anak semakin sulit diatur dan dikendalikan, bersikap memberontak dan mau menang sendiri, semakin liar, dan berbagai macam bentuk “ledakan emosi” anak lainnya mewarnai kehidupan keluarga modern.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa anak-anak kita menjadi sulit untuk mengendalikan diri atau emosinya? Bukankah emosi itu penting artinya bagi manusia? Emosi adalah sumber daya terkuat yang kita miliki. Emosi memberitahu kita tentang hal-hal terpenting untuk manusia – masyarakat, nilai-nilai, kegiatan dan kebutuhan yang memberi kita motivasi, kemauan, pengendalian diri, dan kegigihan (daya juang). Kesadaran dan pengetahuan tentang emosi memungkinkan kita memulihkan kehidupan dan kesehatan, menyelamatkan keluarga, membangun hubungan cinta kasih yang berkelanjutan, dan sukses dalam karier/ pekerjaan.

Davies dan rekan–rekan (1998) menjelaskan bahwa inteligensi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan yang lainnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun proses berpikir serta perilaku seseorang.

Sedangkan catatan akhir Goleman (1995) menunjukkan bahwa inteligensi emosi sesungguhnya lebih merupakan ketrampilan (skill) daripada potensi seperti dalam konsep inteligensi pada umumnya, dan ketrampilan ini harus diajarkan oleh masyarakat tempat individu (anak) yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Jadi, emosi merupakan hasil dari proses belajar dan latihan yang bersifat terus menerus, serta berkesinambungan.

Rumah (keluarga) merupakan tempat pertama kali anak berinteraksi dan mengenal lingkungan sosial, dan karena itu keluarga juga merupakan tempat pertama kali anak belajar mengenal emosi. Sebagian besar anak yang mengalami masalah dalam perilaku adalah berhubungan sangat erat dengan; kualitas hubungan anak dengan orang yang mempunyai peran penting dalam hidupnya, yaitu orangtua.

Tanggung jawab Pengasuhan Anak

Setidaknya ada empat alasan yang mendasari orangtua bertanggung jawab mengasuh dan mendidik anak-anak mereka: Pertama, Anak itu dilahirkan. Anak-anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Orangtualah yang menginginkan anak-anak. Andaikata anak-anak memiliki kebebasan untuk memilih, maka mereka tentu saja akan memilih dilahirkan oleh orangtua dengan kualitas yang hebat-hebat. Maka menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk memastikan bahwa anak-anak tumbuh dalam bimbingan yang tepat, nyaman, dan memiliki kebebasan untuk berkembang. Kedua, Orangtua dan anak tidak mempunyai hak yang sama di segala bidang. Ketergantungan anak secara alami pada orangtua dalam hal rasa aman, dukungan, kasih sayang, perhatian, dan pendidikan memberi orangtua rasa tanggung jawab alami dan otoritas secara luas dalam kehidupan anak. Ketiga, Waktu pengasuhan anak-anak sangatlah terbatas. Tidak selamanya orangtua harus mengasuh, membimbing, dan mendampingi anak-anak mereka. Pada waktunya anak-anak harus mandiri dan mampu mengurusi diri mereka sendiri. Untuk itu, maka orangtua perlu fokus/konsentrasi dan memikirkan secara tepat cara pengasuhan anak-anak mereka, terutama di masa sepuluh tahun awal. Karena pada masa ini anak-anak lebih mudah untuk dikendalikan. Keempat, Kalau orangtua membuat kesalahan dalam membesarkan anak-anak, itu terjadi bukan karena mereka tidak mengasihi anak-anak mereka, tetapi karena mereka tidak tahu ada cara yang lebih baik. Jadi, orangtua tidak perlu menyalahkan diri sendiri.

Kasih Sayang Saja Tidaklah Cukup

Penemuan para ahli psikologi membuat kita semakin menyadari besarnya pengaruh masa anak-anak bagi keberhasilan dalam kehidupan seseorang. Baik kemampuan untuk menciptakan keberhasilan lahiriah maupun kemampuan untuk berbahagia dan merasa puas sangat dipengaruhi oleh keadaan dan lingkungan masa anak-anak. Bagian paling penting dalam tugas mengasuh anak adalah mencurahkan kasih sayang dan mencurahkan waktu dan energi untuk mendukung anak. Kasih sayang merupakan persyaratan paling utama, tetapi kasih sayang saja tidaklah cukup. Kalau orangtua tidak memahami kebutuhan-kebutuhan unik anak-anaknya, mereka tidak mungkin memberikan apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Orangtua mungkin saja mencurahkan kasih sayangnya, tetapi belum tentu dengan cara yang paling berguna bagi perkembangan anak-anak.

Sebaliknya, beberapa orangtua sebenarnya “bersedia” melewatkan lebih banyak waktu dengan anak-anak, tetapi tidak melakukannya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan atau karena anak-anak menolak usaha mereka. Demikianlah, banyak orangtua mencoba berbicara dengan anak-anak, tetapi anak-anak tidak tanggap dan diam saja. Orangtua ini bersedia tetapi tidak tahu bagaimana mengajak anak-anak berbicara.

Beberapa orangtua tidak mau meneriaki, memukul, atau menghukum anak-anak mereka, tetapi mereka tidak tahu cara lain. Karena usaha untuk berbicara dengan anak-anak tidak berhasil, satu-satunya cara yang mereka kenal hanyalah menghukum atau mengancam untuk menghukum. Padahal, anak-anak yang dirangsang terlalu banyak oleh agresi atau ancaman hukuman di rumah, terciptalah sifat hiperaktif pada anak laki-laki. Pada anak perempuan, kecenderungan agresif diwujudkan terhadap diri sendiri berupa perasaan kurang harga diri dan gangguan pola makan.

Sikap pemberontakan atau penolakkan anak terhadap bimbingan orangtua lebih dikarenakan anak-anak mempunyai kemauan, keinginan dan kebutuhan lain dan mereka beranggapan bahwa kalau saja orangtua mengerti mereka pasti mau mendukung kemauan, keinginan atau kebutuhannya itu. Tetapi orangtua cenderung mengabaikan kebutuhan mereka itu. Orangtua tidak memiliki waktu dan kurang bersedia untuk berdialog dan mendengarkan keluh kesah anak-anak. Bahkan, sebagian besar orangtua justru menyediakan berbagai fasilitas sebagai pengganti perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak mereka, yang mana hal itu justru dapat berdampak buruk apabila fasilitas itu disalah gunakan. Jadilah anak-anak semakin sulit untuk dikendalikan. Mereka lebih taat dan mudah dikendalikan oleh gedget, handphone, game, play station, televisi, internet, dll, ketimbang tunduk pada orangtua.

Jika saja orangtua menyadari prinsip menjadi orangtua, maka seyogyanya sikap pemberontakan anak-anak dapat diminimalisir dan anak-anak menjadi mudah untuk dikendalikan. Anak-anak itu sendiri terlahir suci. Mereka bagaikan kertas putih yang siap untuk ditulis, digambar, dan diwarnai oleh orangtua dan lingkungannya. Meskipun anak-anak juga membawa kecenderungan tertentu dari lahirnya, namun lingkungan memainkan peranan yang sangat penting. Selain itu, Tuhan itu hidup, berdiri dan mengurusi mahlukNYA. Hidup ini selalu berpihak pada kebenaran. Anak itu kuat, suci, berdaya dan tangguh, serta terlahir sebagai manusia terbaik untuk zamannya. Dan tentu saja, setiap orangtua dikaruniai sifat menjadi orangtua.

Tips menjadi Orangtua Bijak!

Guna meminimalisir sikap pemberontakan anak dan memudahkan orangtua mengendalikan emosi anak, maka beberapa hal berikut ini perlu dipertimbangakan:
– Orangtua selalu mengasah diri untuk menjadi sumber perhatian, cinta dan kasih sayang bagi anak-anaknya.
– Orangtua perlu membangun rasa sensitivitas dan kepekaan pada diri untuk bisa lebih responsif atau tanggap terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri anak-anaknya.
– Tetaplah bersikap sabar, fokus dan tenang, jangan terpengaruh oleh situasi dan tingkah laku negatif anak-anak.
– Belajar untuk mengambil tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri anak-anak.
– Tetaplah berpikir rasional, dan jangan terbawa oleh situasi emosinal diri sendiri.
– Kembangkan wawasan mengenai tumbuh kembang anak.
– Melatih diri sendiri secara terus menerus untuk lebih kreatif dalam menyikapi anak-anak.
– Selalu berpikiran positif pada saat menghadapi anak.
– Bersikaplah konsisten agar anak mudah mengingat dan meniru.
– Tanamkan kepercayaan pada diri anak bahwa mereka mampu dan bisa. Jangan ada sedikitpun keraguan pada diri orangtua bahwa anak-anak tidak mampu.
– Ajari dan bimbinglah anak. Bukan menuntut bahwa mereka sudah harus bisa melakukan apa yang diinginkan oleh orangtua.
– Tanamkanlah motivasi dalam diri anak dengan cara memperlihatkan kepada mereka bahwa aktivitas yang mereka lakukan bermanfaat untuk mereka sendiri, bukan untuk orangtua atau orang lain.
– Jangan tergoda untuk membantu anak karena faktor ‘belas kasihan dan tidak tega’.
– Salurkan keinginan mereka. Jangan melarang apa yang menjadi keinginan mereka.
– Orangtua jangan mempertentangkan atau memperdebatkan mengenai anak di depan anak.
– Bersikaplah terus terang. Jangan mendikte, memanipulasi dan menggurui anak.

Dengan demikian Anda akan menjadi orangtua yang disukai dan dicari oleh anak-anak Anda.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: