//
you're reading...
Information Technology, Pendidikan, Review

Meraba Arah Pendidikan Teknologi Informasi di Indonesia

Bambang Nurcahyo Prastowo
May 8, 2016

Friends, beberapa artikel di Communication of the ACM April 2016 menyoroti pendidikan ilmu komputer di Amerika. Beberapa fakta menarik, minat masyarakat pada program studi ilmu komputer naik turun. Booming pertama terjadi saat terjadi produksi massal mikrokomputer. Orang berlomba-lomba ingin berkontribusi bisa membuat software baik yang bersifat hiburan (game), manajemen rumah tangga atau keperluan kantoran. Semua institusi memerlukan tenaga dengan ketrampilan komputer. Kebutuhan tenaga trampil komputer menurun setelah jumlah produksi software mencapai angka kejenuhan sehingga tidak banyak memberi keuntungan. Selain itu, jumlah tenaga trampil komputer di kantor-kantor telah terpenuhi.

Booming kedua terjadi setelah terbentuk infrastruktur Internet. Inovasi aplikasi jaringan komputer terus berkembang membuka pasar baru perkomputeran sampai ke luar Amerika. Terbukanya pasar baru di luar Amerika ternyata juga membuka pasar tenaga kerja Amerika ke tenaga trampil di luar. Terpenuhinya tenaga trampil komputer dari luar (India, Eropa, Philipina dan mungkin Indonesia) mengakibatkan minat masayarakat Amerika bergeser dari ilmu komputer ke bisnis sehingga program studi ilmu komputer menurun.
Booming ketiga terjadi saat ini ketika aplikasi program komputer dan Internet merambah segala aspek kehidupan mulai lemari es, mesin cuci sampai alat sapu dan pel lantai menggunakan mikrokomputer. Komputer menyederhanakan bagian penentu keputusan dari segala macam peralatan yang menerapkan model sistem kendali. Kombinasi komputer dan jaringan global membuka bisnis inovatif yang sampai sekarang masih berasa jauh dari kondisi jenuh. Keterbatasan computing power dan storage dari komputer mikro diatasi dengan mengkombinasikan komputasi lokal dan komputasi jarak jauh dalam komputer yang jauh lebih besar. Piranti personal yang melekat pada pengguna difungsikan sebagai alat pengumpul data baik secara otomatis dari sensor-sensor yang terpasang di piranti itu seperti sensor lokasi (gps) dan kondisi gerak maupun secara manual dari penggunaan piranti itu seperti mengetikkan teks berita/data dan pengambilan foto. Selanjutnya data diolah di suatu server sentral (kebanyakan di Amerika) dan hasil pengolahan ditampilkan kembali di layar piranti personal.
Model client-server memungkinkan kita dapat melakukan komputasi dengan kebutuhan kekuatan prosesor dan storage sangat besar dengan menggunakan piranti personal yang bisa kita gunakan dari mana saja. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan infrastruktur untuk menjalankan aplikasi yang menjadi sangat bermanfaat ketika banyak orang menggunakannya seperti aplikasi komunikasi group chat ini, sistem pemanggilan taksi/ojek, dan sebagainya. Konsekuensi dari penerapan client server adalah terakumulasinya data yang sangat besar di server. Secara umum data bernilai sangat tinggi. Bayangkan ada toko yang merelakan keuntungan 5% untuk mendapatkan data kebiasaan belanja pelanggannya dengan membuat sistem kartu diskon.
Saat ini kita bisa menggunakan banyak sekali sistem berkualitas tinggi di Internet tanpa membayar yang serupiah pun ke penyelenggara. Pastinya sistem ini memakan modal besar untuk membangunnya dan biaya besar untuk memelihara server dan koneksi Internetnya. Kita tidak membayarnya secara langsung dengan uang tapi dengan data. Bayangkan saja data/informasi yang terkoleksi manakala sekian ribu mahasiswa dan dosen di Indonesia menggunakan prezi.com untuk mempresentasikan karya terbaik mereka. Kita bisa perkirakan berapa gigabyte data disetor ke dalam sistem online converter dokumen semisal doc to pdf yang banyak digunakan mereka yang diwajibkan setor dokumen pdf ke induk institusinya belum lagi Google Doc dan Microsoft Office 365.
Kembali ke pembahasan artikel di CACM, menghadapi kehadiran komputer di semua aspek kehidupan, Obama pun menggelontorkan anggaran milyaran dolar untuk menggarap program pendidikan ilmu komputer menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional Amerika. Teknologi informasi pernah menjadi bagian wajib dari kurikulum sd/smp/sma kita namun karena dinilai hanya berisi cara menggunaan microsoft word, konon dihilangkan di kurikulum baru. Bila dikembalikan ke kurikulum sebaiknya seperti apa? Dapatkah kita memulai sesuatu berinovasi dalam lingkup sistem pendidikan nasional untuk membekali semua peserta didik dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk memanfaatkan peluang inovasi aplikasi komputer dan jaringan komunikasi data di segala bidang?
Salah satu langkah mendebarkan dalam menjalankan program studi ilmu komputer/teknologi informasi adalah ketika harus menentukan topik tugas akhir: merancang suatu sistem atau meneliti karakteristik sistem tertentu. Bekal kuliah sistem operasi, basisdata, algoritma, struktur data, bahasa pemrograman, dan segala macam elemen ilmu komputer tidak cukup untuk memikirkan penelitian yang menyangkut inovasi penggunaan komputer/jaringan komputer untuk menyelesaikan permasalahan hukum, transportasi, penelusuran kebenaran sejarah, analisa perimbangan politik, prediksi mutasi gen, monitoring pemanfaatan dana desa, atau pertumbuhan sel kanker. Mahasiswa ilmu komputer yang beruntung bisa saja mendapat bimbingan dari dosen yang terlibat dalam penelitian multi disiplin sehingga wawasan aplikasi teknologi informasinya bisa keluar dari tempurung kurikulum sendiri. Namum menurut pengamatan saya keberuntungan ini sangat terbatas.
Nampaknya kesempatan memperkenalkan mahasiswa ilmu komputer pada bidang-bidang ilmu lain terlalu sempit sehingga peluang-peluang pengembangan sistem komputer dan komunikasi data pada bidang-bidang kehidupan manusia pada umumnya tidak dapat termanfaatkan secara maksimal. Saya usul bagaimana kalau selain memperkenalkan mahasiswa ilmu komputer ke bidang-bidang lain, kita kembangkan satu set mata kuliah dasar umum pemrograman komputer yang wajib diambil semua mahasiswa sebagaimana kuliah agama dan kewarganegaraan. Kita ramu pemahaman tentang sistem operasi, basisdata, jaringan komputer, algoritma dan struktur data, dan pemrograman aplikasi komputer kedalam satu mata kuliah “pengembangan sistem teknologi informasi”.
Mungkin usulan mengajarkan pengembangan sistem teknologi informasi dalam satu mata kuliah untuk semua mahasiswa berasa khayal tapi saya yakin tidak mustahil bisa dicapai. Bagaimana bentul finalnya tentu memerlukan penelitian beberapa semester mulai dengan menerapkan ide awal dan menyempurnakannya berdasar evaluasi penerapan di berbagai program studi eksata dan non eksakta. Berikut ini konsep awal kuliah pengembangan sistem teknologi informasi yang terpikirkan saat ini. Saya yakin usulan dan konsep ini sudah pernah digagas sebelumnya oleh seseorang, hanya saya belum menemukannya saja.
  1. Sebagai gambaran, tidak berlebihan kalau kita berasumsi semua mahasiswa sudah memahami konsep penggunaan sistem operasi komputer, file (dokumen, gambar, movie, sound), serta identitas pengguna komputer (id facebook, email address, domain website) di Internet.
  2. Dengan modal pemahaman itu, instruktur mengajarkan menyatakan elemen-elemen sistem teknologi informasi itu dalam bentuk komponen-komponen dari suatu sistem pemrograman yang kita asumsikan mudah semisal python atau appInventor. Saya pilih appInventor. Kita perlu bereksperimen sebarapa cepat mahasiswa non eksakta dapat memetakan masuk dalam json generator/parser.
  3. Dengan pemetaan elemen, instruktur mengenalkan construct if, switch/case, dan loop.
  4. Konsep store data ke web server via url dikenalkan sesederhana mungkin
  5. Dengan bekal komponen dasar pemrograman, isntruktur membimbing peserta membangun suatu project template semisal aplikasi mengisi form di gadget dan mengumpulkannya di server serta pemrograman server untuk menampilkan olahan statistik dari data-data yang dientrykan para user. Bisa juga data dilengkapi dengan informasi dari sensor semisal lokasi GPS dsb.
Saya optimis dengan memilih project yang sesuai dengan bidang ilmu masing-masing, mahasiswa akan tertarik untuk mengembangkan lebih lanjut aplikasi project yang dibuatnya sebagai tugas kuliah. Sebagai gambaran, saya sudah pernah menemui mahasiswa prodi Filsafat dan prodi Sastra Indonesia yang melakukan pemrograman Python untuk membangun sistem visual novel dengan bantuan library Ren’s Py. Saya yakin mahasiswa Psikologi bisa diajak untuk belajar memanfaatkan SDK google cardboard untuk membangun sistem entah apa dibidang psikologi yang memanfaatkan konsep virtual reality. Teman-teman dosen Fisika juga sudah banyak yang mengajak para mahasiswa membuat sistem teknologi informasi dalam konsep berbuzzword big data itu.
Ya kira-kira begitu lah reaksi pemikiran saya ketika baca-baca CACM edisi April 2016 itu.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: