//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan

Tak Ada Buku yang Sulit Dibaca?

HERNOWO HASIM
APRIL 10, 2016

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru. Membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi.”
—Abdurahman Faiz, Aku Ini Puisi Cinta

Seorang sahabat mengeluh kepada saya terkait dengan kegiatan membacanya: “Pak Hernowo, saya juga punya buku-buku yang Pak Hernowo sukai itu lho…. Ada karya Malcolm Galdwell, Rhenald Kasali, Stephen R. Covey, dan masih banyak yang lain. Hanya, anehnya, kok Pak Hernowo dapat merasakan nikmatnya membaca buku-buku tersebut sementara saya tidak. Kenapa ya Pak? Mohon pencerahannya.”

Pertama, mungkin, saya punya metode membaca yang memang bertujuan untuk menikmati bacaan saya. Namanya metode “ngemil”. Lewat metode ini, saya selalu menganggap teks—baik teks itu berbentuk kalimat maupun paragraf—sebagai kacang goreng yang gurih. Saya harus mampu merasakan aroma bawang goreng dan kegurihan rasa kacangnya. Untuk itu, saya pun tidak membacanya secara tergesa-gesa. Saya membaca perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit (“ngemil”). Saya benar-benar harus menikmatinya.

Kedua, metode membaca “ngemil” ini juga mengharuskan saya untuk membaca hanya sedikit—sekali lagi HANYA SEDIKIT, jangan terlalu banyak. Maksudnya, jangan terus-menerus membaca. Berhentilah sejenak membaca begitu membaca dua-tiga halaman atau lebih kurang dari itu dan ambil nafas untuk merenungkan apa yang dibaca. Kecuali mungkin bacaan itu adalah bacaan fiksi seperti serial novel Harry Potter atau The Da Vinci Code yang memang mengasyikkan itu. Meskipun yang saya baca adalah buku-buku fiksi, saya kadang tetap harus berhenti karena pikiran perlu mengolah—tidak menerima secara pasif ketika membaca.

Ketiga, metode membaca “ngemil” itu juga melatih diri saya untuk membaca secara tartil. Ketika membaca teks yang baik—saya sering menyebutnya sebagai “teks yang bergizi”—saya sering memanfaatkan untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi lisan saya. Saya membaca secara lantang (read aloud) dan berirama (teks itu kemudian seperti saya nyanyikan). Ayat-ayat Al-Quran itu jika dibaca tanpa mengindahkan irama panjang-pendeknya ya tidak enak didengarkan. Tuhan menciptakannya memang untuk dinyanyikan.
Ketika menjumpai teks-teks yang sulit dibaca, saya juga harus melatih pelafalan saya secara benar dan tepat. Bagaimana mengeja “srengenge” (bahasa Jawanya “matahari”) atau membedakan antara “kefakiran” dan “kekafiran” misalnya. Selain itu semua, saya juga harus memperhatikan tanda-tanda baca. Dan, terakhir, membaca lantang (dijaharkan) tersebut akan membantu saya menemukan kalimat yang terlalu panjang dan melelahkan untuk dibaca. Saya kemudian dapat menjadi editor untuk memperbaiki kalimat tersebut he he he. Jadi membaca “ngemil” melatih diri saya untuk menguasai beberapa keterampilan berbahasa dan berkomunikasi sekaligus. Mungkin itu sebabnya saya bisa menikmati membaca buku yang kadang berisi wacana pemikiran yang berat. Saya memperoleh banyak manfaat ketika membaca—antara lain, berbagai keterampilan berbahasa tersebut. Semakin sering saya membaca, keterampilan berbahasa saya pun akan semakin meningkat. Hebat ‘kan?

Keempat, membaca “ngemil” menjadikan buku bagaikan makanan—tepatnya, makanan ruhani. Jadi, setiap jenis buku kemudian akan saya perlakukan seperti makanan. Saya perlu mencicipinya terlebih dahulu jika buku itu merupakan buku baru sebelum saya membacanya. Saya juga perlu menentukan kriteria “koki” yang baik. Apakah sang “koki” memiliki kemampuan menulis yang andal dan menguasai materi yang ditulisnya? Jika tak punya, tentulah rasa “masakan” (rangkaian kalimatnya) akan hambar dan berat sekali untuk dicerna.
Kelima, membaca “ngemil” merupakan bagian penting “mengikat makna”. Setelah membaca sedikit, kemudian merenungkan yang saya baca, saya pun harus menuliskan hasil renungan saya. Jadi, tak ada kesia-siaan dalam membaca. Dengan mengikat makna, membaca jelas ada hasilnya atau menghasilkan sesuatu. Apa hasilnya? “Ikatan makna” atau tulisan! Alhamdulillah.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: