//
you're reading...
Creativity, Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Dokter Revolusioner: Bagaimana Venezuela dan Kuba Mengubah Konsepsi Dunia Mengenai Kesehatan

Revolutionary Doctors, sebuah buku yang ditulis oleh Steve Brouwer dan dipublikasikan oleh Monthly Review Press, yang membeberkan penjelasan penting mengenai inovasi dan program inspiratif yang dilakukan oleh Venezuela dalam hal pelayanan kesehatan komunitas yang didesain untuk melayani -dan sebagian besar juga dilakukan oleh- kelompok masyarakat miskin. Ditulis berdasarkan observasi partisipatif dan penelitian mendalam dalam jangka waktu yang cukup lama, Steve Brauwer memaparkan cerita menarik mengenai program Integral Community Medicine, dimana para dokter (yang juga berperan sebagai guru) turun ke pedesaan dan masyarakat miskin perkotaan untuk merekrut dan melatih para dokter yang berasal dari para petani dan kelas pekerja.

Dari mana para dokter revolusioner itu berasal?
Para petani itu akan segera berlari dengan begitu antusias dan tanpa syarat untuk membantu saudara mereka. (Che Guevara, “Revolutionary Medicine,” 1960

Meski Che Guevara datang ke Kuba dengan memanggul senapan di pundaknya dan memasuki Havana pada tahun 1959 sebagai salah satu komandan yang memenangkan Revolusi Kuba, namun ia tetap menganggap dirinya sebagai seorang dokter. Lima tahun sebelumnya, seorang pemuda Argentina yang berusia 25 tahun tiba di Guatemala dan menawarkan “gelar” kedokteran yang baru saja ia raih pada sebuah layanan program transformasi sosial untuk perdamaian. Dr. Ernesto Guevara berharap mendapatkan pekerjaan pada layanan kesehatan masyarakat tersebut dan berkontribusi pada program reformasi besar yang diinisiasi oleh Presiden Albenz, namun ia tidak pernah mendapatkan banyak kesempatan untuk bekerja sebagai seorang dokter di Guatemala. Beberapa bulan setelah kedatangan Guevara, pemerintahan Arbenz ditumbangkan oleh kudeta militer yang dirancang oleh United Fruit Company, beberapa kolonel di Guatemala, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan CIA.

Che tidak pernah kehilangan pandangan tentang nilai yang telah terpatri dalam dirinya – penyatuan misi kesehatan dengan upaya menciptakan sebuah masyarakat yang adil. Ketika Che berbicara didepan para milisi Kuba pada 19 Agustus 1960, satu setengah tahun setelah kemenangan revolusi, ia memilih berbicara mengenai “Pengobatan Revolusioner” dan kemungkinan untuk mendidik dokter jenis baru.

“beberapa bulan sebelumnya, di sini (Havana), sekelompok dokter yang baru saja menyelesaikan pendidikan kedokteran menyatakan keengganannya untuk turun ke wilayah pedesaan dan meminta pembayaran gaji sebelum mereka setuju untuk berangkat… Namun apa yang akan terjadi jika malah anak-anak ini, yang keluarganya umumnya dapat membayar studi mereka selama bertahun-tahun, adalah anak-anak yang kurang beruntung dan baru saja menyelesaikan sekolah dan mulai mempraktikkan profesi mereka? Apa yang akan terjadi jika dua atau tiga ratus petani datang, misalnya kita berandai-andai, dari aula universitas? Apa yang akan terjadi, sederhana, para petani itu akan segera berlari dengan begitu antusias dan tanpa syarat untuk membantu saudara mereka.”

Sejak itu, pengobatan dan pelayanan kesehatan di Kuba dikembangkan dengan sejumlah cara yang unik dan revolusioner, namun baru sekarang, hampir 50 tahun kemudian, mimpi Che menjadi kenyataan. Kini cita-cita itu menjadi nyata, para petani bersama dengan anak-anak dari kelas pekerja miskin dan komunitas adat, menjadi dokter dan berlari, “dengan antusiasme tanpa syarat untuk membantu saudara mereka.”

Lain kisah, ini terjadi di pegunungan Haiti, diantara suku Garifuna yang berada di wilayah Pantai Karibia Honduras, di pelosok desa-desa di Afrika dan di dataran tinggi Bolivia, ini terjadi dalam skala yang sangat luas di wilayah pedesaan dan pemukiman kumuh perkotaan di Venezuela. Ketika saya dulu tinggal di sebelah barat pegunungan Venezuela sekitar tahun 2007 dan 2008, saya menyaksikan lahirnya dokter-dokter revolusioner setiap pagi begitu saya keluar dari pintu rumah kami yang beratapkan seng. Adegan yang pasti akan membuat Che gembira:

Begitu matahari terbit di atas gunung di belakang desa Monte Carmelo dan kabut putih mulai terlihat mulai meninggi, empat petani muda yang mengenakan kaos polo merah anggur, berjalan menyusuri jalan dan jaket putih terlipat dibawah lengan untuk melindungi mereka dari debu. Sekitar pukul 7 pagi mereka melambaikan tangan kepada murid-murid sekolah menengah atas yang telah menunggu untuk memulai kelas di tiga ruangan sebuah koperasi perempuan dan selanjutnya mereka menumpangi “taksi”, sebuah truk Toyota pickup berumur 30 tahun yang sering mengangkut 20 atau lebih penumpang di bagian belakang. Mereka menyusuri jalan gunung yang berkelok-kelok,melalui jurang yang dalam di bagian bawah, dan menyusuri bukit di seberang lembah menuju kota Sanare, dimana mereka akan bekerja sepanjang pagi bersama dokter-dokter Kuba di kantor-kantor konsultasi komunitas dan Klinik Diagnosa modern.

Sekitar pukul 7:45, empat siswa kedokteran tambahan dari desa yang mengenakan jaket putih, melalui rumah kami, melewati alun-alun dan gereja kecil, dan berkumpul di depan sebuah bangunan beton kecil yang disebut ambulatorio. Pada saat yang sama, tiga siswa lain bergabung dengan tiga siswa kedokteran yang muncul dari jip biru terang Carlos, “the Navigator”, salah satu kendaraan lain milik koperasi yang digunakan untuk transportasi masyarakat. Siswa-siswi dari Sanare ini lalu mengambil jaket putih mereka dan memeluk sahabat-sahabat mereka lalu menunggu kedatangan Elsy, seorang komite relawan kesehatan yang sedang belajar untuk menjadi perawat, untuk membuka pintu gerbang menuju ambulatorio, klinik berjalan yang menawarkan jasa kedokteran Barrio Adentro.

Saat saya berkunjung ke tempat itu, saya melihat calon-calon pasien yang sedang duduk di sebuah bangku kecil, di sebuah teras yang tertutup di depan pintu masuk. Mereka menunggu Dr. Tomasa, dokter spesialis keluarga. Dua remaja perempuan yang nampak ceria duduk di sebelah Dr. Raul ruang pemeriksaan gigi dan tersenyum menyeringai. “Apa yang salah dengan gigi anda?” saya bertanya.

“Tidak ada,” respon salah satu dari mereka, “Dr. Raul memberikan pemeriksaan lanjut kepada kami.” Pemeriksaan lanjut? Orang tua mereka tak sekalipun menerima layanan pemeriksaan kesehatan gigi ketika mereka masih muda -akibatnya, begitu banyak penduduk yang berusia di atas 40 atau 50 tahun yang memiliki sedikit gigi.

Sekitar pukul 8 pagi, salah seorang siswa kedokteran berdiri di belakang sebuah meja kayu sederhana, menjalankan tugas resepsionis. Sedangkan yang lain sibuk bolak balik ke rak-rak berkas, mengatur dan memperbarui informasi kedokteran setiap keluarga dalam komunitas. Sepertiga yang lain bercakap-cakap secara informal dengan para pasien yang sedang menunggu pemeriksaan, menghibur anak-anak mereka, dan secara informal menanyakan kondisi kesehatan keluarga mereka. Empat siswa lain berdiri di samping Dr. Tomasa di ruang konsultasi, memperhatikan sang dokter menanyakan riwayat diri dan keluarga lalu memeriksa si pasien. Mereka juga mengambilkan obat, thermometer, dan menimbang anak sehat yang menemani ibunya. Hari ini, seperti setiap harinya, Dr. Tomasa berujar kepada siswa-siswa nya, “Silahkan, ada pertanyaan lagi. Beginilah cara kami belajar. Anda tidak dapat bertanya terlalu banyak.”

Monte Carmello adalah sebuah desa kecil yang merentang di sepanjang jalan beraspal diatas lereng gunung kaki bukit Andes Negara bagian Lara. Sebelum Hugo Chavez menjadi presiden di tahun1999, jalanan tersebut belum beraspal dan sekolah menengah atas juga belum ada. Menurut sensus 2007, populasi daerah tersebut terdiri dari 129 keluarga dan kira-kira 700 individu, hampir semua dari mereka menggantungkan hidup dari hasil mengolah lahan dengan cara manual, atau dengan kuda dan lembu. Pada tahun yang sama sembilan penduduk Monte Carmelo adalah siswa kedokteran. Delapan tercatat sebagai siswa di Medicina Integral Communitaria (lebih dikenal dengan sebutan MIC), sebuah kursus intensif selama enam tahun yang dalam bahasa Inggris biasa disebut Pengobatan Komprehensif Komunitas (Comprehensive Community Medicine). Dan yang kesembilan belajar mengenai pengobatan di Kuba. Dua perempuan muda dari dusun tetangga juga belajar di sekolah kedokteran tersebut. Mereka adalah bagian dari kelompok 67 siswa di wilayah pertanian ini yang telah menjadi dokter.

Para siswa tersebut beragam: beberapa siswa berumur 19 atau 20 dan baru saja menyelesaikan jenjang pendidikan menengah atas; yang lain berumur mendekati 30 dan telah memiliki anak kecil; dan beberapa siswa bahkan berusia lebih tua. Beberapa ibu-ibu muda telah menyelesaikan pendidikan menengah melalui Mission Ribas, salah satu misi sosial Bolivarian yang mengajak mereka yang telah dewasa untuk kembali bersekolah pada sore hari dan di akhir minggu. Semua siswa begitu antusias menjalankan peran mereka dalam hal pembinaan kesehatan dan memperkenalkan model perawatan kedokteran yang layak ke dalam komunitas dan juga kepada dunia luas. Dan kebanyakan dari mereka bermimpi untuk menyamai guru mereka yang berasal dari Kuba dan suatu saat dapat berperan sebagai ahli kedokteran internasional di wilayah yang terpencil dan miskin di belahan dunia yang lain.

Eksperimen pelatihan terhadap dokter muda di MIC seharusnya menjadi perhatian internasional meski jika program ini hanya kepada 67 siswa di wilayah perkebunan kopi yang terpencil Negara bagian Lara. Namun yang terpenting bahwa apa yang dilakukan di wilayah ini hanyalah bagian kecil dari upaya besar untuk mentransform pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Venezuela. Hampir 25.000 siswa terdaftar di empat tahun pertama MIC pada tahun 2007, 2008, dan pada tahun 2009 dan 2010 beberapa siswa lain ikut bergabung, yang menambah jumlah siswa yang terdaftar selama enam tahun berdirinya IMC hingga 30.000 siswa. Jumlah ini hampir menyamai jumlah keseluruhan dokter yang melakukan praktik pengobatan di Venezuela ketika Hugo Chavez terpilih sebagai presiden di tahun 1998.

Salah satu aspek unik dari MIC adalah bahwa siswa di Monte Carmelo tidak perlu meninggalkan campo, desa mereka, dan begitu pula untuk para siswa yang berada di wilayah miskin perkotaan Venezuela tidak perlu meninggalkan barrios mereka untuk mengikuti sekolah kedokteran. Medicina Integral Comunitaria adalah sebuah “universitas tanpa tembok” yang melatih dokter-dokter muda di lingkungan rumah mereka sendiri. Ini bukanlah kursus jangka pendek pertolongan kesehatan atau “barefoot doctors,”[1] namun ini adalah sebuah program sistematis yang dirancang untuk menghasilkan ahli kedokteran jenis baru. Setiap pagi selama masa studi mereka, siswa MIC membantu para dokter di Barrio Adentro melayani para pasien yang mengidap penyakit dan belajar memahami kebutuhan kesehatan masyarakat di komunitas mereka. Dan setiap sore, mereka bertemu dengan para guru besar di MIC dalam serangkaian kelas kedokteran formal yang menggunakan kurikulum yang sistematis dan termasuk didalamnya mengenai studi ilmu kedokteran yang dipelajari di universitas “tradisional”.

Program pendidikan MIC tidak dapat berjalan tanpa program Barrio Adentro, sistem kesehatan nasional yang pertama kali memberikan perawatan dasar pada tahun 2003 berkat komitmen para ahli dari Kuba. Dari 2004 hingga 2010, Barrio Adentro secara berkesinambungan kembali mengerahkan antara 10.000 hingga 14.000 dokter Kuba dan 15.000 hingga 20.000 personil kedokteran Kuba lainnya seperti dokter gigi, perawat, ahli terapi, dokter mata, dan teknisi. Pelayanan kesehatan gratis yang mereka berikan bagi semua rakyat Venezuela dilakukan di hampir 7.000 kantor berjalan dan 500 klinik diagnosa yang lebih besar, dan mereka sangat efektif dalam memenuhi 80 persen kebutuhan medis masyarakat yang menderita penyakit baik yang telah maupun yang sama sekali belum mendapatkan pelayanan kedokteran oleh sistem pelayanan kesehatan lama.

Tentu Kuba tidak dapat terus menerus mengirim tenaga kedokteran ke Venezuela tanpa batasan, begitu pula pemerintahan Chavez tidak ingin terus tergantung kepada dokter dari luar selamanya. Sehingga ketika Barrio Adentro diluncurkan pada tahun 2003, ahli kedokteran Kuba dan Venezuela merancang sebuah program pendidikan kedokteran baru yang akan memungkinkan Venezuela dapat mempertahankan sebuah program keshatan masyarakat yang universal dan dapat berfungsi secara permanen. Dimulai pada tahun 2005, dokter-dokter Kuba diminta untuk menjalankan dua peran ganda: tidak hanya tetap melanjutkan perawatan terhadap pasien di klinik Barrio Adentro, namun kebanyakan dari mereka juga mulai memberikan pengajaran bagi program MIC mengenai pengobatan komprehensif berbasis komunitas. Tujuan MIC adalah untuk mengintegrasikan pelatihan praktisi keluarga kedalam struktur komunitas dalam sebuah upaya yang mendasar dengan mempertimbangkan aspek pemenuhan kebutuhan kedokteran bagi seluruh warga, penggunaan sumberdaya lokal, dan promosi sistem perlindungan kesehatan yang berbasis pada pencegahan dan pola hidup sehat.

Misi Kuba di Venezuela dapat terlaksana karena selama setengah abad terakhir, Kuba telah mengembangkan visi pelayanan kedokteran lintas Negara. Pekerja medis Kuba, selain memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi semua warga, juga telah mentransformasi diri menjadi “senjata solidaritas,” serupa kekuatan revolusioner yang telah dikerahkan ke lebih dari 100 negara di seluruh penjuru dunia. Sejak tahun 2000, komitmen Kuba semakin meningkat karena Revolusi Bolivarian di Venezuela telah memberikan antusiasme, sukarelawan dan sumber-sumber ekonomi. Melalui beberapa persetujuan kerjasama, Kuba dan Venezuela telah memulai kerjasama di bidang lain seperti kesehatan, pertanian, energi, dan pembangunan industri. Dan kemudian kerjasama ini juga diperluas ke Negara-negara lain, khususnya melalui ALBA, dimana didalamnya termasuk Bolivia, Nikaragua, dan Ekuador dan juga beberapa Negara kecil di Kepulauan Karibia seperti Dominika, Antigua dan Barbuda, Saint Vincent dan Grenadines.

Dari semua upaya besar yang telah dilakukan, pemberian layanan kesehatan sejauh ini menjadi yang paling menonjol. Untuk memperluas pelayanan kesehatan universal bagi masyarakat miskin dan kelas pekerja serta berkesesuaian dengan visi baru dan egalitarian masyarakat ini, maka kebutuhan untuk menambah ahli kedokteran spesialis menjadi mendesak untuk segera direalisasikan. Berdasar pada pandangan ini, Kuba kini sedang mendidik lebih banyak dokter di Negara mereka meski mereka juga melatih puluhan ribu di Venezuela. Pada tahun 2008, sekitar 29.000 rakyat Kuba terdaftar di sekolah kedokteran, ditambah sekitar 24.000 mahasiswa asing (termasuk lebih dari seratus 100 mahasiswa dari Amerika Serikat) yang sedang mengambil studi di Sekolah Kedokteran Amerika Latin di Havana atau di sekolah Program Baru Pelatihan Dokter Amerika Latin yang berlokasi di empat provinsi lain.

Pasukan dengan Jaket Putih

Saya pertama kali menyadari betapa besarnya revolusi medis ini pada tahun 2004 saat pertama kali mengunjungi Venezuela. Ketika Dr. Yonel, seorang dokter gigi muda yang bekerja di sebuah barrio di Caracas, memberi informasi bahwa terdapat lebih dari 10.000 dokter bekerja di Venezuela, saya lalu berseru, “Un ejército de medicos! pasukan dokter!”

Dr Yonel tersenyum dan menimpali, “Un ejército de paz. Pasukan perdamaian.”

Sangat jelas terlihat bahwa kolaborasi Revolusi Kuba yang terus diremajakan dan Revolusi Venezuela yang baru dilahirkan itu telah menghasilkan sesuatu yang mengesankan. Dan semakin banyak Negara di Belahan Barat, yang begitu lama berada di bawah penindasan kelompok kaya minoritas yang konservatif atau kelompok militer otoriter yang begitu tergantung atas kapital dan instruksi politik dari Utara, kini tidak lagi rela untuk mematuhi seruan Amerika Serikat untuk menjauhkan diri dari Kuba dan Venezuela. Sejak upaya Amerika Serikat yang begitu lama memblokade ekonomi dan gagal menghalangi pembangunan di Kuba, Amerika Serikat berupaya untuk meluncurkan gerakan pembangkangan di Kuba dan membantu percobaan kudeta di Venezuela. Ketika upaya ini juga gagal, pemerintah Amerika Serikat mengenakan kebijakan ekonomi yang culas dan pembatasan kunjungan terhadap Kuba pada tahun 2004 dan mendanai serangkaian skema untuk menyingkirkan kedua pemerintahan revolusioner tersebut. Pada tahun 2006, Amerika Serikat kembali merendahkan martabatnya sendiri hingga titik yang paling rendah ketika berupaya untuk secara langsung menyabotase misi medis kemanusiaan Kuba dengan meluncurkan Cuban Medical Professional Parole Program. Program ini berisi aturan yang sengaja didesain untuk membujuk dokter, perawat dan teknisi kedokteran dari Kuba untuk meninggalkan tugas luar negeri mereka dengan menawarkan status imigran khusus dan jaminan dapat dengan mudah dan cepat memasuki wilayah Amerika Serikat.

Upaya-upaya antagonistik ini tidak cukup sukses mengurangi solidaritas dan rasa hormat yang diperoleh Kuba dan Venezuela dari masyarakat internasional, dan juga tak mampu menghambat perluasan program bantuan medis kemanusiaan serta pendidikan medis internasional. Pada tahun 2007, seorang pemuda Chile, seorang siswa yang telah lulus dari Sekolah Kedokteran Latin Amerika di Havana, berbicara pada upacara pemberian ijazah dan menyampaikan kepada teman-teman sekelasnya: “Hari ini kita adalah pasukan dengan jaket putih yang akan memberikan kesehatan yang baik dan martabat bagi rakyat kita.”

Pada tahun 2010, Kuba dan Venezuela lebih jauh mendemonstrasikan kemampuan mereka dengan menjadi yang terkemuka dalam hal penyedia bantuan kesehatan baik untuk kondisi darurat maupun dalam jangka waktu yang lama terhadap Haiti setelah bencana gempa bumi. Brazil, raksasa ekonomi Amerika Latin, mengisyaratkan pengakuan tersebut dengan mengumumkan keinginannya untuk bergabung bersama Kuba dalam kerjasama kemitraan untuk mewujudkan sistem kesehatan masyarakat baru di Haiti. Jose Gomes, Menteri Kesehatan Brazil, menjelaskan mengapa negaranya memilih berkerjasama dengan Kuba melalui sebuah proyek penting dan mendesak: “Kami baru saja menandatangani kerjasama –Kuba, Brazil dan Haiti- dimana semua Negara berkomitmen untuk menyatukan kekuatan untuk memperbaiki sistem kesehatan di Haiti… Kami akan menyediakan ini bersama Kuba –sebuah negara yang memiliki pengalaman internasional yang sangat panjang, memiliki kemampuan teknikal di atas rata-rata, tekad yang besar, dan tentunya memiliki “hati” yang luar biasa.

Bagi Kuba, Venezuela, dan bagi aliansi mereka di ALBA, kemenangan-kemenangan selama dekade pertama abad 21 ini melebihi “diplomasi kudeta”, ini adalah kemenangan moral. Mereka menunjukkan kekuatan solidaritas sosial dan kepedulian kemanusiaan bagi sesama, nilai yang bertolak belakang sama sekali dengan konsepsi materialistik, egoistik dan sikap agresif masyarakat kapitalis maju.

Buku ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih jauh kepada para pembaca bahwa dokter-dokter revolusioner dan pekerja layanan kedokteran telah menjadi protagonist utama dalam perubahan sosialis dan sekaligus kembali mendefinisikan bagaimana perubahan seharusnya menampakkan wajahnya. Bab 2 hingga Bab 4 menjelaskan sekilas mengenai misi medis internasional Kuba, serta dampak besar yang dihasilkan dari misi tersebut di berbagai belahan dunia, dan sekaligus mengenai perkembangan keseluruhan pelayanan kesehatan di Kuba selama 50 tahun terakhir. Bab 5 hingga Bab 8 menggambarkan bagaimana sebuah sistem masyarakat baru, Barri Adentro, dilaksanakan di Venezuela, dan bagaimana dokter-dokter baru di Venezuela dididik untuk menyokong sistem ini di masa depan. Deskripsi ini berdasar pada observasi saya selama berhari-hari berinteraksi dengan para dokter, siswa kedokteran, komite kesehatan, dan anggota komunitas yang mereka layani. Akhirnya, empat bab terakhir mengilustrasikan bagaimana kultur kapitalis dan kekuatan imperialis menolak pengembangan pengobatan revolusioner dan kesadaran revolusioner, sementara kultur sosialis yang terus berkembang terus bergerak maju dengan ide-ide baru dan menciptkan pola praktik dan komitmen keseharian yang kemudian menghasilkan masa depan yang revolusioner

[1] Istilah ini diperuntukkan untuk petani yang diberikan pelatihan kedokteran dan paramedic dasar dan bekerja di wilayah pedesaan. Hal ini biasa dilakukan karena layanan kesehatan dokter ahli tidak tersedia.

*) Artikel ini sebelumnya dimuat dihttp://venezuelanalysis.com/analysis/6368, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Zulkhair Burhan.

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/…/dokter-revolusioner-bagaim…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: