//
you're reading...
Human being, Life style, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Membaca Buku dalam Jumlah yang Sangat Banyak dalam Sekali Baca?

HERNOWO HASIM
APRIL 11, 2016

Mampu membiasakan membaca buku yang ditulis oleh seorang penulis yang gemar membaca buku akan menjadikan diri kita ikut membaca kekayaan buku-buku yang dibaca oleh sang penulis tersebut.

Dengan sedikit redaksi kata-kata yang berbeda, saya ingin menayangkan kembali satu slide materi presentasi saya di depan komunitas SPN (Sahabat Pena Nusantara) pada Minggu, 10 April 2016, di Yogyakarta kemarin. Saya tergerak untuk menyampaikannya kembali di sini karena Prof. Muhammad Chirzin, salah satu pendiri SPN, membagikan slide tersebut di grup WA SPN. Saya baru sadar bahwa slide yang berisi hanya kata-kata itu berdampak sangat dahsyat terhadap keberadaan diri saya saat ini. Saya ternyata telah banyak membaca buku!

Sebelum tulisan ini, saya telah menayangkan artikel saya berjudul “Tak Ada Buku yang Sulit Dibaca?” Meskipun judulnya dalam nada tanya, sebenarnya saya ingin menegaskan manfaat luar biasa metode membaca “ngemil”. Saya hingga kini berkali-kali merasakan bahwa apa pun buku yang ingin kita baca, buku itu akan menjadi mudah kita baca dan memberikan manfaat luar biasa kepada kita, apabila kita mampu membacanya secara “ngemil”.

Apalagi jika buku yang kita baca itu merupakan buku yang ditulis oleh para penulis yang gemar membaca. Setelah slide yang berisi hanya kata-kata itu, saya kemudian menayangkan tiga contoh penulis yang gemar membaca buku. Pertama, F. Budi Hardiman dengan bukunya, Seni Memahami; kedua, Rhenald Kasali dengan bukunya, Self Driving, dan ketiga, Haidar Bagir dengan bukunya, Belajar Hidup dari Rumi. Tiga penulis buku ini bahkan, menurut saya, sangat-sangat gemar membaca dan buku-buku yang dibacanya sungguh sangat berkualitas atau “bergizi”. Ketika membaca buku Seni Memahami, saya sepertinya juga ikut membaca buku-buku karya Schleiermacher, Ricoeur, Dilthey, Habermas, Derrida, dan masih banyak lagi lainnya yang dibaca oleh F. Budi Hardiman. Dahsyat!

Saya membaca karya-karya Derrida dkk.—yang dibaca oleh F. Budi Hardiman—itu dengan enak dan mudah karena sudah “dikunyahkan” oleh F. Budi Hardiman. Saya tinggal menelan, mengolah, dan memahami sesuai keinginan saya. Mungkin ada beberapa penafsiran F. Budi Hardiman yang tak bisa saya jangkau secara sempurna. Tetapi, jika itu hanya untuk keperluan memperkaya pikiran saya, kegiatan membaca buku Seni Memahami itu sudah benar-benar saya peroleh. Pikiran saya benar-benar diperkaya oleh buku Seni Memahami.

Juga ketika saya membaca buku Self Driving-nya Rhenald Kasali. Di buku ini ada bab yang sangat menarik berjudul “Self Discipline”. Rhenald mengawali bab itu dengan bercerita tentang film The Last Samurai yang dibintangi oleh Tom Cruise. Akibat ulasan Rhenald yang sangat menarik, saya pun menonton kembali berulang kali film The Last Samurai. Dahsyat! Saya menjadi tahu detailnya dan paham sekali pentingnya mendisiplinkan diri. Para Samurai menjadi hebat gara-gara “self discipline”. Kata Rhenald, seorang penulis buku yang sukses tentu harus memiliki disiplin membaca dan menulis. Tentu, buku-buku yang dibaca oleh Rhenald Kasali untuk membuat buku Self Driving itu pun dahsyat! Dan saya pun ikut mencicipinya. Luar biasa.

Kemudian ketika membaca buku Haidar Bagir yang berisi penggalan-penggalan pendek sajak Jalaluddin Rumi, saya dapat menangkap proses penafsiran dan pemaknaan yang dilakukan oleh Haidar. Haidar harus juga membaca banyak buku berbahasa Inggris tentang sajak Rumi yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh banyak sekali tokoh yang menjadi peminat sajak-sajak Rumi. Saya pun ikut larut menikmati pengembaraan Haidar dan membaca satu per satu buku yang dibaca oleh Haidar. Haidar mendata buku-buku yang dibacanya itu di depan dan mengulasnya secara menarik.

Meskipun tak ada buku tentang sajak Rumi yang berbahasa Persia yang dibacanya, Haidar begitu sangat teliti dan berhati-hati dalam memaknai setiap kata (diksi) yang dipilih Rumi dan juga setiap makna yang tampil dari keseluruhan sajak tersebut. Pendek sih sajak itu, tetapi maknanya itu sangat dalam. “Duaaar…,” kata Haidar. Dahsyat![]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: