//
you're reading...
Human being, Leadership, Lingkungan, Motivasi

Konflik

Eileen Rachman & Billy Latuputty ,
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 2 April 2016

Di dalam kehidupan kita sekarang ini , tiba tiba kita seolah dalam satu hari tidak bisa terhindar dari konflik. Di media kita melihat konflik antara wakil pemerintah dengan para eksekutor. Demikian pula konflik terbuka antar partai, di depan umum, disorot media. Belum lagi konflik antara lembaga, atau juga antar menteri, sehingga presidenpun ikut mengancam agar konflik diselesaikan segera. Kita juga bisa menonton, pemimpin yang terasa menghindari konflik, dan tidak mengambil keputusan dengan segera, sehingga persoalan menjadi bertele tele. Konflik sering kita lihat sebagai sesuatu yang semestinya tidak terjadi, dan kita membayangkan bahwa , asal berniat sedikit lebih baik, konflik bisa tidak terjadi. Tidak heran, bila terjadi konflik kita langsung menengok pada pemimpin, dimana pemimpin diharapkan bisa mendamaikan, mengkompromikan, atau memutuskan yang mana yang benar atau salah. Memang pemimpin perlu membekali diri dengan kemampuan ‘conflict management’. Tetapi, kita sering menunggu nunggu keputusan pemimpin atas konflik yang sudah berkelanjutan, dan pemimpin belum juga mengambil keputusan, bahkan kemudian, cenderung melupakan tentang adanya masalah. Memang banyak konflik yang sulit dipecahkan, tetapi pemimpin tetap diharapkan untuk menyelesaikannya. Kalau pemimpin menghindar, kita bisa melihat bahwa ini adalah awal dari hilangnya kepercayaan sehingga orang tidak lagi ingin mengikutinya.

Antisipasikan keberadaan konflik

Banyak pemimpin, memang tidak mengupayakan langkah-langkah tindakan berjaga jaga ketika konflik mulai muncul. Konflik kemudian dianggap sebagai sebuah bencana. Padahal kita semua sama sama mengerti bahwa dari konflik, perbedaan pandang, dan pendapatlah, kita bisa menemukan solusi dan memperkaya wawasan. Karenanya, petunjuk atau prosedur standar perlu kita segera siapkan, terutama untuk organisasi yang baru dibentuk, beserta deadline pengambilan keputusannya. Bahkan, pemimpin yang sudah mulai mengendus adanya isu isu kecil yang berpotensi konflik, perlu segera mendekati para pihak, agar kesenjangan tidak melebar, dan berubah menjadi konflik personal. Memang, pemimpin yang baik perlu juga mengatur gaya penyelesaian konfliknya sesuai prioritas dan kepentingan bersama, kepentingan lembaga, atau bahkan negara. Demikian pula, seorang pemimpin perlu jeli terhadap kepentingan-kepentingan tersembunyi dari pihak-pihak yang berkonflik, dan tugas pihak yang lebih bijaksanalah yang perlu mengajak para pihak untuk berfokus pada akar masalah sebenarnya, ‘platform’ nya, dan kepentingan yang lebih luas lagi. Kadang kita tergoda untuk berpihak atau mejaga perasaan beberapa teman karena secara personal kita lebih percaya atau lebih dekat. Ini sangat berbahaya. Bila sudah menjadi personal, maka muncullah perilaku mencari kambing hitam, sindir menyindir, saling menyerang dan masih banyak lagi yang sesungguhnya samasekali tidak mengarah pada pengambilan keputusan atau solusi.

Suatu tim pasti bekerja dengan tujuan yang sama, meskipun agenda bisa berbeda beda. Andaikata saja tujuan selalu diingatkan kembali dan agenda satuan kerjanya dipampangkan di atas satu platform yang jelas, kita bisa menyelesaikan konflik manapun. Yang sulit adalah bila agenda tersembunyi , yang tidak transparan, yang justru lebih penting, namun malah tidak dibicarakan secara terbuka. Contoh keterbukaan bisa kita lihat pada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang membaca dan menjawab semua twitter dengan konsisten. Ia mempunyai cara yang konstan dalam menanggulangi persoalan. Ia selalu meminta posting foto atau fakta, dan kemudian menindaklanjuti semua masalah. Ia sadar bahwa dunia teknologi yang maju pesat justeru perlu dimanfaatkan. Itulah sebabnya, ia mengambil cara demikian untuk mengendus dan mengira ngira masalah apa saja yang terjadi dilapangan.

Kebhinekaan yang justru menjadi nilai tambah

Zaha Hadid, seorang arsitek yang futuristik, sangat teguh memegang standar. Ia tidak mau membuat karya yang sama dalam desainnya. Kita bisa membayangkan betapa ia sangat membutuhkan ide ide segar, yang selalu berbeda. Itulah sebabnya, ia dengan sengaja dan penuh komitmen, merekrut karyawan dengan berbagai latar belakang budaya, serta memanfaatkan keberbedaan visi masing masing individu. “Diversity management” adalah kunci pengembangan di era sekarang. Jika tidak disikap dengan bijak maka perbedaan kerap kali menjadi alasan utama terciptanya jarak bahkan konflik. Hanya sekedar berbeda orang sudah merasa berjarak satu sama lain. Padahal perbedaan justeru adalah sebuah nilai tambah. Perbedaan memunculkan ide-ide yang beragam dan memperkaya wawasan seluruh anggota tim.

Permasalahan yang dilihat dari sudut pandang yang beragam akan menghasilkan solusi baru-baru yang segar. Bahkan di masa sekarang ini, perusahaan yang masih mempertimbangkan ‘legacy’, atau kelompok-kelompok asalnya, akan seolah mati berdiri, tidak bisa lari. Konflik, perbedaan pendapat harus dipandang sebagai sebuah tantangan. Perbedaan juga bukan sekedar masalah kuantitatif, persentase, atau variasi suku bangsa atau usia. Keberbedaan ini perlu diminati secara mendalam, dan perlu diyakini, bahwa memang ‘kita harus berdiri di atas perbedaan pendapat dan pandangan’. In today’s new workplace, diversity management is a time-sensitive business imperative. Jadi kita tidak bisa lagi berada dalam keadaan berpandangan pendek dan melihat konflik dan perbedaan secara agresif. Kita harus tahu bahwa ini adalah pangkal tolak penyusunan kekuatan. Selain itu, kita juga perlu tahu bahwa ‘diversity’ ini bukan sekedar prinsip atau nilai, tetapi juga perlu dioperasionalkan. Kita justru mengundang beda pendapat, kita justeru perlu menantang semua pendapat, bahkan pendapat kita sendiri. Kita berada dalam krisis yang konstan. Karenanya situasi konflik justru adalah santapan sehari hari. Untuk itu, mengatasi konflik dan memberdayakan perbedaan membutuhkan kematangan seorang pemimpin. Pemimpin yang terbiasa dan nyaman dengan keberagaman.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: