//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #69

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Malik Bin Nabi, seorang pemikir Islam dari Aljazair, pernah mengajukan sebuah penjelasan tentang terjadinya penjajahan di dunia ketiga. Beliau berbeda dengan para penganut teori yang hanya menyalahkan penjajah. Ia menerangkan kolonialisme dari sudut kondisi mental kaum terjajah.

Ia mengajukan tesis tentang “Qabiliyyat Al-istl’mar”, bahwa rakyat di dunia ketiga rusak binasa oleh kolonialisme bukan karena “canggih”nya mesin penjajahan itu sendiri, tetapi ada “kondisi mental” yang menyediakan syarat syarat cukup terjadinya penjajahan itu.

Tesis itu seperti membenarkan sebuah hadis, “kaifa takuunu yuwalla ilaikum”, seperti apa kondisi mentalitas internal kalian, maka begitulah pemimpin kalian. Pemimpin atau problematika suatu bangsa adalah hadiah kolektif bagi karakter karakter dominan yang ada pada bangsa itu..

Jadi jika selama 32 tahun sebuah bangsa dipimpin oleh diktator dan koruptor, itu semata mata karena memang karakter diktator dan koruptor secara dominan ada di semua lini dalam masyarakat bangsa itu. Di level negara, partai, ormas, kampus bahkan keluarga.

Jika secara masif masalah kebakaran hutan terjadi akibat ekspoitasi hutan besar besaran untuk dirampok kayunya, untuk dijadikan jutaan hektar lahan kebun kelapa sawit di atas tanah gambut, untuk dijadikan tambang dll tanpa mempedulikan keseimbangan alam dan ekosistem serta kearifan sekitar, kecuali keserakahan semata, maka bisa jadi sifat dan karakter serakah sudah masif dominan dalam bangsa ini.

Hampir dua puluh tahun terakhir banyak individu diajak berinvestasi untuk perkebunan kelapa sawit, tidak peduli muslim atau non muslim, semangatnya sama, yaitu keuntungan besar tanpa “empati” pada alam dan kearifan lokal. Kebun sawit telah diketahui luas, sangat merusak kesuburan tanah, menyebabkan suhu sekitar menjadi panas, menjadi sarang babi dan tikus, dan tentunya penyebab kebakaran hutan.

Di sisi pendidikan, sangat ironis, ketika juga banyak lembaga pendidikan yang seharusnya menyuarakan gerakan hijau dan damai, justru dibangun menjadi persekolahan bergedung mewah bak vila seluas puluhan hektar, di atas lahan bekas pertanian atau perkebunan atau lereng bukit di desa maupun di daerah pinggiran kota.

Jadi ini sejalan dengan pendapat Ralph Waldo Emerson, bahwa sesungguhnya realitas sosial kehidupan kita atau masalah kehidupan kita sehari hari ada di seputar karakter kita. Intinya adalah bahwa faktor intrinsik, sebelum yang lain-lain, jauh lebih menentukan.

Jadi sebelum menyalahkan kewenangan penguasa atau pelanggaran hukum, mari kita lihat bencana kebakaran hutan dan asap ini sebagai gejala sosial. Secara sosial, manusia dikendalikan oleh budaya yang dibentuk oleh karakter karakter dominan dalam masyarakat itu.

Pertanyaan besarnya adalah apakah memang Allah SWT menciptakan karakter bangsa ini buruk? Sehingga keserakahan begitu masif dan merusak alam serta kemanusiaan? Bukankah setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah atau karakter yang baik? Bukankah setiap kaum memiliki kearifan yang berangkat dari getar getar fitrah?

Lihatlah selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, hutan hutan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua dll aman aman saja dan lestari. Bahkan jika ditelusuri, suku suku di Papua, yang sering kita anggap primitif karena kesombongan kita, justru memiliki kearifan secara turun temurun untuk secara ketat melestarikan hutan dan hewan.

Lalu tiba tiba karakter bangsa ini bermetamorfosa mengerikan, menjadi bangsa serakah, rakus, angkuh, merasa pandai padahal merusak kemanusiaan dan menghancurkan kelestarian serta keseimbangan alam. Merasa beriman dan tahu agama, padahal paling rajin mensiasati hukum dan merusak alam serta kearifan lokal.

Darimana karakter buruk ini muncul secara dominan dan masif? Darimana datangnya budaya atau kultur buruk ini, sehingga sifat kebanyakan kita menjadi “tidak merasa bersalah dan tidak tahu malu” padahal telah merusak kelestarian dan kearifan lokal?
Jawabannya sederhana, yaitu pembentuk budaya paling ampuh di dunia. Sistem Pendidikan!

Sistem pendidikan atau sistem persekolahanlah, suka atau tidak, yang paling bertanggungjawab membentuk karakter kolektif atau budaya.

Sejak budaya kompetisi tidak sehat, budaya kecurangan yang masif yang dipertontonkan di pusat pusat pendidikan, budaya tidak peduli pada alam dan kearifan karena sekolahnya berdiri ekslusif di bekas lahan perkebunan atau bak vila mewah di lereng gunung dsbnya.

Begitupula prosesnya. Sejak PAUD, anak anak kita dipacu kognitif, kepintaran menjadi berhala paling diagungkan. Empati entah punya siapa.

Semua orang terobsesi, bahwa siapa juara, siapa pintar, siapa paling banyak konten ilmunya maka dialah sang pemenang, dialah layak mendapat pujian. Yang kalah, tidak pintar akan ditindas seumur hidupnya.

Dalam persekolahan yang memuja kecerdasan kognitif itu, kita jumpai rasa dan karsa, kepemimpinan empati bukan hal yang utama dan penting. Anak anak kita tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kasar jiwanya, pribadi penumpang yang menjadi beban peradaban.

Mereka menjadi kering kasih sayang, karena direnggut dari kehangatan keluarga hampir seharian bahkan diasramakan sejak sekolah dasar. Mereka hidup elitis dalam dinding beton yang terpisah rasa dan karsanya dari masyarakatnya.

Para psikolog menandai, bahwa banyak anak sekolahan umumnya nampak baik dan santun, mengetahui banyak ilmu moral dan ilmu agama, namun sesungguhnya minim empati, pendendam, menganggap kelompoknya paling mulia atau elitis, tidak senang melihat orang lain juara dan bahagia, melecehkan perempuan dsbnya.

Disimpulkan juga oleh para psikolog bahwa para remaja yang terlibat kasus pembunuhan dan perkosaan, umumnya tidak merasa bersalah. Mereka menangis hanya karena merasakan getirnya dihukum atau dipenjara bukan karena menyesal atas perbuatannya.

Maka tidak heran jika kita sering melihat tersangka kasus korupsi adalah orang orang yang tersekolahkan tinggi, namun dengan santai mempertontonkan rasa tidak bersalahnya dengan senyum simpul aneh mengerikan.

Lalu dimana agama? Bukankah agama seharusnya memberikan self mechanism & kontrol pada pribadi, apa yang tak diberikan Hukum? Nah, bukan salah agamamya, karena lagi lagi dalam sistem persekolahan kita, agama rupanya hanya diukur dari aspek kuantitas pengetahuan kognitif bukan kualitas kesadaran rasa dan kualitas kinerja atau karsa berupa keinginan bertindak memberi solusi

Sesungguhnya, budaya yang dibangun sistem persekolahan, tanpa sadar telah menempatkan diri kita dan keluarga kita benar benar hanya sebagai konsumen dari pabrik dan persekolahan.

Lihatlah tiada aktifitas pendidikan dan aktitifitas produktif di rumah rumah kita. Semua dioutsource ke pabrik dan sekolah. Kita benar benar menjadi konsumen setia pabrik dan perkebunan konglomerasi seperti kelapa sawit dan olahannya. Kita hanya konsumen yang tergantung dari ujung kaki sampai ujung rambut pada industri raksasa yang paling rajin merusak alam.

Jadi siapa sesungguhnya para pembakar hutan dan pencipta asap?

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: