//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #66

‪Harry Santosa – Millenial Learning Center

#‎bukuortu‬‬‬‬‬ ‪#‎bukupendidik‬‬‬‬‬

Akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal (early childhood education).

Penelitian mereka menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka

Ivan Illich, tahun 1970, mengritik sistem persekolahan di Amerika yang menurutnya sudah menjadi “agama dunia” bagi perbudakan modern. Tahun 1970, Amerika serikat sedang hebat hebatnya dalam ekonomi.

Dia mengatakan bahwa persekolahan dirancang dengan asumsi bahwa ada rahasia rahasia dari segala sesuatu bagi kehidupan, dan kualitas kehidupan tergantung kepada mengetahui rahasia tersebut. Rahasia itu hanya dapat diketahui dalam urutan kesuksesan dan hanya guru yang dapat secara benar menjelaskan rahasia itu. Seseorang dengan mindset persekolahan meyakini dunia sebagai piramid dari paket terklasifikasi yang hanya dapat diakses untuk mereka yang bergelar layak”

Tahun 1976, pengagas homeschooling (home based education), John Holt mengatakan bahwa, “Bukan berarti saya merasa bahwa sekolah adalah idea yang baik namun salah dijalankan, tetapi sekolah adalah ide yang jelas salah darimana dunia menuju. Adalah ide gila bahwa kita hanya dapat belajar di sebuah tempat dan tidak ada tempat lain untuk belajar selain itu, yang memangkas seluruh sisa hidup”

Filosofi berdirinya pendidikan berbasis rumah adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan senang belajar sehingga tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau mengontrolnya”

Karenanya pada tahun 1980, Holt mengatakan, “Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak melihat Homeschooling sebagai jawaban bagi keburukan sekolah. Saya rasa rumah memang menjadi dasar untuk mengeksplorasi dunia yang kita namakan sebagai belajar atau pendidikan. Rumah menjadi tempat terbaik, sebaik apapun sekolah yang ada. Holt kemudian menulis buku tentang Homeschooling, “Teach Your Own”, pada tahun 1981.

Renungan ini tidak ingin membahas sejarah homeschooling, namun memperlihatkan bahwa banyak pakar memprotes keberadaan persekolahan sejak tahun 1960an, dan yang memprotes justru masyarakat dimana persekolahan telah ada selama ratusan tahun pada dirinya, jauh sebelum negeri ini dipaksa mengadopsinya lewat politik etis kolonial dan berlanjut sampai hari ini.

Mereka menyuarakan agar pendidikan kembali ke rumah, kembali ke pangkuan keluarga, agar kita para orangtua segera bertaubat menyadari peran dan amanah terbesarnya untuk mendidik anak anak kita sendiri sesuai fitrahnya, baik fitrah belajar, fitrah keimanan, fitrah bakat dan fitrah perkembangan.
Jadi aneh jika ada yang menjalankan pendidikan berbasis rumah namun masih memakai kurikulum sekolah. Maksudnya apa?

Maka “Teach Your Own” atau ajarlah anakmu sendiri adalah kesimpulan final. Dan ini bukan reaksi atas idea dan praktek buruk persekolahan, namun memang kesejatian peran para orangtua secara ilmiah, alamiah maupun syariah.
Orangtua lah yang paling kenal dan paham karakter dan sifat anak anaknya, merekalah makhluk di muka bumi yang paling tulus mencintai dan dekat dengan anak anak nya. Jangan biarkan perskolahan merampas peran kesejatian kita sebagai orangtua.

Dunia persekolahan bukanlah dunia pendidikan, tetapi dunia pengajaran skill dan knowledge yang pada hari ini bisa diperoleh dimanapun dengan kualitas lebih baik dari di sekolah.

Terkait rahasia pengetahuan dan keterampilan, bahkan hari ini dunia mulai menyadari, bahwa pengetahuan tidak terbatas pada sains dan pengetahuan modern yang diajarkan di sekolah secara seragam, namun justru pada hikmah dan kearifan yang kaya dan banyak beserta penjelasannya, yang ada di komunitas lokal dan keluarga.

Itu adalah pengetahuan lokal canggih dan relevan yang diwariskan turun temurun yang saat ini justru lebih efisien untuk memberi solusi, memberdayakan keluarga dan desa, memelihara keharmonian keluarga dan kelestarian alam dalam kondisi dunia yang tidak menentu.
Pendidikan adalah upaya fokus membangkitkan potensi fitrah, baik potensi fitrah personal maupun potensi fitrah alam, fitrah kearifan lokal dan masyarakatnya dengan agama yang diyakini.

Maka rancanglah Pendidikan Anakmu sendiri sesuai keunikan anakmu, kekhasan keluargamu, kearifan masyarakatmu, keragaman hayati alammu dan keindahan agamamu. Tidak pernah ada kurikulum seragam yang mampu mendidik semua anak dengan baik dan utuh, kecuali dengan hasil yang paling maksimal adalah standar saja dan bahkan kemungkinan banyak merusak.

Mari kita rancang buku orangtua sebagai panduan pendidikan anak anak kita sesuai fitrah mereka. Layaknya petani yang ingin menumbuhkan benih tanamannya dengan baik dan paripurna, maka catat dan tuliskanlah berbagai karakteristik dan keunikan benih dan tanaman itu, lalu temukan rahasia rahasia dan proses untuk mengokohkan akarnya, rahasia dan proses untuk menjulangkan batangnya, rahasia dan proses untuk merimbunkan daunnya sehingga menaungi siapapun dan rahasia memperbanyak bunga dan buahnya sehingga memberi buah rahmat bagi sekitarnya.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬‬‬‬‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: