//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Human being, Life style, Motivasi, Perubahan

Kolaborasi atau Ko-Kreasi?

Indrawan Nugroho
21 April 2016

Kata kolaborasi sudah jadi jargon umum. Semua orang membicarakannya dan percaya akan pentingnya berkolaborasi. Demikian juga komentar teman-teman terhadap tulisan saya kemarin berfokus pada kata Kolaborasi. Padahal ada kata lain yang saya sebut berkali-kali di tulisan saya itu, yaitu kata Ko-Kreasi. Kelihatannya kata Ko-Kreasi ini belum cukup dapat perhatian ya. Padahal trend bisnis masa depan mengarah ke Ko-Kreasi. Yuk kita bahas.

Apa sih sebenarnya kolaborasi itu? Kata Kolaborasi berasal dari bahasa latin ‘collaborare’ yang artinya bekerja bersama. Kolaborasi terjadi ketika dua atau lebih pihak melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Misalnya ada orang jago buat produk souvenir secara massal tapi tidak punya jaringan penjualan. Sementara ada orang yang jago jualan dan punya jaringan distribusi luas tapi produknya terbatas. Maka mereka bisa berkolaborasi. Si produsen souvenir untung karena dapat akses luas ke pasar, sementara si distributor dapat produk tambahan untuk dijual. kedua-duanya diuntungkan.

Apa bedanya dengan Ko-Kreasi? Ko-Kreasi adalah salah satu bentuk kolaborasi. Perbedaan utamanya adalah semua pihak bekerja sama dalam rangka menghasilkan satu produk atau layanan yang sama. Contohnya adalah Wikipedia. Ribuan orang di dunia saling berkontribusi membangun ensiklopedia online paling lengkap di sepanjang sejarah manusia.

Jadi intinya, Ko-Kreasi adalah proses membuat suatu produk atau layanan yang dilakukan secara keroyokan. Sementara kalau kolaborasi, setiap pihak punya produk atau kepentingannya sendiri-sendiri. Mereka bekerjasama karena pihak lain memiliki keunggulan yang bisa menjadi daya ungkit untuk keberhasilan bisnisnya.

Dunia saat ini bergerak ke arah Ko-Kreasi, bukan sekadar Kolaborasi. Uber dan Go-Jek adalah contoh Ko-Kreasi antara penyedia aplikasi dengan pemilik mobil atau motor. Mereka bersatu untuk menghasilkan produk bersama berupa layanan transportasi massal yang nyaman, mudah, dan murah.

Contoh lain datang dari industri fashion. Threadless (www.threadless.com) menjual T-Shirt dengan desain yang unik tanpa memiliki satu desainer pun. Threadless mengundang para graphic designer untuk mendesain T-Shirt dan di posting di website untuk kemudian diberi rating oleh para pengunjung. Desain yang mendapatkan rating tinggi akan diproduksi oleh Threadless. Keuntungan dari penjualan T-Shirt tersebut dinikmati bersama dengan desainernya. Threadless kini menjadi perusahaan yang mendunia hampir tanpa karyawan, dengan margin keuntungan 30% dan tidak memiliki anggaran RnD sedikitpun.

Contoh lain asli dari negeri sendiri. Mas Tejo (@sudjiwotedjo, seniman) bersama Pak Bi (@subiakto, Hotline) membuat video klip lagu Ingsun ciptaan mas Tejo secara Ko-Kreasi. Mas Tejo mengundang para Jancukers (sebutan untuk followersnya di Twitter) yang berminat untuk bersama-sama membuat video klip. 20 orang datang dari seluruh pelosok negeri ke Jakarta tanpa iming-iming bayaran sedikitpun. Video klipnya bisa dilihat di https://youtu.be/XngEL_M62PM dan behind the scene pembuatan videonya bisa dilihat di https://youtu.be/cfDKCEBlJ50

Nah gimana? Tertarik melakukan Ko-Kreasi? Kenapa tidak? Seluruh dunia bergerak kesana, jangan sampai ketinggalan kereta!

Indrawan Nugroho
Business Innovator
CEO CIPTA Consulting

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: