//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Gerakan Literasi Bangsa (Bagian 1)

Catatan, Gerakan, oleh Satria Dharma
2 September 2013

Literacy is an activity, a way of thinking not a set of skills. And it is a purposeful activity—people read, write, talk and think about real ideas and information in order to ponder and extend what they know, to communicate with others, to present their points of view, and to understand and be understood (Langer 1987)

Meski istilah Literasi sudah dipakai secara umum puluhan tahun yang lalu tapi nampaknya istilah ini masih asing bagi kita. Banyak guru yang bertanya-tanya, “Istilah apa lagi ini…?!” dan meski sebagian dari mereka sudah pernah mendengar istilah ini tapi mereka tidak paham apa yang dimaksud dengan ‘Literasi’

Apa itu LITERASI…?!

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.

Konsep maupun praksis literasi fungsional baru dikembangkan pada dasawarsa 1960-an (Sofia Valdivielso Gomez, 2008). Literasi dipahami sebagai ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah” (A Campbell, I Kirsch, A Kolstad, 1992). Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Menurut Rod Welford, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland, Australia “Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.” Jadi Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan literasi yang memadai maka siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan Abad 21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan sebuah buku “Literacy the key to Learning : Framework for Action untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.

Menurut Rod Welford prioritas pendidikan Queensland adalah ‘to enable all students to progress to a higher literacy standard, taking into account their diverse circumstances.’ Jadi meskipun latar belakang siswa berbeda-beda pemerintah harus mengupayakan agar mereka semua mendapatkan tingkat literasi yang memadai untuk menghadapi tantangan Abad 21. Literacy-the Key to Learning: Framework for Action 2006–2008 memuat rincian langkah-langkah praktis yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Mereka sadar bahwa pembelajaran literasi yang bermutu adalah kunci dari keberhasilan siswa.di masa depan. Oleh sebab itu SEMUA guru, termasuk guru Matematika dan Sains dianggap sebagai Guru Literasi (teachers of literacy). Pembelajaran literasi adalah pembelajaran yang integral. Untuk itu dibutuhkan pembelajaran literasi yang bermutu pada semua mata pelajaran
Bagaimana dengan kita?

Ternyata banyak guru dan para birokrat pendidikan, termasuk para pejabat di Kemendikbud di Senayan yang belum paham apa itu literasi. Lihat saja dokumen Kurikulum 2013 yang baru saja dirilis dan dianggap akan dapat membuat pendidikan bangsa kita bakal setara mutunya dengan negara maju. Perhatikan apakah ada disebut-sebut tentang pentingnya literasi? Bahkan tidak ada perubahan mendasar pada pembelajaran membaca dan menulis. Seolah ketrampilan membaca dan menulis adalah ‘given’ dan akan datang dengan sendirinya pada siswa.

Padahal jelas sekali bahwa literasi membaca siswa kita sangat tertinggal dengan siswa dari negara-negara maju.

Literasi membaca dalam PIRLS 2006 didefinisikan sebagai ‘the ability to understand and use those written language forms required by society and/or valued by the individual. Young readers can construct meaning from a variety of texts. They read to learn, to participate in communities of readers in school and everyday life, and for enjoyment.’

Indonesia termasuk negara yang prestasi membacanya berada di bawah rerata negara peserta PIRLS 2006 secara keseluruhan, yaitu masing-masing 500, 510 dan 493. Sementara posisi Indonesia sendiri berada pada posisi kelima dari urutan terbawah, atau sedikit lebih tinggi dari Qatar (356), Kuwait (333), Maroko (326), dan Afrika Utara (304).

Hasil studi PISA menunjukkan bahwa sebanyak 31.1% siswa Indonesia berada di bawah tingkat literasi-1, 37.6% berada pada tingkat literasi-1, 24.8% berada pada tingkat literasi-2, 6.1% berada pada tingkat literasi-3, dan hanya 0.4% berada pada tingkat literasi-4, serta tidak ada seorang pun yang meraih nilai pada tingkat literasi-5. Kemampuan untuk masing-masing tingkatan ini masih jauh di bawah kemampuan rerata negara-negara yang disurvey.

Apa sebenarnya pentingnya kemampuan praktis literasi itu?

Menurut Witdarmono (Kompas, 23/10/2010) pada Perang Rusia melawan Jepang (1904-1905). Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsushima 27-28 Mei 1905. Geoffrey Jukes, penulis The Russo-Japanese War 1904-1905, mengatakan, penentu hasil perang itu bukanlah teknologi, tetapi tingkat literasi. Hanya 20 persen personel militer Rusia bisa ”membaca dan menulis”. Akibatnya, banyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu) dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia sering salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi.

Sebaliknya, hampir semua tentara Jepang tahu ”membaca dan menulis”. Mereka mahir menggunakan persenjataan militer modern dan memanfaatkan infrastruktur intelijen militer secara benar. Jepang bahkan sudah memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman.

Kemampuan tentara Jepang memahami handbook peralatan perang, membaca peta, mendalami strategi, dan memodifikasi sistem telegraf nirkabel adalah gambaran literasi fungsional. (Sementara itu, kita bahkan tidak pernah membaca manual book dari semua peralatan atau gadget yang kita beli dan kita lebih suka bertanya kesana kemari bagaimana menggunakan peralatan yang kita beli tersebut. Padahal semua cara dan aturan penggunaannya sudah ada tertulis pada manual book tersebut)

Perang kerajaan Spanyol dan Inggris yang berakhir di Pantai Gravelines, Perancis, Agustus 1588, dimenangi oleh armada Inggris. Dalam bukunya, The Achieving Society (1961), David McClelland menulis, Inggris menang karena memiliki need for achievement (kebutuhan meraih keberhasilan) lebih tinggi daripada armada Spanyol. Salah satu penentu n-achievement (n-Ach) adalah corak sastra rakyat. Disinilah pentingnya pembelajaran sastra bagi bangsa. Membaca sastra akan menimbulkan semangat dan meningkatkan ‘need for achievement’ bangsa.

Bersambung….
Surabaya, 30 Agustus 2013

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: