//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #70

Harry Santosa Millenial Learrning Center

Seorang Ibu bercerita bahwa dia telah meninggalkan wasiat untuk tiap anak anaknya. Tentu saja wasiat yang dimaksud bukan daftar hutang atau pembagian warisan, tetapi berisi bait bait doa dan harapan serta pesan yang ditulis dengan sangat puitis, indah dan menggetarkan jiwa yang membacanya.

Dia ingin anak anaknya selalu mengenangnya dan terkenang dengan pesan pesan kerennya dalam wasiat yang dituliskan pada sebuah buku unik yang ada gemboknya. Pokoknya sangat mengharukan dan nampak sangat “keramat”.

Dalam buku wasiat yang keramat itu sang ibu diantaranya menulis harapannya agar anaknya kelak secemerlang Muadz bin Jabal ra ketika berdakwah, secakap Mushab bin Umair ra ketika menjadi duta, sepiawai dan sedermawan Abdurrahman bin Auf ra ketika berbisnis, sehebat dan segigih Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan, dstnya.

Sampai disini barangkali kita merasa idea membuat wasiat seperti itu sangat inspiratif dan ingin menirunya. Sepakat. Namun, mari kita renungkan perlahan, apakah doa dan harapan ibu itu tidak berlebihan dan menyalahi fitrah?

Bayangkan, apakah mungkin keistimewaan dari empat orang atau lebih Sahabat Nabi SAW, dikumpulkan dalam diri satu orang sekaligus?
Sulit membayangkan jika kita menjadi anaknya, betapa beban berat yang dipikulkan oleh obsesi doa sang Ibu, agar menjadi empat orang sahabat Nabi SAW sekaligus.

Memang ibu ini amat berharap semua anaknya menjadi Ulama Besar. Bukankah menjadi ulama bukan hanya dibutuhkan akhlak, skill dan pengetahuan, tetapi juga sifat bakat seorang ulama?

Barangkali kita terlalu bersemangat ingin melahirkan kembali generasi Islam pertama yang unik sehingga kadang doa dan harapan kita menjadi lebay obsesif.

Kita lupa merenungi sirah secara mendalam, bahwa misalnya Nabi SAW tidak pernah menyuruh Mushab bin Umair ra yang berbakat ambassador atau Abdurrahman bin Auf ra yang berbakat bisnis, untuk menjadi panglima perang sekelas Khalid bin Walid yang memang sangat berbakat menjadi panglima perang.

Begitupula sebaliknya, Khalid bin Walid ra, tidak pernah ditunjuk menjadi duta atau mencari dana dakwah, karena memang bukan bakatnya. Seseorang yang menjalani tugas tidak sesuai dengan bakatnya, akan tidak optimal hasilnya.

Mustahil Rasulullah SAW tidak memahami bakat para sahabatnya masing masing, karena sejarah mencatat dengan jelas dan rapih bahwa penugasan tertentu secara konsisten selalu diberikan kepada sahabat tertentu.

Apakah kita lebih hebat dari Rasulullah SAW sehingga berdoa dan berharap anak anak kita bisa memiliki bakat dan kemampuan beberapa orang Sahabat Nabi sekaligus?

Rupanya begitulah pengalaman kita selama menjalani persekolahan, bahwa kehebatan adalah bila menguasai segala hal. Mindset demikian tertanam kuat sulit dihilangkan dalam benak kita.

Walau kita bicara platform Islam, platform alQuran dll tetap saja semua dikonstruksikan atas mindset dan landscape schooling: yang hebat adalah yang paling bisa dan tahu semuanya.

Korbannya ya anak anak kita. Mereka akhirnya tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Dunia pendidikan kini sudah mengkoreksi pandangan itu. Justru jika berharap anak kita bisa menjadi segalanya maka mereka tidak akan pernah menjadi apapun.

Bayangkan jika ada hewan yang berdoa agar dirinya menjadi secepat kuda, selincah ikan, sekuat gajah, seganas harimau, dstnya, maka akan kita jumpai hewan aneh berkaki kuda, berbuntut ikan, berkepala gajah, berbadan singa dstnya. Dengan semua kombinasi itu yang terjadi bukanlah kehebatan tetapi keanehan yang mengerikan.

Sesungguhnya bukan kita yang menciptakan anak anak kita, kita tidak pernah tahu mereka akan menjalani peran apa ketika dewasa kelak.

Tugas kita hanyalah menemani membangkitkan peran itu sesuai keunikannya masing masing dan menyempurnakan akhlaknya agar peran itu menjadi manfaat dan menebar rahmat.

Maka syukur dan yakinlah pada fitrah anak anak kita. Tiada seorang manusiapun yang lahir tanpa peran yang digariskan Allah SWT. Bantu dan temani saja anak anak kita dengan shabar, optimis dan rileks dalam menjalani fitrahnya, maka mereka kelak akan mencapai peran peradabannya sebagaimana maksud Allah SWT menciptakannya.

Sesungguhnya setiap manusia telah memiliki Syakilahnya atau jalan panggilan hidupnya masing masing. Maka doakanlah anak anak kita agar sempurna menjalaninya sehingga Allah ridha dan merekapun ridha.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: