//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Dan Ikanpun Harus Belajar Hidup di Gunung Gersang

Adriano Rusfi
March 30, 2016

Beberapa hari silam, menjelang senja saya terpaksa harus berkata kepada sepasang suami-istri :

“Ayahbunda, tipologi kepribadian putra anda sangat cocok, klop dan matching dengan sistem dan kultur pendidikan di Sekolah Alam. Anak anda dinamis, penuh gerak, cair, informal, sanguinis dan fungsional. Begitu pula Sekolah Alam : eksploratif, experiential-based, berorientasi kebijaksanaan dan tak struktural. Anak anda dengan Sekolah Alam bagaikan ikan dengan air. Namun, anak anda butuh sekolah konvensional yang rigid, tertib, kaya aturan, berdisiplin ketat dan formal”.

Ya, tiba-tiba saja saya mengeluarkan sebuah rekomendasi yang “aneh” : Saya menyarankan ikan untuk tinggal di gurun gersang !!! Dan, saya tak merekomendasikan anaknya untuk menjalani persekolahan di sebuah Sekolah Alam yang saya sendiri adalah konsultannya !!!

Di akhir pertemuan, saya membatin sendiri dalam hati :

“Subhanallah wallahu akbar… Betapa pendidikan ini selalu menarik, menantang, kompleks, dan saya harus terus-menerus belajar serta menyempurnakan paradigma saya. Tak keliru keputusan saya untuk pindah dari konsultan industri kepada konsultan pendidikan”.

Sungguh saya sedang berhadapan dengan kompleksitas seorang anak manusia. Di dalamnya memang ada sisi ikan, namun juga punya sisi unta. Di sebuah sudut kepribadiannya ada sosok singa, namun di pojok yang lain ada tipologi rajawali. Manusia memang tak pernah sesederhana makhluk lainnya. Ia majemuk : punya jalan dosa dan taqwa, malaikati sekaligus syaithani, berakal tapi juga punya nafsu, kuat tapi juga lemah. Bahkan boleh jadi ia punya talenta yang saling bertentangan di dalam dirinya.

Anak dari pasangan yang sedang saya hadapi ini terlalu otak kanan, makanya ia butuh sentuhan otak kiri. Ia terlalu cair, maka ia perlu belajar sesuatu yang rigid. Ia terlalu bangga diri, maka ia harus belajar bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia terlalu fungsional, maka ia membutuhkan sesuatu yang struktural. Betul, karena manusia senantiasa butuh kesetimbangan, sehingga kita tak selalu harus mengikuti tipologi dan kecenderungannya, agar sebuah orientasi tak berkembang menjadi ekstremitas. Sekolah konvensional memang punya sejumlah cacat fundamental. Namun apa boleh buat, anak ini butuh sesuatu yang konvensional.

Saya tak ingin anak ini bernasib seperti kasus anak lain yang pernah saya tangani : Mentang-mentang ia bertipe otak kanan, lalu ayahbundanya sangat fokus mendidiknya ala otak kanan. Sehingga begitu pincang antara otak kanan dengan otak kirinya, LEBIH DARI DUA STANDARD DEVIASI !!!. Ia memang berkembang menjadi anak yang sangat kaya gagasan, namun hanya berhenti pada gagasan. Tak pernah berkembang menjadi konsep, desain dan produk. Karena, mengubah gagasan menjadi konsep butuh otak kiri (40 %), mengubah konsep menjadi desain butuh otak kiri (60 %), mengubah desain menjadi produk butuh otak kiri (80 %). Seorang pemenang medali emas Olimpiade Ekonomi Internasional pernah berkata :

“Jika sisi pisau yang tajam telah sangat tajam, kenapa tak kita pikirkan sisi pisau yang lain ?”

Ayahbunda itu beranjak pulang. Dan sayapun melangkah bersama lantunan adzan Maghrib. Adzan itu menginsafkan saya betapa saya tak boleh mengkomoditisasi pendidikan, betapa saya tak boleh mem”paten”kan gagasan pendidikan, betapa saya tak boleh menjadikan paradigma pendidikan saya sebagai “kerajaan establish yang tak boleh diganggu-gugat”. Cukuplah Allah Yang Maha Besar.

Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laa ilaaha illalaah…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: