Welcome to digital life. Everyone is invited. Begitu bunyi slogan yang pernah kita dengar. Faktanya, medium digital (dengan segala pernik gadgetnya) telah begitu dalam merasuki sekujur sejarah hidup kita hari ini.

Email, Whatsapp, broadband connection dan social media mungkin kini makin intens menemani perjalanan kita – entah di rumah atau di kantor.

Dan ya, Anda tak mungkin akan kenal dengan blog strategi + manajemen yang legendaris ini kalau tidak ada medium digital. Digital connection telah menyatukan nafas dan passion kita. Tsaah.

Pertanyaannya : lalu megatren digital apa yang akan mengubah lansekap kehidupan kita? Lima tren utama digital yang layak dicermati? Pagi ini kita akan menjawabnya dengan tuntas nan renyah.

Dari pen-candra-an terhadap beragam layanan digital yang terus datang bergemuruh dari tuju penjuru langit, setidaknya ada 5 digital megatrends yang layak diulik. Lima tren utama yang kelak mungkin akan kian mendominasi wajah peradaban kita.

Mari kita jelajahi bersama 5 digital megatrends tersebut.

Digital Megatrend # 1 : Cloud Computing. Cloud computing adalah tentang komputasi awan. Maknanya kita menyimpan ribuan data digital kita pada layanan cloud yang kini makin banyak tersedia di pasar.

Dropbox atau Google Drive atau Amazon Web Services adalah contoh layanan cloud untuk konsumer retail. Kita bisa menyimpan jutaan byte data dalam data center mereka (data center yang bersifat virtual ini kemudian disebut sebagai cloud).

Dengan cloud, kita bisa mengucapkan sayonara pada hard disk dan flashdisk – yang sering rusak, kena virus atau hilang entah kemana. Dengan cloud, kita juga bisa meng-akses data kita at anytime, anywhere.

Bagi perusahaan, cloud computing juga menawarkan pengehematan yang signifikan. Mereka tak perlu lagi memiliki sendiri data center – dengan segenap kerumitannya.

Kelak layanan cloud computing akan kian menjadi mainstream. Akan makin banyak bisnis yang memanfaatkan layanan ini demi menghemat biaya IT yang makin mahal.

Digital Megatren # 2 : Business Mobile App. Kini adalah eranya Android App atau iOS App. Dan dunia bisnis mesti menjemput tren itu dengan full speed.

Bisnis yang tidak punya layanan mobile App untuk para pelangganya mungkin akan kian menjadi renik. Sebab pelanggan mereka semua kinia sudah memakai smartphone.

Mobile banking app. Tiket Kereta Api app. Taxi app. E-commerce app. Detik App. Ini adalah contoh business mobile app yang kian mewarnai our digital landscape.

Mobile banking app misalnya. Betapa indahnya inovasi ini. Antri di ATM menjadi kenangan sejarah. Inovasi digital yang begitu elegan. Bayangkan jika semua bisnis punya inovasi yang sebaik mobile banking app. Revolusi digital niscaya akan terus bergemuruh.

Perusahaan yang sadar teknologi juga mengembangkan internal mobile app yang kemudian di-instal dalam smartphone para karyawannya.

Dengan itu, karyawan mereka bisa ajukan cuti, reimburse biaya kesehatan, atau sekedar melihat data kinerja bidang mereka, hanya dari app yang terpasang di smartphone mereka. Dengan klik klik saja. Tanpa ribet. Tanpa kertas yang sooo jadul.

Business Mobile App — ini adalah sang diva, superstar yang akan terus menyeruak dalam panggung digital masa depan.

Digital Megatrend # 3 : Social Media. Facebook, Twitter, Blog, Youtube, Instagram dan juga Google + mungkin masih akan terus mewarnai kehidupan digital kita.

Bagi bisnis, social media memamg memberikan medium yang powerful untuk mempromosikan produknya.

Kerupuk Maicih dan Steak Holycow misalnya, adalah brand yang mungkin ikut dibesarkan oleh Twitter.

Sementara sepatu lokal merk Brodo yang super keren itu, ikut dibesarkan oleh Facebook. Dan ada begitu banyak owner bisnis fashion baru yang melejit karena layanan Instagram.

Ya, banyak enterpreneurs baru lahir dari social media. Begitulah lalu ada sebutan Facebokpreneur, Twitterpreneur, Blogpreneur hingga Instagrampreneur – mereka yang melejit kaya karena jasa social media.

Digital Megatrend # 4 : Big Data and Business Intelligence. Ini adalah tentang cara memanfaatkan jutaa data digital untuk memprediksi pola perilaku masa depan.

Saya pernah mengulas disini tentang the amazing power of digital data. Betapa jutaan jejak digital Anda yang tercecer dalam belantara dunia maya, bisa dengan mudah dipulung oleh mesin algoritme Big Data. Dan abrakadabra, para pemulung data digital yang jenius itu kelak bisa menebak arah perilaku konsumsi Anda. Dengan akurat.

Jutaan digital data akan terus berceceran. Terlalu sia-sia jika jutaan digital data Anda yang tercecer ini dibiarkan berlalu begitu saja. Akan banyak layanan big data untuk menggoreng dan memasak data ini menjadi sajian informasi yang amat berharga, dan powerful.

Ya, masa depan mungkin akan menjadi milik para pemulung-pemulung data digital.

Digital Megatrend # 5 : Digital Security. Mungkin akun email atau akun Facebook Anda pernah di-hack? Faktanya, setiap hari ada jutaan akun email dan social media yang di-bobol.

Digital robbery. Cyber crime. Tuyul-tuyul digital. Ini adalah kidung kelam dalam gemuruh kehidupan digital yang terus menderu.

Tiap hari, ribuan data kartu kredit di-hack, dan ribuan penipuan online terus terjadi. Tak terbayang jika inovasi elegan banking mobile app (dari BCA atau Mandiri) itu bisa dibobol. Ratusan juta bisa lenyap hanya dengan klik-klilk. Dalam ruang digital yang sunyi dan senyap.

Digital security akan terus menjadi trend utama sejalan dengan pertumbuhan era digital business.

Demikianlah, 5 Digital Megatrend yang layak dicermati. Cloud. Business Mobile App. Social Media. Big Data. Dan Digital Security.

Lima tren itu akan terus mewarnai kehidupan digital kita. Lima tren itu mungkin akan terus hadir dalam layar screen smartphone Anda.

Welcome to Digital

Yang patut tetap diwaspadai dalam digital megatren adalah keamanan data yang tersimpan, baik dalam server penyimpanan pribadi maupun server penyimpanan public (cloud), karena teknologi peretasan yang mumpuni.

sehingga penyimpanan data dalam cloud sebaiknya hanya data yang bersifat umum yang tidak memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi.

Jerman sebagai sekutu AS pun diretas sehingga mempertimbangkan untuk kembali menggunakan teknologi pengetikan dan penyimpanan manual. Dilema pisau bermata dua.