//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Information Technology, Kajian, Perubahan, Review

Bisnis Online Escape From Freedom atau Escape to Freedom” ??? Food For Thought

Jusman Syafii Djamal
25 Maret 2016

Saya mulai catatan pagi ini dengan disclaimer. Saya seorang teknolog. Kebetulan keahlian saya adalah “computational aerodynamics”. Sejak 1982 saya menekuni bidang keahlian membuat simulasi dan model komputer untuk menhitung fenomena gerak benda diudara.

Sejak 1982 komputer adalah teman karib saya sepanjang waktu. Karenaya tidak mungkin saya menolak kemajuan teknologi digital. Dunia Digital kini dalam genggaman.

Saya juga tidak anti perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan Teknologi. Sebab saya pernah menjadi dosen di MBA ITB untuk mata kuliah Inovasi dan Pengembangan Produk Baru, ketika itu saya masih menjadi Kepala Divisi Teknologi Pesawat Terbang dan Pengembangan Produk Baru di IPTN.

Kini pengalaman itu memberikan kesempatan menjadi Profesor Tamu Kehormatan di Zhejiyang Technology University of China, dengan topik bahasan saya “Technology Acquisition”, China Way vs Indonesian Way.

Juga saya tidak merasa canggung untuk melihat perusahaan jatuh bangun karena kalah bersaing atau karena bisnis dalam krisis, sebab di tahun 1998-2002 saya pernah diberi kepercayaan untuk merestruktur IPTN.

Sebab saya pernah merasakan misery and tragedy serta kesedihan mendalam ketika ada dalam perusahaan yang sempoyongan dilanda krisis, akibat zaman berubah.
setiap malam saya harus menahan air mata ketika menanda tangani kurang lebih 7000 surat Pemutusan Hubungan Kerja sukarela dari yg pernah bekerjasama buat pesawat terbang dan jadi kolega saya. Karena IPTN mengalami krisis tahun 1998-2002.

Jadi saya memiliki jam terbang untuk program restrukturisasi, transformasi dan turnaround perusahaan sudah dialami pahit getirnya.

Dengan kata lain kata kata “creative destruction” nya Schumpeter atau “kondratief wave” atau makna menjebol dan membangun nya Sukarno sedikit banyak saya fahami.
Saya tentu sangat senang dengan kemajuan digital technology. Sebab kini putra putri Indonesia telah memiliki kemampuan untuk memetik keuntungan sebesar besarnya dari kemajuan dunia teknologi digital yang tak saya peroleh ketika masih muda.

Disclaimer ini penting dikemukakan agar tidak ada yang salah persepsi dan berfikir saya anti kemajuan online atau anti perubahan zaman jika membaca catatan pagi ini.

Saya hanya ingin menulis kegelisahan saja ketika melihat phenomena dua hari ini yang terjadi ketika kita memaknai kemajuan teknologi digital dan online business..
Dua hari ini kita semakin sadar akan arti online. Kini kata online identik dengan modernisasi dan ikuti zaman. Semua bisnis yang tak pake online dianggap kadaluarsa. Degan online business seakan kita jadi orang modern dan tak ketinggalan zaman.

Dengan kemajuan online dan fiber optics serta wifi dsemua tempat , Warung Kopi, bandara dan terminal serta tempat umum lainnya kini jadi ruang kerja. Kini sebetulnya ada kecendrungan masuk kedalam kantor kini juga tak penting. Disetiap sudut diseluruh tempat kita masih mampu berkomunikasi dan menyelesaikan tugas sehari hari. Kita menyebutnya sebagai knowledge worker.

Absensi tiga kali satu hari seperti yang dilakukan kolega para teknolog dan scientist di BPPT dan Institusi Negara lainnya sebagai wahana identifikasi kehadiran fisik untuk pendukung administrasi Renumerasi, sebentar lagi akan jadi bahan tertawaan. Hari gene masih pake nyeklok dimesin absensi.

Dengan online Office esmua orang bisa bekerja sambil menimang anak dirumah. Mengapa harus absensi dan datang ke kantor.

Kemudahan akan jadi isue utama. Kita ingin merdeka dari segala jenis aturan dan disiplin. Sebab smartphone sudah ada dalam genggaman.

Dulu ada aturan “dont mix business with pelasure”. Kini dengan smartphone dan wifi serta jaringan fiber optics kegiatan bisnis dan kesenangan online bisa bersatu.
Dengan online network kita sedang berusaha agar terbebas dari segala jenis Undang Undang. Terutama Undang Undang Pajak.

Sebab Undang Undang Pajak ini yang sebetulnya sangat ditakuti oleh para pengusaha. Kini semua peraturan yang tidak sesuai dengan online business telah dikategorikan sebagai kadaluarsa.

Ambil contoh Uber Taxi. Semua orang termasuk saya senang dengan uber taxi. Mudah. Biaya murah. Mudah diakses melalui tilpon genggaman.Taxinya sangat nyaman dan wangi. Supirnya berbaju rapi dan tidak bau keringat.

Air Conditioningnya Prima. Mobilnya bisa seperti milik sendiri. Tak ada daerah terlarang yang tidak boleh dilalui oleh uber taxi. Jika kita turun semua orang akan berfikir itu mobil milik kita sendiri.

Dengan uber taxi dan grab yang menggunakan dan memanfaatkan mobil pribadi berpelat hitam, kini Polisi juga tidak dapat membedakan mana mobil pribadi mana taxi. Sebab wujutnya semua sama. Identifikasi plat nomor yang dulu mampu membedakan mana mobil TNI, mana mobil Polisi, Mana mobil Pemerintah, Mana Taxi, Mana Mobil Charteran dan mana mobil pribadi yang baru dan yang lama dengan mudah dilihat dari warna pelat nomor.

Dulu warna pelat nomor dengan mudah terlihat. Jadi kalau Polisi ingin razia mudah menuju sasaran. Jika ingin mobil Pemerintah pastilah pelat merah. Taxi pastilah pelat kuning.

Akan tetapi kini dalam dunia online identifikasi pelat nomor dianggap ketinggalan zaman. Semua taxi ingin punya warna pelat hitam. Pelat kuning dianggap kadaluarsa. Begitu juga warna pelat merah kini secara berangsur angsur memudar. Diganti dengan kode saja.

Saya ingat ketika dulu tahun 90 an dapat tugas kerja ke Taheran. Dijalan jalan dengan mudah saya bisa menyetop mobil yang liwat didepan mata. Dan tinggal bertanya ke supirnya, mau kemana ? jika satu jalan pastilah kita diperkenankan masuk kedalam mobil pribadi tersebut.

Sebab ketika itu disana semua mobil pribadi dikategorikan sebagai taxi. Maklum jumlah mobil angkutan umum sangat terbatas. Ketika itu semua tak ada yang takut mengompreng dimobil orang lain, tak mungkin ada wanita cantik yang diganggu atau diperkosa. Tak mungkin juga orang berdasi menggembol tas akan dirampas. Hukuman amat berat.

Dulu kita di Indonesia juga memiliki fenomena serupa. Tapi konotasinya jelek. Disebut taxi gelap atau mobil omprengan yang dikejar kejar seperti Tom and jerry oleh Polantas. Padahal kita semua senang dengan cara itu. Win Win solution.

Pemilik mobil dapat uang. Pengguna tinggal angkat tangan jika ingin kemana ia suka.
Begitu juga ketika tiba di bandara, tak perlu kita sibuk cari taxi. Disetiap pintu pastilah ada supir yang mengatakan ke Bandung Den, dan kita bisa berangkat tanpa perlu datang ke terminal 4848 atau cililitan. Kita dulu menyebutnya semua masalah dapat diselesaikan secara adat. Entah adat yang mana tak ada yang peduli.

Sejak dulu ketika pak Harto jadi Presiden perseteruan taksi pelat kuning model 4848 dengan mobil omprengan pelat hitam telah jadi problema tersendiri.
Dulu masalahnya bukan bisnis online atau tidak. Melainkan pelat hitam atau pelat kuning. Tetapi akar masalahnya tetap sama lapangan kerja dan inequality.

Kini Online Technology merubah cara kita memandang persoalan. Yang dulu mobil plat hitam angkut penumpang disebut omprengan dan dan taxi gelap. Kini dengan stempel online semua jadi terang benderang.

Dulu Taxi 4848 yang jadi raja jalanan Jakarta Bandung lumat dari peredaran ditelan zaman diantaranya karena kalah bersaing dengan kereta api dan taxi gelap berpelat hitam.

Ditahun mendatang semua industri taxi seperti blue bird, express dan lain sebagainya pasti juga akan jadi sejarah. Tenggelam ditelan zaman. Karena dengan online tidak diperlukan lagi beda warna pelat hitam dan pelat kuning.

Mirip seperti pesan Deng Xiao Ping, kita tak peduli apa kucing berwarna hitam atau putih yang penting dapat menangkap tikus. Yang saya hawatir semua yang dilarang didunia nyata akan menjadi boleh dengan stempel online.

Meski Jika saya bertanya kesekitar apakah Online Gambling dilarang atau tidak ? pasti semua orang sepakat online gambling dilarang.

Karena itu ada unit Cyber Crime di Bareskrim. Tapi bagaimana dengan online yang lain ??

Kini seolah, Aturan badan hukum juga tidak diperlukan lagi. Sebab semua mobil pribadi kini dapat jadi taxi asal terdaftar di Uber Taxi yang bermarkas di Amerika.
Bisnis kini meliwati batas negara. Kalau dulu untuk menguasai rempah rempah di Maluku,VOC mengirim kapal dan pasukan.

Kini jika Pengusaha Amerika lulusan Silicon Valley ingin bisnis taxi di Indonesia dan manca negara, cukup lakukan investasi ciptakan web dan aplikasi serta distribusi gps dan penggesek credit card untuk memberi lisensi bagi semua mobil pribadi di Indonesia menjadi taxi.

Tak heran muncul entrepreneur seperti Jef Bezos dengan Amazon yang menghancurkan semua toko buku tradisional di Indonesia dan mancanegara.
FBI juga kini tidak mampu mendapatkan informasi yang disimpan oleh private sector seperti Google dan Apple serta facebook. Jika semua disimpan secara online, semua orang mampu bersembunyi dalam jagat dunia maya yang tak terbatas.

Di Indonesia entah kenapa tak lahir Jeff Bezos , yang lahir para pengagum dan pembahas diruang ruang kuliah. Entrepreneur kita malah banyak yang sibuk dan bersyik masyuk dengan ruang politik. Ruang bisnis ditinggal ke perusahaan siluman yang menggunakan aplikasi dan berkantor pusat di Negara lain.

Kini, kita di Indonesia juga mengatakan bahwa undang undang no 22/2009 kadaluarsa.Semua ingin Revisi. Mana yang direvisi tak ada yang menyebutnya. Pasal berapa dan mengapa di Revisi tak ada yang tau.

Padahal Undang Undang itu hanya yang mengatur tentang Safety dan Rule of the Game mendirikan Badan Usaha Transportasi Umum berbayar untuk membedakannya dengan angkutan mobil pribadi. Undang undang itu mendefinisikan mana kenderaan umum berbayar, mana mobil pribadi dan mana kenderaan umum berbayar denga rute mana. Sebab pada dasarnya rute adalah public utility, dan keselamatan serta keamanan transportasi juga public utility yang harus dikelola oleh Negara.

Kini semua itu ingin dinyatakan ketinggalan zaman dan perlu direvisi untuk memberikan kebebasan bagi online bisnis yang berpusat di Negara lain mudah beroperasi di Indonesia tanpa kendala.

Semua ahli mengajarkan arti ketinggalan zaman pada masyarakat. Tidak ada ahli ekonomi dan politik yang membela kepentingan supir taxi tradisional yang jatuh terjerembab karena pasar makin menyempit dan persaingan menggila. Perusahaan yang mampu bertahan tiga generasi dan didirikan setahap demi setahap seperti Taxi Blue Bird, sebentar lagi akan menyatakan sayonara.

Yang bayar pajak akan kalah dengan yang tak bayar apa apa.
Sebab semua Kita menyatakannya online bisnis adalah trend masa kini dan jika kita tidak adaptip maka kita akan tenggelam sebagai perusahaan.

Kita semua senang menyebut kemajuan pengembangan software aplikasi sebagai Disruption Technology. Sebentar lagi aplikasi itu akan jadi “disruption of rule and institution”. Teknologi pembongkar bisnis masa lalu, dan juga teknologi pembongkar aturan kadaluarsa serta teknologi pembongkar institusi negara.

Dulu di tahun 80 an ada buku karya Erich Fromm seorang ahli psikology dari Frakfurt School berjudul Escape From Freedom. Dalam buku ini ingin mengatakan bahwa masyarakat memiliki dua pilihan “Escape to Freedom”, Melepaskan diri dari belenggu menuju kebebasan atau “Escape From Freedom”, keluar dari belenggu kebebasan menuju pada dunia maya yang juga mengandung benih Hegemoni dengan teknologi online diantaranya.

Tahun 1998 mahasiswa para pejuang reformasi telah memilih jalan “Escape to Freedom”, membebaskan diri dari Otoritarian menuju demokrasi, desentralisasi dan otonomi serta freedom of speech. Kini semua bebas kecuali yang dilarang. Yang taboo atau takut dikerjakan orang kini tinggal dua yakni Merokok di Pompa Bensin dan Pake Sepatu masuk kedalam mesjid. Begitu kata Hariman Siregar aktivis Malari pada satu ketika.

Dengan spektrum kebebasan yang begitu besar kini seolah jalan pilihan kita tidak lagi “Escape to Freedom, melainkan maju setapak lagi. Banyak orang ingin masuk daerah “Escape from Freedom”, mencoba melepaskan diri dari kebebasan yang ada saat ini dan ingin tumbuh berkembang tanpa aturan. Bebas merdeka. Pertanyaannya kemana fungsi Negara jika demikian ??

Kini kita berada dipersimpangan jalan. Masuk ke dunia online seutuhnya dan meloncat ke phase kebebasan berikutnya tanpa aturan tanpa kendala. Dan membiarkan semua perusahaan asing bisa mencari keuntungan tanpa investasi di bumi Indonesia atau mengedepankan perusahaan yang tumbuh berkembang dibumi Indonesia.

Tidakkah kita memerlukan fikiran baru tentang arti Berdikari di zaman online business ? Peran Politisi dan Negarawan kini diperlukan.

Pemimpin perusahaan juga perlu lakukan langkah langkah nyata untuk “Reinventing the Company”, Menemukan kembali arti Perusahaan. Seperti dianjurkan oleh majalah the economist yang terbit juni 2015 tahun lalu.

Mohon maaf jika keliru.
Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: