//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

LGBT, Anak anak & Aqil Baligh

Adriano Rusfi

Terus terang, maraknya LGBT hanyalah dampak. Ya, dampak dari telah lahirnya sebuah generasi yang mengalami kebingungan dan kegalauan identitas dan orientasi diri. Generasi itu bernama REMAJA.

Inilah generasi yang terlalu telat aqil dan terlalu cepat baligh. Nafsunya telah bergejolak dahsyat tanpa kendali akal. Jangankan terhadap manusia sejenis, terhadap hewan bahkan mayatpun kelak bisa ditumpahkan.

Wajar jika fenomena transisional yang abu-abu ini menjadi sasaran empuk segala yang abu-abu pula, mulai dari terorisme hingga LGBT. Maka, masihkah kita ingin mendidik anak-anak kita menjadi abu-abu ?

Kita begitu sibuknya mendidik anak-anak kita dengan taklif syar’i, seperti shalat, mengaji, menutup aurat dsb., tapi lalai untuk menjadikan mereka mukallaf secara mental, finansial, tanggung jawab, kemandirian dsb.

Jika anak-anak kita berhasil kita mukallaf-kan. Insya Allah mereka siap menikah lebih cepat. Me-mukallaf-kan anak sebenarnya susah-susah gampang. Bahkan anak-anak jalanan, tanpa direkayasapun mereka aqil-baligh dengan sendirinya. Itu pula yang sampai saat ini masih terjadi di suku-suku terasing. Mereka didewasakan oleh KEHIDUPAN.

Sebenarnya, pola asuh dan pendidikan kita sendirilah yang menghalangi mereka menjadi aqil-baligh secara bersamaan pada waktunya. Maka, pertanyaannya adalah : Ikhlaskah kita “melemparkan” anak kita ke kehidupan, ke sebuah pendidikan “kawah candradimuka” ?

Mengaqilkan anak tak bisa dilakukan oleh sekolah, harus oleh orangtua. Ada dua pendekatan utama :

Pertama : Tekan baligh agar tidak terlalu cepat. Caranya dengan menghindari makanan berlebihan (over nutrisi), sering-sering berpuasa, hindari makanan yang menstimulasi hormon berlebihan (hewan suntik hormon), jaga mata anak-anak dari hal-hal yang merangsang seksualitasnya, jaga telinga anak dari mendengar ucapan cabul, serta biasakan mereka dengan masalah kehidupan.

Kedua : Akselerasi aqil agar lebih cepat. Caranya : Biasakan hidup berjuang, belajar cari nafkah sendiri, aktifkan dalam berorganisasi, latih memecahkan masalah dan mengambil keputusan, biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya, biarkan dia memikul risiko atas keputusannya.

Saat anak kita berusia 7 tahun, posisikan diri kita sebagai ADULTHOOD SUPERVISOR (Penyelia Kedewasaan). Penyelia Kedewasaan (Adulthood Supervisor) adalah: Menyuruh anak untuk menjadi orang dewasa, lalu kita bimbing, dampingi, dan temani. Kita adalah konsultan kedewasaan anak anak kita.

Dalam hal ini, PERAN AYAH TERAMAT PENTING. Permasalahan para orangtua saat ini dalam mengaqil-baligh-kan anaknya secara bersamaan adalah : ayah absen dalam mendidik anak, pasangan yang menikah menunggu mapan, anak termanjakan, tak tega menyuruh anak berjuang, anggapan keliru : dia masih terlalu kecil memikul masalah, kesibukan mencari nafkah melalaikan pendidikan, waktu minim untuk anak, dibalas lewat makanan berlebihan.

Ust. Adriano Rusfi

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: