//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Review

Bermain Hak atau Pilihan untuk Anak?

Oleh: Rudy Romansyah

Bermain hak atau pilihan untuk anak?

Bismillah wal hamdulillah. Wa sholatu was salamu ‘ala rosulilllah amma ba’d

Kaidah berpendapat

Perlu diketahui kaidah seorang muslim ketika mengemukakan sesuatu pendapat memiliki acuan dan kaidah dalam memberi pendapat. Tidak sembarangan dalam berucap dan tidak serampangan berpendapat. Seorang muslim memberikan pendapat tidak dengan prasangka demikian juga pendapat pribadi. Perlu didahului hujjah yang lebih kuat dari sekadar pendapat pribadi. Apalah artinya seorang mukmin ketika memiliki acuan dan pedoman tidak digunakan sebagai acuan, namun hanya mengikuti dugaan dan sangka pribadi. Seorang mukmin punya acuan bergerak, bertindak dan berpendapat. Urutan secara sistematis urutan acuan seorang muslim adalah
1. Perkataan Alloh (Al-Qur’an)
2. Perkataan dan perbuatan Rosul (Hadits)
3. Pendapat para sahabat Rosul
4. Pendapat Tabi’in
5. Pendapat Tabi’ut Tabi’in
6. Ulama
7. Pendapat pribadi

Oleh karenanya mengemukakan sesuatu tidak boleh langsung merujuk pendapat pribadi tanpa di didasari ilmu . Ada urutan ilmu terlebih dahulu yang harus dilalui untuk mengemukakan pendapat. Al ‘ilmu qoblal qouli wal amali (ilmu itu sebelum ucapan dan tindakan). Demikian juga sebelum mengajukan pendapat perlu adanya ilmu telebih dahulu. Kaidah dan urutan ini lah yang perlu dilakukan.

Bermain Hak atau Pilihan untuk Anak?

Pertama kita perlu memahami makna hak dan pilihan agar tidak menjadi bias pengertian dua kata tersebut. Dalam KBBI pilihan artinya yang dipilih atau hasil memilih. Pilih adalah menentukan (mengambil dsb) sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan (selera dsb).
Hak adalah benar; milik, kepunyaan; kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu.

Allah berfirman: yaa yahyaa khudzil kitaaba biquwwati (“Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat] itu dengan sungguh-sungguh,” yaitu pelajarilah Kitab itu dengan kuat, yaitu dengan sungguh-sungguh, penuh antusias dan semaksimal mungkin.
Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) yaitu pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, senang dan gemar kebaikan serta amat bersungguh-sungguh di dalamnya, padahal ia masih kanak-kanak.

`Abdullah bin al-Mubarak berkata bahwa Ma’mar berkata: “Beberapa anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: ‘Pergilah main bersama kami.’ Yahya menjawab: ‘Kami diciptakan bukan untuk main.’”

Untuk itu Allah menurunkan: Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) Dan firman Allah: wa hanaanam mil ladunnaa (“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,”) yaitu rasa kasih sayang dari sisi Kami.

Demikian perkataan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas. Demikian pula pendapat `Ikrimah, Qatadah dan adh-Dhahhak.[1]

Asy-Syaikh Yasin bin Yusuf al-Murakisyi bercerita tentang Imam Nawawi rahimahullah: Aku melihatnya pada usianya yang mencapai sepuluh tahun di desa Nawa. Anak-anak lain tidak suka bermain dengannya. Dia sendiri juga tidak suka berkumpul bersama mereka. Dia suka menangis apabila mereka memaksanya untuk ikut bermain. Dalam keadaan seperti itu, dia membaca Al-Qur’an. Maka dalam hatiku aku mencintainya. Bapaknya mempekerjakannya di toko. Tetapi, dia hanya menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan tidak sibuk dengan aktivitas jual-beli. Aku pun mendatangi gurunyadan aku menasihatinya. Aku katakan,” Ada harapan anak ini akan menjadi ulama terpandai dan paling zuhud di zamannya. Orang-orang akan banyak mendapatkan manfaat darinya.” Dia bertanya, “Apakah engkau ini ahli nujum?” Aku Jawab, “Tidak, Allah yang telah mengilhamkannya padaku.” Hal itu pun dia sampaikan kepada bapaknya. Si bapak lalu memberinya kesempatan penuh untuk belajar agama. Dia dapat menghafalkan Al-Qur’an di usia mendekati baligh”[2]

Kita lihat dalil dan pengabaran dari ulama di atas bahwa tidak semua anak suka bermain. Bahkan mereka menolak bermain dan menangis ketika dipaksa untuk bermain. Namun dalil dan pernyataan tersebut tidak menjadikan bahwa bermain bagi anak-anak adalah terlarang.

Pengakuan Rosululloh Sholallohu ‘alayhi wa sallam terhadap mainan Aisyah radhiyallohu ‘anha menjadi bukti tentang pentingnya arti mainan bagi anak-anak dan kecintaan mereka pada benda-benda kecil yang berbentuk dan memiliki rupa.
Rosul Sholallohu ‘alayhi wa sallam menyaksikan burung pipit mainan Abu Umair menjadi bukti lain tentang pentingnya mainan yang dapat dipegang dan dimainkan dengan kedua tangannya. Al-Husain radhiyallohu ‘anhu juga memiliki seekor anak anjing untuk bermain . [3]

Bahkan Imam Al-Ghazali menyarankan agar sang anak diizinkan bermain seusai belajar untuk memperbarui semagatnya. Namun hendaknya permainan tersebut tidak sampai membuatnya kelelahan dan lalai terhadap belajar mereka.

Al-Ghazali mengatakan,” Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara”

Al-Ghazali menambahkan,” Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak dan berolahraga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak pemalas”[4]

Dari sini kita dapati bahwa bermain adalah boleh terutama untuk merehatkan diri setelah belajar. jika mengacu pada pertanyaan apakah bermain merupakan hak atau pilihan? maka pendapat yang tepat –wallohu ‘alam- pilihan. Boleh itu sendiri menunjukkan pilihan. Boleh bermain dan boleh tidak bermain. Nabi Yahya memilih untuk tidak bermain demikian juga Imam Nawawi kecil memilih untuk tidak bermain. Ketika anak memilih untuk tidak bermain maka hendaknya tidak boleh memaksakan mereka untuk bermain justru hendaknya seorang pendidik mengarahkan potensi anak tersebut untuk segera menggali potensi mereka lebih besar. Hendaknya orang tua segera mencarikan pendidik yang memampu melejitkan potensi mereka. Mereka memiliki potensi untuk menjadi orang besar lebih besar dari anak pada umumnya. Sebagaimana Ayah Imam Nawawi langsung mencarikan guru untuk mendidik Nawawi kecil saat itu hingga jadilah beliau ulama terkenal hingga saat ini bahkan kitab beliau merupakan kitab yang paling banyak dikaji ke 2 di seluruh dunia hingga saat ini. Yaitu kitab Riyadush sholihin dan Arbain Nawawi

Demikian juga kebolehan bermain, anak boleh memilih untuk bermain maka tidak boleh melarang anak untuk bermain bahkan Syaikh Jamal Abdurrahman menulih bab dalam kitab Athfalul Muslimin Kaifa Rabahumun Nabiyyun Amin. Menghargai Permainan Anak, Bahaya Melarang Anak dari Mainan dan Tidak membubarkan Anak yang Sedang Bermain. Namun Kebolehan dalam bermain untuk anak tidak semerta-merta melegalkan seluruh jenis permainan dan keseharian mereka dipenuhi dengan permainan. Terdapat aturan dalam membelikan mereka mainan ataupun membiarkan mereka bermain. Tentu yang pertama adalah tidak melanggar syariat dan tidak menjadikan anak lalai terhadap belajar dan ibadah mereka. Selain itu ada beberapa syarat permainan anak sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Shalihah Sanqar dalam majalah al-Mu’alim al-‘Arabi Syiria

Mereka (orangtua) membeli mainan untuk anak yang sesuai dengan usia dan kemampuannya. Mereka memberikan mainan itu kepadanya untuk mulai menyibukan pikiran dan indranya sehingga dapat tumbuh sedikit demi sedikit. Agar mainan yang dibelikan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi anak, kedua orang tua sepatutnya memiliki beberapa kriteria di bawah ini ketika membelinya:
• Apakah mainan yang dibeli dapat memicu si anak agar dapat selalu bergerak yang dengannya jasmani menjadi sehat?
• Apakah termasuk mainan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan inisiatif?
• Apakah termasuk mainan bongkar pasang?
• Apakah mainan tersebut mendorong si anak untuk meniru tingkah laku dan cara berpikir (positif) orang dewasa?
Apabila jawabannya ‘Ya’, maka mainan tersebut sesuai dengan si anak dan bermanfaat ditinjau dari segi pendidikan [5]

Wallohu ‘alam

Depok, 10 April 2016M / 3 Rajab 1437H
Ahad pagi pukul 10:22 Bersama buku-buku pendidikan islam, segelas teh dan kicauan burung pagi.

Referensi:

[1] Tafsir ibnu Katsir, https://alquranmulia.wordpress.com/…/tafsir-ibnu-katsir-su…/ , di akses Ahad, 10 April 2016 pukul 08.03

[2] Ath-Thabawat al-Kubra (8/396), karya as-Subki. Di nukil Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyah, terj.Farid Abdul Aziz Qurusy (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hal. 341

[3] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyah, terj.Farid Abdul Aziz Qurusy (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hal. 161

[4] Ihya ‘Ulumud Din: III/163 di nukil dari Jamal Abdurrahman, Athfalul Muslimin Kaifa Rabhumun Nabiyyun Amin, terj.Agus Suwandi (Solo: AQWAM, 2010), hal. 108.

[5] Artikel Dr. Shalihah Sanqar di majalah al-Mu’alim al-‘Arabi Syiria, edisi 11 dan 12 tahun 1979, hal 763 di nukil dari Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyah, terj.Farid Abdul Aziz Qurusy (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hal. 162

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: