//
you're reading...
Creativity, Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #67

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Mengapa semakin banyak orangtua yang beralih ke pendidikan informal? Banyak para orangtua merasa perlu dan butuh untuk mengembalikan peran mendidik anak anak mereka di rumah dan di komunitas mereka sendiri.

Barangkali jawaban sederhananya yaitu adanya fenomena yang entah mengapa kini banyak anak anak kita kelahiran tahun 2000an yang sangat tidak cocok dengan “gaya” sekolah formal yang sama sekali tidak menghargai keunikan anak yang kebanyakan berbakat non akademis..

Barangkali itu hanya fenomena semata, tetapi sesungguhnya idea tentang persekolahan sudah salah sejak awalnya. Sudah banyak menyalahi fitrah sejak diniatkan berdirinya.

Kata “Sekolah” berasal dari bahasa Yunani, “skhole, scola, scolae atau skhola” yang artinya adalah waktu luang. Pendidikan utama di kalangan bangsawan Yunani adalah belajar bersama Orangtua dan Mentor di rumah, sementara Sokole adalah waktu luang sebagai pelajaran tambahan, bukan pendidikan yang utama.

Di Zaman Nabi SAW, ketika Beliau usia dini, pendidikan usia dininya ada di rumah bunda Halimah dan keluarganya di Bani Sa’diyah, dilanjutkan di masa pre aqilbaligh di keluarga besar beliau bersama kakek, paman dan ibu asuhnya. Ketika risalah dimulai, pendidikan atau tarbiyah awal dijalankan juga di rumah, bernama Darul Arqom, yaitu rumahnya Arqom anaknya bapaknya Arqom bukan di tempat belajar menulis atau Kutab.

Metode pendidikan ala Nabi ini kemudian yang digali kembali di abad 20 sampai sekarang dan menjadi fenomena pendidikan unik yang membangkitkan kesadaran dan membebaskan fitrah menuju peran peradaban.

Di Nusantara, kita juga mengenal begitu banyak konsep dan praktek pendidikan hebat peninggalan para ulama, seperti dayah, rangkang, meunasah, surau, pesantren dsbnya yang semua nya berpusat pada pendidikan di keluarga dan di komunitas yang fokus pada keterampilan hidup dan akhlak.

Sayangnya banyak yang tidak menjalankannya, semua mindset orang tentang pendidikan terpaku kepada mindset schooling, yaitu penyeragaman formal dengan hasil distandarkan, perlu gedung dan kurikulum seragam oleh satu satunya otoritas pembuat kurikulum.

“Sekolah” yang cuma waktu luang kemudian menjadi persekolahan formal yang merampas anak anak kita dari rumah rumah kita seperti yang kita lihat hari ini.

Itu dimulai baru dua ratus tahun lalu ketika awal revolusi industri, negara kapitalis memerlukan model Public School dimana negara berkepentingan “mengatur dan mengendalikan serta menyeragamkan” anak dan pemuda, untuk sekedar menjadi administratur dan enjineer yang mengisi pabrik dan perkebunan.

Dalam kacamata kolonialis dan kapitalis, mendidik potensi fitrah bakat, fitrah keimanan dan akhlak apalagi mendidik berbasis keunikan alam dan potensi kearifan lokal adalah kemubadziran yang mengerikan dan tak terampunkan.

Dalam pandangan industrial ini manusia disejajarkan dengan money, machine, methods dan materials. Sementara pemerintah kolonial yang menjajah negeri negeri di Asia dan Afrika juga Amerika Latin membutuhkan “mesin” pencetak administrator dan enjineer untuk menjalankan roda imperium penjajahan mereka. Mesin itu bernama persekolahan.

Maka hari ini persekolahan sesungguhnya sudah salah arah sejak lahirnya dan sudah sangat usang, layaknya Dinosaurus yang akan punah, karena selama 200 tahun lebih telah menjadi penyebab kerusakan kemanusiaan dan kerusakan alam termasuk kearifan keluarga dan masyarakat.

Persekolahan adalah mesin yang dibangun dengan pendekatan anti tuhan yang menolak dan menyalahi fitrah individual dan fitrah komunal. Itu terjadi hampir di seluruh dunia. Beberapa negara moden telah mereformasi sistem persekolahannya agar lebih manusiawi. Negara berkembang masih bingung mendefinisikan makna reformasi pendidikan.

Lihatlah, birokrasi yang menjalankan sistem persekolahan juga tidak kalah usangnya, sangat gemuk, sulit berubah, banyak kepentingan politis, dan cenderung koruptif,

Lembaga birokrat ini sudah sangat sibuk dengan dirinya sendiri. Karenanya sering kita dengar konten buku pelajaran yang tidak sesuai dengan anak anak kita.

Belum lagi terkait zaman, dimana anak anak generasi C memerlukan model pendidikan yang Web 3.0, yaitu belajar dimana saja, sama siapa saja sesuai minat dan bakatnya. Jadi apa masih perlu kurikulum nasional?
Belum lagi terkait potensi alam dan potensi kearifan lokal, dimana dunia mengakui bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan hebat dengan penjelasan rinci disamping sains modern.

Kearifan lokal oleh UNESCO saat ini sudah dianggap dapat menjadi solusi terbaik terhadap permasalahan lokalitas baik pangan, kesehatan dsbnya. Jadi apa masih perlu kurikulum nasional yang cuma menjadikan kearifan lokal sebagai basa basi mulok (muatan lokal)?

Kembali ke lembaga birokrat yang mengatur persekolahan. Banyak guru yang bermetamorfosa menjadi pekerja “profesional: orang gajian dengan target menghabiskan bahan ajar, target ranking sekolah dan jumlah kelulusan.
Kompetensi guru menjadi masalah tak kunjung selesai sampai hari ini. Jadi adakah pendidik yang lebih baik daripada orangtuadi rumah dan orang hebat di jamaah atau di komunitas kita?

Ada memang segelintir guru guru idealis yang bertahan kreatif melawan arus, tetapi mereka sudah pasti makhluk langka, dianggap guru aneh bin anomali dengan bahan ajar tak pernah tuntas, tidak efektif dalam mengajar karena selalu inovatif akibat fokus pada membangkitkan potensi keunikan fitrah masing masing siswanya bukan target yang harus dijejalkan.

Lantas jika demikian bagaimana kita menyerahkan pendidikan anak anak kita kepada lembaga yang mengurus dirinya saja bingung, susah berubah, kejar target kelulusan dstnya.

Kasihan anak anak kita generasi mendatang, hanya menjadi korban keegoisan sistem yang sudah kadaluwarsa dan salah arah sejak berdirinya. Walaupun sebenarnya kitalah yang patut dikasihani karena meninggalkan generasi lemah di belakang kita.

Sesungguhnya pendidikan bukanlah terpaku pada jalur akademis, ada jalur professional berbasis bakat dan ada jalur enterprenuer juga berbasis bakat disertai kemuliaan akhlak.

Pendidikan adalah proses mendampingi anak anak kita membangkitkan fitrah mereka sehingga tumbuh subur paripurna menuju peran peradaban sesuai fitrahnya itu.

Maka wahai ayahbunda dan para pendidik, kembalilah kepada peran fitrah mendidik, rumahmu adalah miniatur peradaban dengan para khalifah cilik di dalamnya, jadikanlah rumah rumahmu dan komunitasmu sebagai dapur dapur peradaban yang akan melahirkan bunga bunga peradaban terbaik yang tumbuh indah merekah harum semerbak mewangi karena dirawat dengan sepenuh cinta sesuai fitrahnya.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬‬‬‬‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: