//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Bergerak

Billy Latuputty & Emilia Jakob

Kompas, 18 Maret 2016

Suatu ketika, dalam sebuah training, seorang fasilitator mengundang para peserta untuk maju membacakan komitmen serta action plan individual untuk melakukan langkah-langkah perbaikan. Keheninganpun muncul seketika. Semua orang terdiam dan saling menunggu. Suasana yang kontras dibandingkan ketika para peserta berdiskusi tentang masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi organisasi. Begitu lancar mereka melemparkan isu yang tak jarang berbau sindiran. Sayangnya, ketika sampai pada fase action plan diri, tiba-tiba kedetilan itu tak jarang hilang. Orang berhenti pada ide-ide mentah tentang perubahan. Entah karena energi yang sudah terlanjur disalurkan untuk mengeluh atau karena asumsi bahwa akar masalahnya ada “di luar sana”, di luar jangkauan saya.

Kemauan dan kemampuan untuk merubah diri adalah sebuah harta yang amat berharga bagi organisasi. Berapa banyak organisasi yang terkaget-kaget melihat perubahan yang begitu cepat dan tetiba kenyamanan yang telah dinikmati bertahun-tahun hilang. Di industri olah raga contohnya ketika Leicester City dapat menjadi pemimpin klasemen sementara EPL dengan dana secukupnya. Hampir semua orang berdecak kagum akan kemampuan mereka. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang terjadi dengan tim-tim besar langganan juara? Dalam bisnis juga terjadi kekagetaan karena guncangan dari pemain-pemain baru di industri berbasis aplikasi. Mereka sudah menjadi momok dan ancaman di mana-mana. Belum lagi perusahaan – perusahaan minyak yang dahulu selalu menjadi favorit pencari kerja karena beragam fasilitas yang ditawarkannya, sekarang malahan berada di pinggir jurang melakukan perampingan organisasi. Masih adakah lagi alasan kita untuk tidak beradaptasi dengan perubahan? Dan bagaimana menjaga api semangatnya tetap hidup?

Sense of Urgency & the Will to Act

Proses perubahan yang adaptif dan menyeluruh harus dimulai dengan menularkan sense of urgency di level organisasi maupun di level individu. Sense of urgency bukanlah semata-mata keluhan atau teriakan frustasi tentang betapa tidak idealnya kondisi internal dan eksternal yang dihadapi. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk diskusi ngalor ngidul tentang kondisi pasar yang tidak ramah, customer yang makin menuntut atau strategi kompetitor yang “membunuh” bisnis kita. Dan sepanjang waktu itulah dunia terus bergerak meninggalkan kita, bila kita tidak mengambil tindakan nyata untuk berbenah diri. Apa kita tergugah untuk menghadapi brutal facts dalam cara kita menjalankan bisnis dan melayani customer, atau kita hanya mengharapkan orang lain, lingkungan, pemerintah atau bahkan alam semesta untuk cepat-cepat berubah sesuai kemauan kita?

Sense of urgency berawal dari pandangan realistis akan fakta-fakta yang ada, entah itu kondisi pasar yang super dinamis, kompetisi yang semakin ketat, trend 3-5 tahun ke depan yang mungkin tidak begitu menjanjikan, kondisi finansial perusahaan yang kritis atau mungkin keluhan pelanggan akan buruknya produk dan jasa yang kita berikan. Fakta-fakta ini dapat dibagikan secara berkala sehingga ia tidak hanya menjadi kepedulian top management, tetapi menjadi kesadaran bersama yang memotori perubahan perilaku seluruh elemen organisasi.

Tentunya menginisiasi perubahan tidaklah mudah karena hambatan-hambatan seperti “comfort zone”, rasa tidak percaya, rasa takut akan ketidakpastian, dan lemahnya kontrol bisa saja terjadi. Masalah juga muncul ketika kita tenggelam dalam analisis data yang tiada habisnya, sampai tidak cukup berani mengambil keputusan untuk bertindak. Pemimpin diharapkan tidak hanya mampu menginsipirasi semangat perubahan tetapi juga mewujudkan transformasi tersebut secara nyata. Nafas perubahan harus ada dalam setiap perilakunya dan ia akan menjadi contoh nyata perubahan itu sendiri. Tugas terberatnya adalah mendorong organisasi untuk melakukan sebuah loncatan berani, dari sekedar persepsi akan situasi, menjadi sebuah aksi.

Detail Plan & Progress

Kita tentu tidak asing lagi dengan membuat action plan ataupun resolusi yang menjadi topik hangat di awal tahun. Namun seberapa sering gaungnya memudar bahkan beberapa hari sesudah annual meeting selesai. Everything back to normal, kepada praktek-praktek lama dan kebiasaan lama. Walhasil di awal tahun berikutnya, isu yang sama muncul dengan baju yang baru. Lalu orang kehilangan kepercayaan bahwa mereka bisa berubah. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan ketelitian pemimpin untuk memastikan upaya perubahan yang dilakukan dapat terimplementasi sampai menunjukkan hasil nyata.

Sense of urgency harus sering digaungkan secara positif, demikian pula proses monitoring kemajuan dari setiap projek harus dijalankan. Memecah sebuah ide besar ke dalam aktivitas kecil dengan timeline akan menjadikanya lebih realistis. Tak lupa, merayakan keberhasilan dari kemajuan-kemajuan kecil juga bisa meningkatkan kepercayaan diri untuk melanjutkan usaha perubahan itu sendiri.

The man who removes a mountain begin by carrying away small stones – Chinese Proverb –

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: