//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Perubahan

Can You Change The World by Changing Your Underwear ?

Jusman Syafii Djamal

Dapatkah kita merubah dunia, dengan mengganti pakaian dalam ? Pertanyaan aneh dan gila ini lahir di kelas MBA at the University of California at Berkeley, pada satu saat dimasa lalu. Yang bertanya seorang anak muda bernama Jeff Denby. Meski ia berkantong cekak tetapi fikiran dalam kepalanya terus berputar.

Ia percaya bahwa dalam dunia yang seolah mata duitan ini, atau money talk , ternyata masih ada ruang tersisa untuk ditekuni oleh generasi muda yakni belajar memiliki tujuan, tekad yang membara dan mata air ide inovatip. “Passion, purpose and provocative idea to be innovative”.

Ia percaya bahwa membangun innovation driven world jauh lebih penting daripada “wealth driven” .
Ketika ia belajar di MBA , hasil studi dan riset yang ia lakukan memperlihatkan bahwa “underwear business”, is a billion dollar enterprises. Pada saat itu ia amati hanya ada dua perusahaan besar yang fokus pada industri pembuatan celana dalam ini.

Yang satu fokus pada “low cost underwear”, yang satu lagi pada “taylor made underwear”. Bersama dengan temannya bernama John Kibbey yang juga sama kuliah di California Berkeley, ia mendirikan perusahaan bernama PACT.

Filsafat bisnisnya mulai dari tekadnya untuk menempatkan pakaian dalam sebagai ikon budaya.
Ia ingin pakaian dalam jadi pusat perhatian untuk tumbuhkan kesadaran akan arti kesehatan, kebersihan dan penghargaan pada green society.

Ia mulai dgn upaya untuk menemukan sumber “raw materials” organik yang berkualitas tinggi”.
Ia melakukan riset dan menghabiskan hampir seribu manhour untuk meneliti semua mata rantai pasokan bahan dasar pakaian dalam yang terbuat dari serat alam yg ingin diproduksinya.

Pada akhirnya ia bertemu dengan “supplier” dari Turki yang memiliki keahlian dan kompetensi memproduksi bahan pakaian dalam terbuat dari kapas ditenun dari serat jadi katun dan bersertifikat organik.
Perusahaan pemasok yg jadi mata rantai petani dan alat pemintal memperlakukan pekerjanya dengan baik.
Dan yang lebih utama tata cara mereka memproduksi memenuhi standard etika yang dimiliki dan ingin dikembangkan oleh Jeff Denby.

Agar pakaian dalam yang dihasilkan tidak dianggap sebagai produk yang tidak penting.
Bagi Jeff meski pakaian dalam tak terlihat akan tetapi ia ingin tiap pelanggannya menghargai celana dalam, seperti superman yang tidak malu memakai nya diluar pantalonnya.
Sebab kesehatan semua orang sangat tergantung pada kebersihan dan kualitas dari baju dalam yang dipakainya.

Filsafat perusahaan yang kurang lazim ketika itu menarik perhatian seorang “designer” Yves Behar. Ia bersedia menanamkan investasi dan menjadi perancang underwear yang diproduksi perusahaan “start up” ini.
Behar adalah designer ternama. New York Times menyebut Behar :”has helped create some of the most memorable design of recent years”. Behar pernah bekerja di Herman Miller, BMW dan GE sebagai designer. Ia pernah merancang program “charity” One Laptop per Child.

Dan kemudian Behar bersama tim perancangnya bersedia membantu Jeff Denby dan John Kibbey untuk mendapatkan rancangan “underwear” yang fashionable dan disenangi semua orang. Baik generasi muda maupun orang tua.

Melalui filsafat bisnisnya Jeff Denby mengedepankan “small medium enterprises” dalam mata rantai pasokannya.

Tidak seperti perusahaan multi national lainnya ia mengembangkan model business yang lebih ramping dan bermakna. Lean and Mean. Kecepatan perubahan “design” menjadi ukuran untuk lebih lincah meneuhi selera pelanggan.

Seperti arloji “swatch” mereka sering merubah design. Setiap enam minggu lahir design baru. Akibatnya perusahaan China yang ingin meniru dan memfoto copy serta mengikuti jejaknya juga kewalahan.
Dengan “Speed and Agility” mereka membangun benteng pertahanan dalam menghadapi agresivitas kompetitor nya yang ingin menelan pangsa pasar mereka.

Filsafat bisnis mereka dijalankan diatas rumus sederhana : Purpose = People + Planet + Price. Tujuan utama adalah Mengharmonikan tingkat kebutuhan Manusia dengan batas kemampuan bumi untuk memenuhinya dan membayar apa yang diperlukannya.

Lahirlah “underwear” yang dirancang dari bahan dasar kapas organik, memanfaatkan green technology dan menyisihkan 2% keuntungan setiap tahunnya untuk CSR mengembangkan petani kapas dan small medium enterprises yang menjadi mata rantai pasokannya.

Itu kurang lebih bacaan saya pagi ini berjudul :”Wicked Problem , Wiki Solutions” yang ada dalam buku karya Vijay V Vaitheeswaran berjudul “Need, Speed and Greed”, copyright 2012.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: