//
you're reading...
Creativity, Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Sekolah “Berpikir Mengikat Makna”

Hernowo Hasim
April 22, 2016

Sekitar tahun 2005 atau 2007-an ketika buku Mengikat Makna masih booming, saya pernah menggagas dan bermimpi untuk dapat mendirikan “Sekolah Mengikat Makna”. Sekolah ini memang mengajarkan dan, tentu saja, melatihkan membaca dan menulis untuk pengembangan diri. Tetapi, persoalan struktur dan kurikulum sekolah waktu saya gagas belum jelas. Momentumnya kemudian saya dapat ketika saya selesai menerbitkan buku Mengikat Makna Update pada November 2009. Sekolah ini saya titik beratkan pada latihan berpikir. Atau, lebih tepat, adalah kegiatan membaca dan menulis untuk membuat pikiran para siswa terlatih menemukan hal-hal yang penting, berharga, dan berkualitas sekaligus mampu mengembangkan pikiran.

Kenapa berpikir? Memang kata “berpikir” ini tentu tidak menjual dan sulit diterima atau dijelaskan di zaman digital seperti saat ini. Berpikir yang bagaimana? Tak perlu membaca dan menulis untuk dapat berpikir. Saya pun mencoba mencari-cari pijakan agar kata “berpikir” yang saya tambahkan di kata “sekolah” itu ada dasarnya. Akhirnya, ketemulah saya dengan buku Manusia dalam Kemelut Sejarah. Buku kecil ini dahulu terbit pertama kali pada 1978 dan diterbitkan oleh LP3ES. Di dalamnya ada kisah tentang para pendiri bangsa—yang tampak di foto sampul adalah Tan Malaka, K.H. Agus Salim, Bung Karno, dan Sutan Sjahrir—dalam perspektif yang sungguh berbeda.

Manusia dalam Kemelut Sejarah itu merupakan kumpulan tulisan dari para tokoh yang pernah dimuat di majalah Prisma. Kemudian dibukukan dengan tiga editor: Taufik Abdullah, Aswab Mahasin, dan Daniel Dhakidae. Taufik Abdullah memberi pengantar dalam judul “Manusia dalam Sejarah: Sebuah Pengantar”. Secara lengkap para tokoh yang kisahnya ditulis dan yang menulis kisah tersebut beserta judul-judul tulisannya adalah: (1) Sukarno: Mitos dan Realitas (ditulis oleh Onghokham); (2) Soedirman: Panglima yang Menepati Janjinya (Nugroho Notosusanto); (3) Dilema Sutan Sjahrir: Antara Pemikir dan Politikus (Y.B. Mangunwijaya); (4) Memimpin adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim (Mohamad Roem); (5) Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian (Alfian); (6) Kahar Muzakkar: Profil Patriot Pemberontak (Mattulada); (7) Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir Sjarifudin (Abu Hanifah); dan (8) Rahmah El Yunusiyyah: Kartini Perguruan Islam (Aminuddin Rasyad).

Ketika membaca buku itu, saya sempat terkesan dengan kisah Sutan Sjahrir (kalau tak salah) yang terinspirasi Revolusi Perancis lalu bertekad membaca buku-buku tentang Revolusi Perancis. Dikisahkan Sjahrir kerap membenamkan diri sampai malam di perpustakaan. Saya juga terkesan dengan buku-buku yang dibaca dan ditulis oleh Sukarno. Bangsa ini sungguh beruntung memiliki Sukarno. Ketika dibuang di Ende, Sukarno berpikir serius tentang dasar-dasar negara. Indonesia adalah negara yang terdiri atas keragaman.

Bagaimana agar mereka dapat bersatu dalam keragaman? Sungguh memikirkan soal ini bukan persoalan mudah. Di dalamnya ada kepentingan agama, suku, budaya, golongan, adat, dan masih banyak lagi yang lain.

Lalu poinnya apa? Betapa membaca dan menulis telah menjadikan Sukarno, Sjahrir, dan kawan-kawan seperjuangannya itu sebagai tokoh yang dapat membangun Indonesia di saat awal pembentukannya. Sebelumnya kita mengenal R.A. Kartini yang masih sangat muda tetapi—lagi-lagi akibat membaca dan menulis—pikirannya terus relevan dengan pergerakan zaman dan melintasi zamannya. Tentu, saya tidak ingin mengatakan di sini bahwa hanya membaca dan menulislah yang dapat menjadikan para tokoh itu berpikir dan berjiwa besar.

Namun dengan membaca dan menulis, ternyata mereka kemudian dapat berpikir sangat jauh dan mementingkan bangsa dan negaranya agar tidak tertinggal dan terlindas oleh zaman. Dan saya berpendapat, pikiran kita bisa berkualitas seperti pikiran Sukarno dan Kartini jika kita mau, setidaknya, membiasakan membaca dan menulis.

Nah, sekolah mengikat makna (mengikat makna berarti menyinergikan membaca dan menulis dalam praktik) yang saya tambahi embel-embel “berpikir” itu bertujuan untuk membuat kegiatan membaca dan menulis dapat membantu pelakunys untuk memiliki pikiran seperti Sukarno, Sjahrir, Tan Malaka, K.H. Agus Salim, dan Kartini. Di sekolah itu akan diajarkan dan dilatihkan membaca “ngemil”—membaca yang hanya sedikit, membaca perlahan (tidak buru-buru), menikmati apa yang dibaca, dan berusaha untuk menemukan sesuatu yang penting dan berharga dari bacaan yang dibaca. Membaca ngemil akan dibantu oleh menulis mengalir bebas (free writing). Ini semacam kegiatan menulis yang mementingkan diri sendiri atau menulis di ruang privat atau MUDS (menulis untuk diri sendiri) yang tanpa tekanan dan tanpa beban.

Sekolah Mengikat Makna akan membuat kegiatan membaca dan menulis itu—seperti slogan Quantum Learning—nyaman dan menyenangkan tetapi memberdayakan. Sekolah ini akan membantu mnelejitkan setiap potensi yang dimiliki siswanya—dengan cara memperkaya pikiran dan mengembangkan pikiran—lewat, sekali lagi, membaca dan menulis. Kartini—sebagai contoh—berhasil memperkaya pikirannya dengan membaca dan dia, secara luar biasa, berhasil pula mengembangkan pikirannya lewat menulis. Meskipun hanya menulis surat, tulisannya benar-benar mampu melibatkan dirinya, sangat dalam, dan juga bervisi sangat jauh, serta—ini yang sangat penting—berisi tentang hal-hal penting: bagaimana memajukan bangsa Indonesia dan bagaimana para perempuan dapat memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana para pria.

Alhamdulillah.[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: