//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Leadership, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Globalisasi, Kemampuan Daya Saing, Dan Kepemimpinan Di Masa Mendatang

Oleh:
Dr. Ir. Handry Satriago, MM, MBA

Orasi Ilmiah Pada Pelepasan Wisudawan/Wisudawati
Universitas Paramadina
Jakarta, 19 Maret 2011

Yang saya hormati, Civitas Akademika Universitas Paramadina, Orang tua wisudawan/wisudawati ataupun yang mewakili mereka, para undangan lainnya, serta saudara-saudara para wisudawan/wisudawati Universitas Paramadina.

Ketika saya diminta oleh panitia wisuda untuk membawakan orasi ilmiah pada kesempatan acara ini, perasaan saya seperti teraduk. Di satu sisi, saya merasa terhormat karena dipercaya berada di podium ini untuk menyampaikan pemikiran saya. Ada rasa bangga yang membuncah ketika rasa self-esteem, pengakuan terhadap kemampuan diri saya disentuh oleh permintaan ini. Kebetulan globalisasi yang menjadi tema orasi ini merupakan sesuatu yang saya alami langsung setelah hampir 15 tahun bekerja di perusahaan multinasional yang operasinya terhampar di lebih dari 100 negara. Tapi di sisi lain, permintaan ini seperti mengingatkan saya terhadap sejarah kehidupan saya. Saya seperti membuka album foto lama. Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa di mana kesempatan untuk memberikan orasi ilmiah seperti ini bahkan tidak pernah hadir dalam mimpi saya yang paling menyanjung sekalipun. Mengenang hal tersebut, saya bersyukur penuh pada Tuhan Yang Maha Mengatur, dan tanpa sadar saya menggumamkan kata-kata klasik itu: “God really works in amysterious way…”

Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana dan berjuang keras untuk dapat survive di Jakarta. Kedua orang tua saya tidak pernah punya kesempatan untuk menamatkan sekolah mereka lebih tinggi dari tingkat SMP. Mereka termasuk generasi perantau pertama dari kampungnya ke ibu kota ini. Berjibaku dengan keras untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anaknya. Masa kecil saya dilalui sebagai anak orang Padang dalam lingkungan perkampungan Betawi yang kental. Cita-citasaya waktu SD juga sangat sederhana: Asisten Apoteker. Bukan apotekernya, tapi asistennya. Entah kenapa saya selalu menjawab profesi itu kalau ditanya mengenai cita-cita, dan bukan cita-cita seperti kebanyakan anak-anak zaman itu, jadi dokter, insinyur, atau pilot. Mungkin karena ketika diucapkan terdengar seperti sesuatu yang canggih, sophisticated, walaupun saya tidak terlalu mengerti pekerjaan apa itu. Atau mungkin karena memang dari kecil saya selalu ingin berbeda dari apa yang umumnya orang-orang sukai.

Dengan masa kecil seperti itu,segala sesuatu yang berbau ”luar negeri” menjadi sangat luxurious dan tak terjangkau bagi saya, sehingga ketika mengetahui ada program pertukaran remaja Indonesia-Amerika, American Field Services (AFS) pada tingkat SMA, saya rasanya mau mengerjakan apa saja untuk dapat mengikutinya. Tetapi ketika kesempatan itu terbuka lebar, ternyata pada usia 17 tahun lebih beberapa hari, saya menderita sakit yang membuat saya tidak bisa berjalan lagi (di kemudian hari baru diketahui bahwa sakit tersebut ternyata kanker kelenjar getah bening, limphoma non-hodgkin yang tumbuh subur dan merusak sumsum tulang belakang, medulla spinalis, saya). Mimpi saya runtuh. Saat itu, semua cita-cita untuk dapat ke luar negeri terkubur dalam-dalam (jangankan ke luar negeri, melanjutkan sekolah atau berpergian dengan pesawat saja rasanya tidak mungkin). Tapi itulah, Tuhan adalah ahli strategic management yang terbesar. Saya ternyata masih diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan sekolah-kuliah saya, bekerja, dan astaga! setelah 11 tahun sesudah tragedi tak-bisa-berjalan-lagi tersebut dan menjalani kehidupan dengan kursi roda, saya terdampar bekerja di GE, (perusahaan yang sampai sekarang masih mempekerjakan saya). Hanya tiga hari sesudah hari pertama saya bekerja, perusahaan tersebut menyuruh saya pergi ke Singapore. Akhirnya, untuk pertamakali, paspor yang sudah saya buat sejak masa kuliah tersebut dicap oleh petugas imigrasi. Sesudah kepergian pertama tersebut, saya kemudian menjadi “warga negara” global yang memiliki paspor yang cukup kotor dengan berbagai cap imigrasi dari berbagai negara di penjuru dunia. Begitulah, God works in a mysterious way. Manusia sudah diciptakan untuk seharusnya tidak perlu berputus asa.

Bukan maksud saya untuk menjadi melankolis dan dramatis dengan bercerita tentang kisah ”oh mama oh papa” tersebut pada orasi kali ini. Tapi saya ingin berbagi pengalamandan pemikiran dari perjalanan hidup saya selama 42 tahun ini terhadap tiga hal yang ingin saya sampaikan pada orasi ilmiah kali ini: globalisasi, kemampuan daya saing, dan proses memimpin diri sendiri dalam menghadapi tantangan globalisasi tersebut, dilihat dari perspektif bangsa Indonesia di tengah kancah dunia yang terus mengglobal ini. Tiga hal yang menurut saya perlu terus diamati oleh para wisudawan/wisudawati yang sesudah hari ini akan memasuki babak perjuangan kehidupan yang sesungguhnya.

1. Globalisasi dan KemampuanDaya Saing

Secara sederhana, globalisasi sering dianggap sebagai sebuah proses yang mengintegrasikan dunia dalam bidang ekonomi, sosial, ide-ide,pengetahuan, politik, dan budaya. Stiglitz(2006) menyatakan bahwa ekonomilah yang telah mendorong terjadinya globalisasi, didukung oleh menurunnya biaya komunikasi dan transportasi. Akar dari globalisasi adalah terjadinya pertukaran barang, tenaga kerja,teknologi dan modal di berbagai negara dunia. Berbagai referensi tahun 70-an dan 80-an seperti buku The Future Shock maupun The Thrid Wave dari futurist Alvin Toffler (1970; 1980) ataupun Megatrend dari John Naisbitt (1982) sudah memprediksikan dunia yang akan menjadi semakin tanpa batas dengan semakin majunya teknologi informasi. Namun, yang membuat kita tercengang adalah akselerasinya yang semakin hari semakin luar biasa cepat.

Saya beruntung masih sempat mengalami zaman berkirim surat dengan menggunakan perangko, sehingga bisa membandingkannya dengan kondisi sekarang. Saya ingat untuk berkorespondensi dengan seorang teman di Amerika Serikat pada awal tahun 90-an, dibutuhkan waktu paling cepat dua minggu untuk satu putaran menyurati-surat dibalas-dan berkirim surat kembali. Bandingkan dengan sekarang yang dapat dilakukan dalam hitungan detik dengan SMS, BBM, e-mail. Perkiriman berita secara elektronik memang telah terjadi sejak zaman telegraph pada abad ke-18(Standage, 1988), tapi jangkauannya dan jumlah berita yang bisa disampaikan sangat terbatas. Beberapa abad kemudian muncul teknologi faksimili yang bisa mengirim cukup banyak berita dalam hitungan menit, tapi tetap saja dibutuhkan waktu untuk menulis di atas kertas dan mengirimkannya lewat mesin faksimili. Kemudian muncul pager, teknologi pra- SMS yang harus dilakukan dengan cara menelponke seorang operator dan operator tersebut yang akan menyampaikan pesan tertulislewat mesin pager. Teknologi ini cukup laku di zamannya. Sayangnya selalu ada pihak ketiga yang terlibat. Bayangkan ketika digunakan untuk “marahan” dengan pacar, ekspresi kemarahan harus disampaikan dulu kepada operator pager-nya baru kemudian pesan akan dikirimkan (saya tidak dapat membayangkan betapa berat tekanan batin yang dialami oleh para petugas operatorpager pada zaman itu yang harus mendengarkan dan menyampaikan semua berita mulai dari berita kemalangan, bisnis, korupsi, sampai berita putus cinta). Saat ini, semua urusan komunikasi rasanya jadi sangat gampang dan cepat dengan adanya telepon seluler dan internet. Globalisasi dapat digambarkan dengan turunnya biaya telekomunikasi yang drastis, dibandingkan misalnya dengan biaya transportasi barang.

Akselerasi perubahan dunia yang menjadi semakin global tersebutlah yang saya coba amati dalam berbagai perjalanandan pengalaman saya dalam 15 tahun terakhir ini. Saya mencoba melihatnya dengan kacamata yang biasa dialami oleh orang-orang yang berpergian, seperti misalnya supir taksi atau petugas hotel dan obrolannya, makanan dan restaurannya, serta barang oleh-oleh.

Supir taksi adalah fenomena globalisasi yang menarik. Di Amerika Serikat, pada tahun 1990-an saya masih merasakan naik taksi yang disupiri oleh orang ”bule”, begitu pula di beberapa negara di Eropa Barat. Pada tahun 2000-an, saya sudah sukar menemukan supir taksi ”bule” tersebut, kebanyakan mereka adalah imigran dari Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, Asia, ataupun India. Kalaupun ada yang ”bule”, biasanya berasal dari Eropa Timur bekas Uni Sovyet. Obrolan dengan mereka pun terasa benar bedanya. Tahun 90-an tersebut, rasanya obrolan mereka masih tentang kondisi negara mereka, tempat-tempat tourist spot, ataupun gosip tentang bintang olah raga dan bintang film mereka. Tapi ketika saya berkunjung di tahun 2000-an, pembicaraan mereka menjadi semakin global. Mereka tahu tentang Menteri Keuangan kita yang menjadi Direktur World Bank, mereka bicara tentang letusan gunung Merapi dan bencana alam lainnya yang terjadi di berbagai negara, kejatuhan sebuah rezim, atau tentang isu pertikaian agama. Bahkan di salah satu kesempatan di bulan Desember 2006, saya sempat ditanya oleh seorang supir taksi imigran Afganistan di Boston apakah “Inul is still singing with that kind of drilling dance”. Rupanya dia penggemar berat Inul di YouTube! Jika dulu dalam perjalanan taksi saya yang banyak bertanya kepada para supir ini, sekarang mereka yang bertanya melulu. Entahlah kalau ternyata saya yang selalu sial mendapatkan supir taksi yang cerewet.

Petugas hotel juga mengalami perubahan drastis. Dalam berbagai travelling saya di pertengahan tahun90-an, kebanyakan bell boy atau pegawai hotel adalah orang asli negara tersebut. Saya masih ingat betapa bangga rasanya dipanggil ”sir” serta dibawakan tas saya oleh seorang bell boy ”bule” di salah satu hotel di New York city (sebagai bekas bangsa terjajah, sepertinya rasa ”dendam” itu tetap masih ada, walaupun sudah mengaku menjadi warga global). Sekarang ini, pegawai hotel sudah sangat diversified. Saya disambut orang ”bule” Jerman dengan bahasa Jepang yang fasih di Tokyo, petugas room service berkebangsaan Bangladesh dan Uruguay di hotel Innsbruck, Austria, ataupun concierge warga negara Belanda di Shanghai.

Makanan dan restauran. Kita sudah tahu bahwa restoran Jepang dan China ada di mana-mana sejak dulu. Tapi perubahan besar yang sekarang terjadi adalah menjamurnya restauran Thailand, Vietnam, India, dan Arab. Makanan “pendatang” ini dinikmati oleh tidak hanya para imigran, tapi juga oleh banyak orang lokal nya. Makanan dan restauran menurut saya sudah menjadi sangat global dan melintasi batas yang ditentukan oleh faham politik atau kepercayaan yang ada. Bayangkan di kota suci Makkah, restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah salah satu restoran yang sangat digemari oleh orang-orang Arab, dan salah satu restauran KFC yang saya lihat letaknya persis berada di pinggir pelataran Masjidil Haram. Apa jadinya kalau para demonstran yang menyerukan boikot produk Amerika, karena haram tersebut, melihat betapa orang-orang yang setelah ibadah di Masjidil Haram berebutan membeli KFC. Nampaknya dunia yang global ini dapat digambarkan oleh industri makanan dengan baik, sampai-sampai Thomas Friedman pada tahun 2000 membuat theory yang dikenal dengan nama The Golden Arches Theory of Conflict Prevention. Restauran McDonald, yang memiliki logo busur emas atau Golden Arches tersebut, diyakini Friedman sebagai lambang globalisasi. Menurutnya, di dua negara yang memiliki restauran McDonald, tidak akan pernah terjadi perang, karena negara tersebut telah memiliki ekonomi cukup kuat yang menghasilkan kaum menengah yang sanggup menopang jaringan restauran McDonald, dan tidak akan tertarik lagi untuk berperang karena mereka telah larut dalam proses globalisasi. Theory ini dalam perjalanannya hanya ”gugur”dua kali (itupun hanya sebentar), yaitu ketika negara-negara Israel berperang dengan Lebanon tahun 2006, dan ketika Russia menyerang Georgia tahun 2008. Yang agak menyeramkan barangkali adalah, di Korea Utara saat ini belum ada restaurant McDonald.

Barang oleh-oleh atau souvenir juga merupakan cerita menarikdan sangat menggambarkan dunia global saat ini. Tahun 1997 saya melihat sebuah kios souvenir kecil di Grand Central Station New York yang bertuliskan ”Made in America”. Ketika saya tanya kenapa harus dipasangkan banner besar-besar seperti ini, si empunya toko menjawab ”we have to be proud of our own product, and keep promoting it….everything is made in China nowadays”. Saya membeli sebuahT-Shirt (bertuliskan Made in America di labelnya) dan sebuah mainan kereta api mini. Tahun 2000, saya kembali ke New York City, dan saya sempatkan untuk ke Grand Central Station kembali untuk mencari toko tersebut. Ternyata toko tersebut sudah tidak ada. Sebagai gantinya adalah sebuah toko souvenir standar yang menjual souvenir yang hampir semuanya“Made in China”. Ketika saya tanya kemana perginya toko “Madein America” tersebut, penjaga tokonya yang merupakan imigran Arab hanya mengangkat bahu. “Why looking for “Made in America”product? We have something similar with cheaper price here”, jawabnya. Fenomena invasi produk China di Amerika Serikat ini barangkali yang membuat Sara Bongiorni (2007) gusar dan membuat buku yang berjudul “A Year Without Made in China”. Saat ini kita tahu, bahwa untuk mendapatkan souvenir yang asli buatan negara yang kita kunjungi sudah semakin susah. T-Shirt misalnya, tidak jarang saya dapatkan yang “Made in Indonesia” (selain “Made in Honduras”, “Made in Bangladesh”, ataupun Made in Paraguay”) di berbagai toko souvenir di penjuru dunia, bahkan di toko-toko yang memiliki private brand sekalipun. Saya pernah membawakan oleh-oleh magnet unik dari Krakow, Polandia, untuk seorang teman, yang kebetulan tidak saya cek labelnya. Ketika saya berikan, dia mengecek labelnya, dan berkomentar “hmm, beli di Tanah Abang ya?” dengan ekspresi muka yang mengejek dan tidak berterimakasih sama sekali.

Mengglobalnya produk China tersebut sangat mencolok saat ini. “Made in China” sepertinya kita temui di berbagai produk di seluruh dunia. Bahkan produk-produk berteknologi tinggi pun sudah “Made in China”. Lampu hemat energi (compact flourescent) misalnya (kebetulan salah satu bisnis GE adalah lampu), bagaimana caranya bersaing dengan China kalau di negeri tersebut terdapat lebih dari 2,000 buah industri rumah tangga yang sanggup membuat lampu seperti yang kami buat dengan pabrik super canggih, tapi dengan harga yang mungkin separuhnya?. Meredith (2007) menyatakan bahwa China adalah “factory of the world”, di mana berbagai perusahaan di dunia menjadikan China sebagai tempat untuk memproduksi barangnya. Terdapat kurang lebih 800,000,000 tenaga kerja di China, yang siap dipekerjakan dan dilatih untuk membuat berbagai produk dengan harga yang murah, karena ongkos kerja mereka yang murah,dan ketersediaan bahan baku maupun bahan setengah jadi yang juga berharga murah, ditambah dengan dukungan penuh dari pemerintanya. Metamorfosis China dari negara berbasis pertanian menjadi negara industri dilalui dengan sangat cepat. Menurut Meredith (2007), di tahun 2000, 30% dari produk mainan anak-anak di dunia berasal dari China. Lima tahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi 75%. Pada tahun 2004, nilai ekspor China adalah US$ 180 milyar, terbesar dari negara manapun di dunia ini. Dibandingkan dengan zaman ketika China masih dalam masa isolasi ekonominya, nilai ekspor China dalam satu hari sekarang ini lebih tinggi dari nilai ekspor mereka selama setahun penuh di tahun 1978. Para pelaku bisnis di dunia yakin bahwa China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 1 di dunia dalam waktu yang tidak lama lagi (sekarang ini sudah nomor 2, di atas Jepang dan di bawah Amerika Serikat).

Apa yang membuat mereka sedemikian besar? Pada awalnya adalah pasar yang besar dengan 1.3 miliar penduduk, lalu ketersediaan tenaga kerja yang murah dan bahan baku yang berlimpah. Kemudian tentunya campur tangan pemerintah dalam mengelola modernisasi, masuknya modal asing (yang hanya akan masuk jika negara stabil dan infrastrukturnya memadai), dan yang tidak kalah penting adalah meningkatnya kemampuan sumberdaya manusia mereka. Lebih dari 4.1 juta orang tiap tahunnya lulus dari universitas di China dengan kebanyakan berlatar belakang engineering dan IT yang merupakan sumber daya menggiurkan bagi para perusahaan multinasional yang ingin berkembang di sana.

Selain China, negara yang juga menyeruak sebagai negara yang berperan penting dalam proses globalisasi adalah India. Kalau China adalah “factory of the world”, maka India saat ini menjelma sebagai“back office of the world”. Dengan revolusi intelektual nya, India saat ini menyediakan lebih dari 100,000,000 tenaga kerja english speaking[1]. Dengan jumlah seperti ini, lebih dari 3 juta pekerjaan dalam bidang industrijasa dan riset (customer center, call center, computer programming, legal researcher, laboratory researcher, dan sebagainya) telah berpindah dari negara-negara Barat ke India, dan jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Dari 500 perusahaan-perusahaan besar di dunia (Fortune 500 Companies), sekitar 400 perusahaan-perusahaan tersebut telah memindahkan middle class pekerjaannya ke India saat ini, meningkat drastis dari hanya sekitar 150 perusahaan pada tahun 2005[2]. Investasi di India, terutama dibidang IT dan R&D meningkat pesat. Intel, Microsoft, Cisco, telah berinvestasi lebih dari US$ 1 miliar di India. GE pada dua tahun lalu membangun pusat riset dunia yang ketiganya di Bangalore, dan IBM saat ini menerima pegawai baru setiap lima menit sekali di seluruh India[3]. Dari berbagai cerita di atas, nampaknya definisi globalisasi yang paling menarik adalah sebuah lelucon yang saya dapatkan dari internet seperti terpampang di slide berikut ini.

Lalu, apa arti semua cerita globalisasi di atas bagi kita? Bagaimana dengan keberadaan negara kita tercinta, Indonesia, ini di dunia yang semakin mengglobal tersebut? Seberapa besar kita telah menangguk keuntungan dari proses globalisasi ini, dan bukan menjadi korban dari globalisasi dengan meningkatnya kesenjangan sosial, exploitasi sumberdaya alam dan tenaga kerja murah dalam tingkat pekerjaan yangr endah value? Seberapa siap kita bersaing di kancah global ini?. Jika dilihat dari sumberdaya alam,harusnya kita tidak kalah dari China maupun India, jumlah penduduk kitapun berada di peringkat ke-4 dunia (dengan 237 juta jiwa lebih[4]) sesudah mereka berdua dan Amerika Serikat.

Sebelum mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya ingin membawa para hadirin melihat sejarah perdagangan di dunia. Menilik sejarah tersebut, dunia sepertinya sudah menjadi global sejak lama. Perdagangan menghasilkan komoditi-komoditi utama dunia yang menghubungkan aliran pertukaran barang dan tenaga kerja. Pada masa sebelum masehi, komoditi dunia adalah parfum dan bahan wewangian (frankincense dan myrhh), kemudian diikuti oleh sutra dan merica yang mengakibatkan terbentuknya jalur sutra di tahun-tahun awal masehi, dan mencapai puncaknya ketika kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia berburur empah-rempah di kepulauan maluku dan seantero nusantara di sekitar abad 15 –16 Maseh[5]. Pada titik ini, ternyata bangsa kita sudah terlibat dalam globalisasi perdagangan sejak lama. Bahkan, perusahaan multinasional pertama yang berdiri di muka bumi ini adalah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie atauDutch East India Company) yang salah satu pusat operasinya berada di Batavia atau Jakarta sekarang. Perusahaan ini merupakan megacorporation yang pertama kali mengeluarkan saham dan memberikan dividen sebesar 18% per tahun selama 200 tahun[6]. Dengan sumberdaya alam yang luar biasa berlimpah dan penduduk yang lebih dari 235 juta jiwa serta sejarah panjang keterlibatan dalam dunia global tersebut, saya tidak mengerti bagaimana kita bisa bangga berada dalam urutan ke-44 dalam Global Competitiveness Index tahun 2010 yang lalu. Jauh di bawah negara kecil dan miskin sumberdaya alam Singapore (urutan ke-3), negara yang musim dinginnya lebih dari lama dari musim panasnya (Finland, urutan ke-7), negara yang kedaulatannya masih diperdebatkan (Taiwan, urutan ke-13), negara yang belajar budidaya buah-buahan dari kita (Thailand di urutan ke-38), ataupun dari negara tetangga kita merasa memiliki batik, keris, dan reog itu (Malaysia, urutanke-28)[7].

Thomas Friedman (2005) membedakan sejarah globalisasi dalam tiga periode, yaitu Globalization tahap I (1492-1800) yang menurutnya adalah globalisasi negara-negara; Globalization tahap II (1800–2000)yang merupakan globalisasi perusahaan, dan Globalization tahap III (2000–present) yang melibatkan globalisasi dari individu-individu. Kalau kita amati, dalam dua tahap globalisasi pertama, peranan bangsa kita lebih menjadi sebagai objek ketimbang sebagai pelakuyang mendapatkan keuntungan dari proses globalisasi tersebut. Pada Globalisasi tahap I, sumberdaya alam dan penduduk negara kita dieksplorasi besar-besaran untuk perdagangan dunia, dan keuntungannya dibawa ke luar negeri. Pada Globalisasi tahap II, saya sukar menemukan perusahaan lokal kita yang benar-benar menjadi perusahaan multinasional global. Padahal, Michael Porter, mahaguru manajemen dari Harvard Business School tersebut sudah mewanta-wanti dari sejak tahun90-an tentang pentingya daya saing suatu negara dalam kompetisi global. Porter (1990; 1998) menyatakan bahwa suatu negara akan menjadi lebih kompetitif dibanding negara lainnya bukan semata karena sumber daya alamnya ataupun murahnya tenaga kerja, ataupun karena kondisi makroekonomi-nya yang bagus. Salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing suatu negara adalah dengan keberadaan faktor mikroekonomi-nya, yaitu banyaknya perusahaan-perusahaan lokal yang kompetitif di dunia global, dan innovatif dalam menciptakan produknya yang didukung oleh semakin canggihnya permintaandari pasar lokal[8]. Melihat negara-negara yang kompetitif dalam daftar World Economic Forum, bisa dimengerti mengapa Amerika Serikat selalu berada di peringkat lima besar, banyak sekali perusahaan-perusahaan lokal mereka yang menjadi perusahaan multinasional seperti IBM, Microsoft, Boeing, 3M, dan tentunya GE. Begitu pula Jepang dengan Toyota, Honda, Mitsubishi, Mitsui mereka. Korea Selatan dengan Samsung, Hyundai, dan LGnya, Jerman dengan Siemens dan BMW mereka. Bahkan negara dingin Finland pernah berada di peringkat ke-1 untuk negara paling kompetitif dengan bermodalkan perusahaan global Nokia-nya. Juga terlihat bahwa negara-negara ”new economy” China (dengan Harbin, Shanghai Electric, Huawei), India (dengan Tata, Bajaj, Wipro) telah memiliki daya saing yang cukup kuat di pasar global. Begitupula dengan negara-negara tetangga yang peringkatnya di atas kita, seperti Thailand yang memiliki Charoen Phokpan, ataupun Malaysia dengan Petronasnya.

Benar bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir kita telah diperhitungkan sebagai salah satu negara dengan ekonomi yang kuat, GDP rata-rata kita terus tumbuh di atas 5 persen, indikator makroekonomi yang cukup baik, cadangan devisa yang meningkat, pasar modal yang bergairah, nilai tukar mata uang yang cukup stabil, dan modal asing yang masuk terus bertambah. Tapi jika kita lihat lebih dalam lagi, saya khawatir negara kita ini lebih dianggap sebagai pasar bagi para pengusaha global ketimbang sebagai negara pelaku globalisasi yang mendapatkan keuntungan dari globalisasi. Artinya masih sebagai objek dari globalisasi tersebut, dan belum menjadi subjek. GDP kita yang tumbuh tersebut selama 10 tahun terakhir ini didominasi oleh pertumbuhan konsumsi (60%) dibanding pertumbuhan produksi[9]. Kredit yang disalurkan pada tahun 2008, misalnya, 35% nya adalah untuk konsumsi (membeli motor, mobil, perabot, dan sebagainya yang bukan merupakan produk yang kita hasilkan sendiri)[10]. Bahkan data statistik kita selama 10 tahun terakhir menunjukkan ekspor kita semakin menuju ke arah ekspor bahan baku ketimbang bahan manufaktur, gejala yang sering disebut sebagai de-industrialisasi. Modal asing yang masuk lebih banyak disalurkan ke pasar modal dibanding investasi untuk membangun industri. Sesuatu yang sebenarnya beresiko tinggi, karena kalau pasar modal di negara-negara maju, yang dalam tiga tahun terakhir ini terpuruk, menjadi baik, ada kemungkinan modal asing tersebut lari dari Indonesia. Berbagai faktor utama yang menjadi penghambat investasi asing di Indonesia untuk sektor industri antara lain adalah buruknya kondisi infrastruktur di Indonesia (listrik yang tidak cukup,jalanan yang macet bukan main, pelabuhan laut dan airport yang kurang mendukung lancarnya transportasi, dan sebagainya). Belum lagi faktor kurang efisiensinya birokrasi pemerintahan dan masalah korupsi dan transparansi yang masih menggerogoti kita. Saya coba bandingkan dengan negara lain, Thailand misalnya. Negara ini kabel listriknya juga semrawut, kotornya tidak kalah darikita, penduduknya juga tidak banyak yang berbahasa Inggris, tapi investasi asing di sektor manufakturnya tinggi, dan yang membuat mereka menjadi tujuan investasi adalah karena infrastrukturnya yang lebih baik dan lebih mendukung pertumbuhan produksi dibandingkan dengan negara kita. Vietnam malah sekarang berada di depan kita sebagai negara untuk tujuan investasi di sektor industri. Belum lama ini GE berinvestasi lebih dari 50 juta dollar untuk pembangunan pabrik wind turbine di Hai Phong. Kondisi yang membuat hati saya teriris waktu itu, karena saya tahu benar seharusnya peluang investasi tersebut dapat dilakukan di Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,khususnya para wisudawan dan wisudawati calon pemimpin di masa depan, inilah tantangan kita yang sesungguhnya. Bagaimana kita dapat menjadi pelaku, menjadi subjek dalam proses globalisasi yang terus berjalan dengan cepat ini. Bukan turut serta dalam globalisasi sebagai objek yang akan dieksploitasi oleh bangsa lain. Bagaimana kita dapat meningkatkan daya saing kita di kancah dunia global, dan menangguk keuntungan dari proses globalisasi tersebut.

2. Memimpin Diri Sendiri Untuk Menghadapi Tantangan Globalisasi

Sekarang ini, kalau menggunakan terminologi Friedman (2005; 2008), kita ada di globalisasi tahap III, yaitu globalisasi dari individu-individu. Tenaga kerja menjadi sedemikian beragam, tanpa dibatasi kewarganegaraan, ras, keyakinan agama, ataupun wilayah geografis. Individu yang berkemampuan global menjadikan perpindahan pekerjaandari satu wilayah ke wilayah lainnya (outsourcing). Sebagai contoh sebuah kumpulan anak-anak kreatif mendirikan perusahaan kecil di pinggiran jalan di Bangalore, India, yang bernama Dhruva. Perusahaan ini mampu menjadi supplier terbesar di Amerika Serikat untuk jasa menggambar karakter animasi dari industri game (PlayStation, X-box)[11]. Hal ini kemudian menyebabkan banyak orang di Amerika Serikat yang kehilangan pekerjaan karena terjadinya outsourcing pekerjaan ke India. Meredith (2007) mengatakan “India saat ini sudah menjadi rumah bagi dunia industri travel agent, riset hukum, konsultan bisnis, dan bankers. Begitu juga dengan pekerjaan para Doktor diAmerika Serikat yang bergaji US$150 ribu per tahun sudah banyak dilakukan di India oleh orang India”. Dengan situasi seperti itu, pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah sejauh mana sumberdaya manusia Indonesia siap untuk juga berperan dalam proses globalisasi tersebut.
Kalau kita menggunakan data statistik seperti Human Development Index (HDI) yang mengukur kualitas sumberdaya manusia dari hampir seluruh negara di dunia, nampaknya gambaran kesiapan kita masih mengkhawatirkan. Dalam HDI tahun 2010, kita berada di peringkat ke-108 dari 169 negara[12]. Artinya, kualitas pengembangan sumberdaya manusia kita masih termasuk ke dalam kelas medium human development ditinjau dari statistik antara lain tingkat harapan hidup, pendidikan, dan indeks gross national income/GNI (tingkat standard berkehidupan). Jauh tertinggal dari negara-negara di Eropa Barat, Amerika Serikat, ataupun Singapore yang sudah masuk ke kelas very high human development, maupun dari Malaysia, Saudi Arabia, Russia dan Brazil yang sudah berada di kelas high human development.

Jika kita harus menunggu program-program Pemerintah untuk meningkatkan kualitas HDI kita sehingga dapat bersaing di pentas global, mungkin akan dibutuhkan waktu yang cukup lama. Bayangkan saja, tahun lalu Pemerintah kita baru mencanangkan untuk menghasilkan 5,000 doktor tiap tahun dan menargetkan jumlah doktor di Indonesia sebesar 50,000 orang pada tahun 2014. Bandingkan dengan China yang saat ini saja sudah memiliki lebih dari 250,000 doktor, atau dengan Amerika Serikat yang memiliki sekitar 1,500,000 orang doktor[13]. Dengan kondisi persaingan global yang semakin meningkat sekarang ini, menurut saya, kitalah yang harus memimpin diri kita sendiri untuk dapat memiliki daya saing global. Para lulusan perguruan tinggi seperti anda sekarang, harus mempertanyakan bagaimana untuk dapat fit dengan tuntutan global yang ada, dan peranan apa yang harus diambil agar bisa mendapatkan keuntungan dari proses globalisasi yang ada. Menurut pengalaman saya, sekurangnya ada lima hal yang harus dimiliki oleh pemimpin global di masa mendatang, yaitu (1) memiliki wawasan global dan mampu membangun relationshipdan network di tingkat global, (2) tidak melulu mengikuti arus, tapi berani berpendapat berbeda yang didukung oleh argumentasi rasional yang solid, (3) terus berupaya untuk mencari differensiasi untuk meningkatkan daya saing, dan untuk itu mereka tidak takut dengan perubahan, (4) memiliki integritas yang kuat dan teguh pada pendirian ketika dihadapkan pada tantangan yang berkaitan dengan etika, (5) memiliki intelektualitas yang menghasilkan kemampuan cross-functional dan bersemangat untuk terus meningkatkan kemampuan intelektualitasnya. Hal ini sejalan dengan permintaan terhadap global leader yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional sesuai hasil riset yang dilakukan oleh lembaga sumberdaya manusia Hewitt Association pada tahun 2008[14].

Saudara wisudawan/wisudawati yang hari ini berbahagia, anda adalah pemimpin-pemimpin masa depan negara ini. Anda dituntut untuk memiliki wawasan global untuk dapat tampil dengan baik di pentas global. Betul bahwa kita perlu memiliki kearifan lokal seperti yang diajarkan oleh orang-orang tua kita terdahulu. Namun menurut saya, kedua hal tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pepatah Minangkabau yang mengatakan bahwa “alam takambang jadi guru” menghadirkan realitas baru, yaitu “alam” yang ada tidak lagi hanya alam Minangkabau, atau alam Indonesia. “Alam” yang menjadi “guru” kita saat ini adalah dunia yan gsekarang menjadi global, yang hadir dengan dua hal sekaligus, ancaman dan juga kesempatan. Pemimpin di masa depan juga diharapkan memiliki dan mampu membangun jejaring dan hubungan di dunia global. Jejaring yang saat ini dengan teknologi informasi yang ada tidak terlalu susah untuk dilakukan, asal bisa dan maumenggunakan internet.

Beberapa minggu setelah saya diberi tanggungjawab sebagai Presiden dan CEO untuk GE di Indonesia, saya diwawancara oleh sebuah majalah nasional. Saya ditanya, “Mengapa baru sekarang ada pimpinan GE yang merupakan produk lokal Indonesia?”. Benar juga, pikir saya. Saya benar-benar “produk lokal”. Masa kecil saya dilalui di pelosok Jakarta dengan mainan yang belum “Made in China”seperti mandi hujan, berenang di kali, mencuri mangga dengan ketapel, sepakbola lumpur (tidak ingat apakah bola-nya waktu itu sudah “Made in China”). Lalu pendidikan saya juga semuanya dilalui di Indonesia, (ijazah Monash Mt. Eliza University saya adalah dual degree program dari IPMI Business School di Kalibata). Saya mencoba menganalisis, apa yang kurang dari orang Indonesia selama ini sehingga dibutuhkan waktu 70 tahun keberadaan GE di Indonesia untuk mendapatkan seorang leader yang asli “produk” dalam negeri. Ternyata ada satu hal yang menjadi karakter umum orang kita dalam bekerja yang kurang fit dengan tuntutan untuk menjadi seorang pemimpin di perusahaan global, yaitu kita terlalu penurut dan segan untuk menyampaikan dan “menjual” pendapat yang berbeda ketika harus berurusan dengan atasan, apalagi dengan atasan yang merupakan orang asing.

Para pimpinan di GE berulangkali mengatakan bahwa mereka mencari orang-orang yang mampu berkata kepada atasannya “No! We cannot go into that direction, because it is not the right direction. We have to go to this direction because of these reasons..a),… b),… c)…, and to be able to success on that direction, these are the things that we need to do, and this are the supports that we need from you”. Kemampuan untuk berpendapat seperti ini kelihatannya gampang, namun dibutuhkan tidak hanya mentalitas untuk tidak cuma mengikut, tapi juga pengertian yang mendalam terhadap suatu masalah, sehingga dapat berpikir secara out of the box dan menghasilkan solusi alternatif bagi permasalahan yang dihadapi.

Tidak ada yang lebih berbahaya bagi sebuah organisasi selain para followers yang hanya melulu mengikuti apa kata atasannya. Kebetulan disertasi doktoral saya adalah tentang followership, dimana saya menemukan fakta bahwa bawahan (follower) sangat mampu mempengaruhi kinerja dari atasannya, dan salah satu pengaruh follower yang dapat membuat kinerja atasannya menjadi tidak baik adalah bila follower tersebut tidak berani menyampaikan pendapatnya yang berbeda. Fakta dan sejarah memperlihatkan banyaknya organisasi, baik itu organisasi bisnis, politik, negara, dan sebagainya yang runtuh karena followernya hanya mengikuti atasan dan tidak berani menyampaikan pendapatnya yang berbeda dariatasannya. Sebagai contoh adalah kasus-kasus besar seperti Enron, ataupun obat Vioxx di perusahaan farmasi Merck[15], yang terjadi karena followers yang tidak berani menyampaikan pandapat mereka walaupun mereka tahu terjadi ketidakberesan atau kesalahan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudara hadirin sekalian. Dalam konteks memimpin diri sendiri, saya barangkali adalah orang yang senang “melawan”. Lebih dari separuh hidup saya sekarang ini, saya melawan terhadap keterbatasan yang ada. Rasanya hidup ini kurang berwarna jika kita melulu hanya mengikuti apa yang dikatakan dan ditimpakan kepada kita. Perlawanan saya terhadap kondisi fisik yang saya alami sejak tahun 1987 ini mungkin adalah kekuatan saya yang terbesar. Saya merasa dunia ini akan terasa lebih kaya kalau ada orang yang mempertanyakan sesuatu dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang melawan terhadap kondisi biasa, melawan terhadap padangan umum, dan berpikir mengenai alternatif dan sudut pandang yang berbeda. Mungkin semangat dan kebiasaan itu pula yang akhirnya membawa saya sampai pada posisi sekarang ini di GE.

Semangat melihat dari kaca mata berbeda, mempertanyakan sesuatu, dan tidak serta merta langsung mengikuti apa yang dikatakan atau diperintahkan menurut saya dapat dilahirkan dari pola pikir yang antara lain diwujudkan dari kemampuan kita bertanya dengan pertanyaan “why”, “why not”, dan “how”. Pertanyaan “why” akan membuat kita berusaha untuk mengetahui rasionalitas dari pendapat orang lain, dan memancing kita untuk berpikir mengenai alternatif lain. Pertanyaan “why not” adalah dasar dari kita untuk dapat menyampaikan pikiran kita yang berbeda berdasar argumentasi rasional yang solid. Terakhir, pertanyaan “how” melatih kita untuk dapat mengetahui proses yang ada dan merancang eksekusi dari alternatif solusi yang kita sodorkan. Sayangnya, tipikal pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas jarang diajarkan pada sistem budaya dan sistem pendidikan kita.

Saya beruntung dibesarkan dalam keluarga yang membebaskan saya untuk bertanya apapun. Kedua orang tua saya bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi yang menguasai psikologi anak ataupun menguasai teori-teori terbarukan untuk mendidik anak yang benar. Namun satu hal yang saya ingat benar, pertanyaan dan berpendapat selalu mendapat tempat yang bebas di dalam rumah tempat saya dibesarkan tersebut. Tidak pernah rasanya saya dilarang berpendapat berbeda, tidak pernah saya dilarang untuk bertanya, bahkan untuk sebuah pertanyaan yang paling tidak masuk akal atau paling nyeleneh pun. Bisa dijawab atau tidak oleh orang tua saya, disetujui ataupun tidak pendapat saya, itu hal lain lagi. Namun boleh kah ditanyakan dan diperdebatkan, itu suatu hal yang pasti boleh. Entah bagaimana kedua orang tua saya yang tidak pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi tersebut bisa sampai pada esensi dasar dari kehidupan berdemokrasi. Orangtua yang luar biasa hebat, yang saya kagumi perjuangannya.

Suatu hari pada sekitar tahun 70-an Ayah saya berkata kepada para familinya yang datang merantau dari kampung ke Jakarta. “Untuk hidup di Jakarta, yang penting punya KTP dan SIM. Sedangkan untuk hidup lebih dari normal, kalian harus bisa berbasaha Inggris”. Nasehat yang sederhana dari seseorang yang berpikiran sederhana. Walaupun begitu, beliau sesungguhnya sudah menemukan konsep competitiveness secara autodidak. Beliau percaya bahwa seseorang harus memiliki diferensiasi di tengah standard industri yang berlaku. Pada sekitar tahun 70-an tersebut, ijazah perguruan tinggi barangkali adalah differensiasi yang paling tinggi, dan dapat mengantarkan orang ke sebuah pekerjaan yang menjamin tingkat kemakmuran, namun tidak banyak yang memilikinya, dan kesempatan untuk mendapatkannya juga tidak mudah. Di sisi lain, jenis pekerjaan yang mengandalkan fisik tersedia cukup banyak di Jakarta, asalkan mau bekerja. Hanya saja, bekerja fisik dengan modal KTP dan SIM adalah standard industri. Untuk mendapatkan diferensiasi tanpa sekolah tinggi, diperlukan keahlian lain, dan ayah saya melihat menjamurnya perusahaan minyak asing saat itu adalah peluang untuk mendapatkan diferensiasi tersebut. Beliau ”walk the talk”, bermodalkan diferensiasi dengan bahasa Inggris tersebut, dirambahnya rimba Jakarta, dan sekurangnya sampai sekarang beliau telah berhasil menghantarkan anaknya menjadi doktor dan CEO dari sebuah perusahaan multinasional.

Saudara wisudawan/wisudawati yang berbahagia. Di zaman globalisasi individual ini, ijazah perguruan tinggi, mampu berbahasa Inggris, dan melek komputer serta internet (ingat, internet bukan hanya http://www.facebook.com atau http://www.twitter.com) adalah standard industri. Beberapa tahun yang lalu mungkin masih merupakan keunggulan bersaing, tapi dengan semakin cepatnya perubahan di dunia, keunggulan bersaing juga dengan cepat menjadi standard industri. Untuk menjadi pemain global,anda harus memiliki diferensiasi yang memberikan kemampuan daya saing. Bagaimana cara menciptakan diferensiasi tersebut? Pada awalnya adalah mindset, pola pikir yang berdasar dari keinginan untuk berbeda, dan keinginan untuk tidak melulu hanya mengikuti arus atau keumuman yang ada. Ada semangat eksplorasi dan inovasi dalam mencari dan menemukan diferensiasi tersebut. Ada keinginan dan kesiapan untuk selalu berubah, dan tidak takut dengan adanya perubahan. Kadang seseorang butuh untuk mengambil resiko menempuh jalan yang berbeda dari kebanyakan jalan yang orang lain tempuh untuk dapat menemukan daya saingnya. Beberapa tahun yang lalu, teman saya seorang Human Resource Director dari sebuah perusahaan multinasional perbankan di Jakarta pernah bercerita, bahwa dia barus saja meng-hire seorang pegawai melalui proses yang unik. Biasanya, jika ada lowongan pekerjaan, team HR harus menyeleksi ratusan surat lamaran beserta CV nya. Semua orang HR setuju bahwa penilaian seseorang lebih ditentukan dari hasil wawancara ketimbang analisis dari CV mereka, tapi tentunya tidak mungkin melakukan wawancara kepada ratusan pelamar pekerjaan. Pegawai baru teman saya ini, sebut saja namanya Maya, menunjukkan hal yang berbeda, ketimbang hanya mengirimkan surat lamaran, dia mengirimkan lamaran berikut sebuah CD yang bertuliskan ”play me” pada amplopnya. Hal tersebut tentunya menarik perhatian, bukan karena team HR nya laki-laki semua, tapi karena ini adalah sesuatu hal yang unik, dan ketika team penyeleksi memutar CD tersebut, tampaklah Maya duduk disebuah kursi, dengan berpakaian rapi, di shoot dengan kamera telepon seluler. Maya bercerita tentang dirinya, cita-citanya dan keinginannya bekerja selama tidak lebih dari tiga menit. Hari itu juga Maya mendapatkan kesempatan untuk dipanggil wawancara, dan beberapa hari kemudiandia diterima bekerja diperusahaan teman saya tersebut, mengalahkan ratusan pelamar lainnya yang memiliki CV yang lebih hebat dari dia.

Selain wawasan global, berani berpendapat, dan melakukan differensiasi, seorang pemimpin global di masa ini membutuhkan integritas yang kuat. MantanCEO GE, Jack Welch, selalu berujar bahwa bahwa salah satu ciri seorang pemimpin yang hebat adalah ketika dia berani, dengan segala konsekuensinya, untuk berkata ”tidak” ketika dihadapkan pada tantangan untuk melanggar integritas dan etis. Dalam bisnis di dunia global, integritas dan kepercayaan adalah modal utama. Di GE, kami siap, dan seringkali terjadi, kehilangan peluang untuk memenangkan sebuah proyek karena kami berpegang teguh pada integritas dan hukum yang berlaku. Kami percaya bahwa sistem yang berpegang pada hukum yang berlaku akan adalah pilihan yang tidak dapat ditawar, dan pada akhirnya akan membawa kemenangan yang lebih sustainable. Buktinya GE sudah berumur lebih dari 130 tahun dan terus mencoba menjalankan bisnisnya dengan integritas yang teguh, kami tetap maju dan tidak tergilas oleh para pesaing yang mencoba menghalalkan segala cara untuk menang. Kemenangan dengan cara melanggar integritas hanyalah kemenangan sementara, dan hanya akan menyimpan bom waktu yang siap untuk meledak kapan saja di masa mendatang.

Menjadi pemimpin di dunia global memerlukan intelektualitas yang harus terus diperbaharui. Intelektualitas yang saat ini dibutuhkan adalahyang didasarkan pada keinginan untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Dunia global mensyaratkan pemainnya untuk tidak alergi dengan teknologi baru, selalu siap untuk berubah dan kalau perlu men-challenge proses dan pengetahuan yang sekarang ada untuk dapat menemukan cara dan proses yang lebih baik. Kurang lebih 500 tahun yang lalu,seorang ahli anatomy bernama Andreas Vesalius (1514 – 1564) membuat buku yan gberjudul De Humani Corpis Fabrica (Tentang Struktur Tubuh Manusia). Dalam bukunya, dia membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki jumlah tulang rusuk yang sama, menentang pendapat orang-orang yang percaya pada kisah didalam Old Testament yang menyatakan Eva (Siti Hawa) dibuat dari tulang rusuk Adam. Dia juga menentang teori dari Aristoteles yang sudah dipercaya selama ratusan tahun mengenai jantung adalah pusat pikiran dan emosi. Vesalius membuktikan bahwa otak dan sistem jaringan syaraflah yang merupakan pusat dari pemikiran dan emosi tersebut. Hasil pekerjaan Vesalius dianggap revolusioner karena dia selalu mempertanyakan cara lama dalam mempelajari anatomi, yang pada zaman itu masih berdasarkan ajaran dari ”dokter” Yunani kuno, Galan, yang hidup antara tahun 129 – 216 sebelum masehi. Vesalius berulang kali menekankan bahwa proses belajar jangan hanya tergantung pada cara belajar dan ajaran dari orang-orang sebelumnya.

Carilah cara untuk mempelajari sesuatu dengan cara yang berbeda. Nasehat Vesalius ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Dalam upaya meningkatkan intelektualitas bangsa kita, tidak cukup dengan hanya mengandalkan proses belajar yang ada di dalam dunia sekolah ataupun perguruan tinggi. Seseorang harus secara aktif menemukan cara mempelajari sesuatu untuk meningkatkan intelektualitas mereka. Apakah itu dengan banyak bertanya pada orang, belajar sendiri melalui internet, ataupun dengan melawat ke negara lain untuk melihat bagaimana mereka telah membangun negara mereka, apapun caranya yang penting jangan pernah merasa bahwa pengetahuan yang dimiliki saat ini sudah cukup. Di GE,kami selalu dengan bangga menyebut diri sebagai A Learning Company, sebuah perusahaan yang selalu belajar. Jangan takut melakukan kesalahan selama kita dapat belajar sesuatu dari kesalahan tersebut. Pada hari pertama saya bekerja, saya bertanya pada atasan saya ”apa yangharus saya lakukan, chief”?, dan dia menjawab, ”make your first mistakes, and learn form it…”

Saudara Wisudawan dan Wisudawati yang saya percaya kemampuan anda semua untuk menjadikan Indonesia lebih baik, pimpinlah diri anda untuk menjadi orang yang memiliki daya saing di dunia global ini. Jika kebetulan perjalanan anda menghadapi rintangan, jangan menyerah, tetap jalani perjuangan anda. Pada waktunya, pasti ada yang akan anda dapatkan, walaupun tidak semuanya seperti yang anda harapkan, tapi pasti akan ada hal baru yang anda dapatkan. Ingatlah, God works in a mysterious way…. Manusia sudah diciptakan untuk terus berusaha.

Jakarta, 19 Maret 2011

REFERENSI

Meredith, R. (2007). The Elephant and The Dragon. New York: W.W Norton Company.

Naisbitt, H. (1982). Megatrend, Ten New Directions Transforming Our Lives. New York : Warner Books

Bernstein, W.J. (2008). A Splendid Exchange, How Trade Shaped The World. New York:Atlantic Monthly Press

Bongironi, S. (2007). A Year Without “Made In China”. New Jersey: Wiley & Sons.

Friedman, T. (2000). The Lexus and The Olive Oil. New York: Anchor Books.

Friedman, T. (2005). The World is Flat, A Brief History of The Globalized World in The 21st Century. New York: Allen Lane Penguin Group.

Friedman, T. (2008). Hot, Flat,and Crowded. New York: Picador.

Gandossy, B.,S. Greenslade & T. Kao. (2008). Managing Leadership in Turbulent Times—Why and How the Global Top Companies for Leaders Optimize. White Paper. Hewitt Associates.

Pitakasari,R.A. (2010). “Indonesia targetkan lahirkan 5,000 doktor per tahun. Harian Republika, 29 Juni 2010

Human DevelopmentReport 2010.

Kellerman, B.(2008). Followership: How followers are creating change and changing leaders. Boston: Harvard Business Press

Porter, M.E. (1990). On Competition. New York: Free Press.

Porter, M.E. (1998). The Competitive Advantage of Nations. New York: Free Press.

Satriago, H. (2010). Examining The Influence of Followers on Leaders’ Performance, A Reverse Pygmalion Effect. Dissertation. University of Indonesia.

Standage, T. (1988). The Victorian Internet. New York: WalkerPublishing

Standard Chartered Special Report 14 February2011. Indonesia– Infrastructure Bottleneck

Stiglitz, J. (2006). Making Globalization Work, The Next Steps To Global Justice (pp. 4 – 5). New York: Allen Lane Penguin Group.

Toffler, A. (1970). The Future Shock. New York: Random House Publisher.

Toffler, A. (1970). The Third Wave. New York: Bantam Books.

Wikipedia website(http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company), berdasarkan referensi Ames, G. J. (2008). The Globe Encompassed: The Age of EuropeanDiscovery, 1500-1700. New York:Pearson Prentice Hall
World Economic Forum Global Competitiveness Index 2010 – 2011

[1] Meredith (2007) menyebutkan jumlah ini dua kali lebih banyak dari tenaga kerja di Inggris,negara yang dulu mengkoloni India.
[2] Data dari India’s National Association of Software and Service Companies. http://www.nasscom.in/
[3] Laporan dari Hewitt Associates, 2008.
[4] Data BPS2010.
[5] Ulasan panjang lebar mengenai sejarah perdagangan ini ditulis oleh William J.Bernstein (2008) dalam bukunya yang berjudul “A Splendid Exchange, How Trade Shaped The World”. Buku ini bercerita tentang bagaimana perdagangan mengubah wajah dunia sejak sebelum masehi sampai dengan abad 21.
[6].Wikipedia website (http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company),berdasarkan referensi Ames, Glenn J. The Globe Encompassed: The Age of European Discovery, 1500-1700. Pearson Prentice Hall, 2008
[7] World Economic Forum Global Competitiveness Index 2010 – 2011
[8] Porter’s Diamond Model(1990) dikembangkan oleh Michael Porter untuk menjelaskan mengapa ada negara-negara yang makmur, dan ada negara-negarayang kurang makmur dalam kancah persaingan antar negara-negara untuk meningkatkan kemakmuran mereka.
[9] Standard Chartered Bank Special Report 14 Febuary 2011. Indonesia– Infrastructure Bottleneck
[10] Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010.
[11] Thomas Friedman (2005) sedemikian terpukaunya dengan industri IT (software programming, web design, game, dan sebagainya) di India. Dalam bukunya “The World is Flat” dia mengeksplorasi dan menemukan banyak perusahaan IT di India yang merupakan supplier besar untuk industri IT di negara-negara Barat. Hebatnya, perusahaan-perusahaan ini dijalankan oleh segelintir orang dan banyak yang hanya berkantor di pinggiran jalan ataupun di garasi mobil.
[12] Human Development Report 2010
[13] Harian Republika, 29 Juni 2010
[14] Hewitt Association pada tahun 2008 mengumpulkan 12 top multinational companies untuk berpartisipasi dalam sebuah study tentang talent dan leadership terhadap implikasi dari global market. Hasilnya menunjukkan bahwa global leader di masa depan harus memiliki karakteristik yang berpandangan dan memiliki jejaring global, sadar dan haus terhadap perkembangan teknologi, nyaman dengan kondisi chaos dan ketidakpastian, dapat beroperasi dengan speed dan agility, mampu mendorong terjadinya pertumbuhan yang berdasar pada penciptaan nilai, mendukung keragaman tapi juga sensitif terhadap perbedaan, memiliki kemampuan cross functional,dan berpegang teguh terhadap integritas.
[15] Barbarra Kellerman (2008) menggambarka nsecara kronologis dan detail proses kejatuhan Enron dan gagalnya pemasaran obatanti-inflamasi Vioxx dari Merck dalam bukunya yang berjudul ”Followership”,yang menjelaskan bahwa follower adalah sama pentingnya dengan leader dalam proses leadership

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: