//
you're reading...
Information Technology

Mendadak Big Data

Fajar Muharandy
November 14, 2015

Big Data No Idea

Minggu lalu saya bertemu dengan seseorang di sebuah acara seminar tentang pemanfaatan data di industri retail. Ketika memperkenalkan diri saya sebagai bagian dari komunitas Data Science Indonesia, pertanyaan pertama yang ditanyakan ke saya adalah: “Berapa banyak Hadoop developer yang ada di komunitas anda?”

Hadoop memang identik dengan big data dan big data identik dengan data science. Hal ini disebabkan karena data science itu sendiri menjadi populer ketika orang mulai ‘ngoprek’ tipe-tipe data baru berukuran besar yang biasanya tidak pernah kita olah sebelumnya. Dulu aktifitas mengolah data ukuran besar seperti ini sangatlah sulit karena memerlukan perangkat lunak dan perangkat keras yang mahal. Namun sekarang dengan adanya teknologi seperti hadoop, mengolah data ukuran besar menjadi relatif lebih murah. Mungkin karena alasan inilah setiap kita bicara data science, kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan teknologi seperti hadoop.

Memang hal ini tidak salah, tapi yang bahaya adalah ketika esensi dari data science itu kemudian hilang karena aspek teknologinya menjadi lebih penting. Beberapa kali saya diundang menjadi pembicara di sebuah seminar tentang big data, pasti saya melihat banyak sekali vendor teknologi yang mengusung branding Big Data di produk-produk mereka. Mungkin kalau ada istilah mendadak dangdut, saat ini di dunia IT ada fenomena yang saya sebut sebagai ‘Mendadak Big Data’. Hampir semua vendor menambahkan embel-embel big data di produk mereka. Ada istilah Big Data Ready, Full Big Data Support, dan sebagainya. Mengingatkan saya ketika teknologi layar High Definition pertama kali muncul, ada juga fenomena HD Ready, Full HD, yang kemudian sekarang diikuti dengan UHD dan SUHD.

Bikin bingung memang, tapi ya itulah marketing. Bahkan saya pernah berbicara dengan orang yang baru saja menghadiri pameran mobil di Amerika Serikat, dan ketika pulang ke tanah air dia cerita: “Wah kemarin saya melihat mobil yang sudah support big data!”

Vendor teknologi memang selalu punya dosa untuk membuat orang bingung dengan istilah-istilah marketingnya. Sebagai consumer, tentunya kita tidak mau termakan iklan atau jargon marketing. Tapi sebenarnya apa sih big data itu?

Salah satu hikayat tentang big data yang saya percayai kesahihannya adalah yang mengatakan big data itu muncul pertama kali di industri retail. Lebih tepatnya di online retail atau yang sekarang kita kenal dengan istilah toko online atau situs e-commerce. Tapi sebelum kita bicara toko online, ada baiknya kita pahami dulu proses yang terjadi ketika kita membeli sebuah barang di toko fisik.

Katakanlah saya mau membeli mie instan. Saya pergi ke supermarket, mengambil keranjang belanjaan, dan kemudian meneruskan langkah kaki saya ke rak-rak tempat makanan instan berada. Dari situ kemudian saya akan mengambil empat bungkus mie instan rasa kari ayam yang merupakan rasa favorit saya ke dalam keranjang belanjaan saya. Ketika saya membungkukkan badan saya untuk memasukkan empat bungkus mie instan tersebut ke dalam keranjang belanjaan saya, tiba-tiba saya melihat ada mie instan rasa soto mie yang bungkusnya lumayan menarik. Tergoda untuk mencoba rasa yang baru, saya keluarkan empat bungkus mie instan rasa kari ayam yang ada di keranjang belanjaan saya dan menggantinya dengan empat bungkus mie instan rasa soto mie.

Lalu akhirnya saya memutuskan untuk langsung pergi ke kasir. Ketika melangkahkan kaki saya menuju kasir, di ujung rak tempat beraneka ragam mie instan dijajakan tadi, saya melihat ada bungkusan mie instan rasa soto mie ukuran jumbo. Berhubung saya sedang lapar, saya putuskan untuk menukar empat bungkus mie instan rasa soto mie yang ada di keranjang belanjaan saya dengan versi ukuran jumbonya. Kemudian saya melanjutkan ke kasir dan melakukan pembayaran.

Informasi apa yang tersimpan ketika saya melakukan pembayaran di kasir?

Informasi yang tersimpan hanyalah: ada seseorang yang pada tanggal sekian, jam sekian, membeli empat bungkus mie instan rasa soto mie ukuran jumbo. Hanya itu saja! Tidak ada informasi yang menggambarkan kegalauan saya ketika saya beberapa kali mengganti isi keranjang belanjaan saya sampai akhirnya memutuskan untuk membeli mie instan rasa soto mie ukuran jumbo. Informasi yang disimpan di kasir hanyalah data transaksi, tetapi data interaksi yang terjadi antara saya dengan keranjang belanjaan saya dan rak mie instan di supermarket tersebut tidak tersimpan.

Memang sulit untuk menangkap informasi interaksi seperti ini di toko fisik. Namun ketika kita membawa kasus di atas ke ranah toko online, data interaksi ini sangat mudah ditangkap. Setiap klik yang kita lakukan di sebuah toko online pada dasarnya adalah sebuah request yang dikirimkan server tempat toko online tersebut berada. Informasi ini dikenal dengan istilah clickstream. Yang jadi masalah, data clickstream ini ukurannya sangat besar. Bayangkan ketika anda membeli sebuah barang di toko online seperti Amazon, barang yang anda beli mungkin hanya satu, tapi jumlah klik yang anda lakukan dalam satu sesi belanja tersebut mungkin bisa ratusan. Inilah yang menjadi pembeda antara data transaksi dengan data interaksi. Data transaksi adalah data yang menyimpan informasi pembelian anda di toko online tersebut. Sedangkan data interaksi adalah data yang menyimpan informasi aktifitas anda sebelum atau bahkan sesudah transaksi pembelian itu terjadi. Data interaksi inilah yang sejatinya disebut sebagai Big Data.

Kenapa disebut Big Data? Karena data ini dulu dianggap tidak terlalu penting untuk disimpan karena ukurannya sangat besar, sehingga biaya untuk mengolahnya pun akan sangat besar. Dengan definisi ini menurut saya big data lebih tepat untuk kita artikan sebagai tipe-tipe data yang baru seperti data interaksi, data sensor, dan data yang lainnya di luar data transaksi. Perangkat teknologi untuk mengolah data seperti ini akan disebut sebagai Big Data Technology, sedangkan proses analisis terhadap data seperti ini akan disebut Big Data Analytics.

Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bisa memberi sedikit pencerahan dari kebingungan kita akan fenomena mendadak big data. Jadi nanti kalau anda bertemu orang yang menanyakan apakah handphone atau mobil anda sudah support big data, anda tahu bagaimana cara menjawabnya.

Sumber Gambar:
https://marketoonist.com/2014/01/big-data.html

More from me:
http://datascience.or.id/author/famuharan/

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: