//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

#‎Berpendidikan‬ tapi Rusak, Why…?#

 

“Ketika ilmu sudah rusak, rusak pula hasil pemikiran dan perilaku orang yang memilikinya.”
Demikian peringatan Ustadz Hamid Fahmi Zarkasyi. Putra ke-9 dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, itu menyatakan, semua persoalan yang dihadapi ummat Islam, bangsa Indonesia, dan dunia sekarang ini bersumber dari satu hal, yaitu kemungkaran ilmu.

Ketika seseorang menuntut ilmu, namun justru menjauhkannya dari Allah dan membuatnya menjadi buruk; buruk imannya, buruk aqidahnya, buruk ibadahnya, buruk pemikirannya, buruk amalnya, buruk mu’amalahnya, itu artinya dia belum tercerahkan oleh ilmunya, tidak bertambah hidayahnya, atau bahkan ada yang salah pada ilmunya.

Kesalahan ilmu terletak pada apa orientasi dia menuntut ilmu, pada siapa dia menuntut ilmu, di mana dia menuntut ilmu, bagaimana proses dia menuntut ilmu, dan bagaimana cara memanfaatkannya. Konsekuensinya adalah kebaikan bahkan kerusakan bagi penuntutnya.

Mari kita melihat sejenak pada fenomena sisi gelap dunia pendidikan kita. baru2 ini yuyun, siswi Sekolah Menengah Pertama 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan 14 tersangka pada 2 April 2016. ironisnya ke 14 tersangka tersebut merupakan anak2 abg seumuran 17 hingga 20 tahun, sebelum melakukan pemerkosaan dan pembunuhan, para tersangka ternyata terlebih dahulu menenggak minuman keras berjenis tuak. mereka juga suka menonton vidio porno. (tempo.co 7 mey 2016)

Fenomena lain di Di Surabaya, pernah ada anak kelas 3 SMP berumur 15 tahun, jadi mucikari. Ia “menjual” 10 remaja putri seusianya sebagai “ayam putih-biru”. Jaringan pelacuran belia ini terungkap bermula dari penggrebekan di Hotel Fortuna Surabaya, 8 Juni 2013.

Di Bogor, seorang mahasiswa menjalankan bisnis prostitusi via internet sejak Desember 2012. Ia menjajakan “ayam putih-abu”alias ABG usia SMA. HFIH (24), mahasiswa germo itu, ditangkap aparat Polda Jawa Barat di Hotel Papaho di jalan Pajajaran, Bogor, 8 Februari 2013. Bersamanya juga digaruk tiga orang gadis, yakni M (17), M (16), dan D (18).

Maraknya bisnis pelacuran di kalangan pelajar dan mahasiswa, sejalan dengan semakin meluasnya aksi porno-selfie di kalangan terdidik. LSM “Jangan Bugil di Depan Kamera”, pernah melansir bahwa di internet sudah beredar lebih dari 500 vidio porno asli Indonesia. Dan, pelakunya mayoritas (90%) adalah pelajar dan mahasiswa. Kini, jumlah vidio made in Indonesia diperkirakan lebih dari 800 film

Fenomena tersebut berjalinkelindan dengan catatan hitam lainnya, seperti statistik narkoba. Hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2013 menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7 (921.695 orang) persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa.

DKI Jakarta masih menduduki peringkat pertama dalam kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Kepala BNN Provinsi DKI, Ali Johardi, mengatakan, dalam tahun 2013 angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di lingkungan pendidikan, mulai tingkat SLTP, SMU hingga perguruan tinggi sebesar 4,7 persen.
“Terindikasi bahwa jumlah tersangka kejahatan pada usia pelajar dan mahasiswa usia 12 hingga 24 tahun sebanyak 40.690 orang, dan 21,5 persennya tersangka narkoba,” ujar Brigjen Ali Johardi kepada wartawan, amis (8/1/2014).
Daftar catatan hitam kalangan terpelajar diperpanjang dengan budaya merokok, tawuran, dan geng motor berandalan.

Jumlah pecandu rokok di kalangan pelajar, setiap tahun naik terus. Hingga 2013,tak kurang dari 43 juta anak dan remaja terpapar rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. Di Jakarta misalnya 1 dari 5 pelajar adalah perokok aktif. Kecanduan rokok bahkan sudah merasuki anak-anak SD dengan angka perokok yang kian mengerikan. Sebab kata pakar terapi narkoba DR Fardinand Rabain dari Interzone Treatment Center Jakarta, “merokok adalah gerbang menuju kecanduan narkoba.”

Menurut data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), tawuran pelajar terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, mengungkapkan, dalam semester pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar. Meningkat dari jumlah tahun lalu dalam periode yang sama.

Dalam catatan Indonesia Police Watch (IPW), geng motor di Jakarta menewaskan sekitar 60 orang per tahun. “Tahun 2009 ada 68 orang tewas di arena balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun pengeroyokan. Tahun 2010 ada 62 orang tewas, tahun 2011 ada 65 tewas,” beber ketua Presidium IPW Neta S. Pane dalam siaran persnya, 15 April 2012.

IPW juga menunjukkan 80 lokasi aksi geng motor di sekujur Jakarta dan sekitarnya. Padahal, tahun sebelumnya hanya sekitar 20 titik. Misalnya di Jakarta Barat 6 titik, Utara 6 titik, Timur 11 titik, Selatan 14 titik, dan Jakarta Pusat 7 titik. Geng motor juga menguasai Bekasi di 9 titik, Depok 6 titik, dan Tangerang 21 titik.

Terungkapnya geng motor Klewang di Riau tahun 2013, menguak kehidupan kelompok motor usia SMP dan SMA yang akrab dengan kekerasan, seks bebas, dan narkoba.

Yang tidak kalah menghawatirkan lagi adalah ketika pola pikir, sikap, dan tingkah laku generasi terpelajar sekarang sudah banyak tercemar dan terpengaruhi oleh kebudayaan asing yang berasal dari peradaban Barat. Kebudayaan tersebut bersifat memaksa seolah-olah merupakan kebudayaan dan pola hidup yang terbaik untuk ummat manusia, sehingga dapat diadopsi dan diterapkan dimana saja, oleh siapa saja. Tidak ada lagi perbedaan agama, ataupun budaya lokal karena dianggap sebagai penyekat dan penghambat kemajuan. Seolah-olah ingin mengatakan “jika ingin maju ikuti Barat”. Ungkapan tersebut tentu menyesatkan dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Semua lini kehidupan, kini susah untuk dihindari dari pengaruh dominasi Peradaban Barat yang membudaya dan mendarah daging pada kehidupan masyarakat pada umumnya. Mulai dari makanan, hiburan, mode pakaian, hingga mode rambut bahkan pemikiran. Contoh gaya rambut misalnya, dalam hidungan menit saja, gaya rambut artis yang berada di Amerika sudah ada yang menirunya oleh pemuda Indonesia. Hal tersebut pada akhirnya membuat sebagian pemuda-pemuda generasi harapan justru menjauhkan diri dari nilai-nilai Islami karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Kebanyakan orientasi hidup kini sebatas pada kehidupan di dunia, tidak lagi apa yang ada setelah kehidupan dunia.

Kini doktrin yang menjadikan dunia sebagai tujuan, sudah tersebar luas di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Murid-murid di lembaga pendidikan luar pesantren pada umumnya (kecuali yang tidak) sudah ikut terpengaruh. Pola pikir, sikap, dan tinggah laku mereka kini tidak lagi mencerminkan seorang Muslim haqīqi (sejati). Terjadi dikotomi dalam membelajaran Umum dan Agama, bahkan materi Agama hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Bagi mereka ilmu adalah untuk ilmu, bahayanya lagi jika belajar adalah untuk nilai, atau sekedar untuk ijazah.

Beberapa fenomena sisi gelap dunia pendidikan di atas mengajak kita untuk berpikir dan berintrospeksi diri, “apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?”, “apa yang salah pada keilmuan generasi bangsa kita?” padahal nilai ujian mereka bagus, padahal mereka selalu prestasi di kelas, padahal mereka punya etos kerja yang tinggi, padahal mereka bisa diterima di sekolah dan perguruan tinggi favorit, padahal mereka sudah bisa mencari uang sendiri, dst….dst.

Mari sekarang kita bertanya kembali pada diri kita, apakah kita melupakan sesuatu? Apakah kita lupa bahwa ilmu bersumber dari Sang Maha tahu, Sang Pemberi cahaya, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya

Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.
Sudahkah kita mengajarkan kepada generasi kita tentang aqidah dan keimanan yang benar?, sudahkah kita menanamkan kepada mereka keyakinan bahwa ibadah adalah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Sudahkah kita mengerti bahwa yang kita butuhkan sebagai orangtua atau pendidik adalah anak yang sholeh/ah, bukan anak yang sekedar dianggap kaya, pintar, atau terkenal.

 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

One thought on “#‎Berpendidikan‬ tapi Rusak, Why…?#

  1. ilmu yang lepasi dari Tuhan, yang tak berkaitan dengan nilai keruhanian atau spiritualisme, sekuler…. seperti Indonesia para ekonom mengekor IMF dan WB maka menggungglah hutang2 luar negeri….

    Posted by boykolot | May 30, 2016, 10:29 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: