//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Perubahan

Dunia Bergerak : Jangan Ajari Kuba Soal HAM

Sylifia Medekawati

Jangan Ajari Kuba Soal HAM

Tanggal 20 Maret lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama melakukan kunjungan bersejarah ke Kuba. Terakhir kali Presiden AS mengunjungi Kuba di tahun 1928.

Yang menarik, bagaimana media-media arus utama membuat cerita tentang kunjungan itu. Diantara cerita itu, Obama berdebat dengan Raul Castro soal Hak Azasi Manusia (HAM).

Diceritakan, Obama menggurui Raul Castro. “Amerika percaya demokrasi. Kami percaya kebebasan berbicara, kebebasan berkumpul, dan kebebasan agama,” kata Obama.

Tentu saja, kata-kata Obama itu bermaksud untuk menyindir politik Kuba. Memang, di mata AS, Kuba tidak punya kebebasan politik. Mulut pers dan oposisi dibungkam. Dan banyak pembangkang politik dipenjarakan.

Tetapi Raul Castro tidak mau kalah. Dengan nada serius dia bilang, “kasih tahu aku sekarang, di mana tahanan politik itu? Berikan aku namanya. Jika di sini (Kuba) ada tahanan politik, maka akan kubebaskan sebelum tengah malam.”

Sebetulnya, ketika Obama bicara HAM, dia dan negaranya hipokrit. Soal HAM dipersempit menjadi persoalan hak politik semata. Padahal, konsep HAM punya dua kategori yang saling berkaitan, yaitu: hak sipil dan politik (Sipol) dan hak ekonomi, sosial, dan budaya (Ekosob).

Hak Sipol terdiri dari hak untuk hidup; kebebasan berekspresi, kebebasan menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, dan berkeyakinan; hak bebas dari penyiksaan dan hukuman yang kejam dan tidak manusiawi, hak bebas dari perbudakan dan kerja paksa; hak diperlakukan sama di depan hukum; hak memilih dan dipilih dalam pemilu; dan lain-lain.

Sedangkan hak Ekosob meliputi hak atas pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, pekerjaan, perumahan, pangan, upah layak, dan lain-lain. Juga hak untuk berserikat dan berkumpul dan melakukan pemogokan.

Kedua kategori ini sudah dua perjanjian internasional, yaitu kovenan hak sipil dan politik atau The International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan kovenan hak ekosob atau the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR).

AS sudah meratifikasi ICCPR, tetapi menolak meratifikasi ICESCR. Jadi, negeri paman Sam hanya mengakui hak sipol, tetapi mengabaikan hak ekosob. Padahal, hak ekosob merupakan prasyarat mendasar bagi setiap manusia untuk hidup dan berkembang.

Nah, ketika AS kemana-mana koar-koar soal HAM, maka yang dimaksud hanya hak Sipol. Tetapi dia mana peduli dengan hak ekosob. Itupun hak sipol warga negara AS kerap dilanggar oleh negaranya. Ada banyak aksi protes yang ditindas dengan keras, termasuk demo Occupy Wall Street (OWS) tahun 2011 lalu. Belum lagi diskriminasi terhadap kulit hitam.

Sebaliknya, Kuba mencoba menjalankan dua-duanya: hak Sipol dan hak ekosob. Dalam hal hak Sipol, Kuba punya cara berbeda. Maklum, Kuba mengadopsi sistim politik yang berbeda dengan negara-negara yang mengadopsi sistim demokrasi liberal.

Berikut beberapa kemajuan HAM di Kuba:

Kesehatan

Sistim kesehatan Kuba berpijak pada prinsip bahwa kesehatan adalah hak dasar manusia. Karena itu, berbeda dengan sistim kesehatan AS yang berorientasi profit, sistim kesehatan Kuba berorientasi pembukaan ruang seluas-luasnya bagi setiap warga negara untuk bisa mengakses layanan kesehatan yang berkualitas.

Nah, agar setiap orang Kuba bisa mengakses kesehatan, tanpa memandang ras dan warnah kulit, status sosial, pendapatan, dan lain-lain, negara menggratiskan layanan kesehatan kepada seluruh warga negaranya.

Sistim kesehatan Kuba mengutamakan pencegahan ketimbang pengobatan. Karena itu, Kuba memperkenalkan sistim “dokter keluarga”, yang menempatkan dokter tinggal dan hidup di tengah-tengah komunitas yang dilayaninya. Jadi, di Kuba, dokter yang datang mengetuk rumah warga.

Di Kuba, tenaga dokter melimpah. Rasio dokter terhadap pasien adalah 6.7 per 1000 penduduk. Bandingkan dengan AS yang 2.5 per 1000 penduduk.

Prestasi kesehatan Kuba menakjubkan. Angka kematian bayi (infant mortality rate) di Kuba berada di bawah lima bayi per seribu kelahiran. Ini termasuk yang terendah di dunia (lebih rendah dari AS dan Kanada). Kuba juga menjadi negara pertama di dunia yang menghapuskan penularan HIV dan Sipilis dari Ibu ke anak. Angka harapan hidup orang Kuba adalah 78 tahun.

Pendidikan

Di Kuba, pendidikan juga gratis dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ini tidak lepas dari penegasan pemerintah Kuba bahwa pendidikan adalah hak dasar rakyat. Slogannya: pendidikan untuk semua!

Di Kuba, ada yang namanya “guru berjalan”, yaitu guru yang mendatangi rumah-rumah anak muridnya jika muridnya tersebut tidak bisa ke sekolah.

Sistem pendidikan di Kuba didukung oleh tenaga guru yang banyak, terlatih, dan siap ditempatkan di manapun. Untuk SD di Kuba, setiap 20 murid dilayani oleh satu orang pengajar. Untuk sekolah menengah, seorang pengajar melayani 15 murid.

Pemilu

Selama ini, Kuba digambarkan tidak mengenal Pemilihan Umum (pemilu). Itu juga yang dipakai sebagai dalih untuk mendakwa Kuba sebagai negara diktator.

Tetapi itu salah besar. Jadi, Kuba juga mengenal pemilu. Ada pemilu Majelis Nasional setiap lima tahun sekali. Juga ada pemilu Majelis Lokal, baik Kotamadya maupun Provinsi, untuk setiap 2,5 tahun sekali.

Di Kuba, setiap warga negara yang sudah berusia 16 tahun ke atas punya hak politik. Kecuali mereka tahanan politik atau meninggalkan Kuba. Jadi, setiap orang dewasa di Kuba punya hak pilih.

Yang menarik adalah proses pencalonan anggota majelis atau parlemen di Kuba. Di negeri komunis ini, siapapun berhak menjadi anggota parlemen. Tetapi, untuk menjadi anggota parlemen, seseorang tidak bisa mencalonkan diri sendiri. Partai politik juga tidak punya hak mencalonkan orang, termasuk partai Komunis Kuba.

Setiap kandidat harus dicalonkan oleh warga di komunitasnya (lingkungan, tempat kerja, atau organisasi massa). Itupun, setiap kandidat harus punya kontribusi atau sudah pernah bekerja untuk komunitasnya. Para kandidat kemudian diperdebatkan di forum atau Majelis-Majelis Umum—semacam pertemuan/rapat-rapat publik yang sifatnya terbuka.

Di Kuba, setiap anggota parlemen tidak perlu meninggalkan pekerjaanya. Mereka tidak menerima insentif keuangan, sebagaimana lazim terjadi di negara-negara demokrasi liberal. Dan mereka bisa di-recall kapan saja oleh pemilihnya.

Lantas, siapa yang memilih Presiden dan pejabat eksekutif lainnya? Ya, Majelis Nasional. Di Kuba, eksekutif itu disebut Dewan Negara. Termasuk di dalam Dewan Negara ini adalah Presiden dan Menteri-Menterinya. Jadi, mereka ini juga anggota Majelis Nasional. Karena itu, Presiden dan Menteri juga bisa dicopot kapan saja jika dikehendaki oleh rakyat lewat perwakilannya.

Jadi, menjadi anggota dewan perwakilan di Kuba itu bukan jabatan istimewa. Karena itu, tidak ada politik uang dalam pemilu di Venezuela. Bahkan, kalau ada pemilu, Kuba tidak mengerahkan tentara untuk menjaga Tempat Pemungutan Suara (TPS), tetapi cukup dijaga oleh anak-anak sekolah.

Selain itu, Kuba juga mengenal partisipasi langsung. Artinya, rakyat bisa terlibat dalam mendiskusikan, merumuskan, dan memutuskan berbagai kebijakan politik yang menyangkut komunitasnya melalui pertemuan atau rapat-rapat umum (tempat kerja, sekolah, dan komunitas).

Hak Buruh

Kuba menjamin hak buruh untuk berserikat dan menggelar pemogokan. Di Kuba, serikat buruh itu independen dari partai politik, termasuk Partai Komunis, dan negara. Serikat buruh juga mandiri secara finansial karena didanai anggotanya.

Hak-hak buruh dilindungi oleh serikat buruh melalui kontrak tertulis. Jam kerja 40-44 jam per minggu. Dan ada 30 hari cuti tahunan.

Setiap PHK, perubahan status kerja, dan lain sebagainya, harus mendapat persetujuan serikat. Serikat punya hak untuk berpartisipasi dalam manajemen perusahaan dan produksi. Serikat juga punya hak menolak dan mengusulkan Undang-Undang.

Kesetaraan gender

Kesetaraan gender di Kuba menakjubkan. Kaum perempuan bisa terlibat aktif di hampir semua ruang kehidupan (ekonomi, politik, dan sosial-budaya).

Keterwakilan perempuan Kuba di parlemen (Majelis Nasional) terbilang tertinggi di dunia, yakni 48,86 persen. Ini merupakan yang tertinggi ketiga di dunia. Kemudian, 9 dari 15 Provinsi di Kuba dipimpin oleh perempuan. Artinya, lebih dari separuh Provinsi di Kuba diperintah oleh politisi perempuan.

Di lembaga peradilan lebih mencengangkan lagi. Menurut Presiden Mahkamah Rakyat Kuba (TSP), Rubén Remigio Ferro, 80 persen hakim di Kuba adalah perempuan. Sedangkan 70 persen pengacara Kuba adalah perempuan. (Sumber:http://english.juventudrebelde.cu/…/2…/women-serving-justice-)

Di bidang pendidikan, kemajuan perempuan Kuba juga luar biasa. Sebanyak 63 persen pendaftar Universitas adalah perempuan. Sedangkan 60 persen sektor profesional dan teknisi Kuba berjenis kelamin perempuan. Data lain menyebutkan, 80 persen mahasiswa di Kuba adalah perempuan. Sedangkan 68 persen lulusannya adalah perempuan.

Perempuan juga berpartisipasi dalam ruang ekonomi. Menurut data ILO, pada tahun 2014, 44 persen perempuan Kuba terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi. Dalam hal upah, upah pekerja laki-laki dan perempuan Kuba relatif sama. Sebagian besar perempuan Kuba bekerja di layanan publik, seperti kesehatan (70 persen) dan pendidikan (80 persen).

Angka harapan hidup

Kendati kerap digolongkan negara miskin, angka harapan hidup orang Kuba sangat tinggi: 78 tahun. Kalau berdasarkan jenis kelamin: perempuan 80 tahun, sedangkan laki-laki 77 tahun. Tingkat kematian penduduk usia 15 hingga 60 tahun per 1000 penduduk adalah 115 untuk laki-laki dan 75 perempuan.

Pembangunan berkelanjutan

Sebuah laporan World Wildlife Fund (WWF) di tahun 2006 menyebut Kuba satu-satunya negara di dunia yang telah mencapai pembangunan berkelanjutan. Pasalnya, Kuba berhasil mengejar kemajuan signifikan pada pembangunan manusia, seperti melek huruf 100 persen dan angka harapan hidup yang tinggi, dengan tingkat kerusakan lingkungan yang sedikit sekali.

Kuba berhasil merancang sebuah model pembangunan yang memprioritaskan pembangunan manusia berdampingan dengan pemeliharaan kapasitas ekosistem. Di sektor pertanian, misalnya, Kuba berhasil menyediakan kebutuhan pangan rakyatnya dengan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan beralih pada pertanian organik.

Begitulah, Kuba berhasil mencapai kemajuan signifikan dalam pembangunan manusianya. Semua prestasi itu dicapai di bawah embargo ekonomi dan rongrongan dari Amerika Serikat selama setengah abad. Itu juga dicapai oleh Kuba di atas prinsip berdiri di kaki sendiri alias berdikari

 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: