//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan

Anak Anak Korban Lomba

Adriano Rusfi

Bulan Ramadhan memang bulan lomba, karena kita diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan : fastabiqul khairat. Maklumlah, pada bulan ini pahala akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Mungkin karena motivasi ini, maka televisipun berlomba-lomba mengadakan perlombaan bertema Ramadhan, khususnya untuk anak-anak. Ada lomba dakwah, ada lomba tilawah, ada lomba tahfidz dan sebagainya.

Tak perlulah kita meragukan niat baik mereka, baik televisinya maupun penggagasnya. Lagi pula, di acara-acara tersebut berkumpul orang-orang baik. Saya melihat sejumlah da’i, muballigh, hafidz, qari’, tokoh masyarakat, dan pesohor. Sekian banyak orang tua hadir dengan rasa haru. Anak-anak tampil dengan penuh semangan dan pesona. Dan para pemirsapun menyaksikannya sebagai sebuah sajian Ramadhan yang nyaman di hati.

Saat ini saya tak ingin membahas : telah patutkah anak usia 4 tahun dipesantrenkan untuk menjadi seorang hafidz belia ? Karena yang ingin saya bahas adalah : sudah patutkah mereka mengikuti sebuah perlombaan serius ? Pertanyaan ini kembali mengggugah saya, saat melihat kaki-kaki mungil itu tampak gemetar di atas pentas, saat melihat wajah lugu yang gelisah, saat menyaksikan air mata dan kekecewaan harus melekat di wajah tanpa dosa karena harus tereliminasi.

Saya harus menjawabnya dengan terlebih dahulu membedakan rentang usia para bocah. Ada bocah berusia di bawah 7 tahun, dan ada bocah berusia 7 sd 12 tahun. Untuk bocah berusia di bawah tujuh tahun, harus saya katakan bahwa TAK SATUPUN LOMBA PANTAS UNTUK MEREKA. Ini bukan usia lomba, ini bukan usia berkompetisi, ini bukan usia menang-kalah. Ini adalah usia individual, di mana setiap orang adalah pemenang, tak ada yang kalah. Mereka tak siap kalah… mereka tak pantas kalah… dan mereka belum perlu merasakan kekalahan. Karena Si A adalah Si A, tak perlu dibandingkan dan ditandingkan dengan Si B.

Sedangkan usia 7 hingga 12 tahun, ini memang usia lomba. Mereka telah berubah dari periode playing kepada gaming. Mereka sudah mengenal dan perlu diperkenalkan dengan perbandingan dan perbedaan. Sudah saatnya mereka tahu ada yang cepat dan lebih cepat, sudah saatnya mereka paham ada yang lemah dan yang kuat, sudah saatnya mereka untuk menerima kemenangan dan kekalahan. Bahkan, ini adalah usia di mana hukum rimba berlaku : siapa kuat dia berkuasa.

Tapi, perlombaan dan pertandingan yang cocok untuk mereka adalah fun and happy competition : memperlombakan sebuah permainan dan kelincahan masa kecil. Ya, bukan sebuah perlombaan yang serius, bukan perlombaan kompetensi atau perlombaan kehebatan. Ini adalah masa forming, bukan performing. Ayahbunda… usia mereka masih panjang dan hidup ini bagai sebuah lari marathon. Jadikanlah mereka menjadi pemenang di akhir usianya. Jangan bikin mereka bagai sebuah kesebelasan sepakbola yang digdaya di babak penyisihan, namun malah babak-belur di babak maut, karena kehabisan enersi dan motivasi.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: