//
you're reading...
Human being, Kajian, Motivasi, Pendidikan, Renungan

Jurus Jitu Mendidik anak

Ustadz Abdullah Zaen

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

🔵 Jurus Ke-①: Mendidik Anak Perlu ‘Ilmu

‘Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhannya terhadap ‘ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ‘ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.

Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ‘ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ‘ilmu untuk menjadi orang tua. Padahal, tugas kita menjadi orang tua itu 24 empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja saja.

Betapa banyak suami yang menyandang gelar “bapak” hanya karena istrinya melahirkan, sebagaimana banyak perempuan disebut “ibu” semata-mata karena dia lah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orang tua, bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orang tua.

Padahal, menjadi orang tua harus berbekal ‘ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tidaklah cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.
Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.
Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orang tuanya, kecuali perhatian, ketulusan, dan kasih sayang…!

‘Ilmu apa saja yang dibutuhkan…?
Banyak jenis ‘ilmu yang dibutuhkan orang tua di dalam mendidik anaknya. Mulai dari ‘ilmu agama dengan berbagai variannya, hingga ‘ilmu cara berkomunikasi dengan anak.

Jenis ‘ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orang tua adalah aqidah, sehingga ia bisa menanamkan aqidah yang lurus dan keîmânan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabî صلى الله عليه و سلم mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk ‘Abdullôh ibn ‘Abbâs رضي الله عنهما:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه
(arti) “Apabila engkau memohon, mohonlah kepada الله, dan apabila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada الله.” [HR at-Tirmidzî ~ beliau berkomentar: “hasan shohîh”].

Selanjutnya, ‘ilmu tentang cara ibadah, terutama sholât dan cara thoharoh (bersuci), demi merealisasikan wasiat Nabî صلى الله عليه و سلم untuk para orang tua:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر
(arti) “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholât saat berumur 7 tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur 10 tahun.” [HR Abû Dâwûd ~ dinilai shohîh oleh Syaikh al-Albânî].

Bagaimana mungkin orang tua akan memerintahkan sholât pada anaknya, apabila ia tidak mengerti tata-cara sholât yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk memberikan sesuatu kepada orang lain…?

Berikutnya, ‘ilmu tentang akhlaq, mulai adab terhadap orang tua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain. Dalam hal ini Nabî صلى الله عليه و سلم mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika Beliau صلى الله عليه و سلم bersabda menasehati seorang anak kecil:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ
(arti) “Wahai Ananda, ucapkanlah bismillâh (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu.” [HR al-Bukhôrî dan Muslim, dari ‘Umar ibn Abî Salamah].

Yang tidak kalah pentingnya adalah: ‘ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif, atau sebaliknya yang pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Serta berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

🔵 Jurus Ke-②: Mendidik Anak Perlu Keshôlihan Orang Tua

Tentu anda masih ingat kisah “petualangan” Nabî Khidhir عليه السلام dengan Nabî Mûsâ عليه السلام, bukan…?
Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang الله Subhânahu wa Ta‘âlâ sebutkan dalam QS al-Kahfi (18), manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Lalu dengan ringan tangan Nabî Khidhir عليه السلام memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabî Mûsâ عليه السلام terheran-heran melihat tindakannya. Nabî Khidhir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua mereka yang shôlih, di mana الله berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.

Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: الله akan menjaga keturunan seseorang manakala ia shôlih walaupun ia telah wafat sekalipun.

Subhânallôh, begitulah dampak positif keshôlihan orang tua…!

Sekalipun telah wafat, masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup? Maka tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.

Urgensi keshôlihan orang tua dalam mendidik anak
Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama, yaitu ingin agar keturunan kita menjadi anak yang shôlih dan shôlihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: keshôlihan dan ketaqwaan kita selaku orang tua…!

Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi shôlih dan bertaqwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa…?

Keshôlihan jiwa dan perilaku orang tua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk keshôlihan anak. Sebab, ketika si anak membuka matanya di muka Bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orang tuanya berhias akhlaq mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya, dan in syâ’-Allôh itu pun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya.

Pepatah mengatakan: “buah takkan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketaqwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketaqwaan kedua orang tuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru…!

Beberapa contoh aplikasi nyatanya
Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan sholât lima waktu, raihlah tangannya dan berangkatlah ke Masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke Masjid, sedangkan anda asyik menonton televisi.

Jika anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu, ataupun kaset dan radio. Jangan malah anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu…!

Kalau anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan: “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”, tetapi ternyata, kita malah pulang malam…!?!

Di dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.

Terus apa yang sebaiknya kita lakukan…?

Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian: “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, in syâ’-Allôh kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus-menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.
Anda ingin anak jujur…? Mulailah dari diri Anda sendiri…!

Sebuah renungan
Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan jaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orang tua dan anak.

Dahulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan sabar bercerita tentang kisah para Nabiyullôh, para Shohâbat hingga teladan dari para ‘Ulamâ’, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-facebook-an dan akrab dengan artis di televisi. Dahulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak dini tata-cara wudhu’, sholât, dan ibadah primer lainnya, sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola…!

Bagaimana kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita 50 tahun ke depan, jika kondisi kita terus seperti ini…?!?

Jika kita tidak ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak sekarang. Kemudian untuk merealisasikan hal itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita sendiri selaku orang tua, sebab mendidik anak memerlukan keshôlihan orang tua.

🔵 Jurus Ke-③: Mendidik Anak Perlu Keikhlashan

Ikhlash merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlashan bagaikan jasad yang tak bernyawa, termasuk juga enis amalan yang harus dilandasi keikhlashan adalah mendidik anak.

Apa maksudnya…?

Maksudnya adalah: rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niyat ikhlash semata-mata mengharapkan keridhoan الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.

Canangkan niat semata-mata untuk الله dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yang kita ucapkan dengan keikhlashan.

Bahkan, di dalam setiap perbuatan yang kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya, hingga mengganti popoknya, niyatkanlah semata karena mengharap ridha الله Subhânahu wa Ta‘âlâ.

Apa sih kekuatan keikhlashan…?
Ikhlash memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat, di antaranya:
✓ Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.
Proses membuat dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yang cukup panjang tersebut, terkadang muncul dalam hati rasa jenuh dan kesal karena ulah anak yang kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yang menumpuk, berbagai sudut rumah yang sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini dan tidak ketinggalan mainan yang selalu berserakan dan berantakan di mana-mana.

Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan…?

Jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlashan…!

Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.

✓ Dengan keikhlashan, ucapan kita akan berbobot.
Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.

Apa yang membedakan…?

Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika anda ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika anda ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang anda lahirkan dengan susah payah itu, in syâ’-Allôh akan menjadi perkataan yang berbobot. Sebab, bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan karena kuatnya penggerak dari dalam dada; îmân kita dan keikhlashan kita.

✓ Dengan keikhlashan anak kita akan mudah diatur.
Jangan pernah meremehkan perhatian dan pengamatan anak kita. Anak yang masih putih dan bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita. Dia bisa membedakan antara tatapan kasih sayang dengan tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dengan pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dengan cubitan kesal. Bahkan, ia pun bisa menangkap suasana hati orang tuanya, sedang tenang dan damaikah, atau sedang gundah gulana?

Manakala si anak merasakan ketulusan hati orang tuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.

✓ Dengan keikhlashan kita akan memetik buah manis pahala.
Keikhlashan bukan hanya memberikan dampak positif di Dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana, yang itu berujung kepada berkumpulnya orang tua dengan anak-anaknya di negeri keabadian: Syurga الله yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan:
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
(arti) “Orang-orang yang berîmân, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keîmânan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.” [QS ath-Thur () ayat 21].

Dipertemukan di mana?

Di Syurga الله Subhânahu wa Ta‘âlâ…!

Mulailah dari sekarang, latih dan biasakan diri untuk ikhlash dari sekarang, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan.

Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu buat anakmu, aduklah ia dengan penuh keikhlashan sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk.

Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, suapkanlah dengan penuh keikhlashan sembari memohon kepada الله agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama الله.
Sehingga dengan itu, semoga setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka akan bersemangat untuk senantiasa menuntut ‘ilmu, beribadah dengan tekun kepada الله, dan meninggikan agama-Nya. Âmîn yâ mujîbassâ‘ilîn…

🔵 Jurus Ke-④: Mendidik Anak Perlu Kesabaran

Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di Dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.
Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab, rentang waktunya tidak sebentar, dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Contoh aplikasi kesabaran:
✓ Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anak.
Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم menggambarkan hal itu dalam sabdanya:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه
(arti) “Setiap bayi lahir dalam keadaan fithroh. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahûdi, Nashrônî, atau Majûsi.” [HR al-Bukhôrî dan Muslim, dari Abû Huroiroh رضي الله عنه].

Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.
Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi, niscaya ia akan awet dan tahan lama.

✓ Sabar dalam menghadapi pertanyaan anak.
Menghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit.
Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya. Sesungguhnya, kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, “seburuk” apapun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab.

Maka, jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.

Jika kita ogah-ogahan untuk menjawab pertanyaan anak atau menjawab sekenanya atau bahkan justru menghardiknya, hal itu bisa berakibat fatal. Anak tidak lagi percaya dengan kita, sehingga ia akan mencari orang di luar rumah yang dianggapnya bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaannya. Di mana tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang ditemuinya di luar adalah orang baik-baik. Ingat betapa rusaknya pergaulan di luar saat ini…!

✓ Sabar menjadi pendengar yang baik.
Banyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.

Salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat pemberitahuan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menunggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya, dengan ungkapan: “Sudah-sudah tidak perlu banyak alasan”, atau: “Ah, Papa / Mama tahu kamu pasti main ke tempat itu lagi kan..!?!”

Akibatnya, ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita. Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diperhatikan. Mungkin keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya ia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.

Yang sebaiknya dilakukan adalah, kita memulai untuk menjadi pendengar yang baik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Bersabarlah untuk tidak berkomentar sampai saatnya tiba. Ketika anak sudah selesai menjelaskan duduk permasalahan, barulah anda berbicara dan menyampaikan apa yang ingin anda sampaikan.

✓ Sabar manakala emosi memuncak.
Hendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak, karena pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.

Yang seyogyanya dilakukan adalah: bila kita dalam keadaan sangat marah, segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk menurunkan amarah kita dengan segera. Bisa dengan mengamalkan tuntunan Nabî صلى الله عليه و سلم, yakni berwudhu’.

Jika kita bertekad untuk tetap memberikan sanksi, tundalah sampai emosi kita mereda. Setelah itu, pilih dan susunlah bentuk hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuatnya. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik, bukan untuk menyakiti.

Berakit-rakit ke hulu. Pepatah ‘Arab mengatakan: “Sabar bagaikan buah brotowali, pahit rasanya, namun kesudahannya lebih manis daripada madu”.

Sabar dalam mendidik anak memang terasa berat, namun tunggulah buah manisnya kelak di Dunia maupun di Akhirat. Di Dunia mereka akan menjadi anak-anak yang menurut kepada orang tuanya, in syâ’-Allôh, dan manakala kita telah masuk di Alam Akhirat, mereka akan terus mendo‘akan kita, sehingga curahan pahala terus mengalir deras. Semoga…

🔵 Jurus Ke-⑤: Mendidik Anak Perlu Iringan Do‘a

Beberapa saat lalu saya mampir Sholât Jum‘at di Masjid salah satu perumahan di bilangan Sokaraja, Banyumas. Di sela-sela khutbahnya, Khotîb bercerita tentang kejadian yang menimpa sepasang suami istri. Keduanya terkena stroke, namun sudah sekian bulan tidak ada satu pun di antara anaknya yang datang menjenguk.

Manakala dibesuk oleh si Khotîb, sang bapak bercerita sambil menangis terisak: “Mungkin الله telah mengabulkan do‘a saya. Sekarang inilah saya merasakan akibat dari do‘a saya! Dahulu saya selalu berdo‘a agar anak-anak saya jadi ‘orang’. Berhasil, kaya, sukses dst. Benar, ternyata الله mengabulkan seluruh permintaan saya. Semua anak saya sekarang menjadi orang kaya dan berhasil. Mereka tinggal di berbagai pulau di Tanah Air, jauh dari saya. Memang mereka semua mengirimkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit, dan semua menelpon saya untuk segera berobat. Namun, bukan itu yang saya butuhkan saat ini. Saya ingin belaian kasih sayang tangan mereka. Saya ingin dirawat dan ditunggu mereka, sebagaimana dulu saya merawat mereka.”

Iya, berhati-hatilah anda dalam memilih redaksi do‘a, apalagi jika itu ditujukan untuk anak anda. Tidak ada redaksi yang lebih baik dibandingkan redaksi do‘a yang diajarkan dalam al-Qur-ân dan al-Hadîts.
“Robbanâ hablanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrota ‘ayun, waj‘alnâ lil muttaqîna imâmâ” – Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan pandangan mata. Serta jadikanlah kami imâm bagi kaum Muttaqin [lihat: QS al-Furqôn (25) ayat 74].

Seberapa besar sih kekuatan do‘a…?
Sebesar apapun usaha orang tua dalam merawat, mendidik, menyekolahkan dan mengarahkan anaknya, andaikan الله Subhânahu wa Ta‘âlâ tidak berkenan untuk menjadikannya anak shôlih, niscaya ia tidak akan pernah menjadi anak shôlih.

Hal ini menunjukkan betapa besar kekuasaan الله dan betapa kecilnya kekuatan kita. Ini jelas memotivasi kita untuk lebih membangun ketergantungan dan rasa tawakkal kita kepada الله Subhânahu wa Ta‘âlâ, dengan cara antara lain:
▫ memperbanyak menghiba,
▫ merintih,
▫ memohon bantuan dan pertolongan dari الله dalam segala sesuatu, terutama dalam hal mendidik anak.

Secara khusus, do‘a orang tua untuk anaknya begitu spesial. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم menjelaskan hal itu dalam sabdanya:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
(arti) “Tiga do‘a yang akan dikabulkan tanpa ada keraguan sedikit pun: do‘a orang tua, do‘a musafir, dan do‘a orang yang dizhôlimi.” [HR Abû Dâwûd, dari Abû Huroiroh رضي الله عنه ~ dinyatakan “hasan” oleh Syaikh al-Albânî].

Sejak kapan kita mendo‘akan anak kita…?
Sejak anda melakukan proses hubungan suami istri telah disyari‘atkan untuk berdo‘a demi keshôlihan anak anda. Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم mengingatkan:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا” فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ
(arti) “Jika salah seorang dari kalian sebelum bersetubuh dengan istrinya ia membaca: ‘bismillâh, allôhumma jannibnasysyaithôna wa jannibisysyaithôna mâ rozaqtanâ’ (dengan nama الله, wahai الله, jauhkanlah kami dari Syaithôn dan jauhkanlah Syaithôn dari apa yang Engkau karuniakan pada kami), lalu mereka berdua dikaruniai anak, niscaya Syaithôn tidak akan bisa mencelakakannya.” [HR al-Bukhori no 3271; Muslim no 3519, dari Ibnu ‘Abbâs رضي الله عنهما].

Ketika anak telah berada di kandungan pun, jangan pernah lekang untuk menengadahkan tangan dan menghadapkan diri kepada الله Subhânahu wa Ta‘âlâ untuk memohon agar kelak keturunan yang lahir ini menjadi generasi yang baik. Nabî Ibrôhîm عليه الصلاة و السلام mencontohkan:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(arti) “Wahai Robbi, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang shôlih.” [QS ash-Shôffât (37) ayat 100].

Nabî Zakariyyâ عليه السلام juga demikian:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
(arti) “Wahai Robbi, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do‘a.” [QS Âli ‘Imrôn (3) ayat 38].

Setelah lahir hingga anak dewasa sekalipun, kawal dan iringilah terus dengan doa. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab. Antara adzan dengan iqamah, dalam sujud dan di sepertiga malam terakhir misalnya.Bahkan tidak ada salahnya ketika berdoa, Anda perdengarkan doa tersebut di hadapan anak Anda. Selain untuk mengajarkan doa-doa nabawi tersebut, juga agar dia melihat dan memahami betapa besar harapan Anda agar dia menjadi anak salih.

Awas, hati-hati…!
Do‘a orang tua itu mustajab, baik do‘a tersebut bermuatan baik maupun buruk. Maka berhati-hatilah, wahai para orang tua. Terkadang ketika anda marah, tanpa terasa terlepas kata-kata yang kurang baik terhadap anak anda, lalu الله mengabulkan ucapan tersebut, akibatnya anda menyesal seumur hidup.

Dikisahkan ada seorang yang mengadu kepada Imâm Ibnu al-Mubarok رحمه الله mengeluhkan tentang anaknya yang durhaka. Beliau bertanya: “Apakah engkau pernah mendo‘akan tidak baik untuknya?”
“Ya” sahutnya.
“Engkau sendiri yang merusak anakmu!” pungkas sang Imâm.

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita pentingnya ‘ilmu di dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis ta’lim, membaca buku-buku panduan pendidikan – agar kita betul-betul menjadi orang tua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya…!
Semoga الله senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, âmîn…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: