//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan, Review

Nasionalisme atau Keblinger ?

Jusman Syafii Djamal

April 22 at 2:29pm ·

Tadi pagi bertemu Prof Saswinadi Sasmoyo, meski usia merambat tua beliau masih tampak muda dan tetap bernas, cerdik cendikia.
Karena sudah lama tak bersua dengan Maha Guru sy ketika belajar di ITB tentu cerita nostalgia banyak muncul. Saya bilang pak Sas harus tetap mengajar meski suda pensiun. Ia tergelak dan lantas bilang :Aku ngga diakui jadi dosen. Kemudian ia bercerita pengalaman pribadinya.
Maha Guru Teknologi Kimia ini punya cerita menarik. Ia ngga bisa mengajar karena alasan sederhana keahlian nya tak diakui.

Semua ijazah sekolah jenjang Master of Science dan PhD yg diperolehnya dengan susah payah di Amerika serta jam terbang mengajar a serta dedikasi beliau yg pernah diberi kehormatan Medali Ganesha Bakti Cendikia Utama dianggap tak sesuai dengan aturan berlaku.

Dimasa lalu beliau tak pernah ditanya apa ijazah nya yg diperoleh sudah disetarakan oleh Dikti tidak. Sebab dimasa lalu ijazah S1 ITB pernah disetarakan dgn S2, jika ambil S3 di Delft University Belanda banyak kredit yg diakui sehingga bisa saja S1 langsung straight ke S3 tanpa perlu S2.

Kini ia harus ditest ulang takut ijazahnya tak setara dengan Universitas di Indonesia. Untuk itu salah satu syarat penting selain ijazah dan harus ikut test, beliau juga harus dapat nenunjukkan paspor lama yg memperlihatkan visa Amerika yg diperoleh ketika bersekolah. Luar biasa pengalaman beliau.

Kini ia hanya diakui sebagai Sarjana Strata 1. Yg hanya berijazah S1 tak boleh jadi dosen. Apa boleh buat kini ia jadi dosen terbang. Alias gelar dosen nya terbang bersama aturan berlaku

Apalagi dia malah heran ketika saya marah, ia hanya tertawa. Dia bilang ngapain kamu sewot Yusman, ini bentuk upaya kita menjaga kedaulatan institusi pendidikan tinggi atau Nasionalisme.

Mereka benar, sy yg keliru. Begitu kata pak Sas. Saya hanya bisa geleng kepala. Siapa yg berani “ngetest” dan nguji beliau yg pernah ditunjuk jadi Rektor ITB bayangan di tahun 78 ketika sedang bergolak. ???

Saya heran orang sekaliber pak Saswinadi yg seluruh hidupnya didedikasikan untuk mengajar dan mendidik, yang selalu minta mahasiswa nya tak lupakan mutiara ajaran Ki Hajar Dewantoro, punya jam terbang dan keahlian mumpuni, pernah jadi Senat Guru Besar ITB saja bisa alami nasib begitu.

Namanya saja gunakan kata sasmaya yg bisa berarti the figure of knowledge an curiousity, sen toch tak boleh jadi dosen karena iajazah yg diakui hanya sampai S1. Yang lain ijazah S2 dan S3 dari universitas ternama di Amerika hanya dianggap kertas biasa. Beliau bisa punya pengalaman begitu, yg lain mudah2an tidak

Mudah mudahan hanya pak Saswinadi yg punya pengalaman aneh tapi nyata ini.
Betapa mudahnya Kita menyia nyiakan Human Capital yg dimiliki. What a Waste ?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: