//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Fitrah Kompetensi dan Kompentensi Bawan

Adriano Rusfi

Pagi ini sebuah workshop hampir berakhir. Telah tiba saatnya peserta harus mempresentasikan karya-karyanya. Saya menanti saat presentasi ini dengan harap-harap cemas. Saya memang khawatir peserta akhirnya gagal menunjukkan bahwa mereka telah kompeten. Maklumlah, jangankan workshop yang berdurasi dua hari ini, sekian banyak workshop sebelumnya hanya berakhir dengan keluarnya kalimat menyerah : “Kami nggak mampu, Pak Aad…”

Kemarin, seharian saya hanya membekali mereka dengan motivasi agar mereka lebih percaya diri, agar lebih “sok tahu”, agar berani lebih “nekad” dan “tak tahu malu”. Tak ada lagi kompetensi baru yang saya ajarkan. Tak ada lagi pengalaman baru yang saya bagikan. Ini adalah saatnya untuk performing, karena masa forming telah terlalu panjang dilewati. Ini adalah saatnya untuk ambil keputusan, lalu bertawakkal : apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.

Namun, alhamdulillah, segalanya berakhir bahagia : happy ending. Mereka tampil memukau. Tampak urat-urat nekad melintang di kening mereka, tapi begitu mempesona. Mereka telah mengeluarkan fitrah mereka yang sebenarnya, bahwa sebenarnya mereka sungguh-sungguh mampu. Ini memang kesempatan terakhir untuk mereka unjuk diri, karena resikonya jika gagal tak main-main : mereka akan berhenti sebagai kepala sekolah. Lalu, sebuah sunnatullah membuktikan dirinya : bahwa dalam situasi kepepet manusia akan menunjukkan kualitasnya.

Sungguh, peristiwa pagi ini semakin meyakinkan saya akan sebuah fitrah manusia : kompeten !!! Betul, manusia itu makhluk kompeten. Bahkan sejumlah kompetensi itu bawaan sifatnya, dari “sono”nya, ketika Allah meniupkan ruhNya kepada manusia. Sejumlah training boleh jadi bukan untuk membentuk kompetensi pada diri manusia (outside-in), tapi untuk menstimulasi dan mengaktivasi kompetensi yang telah tertanam pada diri manusia (inside-out).

Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun silam, saat menyelenggarakan Sekolah Berpikir yang saya namakan SOCRATES : School of Creative Thinking for Effective Solution. Apa yang saya ajarkan ? Keterampilan dan kompetensi berpikir ? Sama sekali tidak, karena saya sendiri juga tak pernah diajarkan caranya berpikir. Yang saya ajarkan Cuma satu : kalian sebenarnya mampu berpikir. Sesi-sesi berpikir itu penuh dengan motivasi demi motivasi. Agar mereka tahu bahwa mereka mampu, agar mereka percaya diri bahwa mereka mampu. Hanya sesekali saya menyelipkan beberapa teori berpikir, atau “tips and tricks” keterampilan berpikir.

Dan terbukti mereka mampu, mereka kompeten. Karena berpikir sejatinya adalah kompetensi bawaan yang hanya butuh aktivasi. Saya mencoba mengaktivasinya dengan menyentuh emosi terdalam mereka, dan menghadapkan mereka pada situasi-situasi kepepet yang memaksa mereka untuk berpikir. Lalu sayapun takjub akan kemampuan mereka.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: