//
you're reading...
Human being, Kajian, Kemandirian, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Jurus Pengikat Hati (Seri Fatherman Bag. 2)

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Misi pertama seorang fatherman adalah mengikat hati anak. Ini beda dengan obsesi jomblo yang berupaya sekuat tenaga menarik perhatian sang pujaan. Kadang rambut sengaja dicat merah dan dibikin belah tengah agar dicap lelaki yang eksentrik dan adil. Begitu kena guyuran hujan malah jadi mirip miniatur laut merah yang terbelah tongkat Nabi Musa. Atau bagi yang wanitanya, sering banget posting resep masakan di akun sosmed biar dianggap istriable. Begitu disuruh masak air malah nanya “bumbunya apa aja ya?”.

Helllowww!

Fatherman tidak seperti itu. Ia tidak suka cari perhatian. Sebab kalau mau cari perhatian cukup ke bandara atau mall aja. Disana banyak terdengar “PERHATIAN…PERHATIAN!”. Fatherman fokus kepada tugas untuk memikat hati anak. Ini langkah awal agar bisa mengendalikan anak untuk tetap dalam arahan selagi tak bersama dirinya. Anak tak mudah dibujuk dan dipengaruhi pihak luar. Nasehat dan petuah Fatherman menjadi rujukan yang dituruti. Kayak Mr. Charlie yang menjadi pemandu bagi tiga angelsnya dalam menjalankan tugas.

Ingat, hati adalah raja meski tanpa mahkota atau lewat pilkada. Hati yang telah terpikat akan mudah mengajak akal yang liar untuk tunduk. Saat anak beranjak remaja, dimana mereka sudah mulai ‘cerdas’ berargumen, tidak akan berdebat sampai nyolot jika dinasehati ayah sang fatherman. Hatinya memerintahkan akal untuk pasrah dan menerima. Bahkan bisa jadi ia siap mendebat pihak luar yang tak sependapat dengan nilai pengajaran dari ayahnya. Contohnya saat anak ditawari rokok sama temennya. Ia berani berkata “TIDAAAK!” dengan tegas. Begitu temannya kesel dan keluar kalimat, “Ah, dasar luh bencong. Gak berani ngerokok”. Ia dengan santai menjawab, “Ah siapa bilang? Justru kata bapak gue, bencong banyak yang ngerokok”. Duaarrr!

Disini kata kuncinya : “Kata Bapak Gue”, dan segala kalimat yang semisal dengannya. Kalimat ini menunjukkan betapa tak ada yang dipercaya oleh anak kecuali bapaknya. Fatherman punya misi menjadikan dirinya sebagai yang utama dijadikan narsum oleh anaknya. Persis seperti dr. Boyke yang kerap dijadikan rujukan utama bagi pasangan yang punya keluhan di ranjang. Semua bermula dari terpikatnya hati. Anak yang terpikat hatinya akan menjadikan ayah sebagai sosok super hero dalam hidupnya. This is fatherman.

The Real Father.

Kendala bagi para ayah yang hendak bermetamorfosa menjadi fatherman adalah waktu yang terbatas. Khususnya di masyarakat perkotaan. Mereka lebih lama waktu menghirup asap knalpot di jalan dibandingkan waktu untuk bersama anak. Saat pulang pun kadang mendapati anak sudah tidur terlelap. Jangankan ingin jadi super hero, lah ketemuan aja gak sempat. Anak anggap sosok fatherman gak eksis. Malah dianggap cuma dongeng. Hanya ada dalam khayalan mereka.

Padahal urusan waktu yang terbatas bisa disiasati asal tahu caranya. Belajarlah dari sosok Rasulullah, mentor utama kita. Beliau mampu menjadikan pertemuan singkat namun berefek dahsyat bagi anak-anak. Hal ini dirasakan oleh sahabat cilik di masa tersebut saat berinteraksi dengan beliau. Memori bersama Rasulullah di saat kecil terkenang-kenang saat dewasa. Usamah bin zaid sebagai saksinya. Padahal beliau pernah dimarahi Rasul akibat salah membunuh saat perang. Musuh yang terdesak kemudian berucap syahadat malah ia bunuh. Dan ini menimbulkan kemurkaan Rasul. Begitu dimarahi bukannya perlawanan atau bantahan yang ia lakukan. Ia pun tunduk meskipun memiliki argumen yang cukup untuk membela tindakannya. Sebab Usamah kadung cinta kepada baginda nabi. Hatinya terpikat.

Salah satu sebabnya ada suatu peristiwa yang ia kenang di masa kecilnya. Saat ia dipangku Rasulullah bersama Hasan bin Ali. Di saat itu Rasulullah memeluknya seraya berdoa “Ya Allah, sayangilah Hasan dan Usamah. Karena sesungguhnya aku sangat sayang dengan kedua anak ini”. Duh meleleh. Hati anak mana yang tidak tersentuh. Didoakan dengan untaian cinta oleh manusia termulia. Inilah dasar pertama hati yang terpikat. Merasa dicintai. Merasa diistimewakan. Coba bayangkan. Di antara anak-anak yang lain, hanya Usamah dan Hasan yang dipangku dan didoakan Rasul. Betapa momen sesaat tersebut memberi kesan mendalam di hati Usamah.

Begitulah yang semestinya dilakukan sosok Fatherman. Mampu membuat anak merasa spesial. Hal ini berpengaruh kepada kejiwaan anak. Setidaknya memberi persepsi bahwa meski ayah waktunya terbatas namun ayah sangat besar cintanya. Dan ini menjadi alasan utama anak untuk mau patuh kepadanya.
Apa yang dilakukan Rasul memberi inspirasi bagi sosok Fatherman yang terkendala dengan waktu bahwa bukan sekedar berapa banyak waktu yang kita berikan kepada anak, namun seberapa besar kesan yang berhasil ditimbulkan. Jadikanlah setiap pertemuan bersama sosok Fatherman menjadi sesuatu yang ‘memorable” alias layak dikenang. Bukan kenangan pahit tentunya. Sebab itu tugasnya mantan. Tugas fatherman memberikan kenangan manis yang tak terlupakan.

Agar anak terkesan dan merasa diistimewakan maka tiga jurus yang harus dikuasai Fatherman :
Pertama, sering-sering memeluk atau menyentuh anak secara fisik. Anak merasa nyaman dalam sentuhan. Sentuhan ini memberi efek yang mengikat batin antara anak dan ayah selaku fatherman selama tidak terburu-buru melakukannya. Sentuhan yang terburu-buru dan sesaat malah dianggap main adu benteng oleh anak. Maka santailah saat memeluk dan menyentuh anak, apalagi kalau disentuhnya pakai I-Phone 6 plus tiket dufan gratis seumur hidup. Makin berkesan.

Kedua, ungkapkan cinta secara privat. Boleh sambil bisik-bisik di telinga anak atau suara yang lembut namun terdengar jelas di telinga anak. Ditambah kalimat “ini rahasia lho!” makin membuat anak merasa istimewa

Ketiga, mendoakan anak secara terbuka. Hal ini amat disukai. Sebab doa adalah bait cinta yang terhubung ke angkasa. Namun doa yang diucap tentu doa yang bermakna. Jangan sampai malah baca doa mau makan atau doa untuk jenazah. Wah itu mah parah. Ucapkan doa yang singkat dan sederhana. Kalau doanya kebanyakan dipikir anak lagi tahlilan. Saat berdoa, usahakan pakai bahasa yang dimengerti anak. Dengan doa inilah anak tahu bahwa ayahnya adalah sosok fatherman yang peduli. Dibuktikan lewat doa yang selalu terucap.
Ketiga jurus ini jika dilakukan sesering mungkin saat berinteraksi dengan anak memberi pengaruh menguatnya ikatan hati kepada ayah. Efeknya jangka panjang hingga anak beranjak dewasa. Selama dilakukan dengan sungguh-sungguh anak tahu ayahnya adalah super hero yang selama ini ia idamkan. The fatherman. Dan kehadiran fatherman ibarat film kartun spongebob atau dora yang dinantikan kehadirannya setiap saat. Anak takkan pernah bosan meski sering ditayangkan berulang-ulang.

Berlatihlah dengan jurus pamungkas ini. Anak akan terpikat hatinya. Dijamin ayah makin gak betah kerja, selalu ingin pulang ke rumah memuaskan kerinduan anak. Ini efek sampingnya. Tapi tenang saja, ini efek sesaat. Begitu melihat saldo rekening yang menipis dan tagihan KPR yang harus ditunaikan, ayah akan kembali semangat ke kantor seraya memberi pesan kepada anak : Jangan kemana-mana. Fatherman akan kembali setelah tagihan-tagihan berikut ini. Bersabar ya nak! (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: