//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

The Right Man at The Right Time (Seri Fatherman Bag. 3)

Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Pernah lihat adegan ini?
“Seorang wanita lari dengan nafas tersengal-sengal dikejar seorang monster atau makhluk jahat. Di depannya hanya ada jurang. Ia tak bisa lari kemana-mana. Pilihannya hanya dua. Mati jatuh ke jurang atau diterkam monster buas. Begitu sang monster mendekat dan siap memangsa korbannya, muncullah pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani ia taklukkan sang monster hingga lumat dan lenyap dari muka bumi. Si wanita meleleh hatinya seraya membatin ‘So sweet. You are my hero’.

Demikianlah kisah mainstream kepahlawanan dalam hampir setiap film, komik ataupun novel. Polanya selalu sama. Pahlawan datang di detik-detik terakhir yang menegangkan. Ketika adrenalin bergejolak, jantung berdetak kencang, air mata terkuras karena saking pedihnya hati dibarengi dengan air kencing yang tanpa sadar keluar saking mencekamnya suasana, muncullah sang pahlawan. Yes. Pahlawan selalu punya rumus : datang di saat yang tepat. Beda dengan mahasiswa jenius yang datang kecepetan, bahkan sebelum pintu kelas dibuka. Atau polisi dalam film-film Indonesia jaman dulu yang selalu datang terlambat sekedar untuk memasang garis kuning di TKP sambil membereskan puing-puing di lokasi kejadian diikuti credit title tanda berakhirnya film.

Tepat waktu, itulah ciri pahlawan. Tidak terlalu cepat seperti petugas pendaftaran atau terlambat seperti haid alias datang bulan. Dan itu pulalah yang selayaknya dimiliki pahlawan bagi anak yang bernama Fatherman. Tahu kapan harus hadir di sisi anak. Tentu tepat waktu yang dimaksudkan disini bukan mengabaikan peran ayah memberi banyak waktu bagi anak. Namun bagaimana melatih kemampuan ayah sebagai Fatherman membaca situasi dan moment agar WAJIB hadir di saat anak membutuhkan. Hasilnya akan memberikan efek terpesonanya batin anak. The right man at the right time. Jangan sampai di situasi genting dan kritis malah orang lain yang hadir. Jika ini sampai terjadi, ayah akan bernasib seperti para jones alias jomblo ngenes yang ditikung teman sendiri. Awalnya dia yang deketin eh nikahnya sama yang lain. Duh sakitnya tuh di sana sini. Perih.

Agar kejadian jones tidak dialami oleh ayah, maka ada dua waktu yang ayah mutlak harus hadir sebagai Fatherman.

Pertama, saat anak sedang sedih.

Inilah waktu-waktu yang kritis. Sebab, saat anak lagi sedih ia butuh sandaran jiwa. Siapapun yang hadir di sisinya saat itu, ia anggap super hero baginya. Disinilah kejelian bandar narkoba, predator seksual dan musuh-musuh pengasuhan dalam mengintai mangsanya. Mereka mengincar anak-anak yang lagi sedih. Bisa karena putus cinta, gagal berprestasi, merasa diabaikan oleh kawan, dan segala masalah anak lainnya. Mereka menyamar sebagai sosok pahlawan padahal sejatinya adalah monster jahat yang siap menerkam. Anak pun terpikat akan sosoknya. Hingga akhirnya dibujuk ke dalam perangkap jahatnya.

Nah, sang fatherman tidak boleh terlambat. Hadirlah di saat situasi tersebut. Sesegera mungkin. Jika saat tersebut sedang ada tugas di kantor, minimal hubungi anak via telpon. Luangkan waktu untuk mendengarkan masalah anak. Jika perlu, berjanjilah untuk pulang lebih cepat. Semakin ayah berani luangkan waktu dan hadir secara fisik dalam situasi ini semakin anak terpikat hatinya. Ayah benar-benar sudah menjadi super hero bagi ananda. This is Fatherman!

Inilah yang diajarkan oleh baginda Nabi. Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ia memiliki sepupu yang dijuluki Abu Umair. Sepupunya ini punya hewan kesayangan, seekor burung pipit yang diberi nama Nughair. Suatu hari Abu Umair berduka. Nughair yang disayanginya telah mati. Ia amat kehilangan. Menangis sesenggukan. Kabar matinya hewan piaraan ini sampai kepada Rasulullah. Beliau pun segera mengunjungi Abu Umair dan menghibur hatinya yang sedang merasakan kehilangan.

Disinilah hebatnya rasul. Tak remehkan urusan yang dianggap ‘sepele’. Sebagian besar ayah mungkin akan bertindak beda. Saat anak kehilangan burung pipit malah dikomentari “Halah, baru burung pipit mati aja kamu udah sedih. Ya sudah, nanti papa ganti sama burung rajawali. Kalau perlu burung garuda yang ada logo pancasila”. Huft… Padahal bukan masalah burung yang mati, namun kehilangan sesuatu yang dicintai amatlah mengoyak hati. Sang fatherman hadir untuk memahami situasi ini.

Kedua, saat anak sakit.

Sakitnya fisik mempengaruhi psikis. Di saat inilah anak butuh diperhatikan. Bukan sekedar obat ataupun makanan. Lebih dari itu, ia butuh perhatian dan kasih sayang. Hadir di sisinya, memeluknya, mengusap kepalanya, menyuapinya makan atau mendoakannya amatlah menyentuh batinnya. Obat akan menyembuhkan dan menguatkan fisiknya, namun perhatian akan menyembuhkan luka batinnya dan menguatkan cinta kepada ayahnya.

Di saat seperti inilah, sang fatherman bisa manfaatkan momen untuk bercerita, menasehati dan mengajarkan hikmah kepada anak. Asal jangan banyak-banyak. Ingat! Anak ini bukan mahasiswa yang lagi ambil kuliah 6 SKS. Jadi nasehati seperlunya saja. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah kepada seorang anak yang menjadi pembantunya. Anak ini beragama yahudi. Di saat ia sakit, Rasul pun mengunjunginya. Hati anak pun tersentuh akan perhatian Rasul. Di saat itulah Rasul pun mengajaknya masuk Islam, ia pun mau sebab hatinya telah terpikat.

Maka, menasehati anak hanya bisa dilakukan oleh ayah yang telah mengikat hati anak lewat momen yang tepat. Hadir di saat sakit itu contohnya. Meleset sedikit, nasehat ayah tak lagi didengarkan malah dikacangin. Kalau kacang sih gurih, tapi dikacangin? Perih…

Agar kedua moment itu bisa memberikan efek yang dahsyat dalam jiwa anak, ayah selaku Fatherman jangan sampai salah kostum. Salah kostum bisa berakibat fatal. Lihat aja Superman. Tanda “S”di dada bidangnya itu kostum khas. Memberi makna tubuhnya yang kekar dan langsing. Seumpama diganti dengan tanda “XL” maka itu bermakna dia sudah overweight. Harus banyak lari pagi. Tidak ada yang mau ditolong karena ragu, sebab Super Heronya sendiri butuh pertolongan konsultan nutrisi, khususnya untuk menurunkan berat tubuh sendiri.

Kostum yang dimaksud bagi Fatherman adalah topi peran yang sudah kita ulas di bagian awal tulisan ini. Dan topi yang tepat di kedua situasi tersebut adalah Topi Konselor. Ayah berperan sebagai konselor yang memahami perasaan anak. Siap mendengarkan keluh kesah anak seraya menunggu moment yang pas untuk memberikan advice. Endurance atau ketahanan Ayah dalam mendengarkan curhat anak dalam situasi ini, amat menentukan.

Kuping emang harus siap panas karena mendengarkan curhat yang berulang. Tapi inilah super hero idaman. Sedikit bicara dan banyak diam namun memberikan kesan. Bukan sembarang diam. Namun diam yang penuh respons lewat isyarat tubuh yang menunjukkan kepedulian. Inilah yang membuat ayah makin tampak cool di hadapan anak.

Kehadiran ayah dengan kostum yang tepat di situasi kritis tersebut adalah prasyarat menjadi sosok ayah yang memorable. Hingga terpahat di hati anak sebuah untaian kalimat “ayah memang tidak selalu hadir setiap saat disisiku, namun ayah selalu hadir di saat aku membutuhkan. Itulah ayahku, sang fatherman.” So sweet…tissue mana tissue? (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: