//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Review

Apakah Membaca dan Menulis Dapat Diajarkan di Sekolah?

Hernowo Hasim
May 5, 2016

Saya baru saja membaca buku terbaru Ustaz Jalal (Jalaluddin Rakhmat), Afkar Penghantar: Sekumpulan Pengantar (Penerbit Nuansa, April 2016). Buku ini berformat besar dan memiliki ketebalan hampir 600 halaman. Berisi sekitar 60-an pengantar yang telah dibuat oleh Ustaz Jalal untuk beragam buku karya orang lain. “Betapa kaya pemikiran Ustaz Jalal dalam buku ini,” batin saya. Ia bagaikan mozaik warna-warni yang indah yang dengan kukuh dan tertata menempel di dinding kehidupan seorang manusia yang dikenal sangat tekun dan gemar membaca.

Ketika saya mulai mencicipi buku Afkar Penghantar ini, saya menemukan sebuah pengantar menarik untuk sebuah buku yang membahas tentang bagaimana belajar bahasa Inggris. Judul pengantar Ustaz Jalal adalah “Sekilas tentang Otak dan Belajar Bahasa Inggris”. Di pengantar ini saya menemukan pengalaman Ustaz Jalal ketika dahulu menjadi “guru” bahasa Inggris. Mula-mula Ustaz Jalal bercerita tentang cara belajar alamiah diri kita ketika kemudian kita dapat berbahasa Indonesia.

Ketika kita belajar bahasa Indonesia, kita tidak belajar terlebih dahulu persoalan tatabahasa. “Bahasa dibentuk karena pelaziman. Kita mempelajari bahasa-ibu tanpa mempelajari tatabahasa. Sebelum lahir, kita tidak mendapat kursus tatabahasa Indonesia. Kita baru tahu tatabahasa Indonesia setelah mampu menggunakan bahasa Indonesia,” tulis Ustaz Jalal di halaman 44. Jadi, bagaimana sesungguhnya cara kita belajar bahasa Indonesia?

Mula-mula kita mendengar ibu, ayah, atau saudara kita berbicara. Kita mendengar dan kemudian merekamnya dalam otak kita. Setelah itu, kita menirukan ucapan orangtua kita itu. Selama beberapa tahun, kita belajar bahasa Indonesia dengan cara mendengar dan meniru. Sekali waktu kita melakukan kesalahan dalam mendengar dan meniru. Orangtua kita kemudian memperbaiki kesalahan kita. Perlahan-lahan kita pun dapat berbicara seperti orangtua kita.

Kemudian kita masuk sekolah dan mulai belajar membaca-menulis. Barulah di sekolah, bapak/ibu guru mengajarkan tatabahasa Indonesia. Secara singkat, belajar bahasa melewati empat tahap—mendengarkan, meniru, membaca, menulis, dan mempelajari tatabahasa (kalau kesempatan ada). “Inilah belajar bahasa Indonesia yang alamiah. Hendaknya seperti itu pula cara kita mempelajari bahasa asing,” tulis Ustaz Jalal.

Menurut Ustaz Jalal lebih jauh, pada 1886 muncul metode alamiah (natural methods) atau metode langsung (direct methods) dalam mengajarkan bahasa asing. Metode ini persis dengan apa yang dikisahkan Ustaz Jalal sebelumnya: mendengar, menirukan (disebut pronunciation drills), dan perulangan (dengan teknik-teknik seperti substitution drills and conversion drills). “Di Indonesia, metode ini dipopulerkan lewat Proyek Percobaan Bahasa di Salatiga pada tahun 1959. Beberapa ahli bahasa seperti Beatrice Sutherland, Dean Gregory, Rosa McDonald, Samuel L. Stanley membimbing para guru bahasa Inggris. Saya adalah guru bahasa Inggris yang dididik dalam metode ini,” tegas Ustaz Jalal.

Namun pelan-pelan, metode yang pernah diwajibkan di Indonesia ini menghilang karena banyak hal—khususnya tidak banyak guru bahasa Inggris yang menguasai dan punya pengalaman dalam berbahasa Inggris secara lisan. Mereka pun kembali kepada metode Translation Methods dan Grammar Methods. Lalu apa yang bisa kita petik dari kisah Ustaz Jalal tentang pengajaran bahasa asing ini?

Pengajaran membaca dan menulis di sekolah—kalau toh memang pengajaran ini ada—menjadi tidak efektif dan tidak memberdayakan siswa karena tidak diajarkan dengan menggunakan “metode alamiah” sebagaimana pengajaran bahasa yang ditekankan oleh Ustaz Jalal. Pertama, tidak banyak pengajar baca-tulis yang benar-benar memiliki pengalaman membaca dan menulis yang mumpuni. Kedua, baca-tulis ternyata tak cukup jika hanya diajarkan; ia perlu dilatihkan (dicontohkan) seperti mendengar, meniru, dan mengulangi sebagaimana yang terjadi dalam pengajaran bahasa secara alamiah. Dan ketiga, di dalam membuat seorang siswa mampu dengan baik melakukan kegiatan baca-tulis, perlu ada penanaman “nilai” dalam berlatih membaca-menulis. Nilai-nilai itu, antara lain, adalah kegigihan, ketekunan, kesungguhan, kesabaran, kekonsistenan, keberlanjutan, dan masih banyak lagi yang lain.

Alhamdulillah.[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: