//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Review

Indonesia Butuh Teladan-Berliterasi dari Atas: Darurat Membaca untuk Indonesia?

Hernowo Hasim
19 April , 2016

Pagi tadi, Selasa 19 April, saya membaca berita berjudul “Literasi Bermakna Luas: Gerakan Berbasis Masyarakat Tak Sekadar Mengajarkan Baca-Tulis”. Berita tersebut dimuat di koran Kompas edisi 19 April 2016 di halaman 12. Dalam berita itu, Kompas mengutip sebuah berita penting yang berasal dari Central Connecticut State University (CCSU). Menurut Kompas, baru-baru ini (tidak disebutkan secara jelas kapan itu terjadi) CCSU merilis peringkat literasi negara-negara di dunia (World’s most literate nations ranked). CCSU menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara.

Bayangkan: Indonesia hanya unggul dari Botswana? Di manakah negara Botswana itu? Menurut Wikipedia “Republik Botswana adalah sebuah negara di Afrika bagian selatan yang terkurung oleh daratan. Sebelumnya negara ini berupa protektorat Britania Raya yang bernama Bechuanaland. Hubungan ekonomi dengan Afrika Selatan sangatlah erat. Produk utama adalah peternakan hewan dan pertambangan.”

Data lain yang saya peroleh dari Wikipedia tentang Botswana adalah ibu kotanya Gaborone dan bahasa resminya Inggris. Kemudian nama presidennya Ian Khama dan wakil presidennya Mokgweetsi Masisi. Mendapat kemerdekaan dari Britania Raya pada 30 September 1966 dan luas total negaranya 581.730 Km2. Jumlah penduduknya (perkiraan pada 2014): 2.155.784 orang.

Disebutkan pula oleh Kompas bahwa kajian CCSU tersebut ingin memotret perilaku berliterasi dan sumber pendukung, antara lain dengan melihat ukuran dan jumlah perpustakaan serta keterbacaan surat kabar. Di lingkungan ASEAN sendiri, Indonesia tertinggal dari Thailand (peringkat ke-59) dan Malaysia (peringkat ke-53). Sementara itu, Finlandia, Norwegia, Eslandia, Denmark, dan Swedia mengisi lima besar dunia dari peringkat yang diteliti CCSU.

Yang menarik, Kompas juga menunjukkan bahwa literasi pada masa kini bermakna luas dan tak sekadar mengajarkan baca-tulis. Mari kita berhenti sejenak di sini. “Literasi pun dipahami tidak sekadar membaca dan menulis, tetapi lebih pada memanfaatkan informasi dari bahan bacaan untuk menjawab beragam persoalan kehidupan sehari-hari,” tulis Kompas.

Saya sangat setuju. Apalagi literasi dikaitkan dengan informasi. Kini informasi—semua orang sudah sama-sama tahu—bisa diperoleh dari sumber-sumber yang sangat kaya. Internet—lewat berbagai media penyalurnya seperti Twitter, Facebook, Instagram, Line, dan masih banyak lagi lainnya—adalah salah satu sumber informasi yang amat dahsyat. Hanya, benarkah kita telah memanfaatkan sumber-sumber informasi yang kaya terebut dari Internet secara benar? Apakah kegiatan membaca dan menulis untuk memanfaatkan informasi lewat sarana digital benar-benar sudah memadai dan kualitasnya tak diragukan lagi?

Sudahkah pemanfaatan informasi itu telah mampu—seperti dikatakan Kompas—”menjawab beragam persoalan kehidupan sehari-hari”?

Itu hal pertama yang ingin saya “ikat” (pertanyakan dengan serius) begitu membaca berita Kompas di pagi hari ini. Menurut Kompas pula, “Gerakan literasi berbasis masyarakat mampu bertahan dan berkembang di perkotaan hingga pedesaan karena berangkat dari kebutuhan masyarakat.” Ini tentu pantas kita syukuri. Meskipun tanpa disertai data valid berupa angka-angka, “mampu bertahan dan berkembang” itu layak kita apresiasi. Setidaknya, menurut Kompas ada sekitar 7.000 taman bacaan masyarakat (TBM) yang menghadirkan buku yang bermakna bagi komunitas bersangkutan. Buku dihadirkan tidak sekadar untuk memenuhi rak. Namun, buku menjadi rujukan bagi masyarakat untuk informasi yang berguna bagi kehidupan.

Apa yang disampaikan Kompas ini seperti hilang tak berjejak begitu kita membaca rilis CCSU yang disampaikan Kompas di bagian lain di berita yang sama. Ini hal kedua yang ingin saya “ikat” (lagi-lagi saya garisbawahi dengan tinta merah). Seperti kita ketahui, CCSU telah merilis peringkat literasi negara-negara di dunia dan Indonesia berada di nomor dua terbuncit dan hanya unggul dari Botswana. Indonesia hanya unggul dari sebuah negara yang berada di Afrika bagian Selatan? Dan untuk negara-negara di kalangan ASEAN, kita pun kalah oleh Thailand dan Malaysia! Ini hal kedua yang ingin saya “ikat”—pertanyakan sekaligus mencari jalan keluarnyta (kalau bisa he he he).

Tampaknya kita memerlukan keteladanan berliterasi yang konkret! Bukan sekadar panduan atau petunjuk melakukan gerakan literasi di atas kertas. Panduan atau petunjuk tetap penting sih agar “gerakan” itu fokus dan tidak menjalar ke mana-mana. Tetapi, yang saya maksudkan dengan keteladanan berliterasi itu bukan dalam konteks “omdo” (omong doang) tetapi benar-benar “gerakan”—gerakan yang bagaikan ombak lautan yang menerjang karang (berbagai hadangan dan hambatan) dan itu kelihatan sekali di tengah masyarakat.

Bagaimana “gerakan” literasi itu benar-benar ada dan dapat kita rasakan mewujud di perpustakaan-perpustakaan besar di perkotaan dan di kampus-kampus serta sekolah dan pesantren di seluruh Indonesia—mungkin sepereti itu bayangan saya.

Terus terang, saya memang belum tahu secara persis “gerakan” itu seperti apa. Kalau saya hanya diminta membayangkan, maka yang saya bayangkan pertama, mungkin saya ingin meminta para pejabat dan “public figure” mau secara sukarela—dalam aksi yang demonstratif dan atraktif—membaca buku dan keluar-masuk perpustakaan untuk mencontohkan bagaimana asyiknya membaca buku. Kedua, ada poster-poster yang disebar di mana-mana—baik secara online maupun offline—yang memberitahu masyarakat tentang berbagai manfaat membaca beserta cara-cara membaca yang efektif. Dan ketiga, memang ada kampanye membaca secara massif serta ada pembimbing, pemandu, dan konsultan membaca! Bukan kampanye yang diam dan hanya sesekali dilakukan (seremonial). Ini kampanye yang sangat sering dilakukan dan diulangi berali-kali dan mengabarkan bahwa negeri kita, Indonesia—merujuk ke rilis CCSU—sedang berada dalam keadaan darurat membaca.[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: