//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Untuk Generasi Kelahiran 1960an sampai 1980an

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Kita adalah generasi era industri yang gagap mendidik anak sendiri.
Kita adalah produk era kompetisi yang gemar betul menggegas dan memacu anak sendiri.
Kita bangga bila anak kita dikonteskan sejak dini, demi titipan obsesi

Kita berfikir, jika anak makin banyak diisi maka makin hebat, ternyata realitanya justru makin mudah patah dan rentan rusak.
Kita generasi karbitan, paling suka dengan mantra mantra aneh ala pabrik seperti mengendalikan, mencetak, membentuk dan melejitkan

Kita generasi yang didoktrin bahwa manusia sejajar dengan machine, money, method, material dan market.

Kita generasi yang mengaku beriman namun menolak bahwa manusia dilahirkan dengan membawa fitrah ilahi.
Buktinya kita lebih sering lebay obsesif, galau panikan, stres cemasan, lalai pesimis pada fitrah anak anak kita

Kita generasi panik dan obsesif lebay, karena memikul beban dan tuntutan serta titipan mimpi orangtua dahulu.
Kita generasi yang terbiasa menjalani stress nasional setiap tahun menjelang Ujian Nasional.

Lihatlah stress nasional melahirkan sirik nasional, pensil dirajah, makam diziarah minta berkah, menghamba pada ijasah dan bertawakal pada bocoran soal multi arah

Kita adalah generasi instan, lebih pandai menitip dan mencari sekolah favorit daripada merawat fitrah anak sendiri.
Kita tahu bahwa generasi instan itu sangat rentan.namun apa mau dikata, sudah kecanduan

Kita generasi yang memalukan karena hanya pandai melayang layang di ibukota menjajakan ijasah tak tahu arah, anehnya anak kita dipaksa bernasib searah

Kita generasi yang lambat dewasa masih diberi nafkah dari baligh sampai sarjana bahkan sampai menikah.

Kita generasi kasihan yang memendam derita gelombang syahwat membara sejak baligh tiba di usia 10-12 tahun, namun lambat aqil dan faqir miskin, tak mampu menikah sampai usia lebih dari 22 tahun

Kita generasi yang masih menumpang pada orangtua hingga bergelar sarjana bahkan sesudahnya.
Menitip anak pada orangtua dianggap lumrah
Menitip anak pada pembantu dianggap sunnah
Menitip anak pada sekolah dianggap fitrah

Kita adalah generasi korban kurikulum seragam jadi jadian sehingga setiap 10 dari angkatan kita 9 yang salah jurusan
Kita generasi galau tak kenal diri. Dituntut agar bisa semua hal dan jadi seperti orang lain namun akhirnya tak jadi apa apa.
Tetapi anehnya anak anak kita diminta mengulangi jalan yang sama.

Kita generasi seragam hasil cetakan seragam dan saringan seragam
Kita generasi yang tak pernah tahu bakat dan panggilan hidup, mungkin hingga ajal

Kita generasi yang umumnya bekerja asal kerja, hanya menanti gajian setiap tanggal 25 atau tanggal 1.
Lalu sisanya berkarir karena motivasi jabatan dan tunjangan, menjadi hebat namun pembosan dan tidak bahagia.

Kita pelanggan setia yang menunggu hari Jumat tiba, karena besok selama dua hari merdeka.
Kita generasi yang belajar dan bekerja adalah hal menyiksa.
Kita generasi yang menyambut liburan dengan bergairah dan suka cita.
Tanpa sadar, kita tularkan tradisi ini pada anak anak kita

Kita generasi tak kenal diri, lalu tak tahu diri, masa kecil tidak bahagia, masa dewasa tak tahu bakat, gaji menjadi kiblat,
Kita generasi korban obsesi orang lain dan titipan cita cita
Kini apakah kita akan titipkan kembali cita cita kita pada anak anak kita?

Kini kita lalu bingung bagaimana mengenali bakat anak, apalagi membuatnya hebat dalam manfaat dunia akhirat. Wong bakat diri saja tidak kasat

Kita adalah generasi yang membenci belajar setengah mati, maka jadilah kita sarjana yang skripsi dan tesisnya adalah karya satu satunya dan terakhir sepanjang hayat. .

Sejak makan bangku sekolahan, kita hanya belajar ketika ada ujian, ketika mengejar ijasah, ketika ada sertifikasi dan peluang kenaikan gaji.
Semua begitu sejak guru, pejabat sampai anggota dewan

Kita lalu gagap membangkitkan gairah belajar anak anak kita, karena kita tidak pernah tahu gairah belajar itu seperti apa.

Kita adalah generasi kenyang tes, kontes dan ujian, lantas melupakan semua ilmu dan hikmah tepat sehari setelahnya
Kita adalah sarjana yang menganggur tepat sehari setelah wisuda

Kita adalah generasi yang banyak menunggu bel berdering, banyak stick & carrot, banyak hadiah dan hukuman.
Kita generasi yang tidak pernah mampu menjawab “mengapa” karena hanya tahu menjawab “bagaimana”

Kita adalah produk pengejar ilusi prestasi dan tidak mengaku kalau kita pemuja uang,
Padahal lihatlah kita hanya mau berubah dan bertindak ketika gaji dan pendapatan kurang,

Kita tidak pernah berubah selama gaji baik baik saja,
Kita tidak pernah berubah dalam rangka mengejar makna dan peran sejati, kita hanya mengejar prestise dan gengsi.

Kita adalah generasi yang sibuk menghafal rumus rumus sains, sementara kali di sebelah kampus dan sekolah meluap banjir karena sampah

Kita adalah generasi yang menghafal 36 butir Pancasila atau menghafal ilmu agama, sementara di sebelah kampus dan sekolah orang susah dan sekarat

Kita adalah generasi yang memuja dan berburu status shalih dan intelektual, sementara orang melarat makin banyak, impor makin menghebat dan sumberdaya dijarah bangsa serakah

Kita adalah generasi para pemulung titel dan ijasah, demi prestise dan status.
Kini kita menjadi generasi yang gagap mendidik anak sendiri karena minder dan gengsi.

Kita generasi ambigu, satu sisi menyeru ayat ayat Tuhan, sementara kita menjadi penyebab kebakaran hutan
Kita generasi yang pandai memanipulasi apapun demi tuntutan rangking dan status.

Kini anak anak kita, tanpa sadar kita manipulasi demi cita cita dan ambisi pribadi.

Jangan pernah ulangi kesalahan generasi kita.
Krisis alam dan krisis manusia hari ini menjadi bukti perbuatan tangan dan kaki generasi kita

Mari kita kembalikan generasi peradaban sejati yang Allah ridhai dimulai dengan mengembalikan peran sejati kita mendidik anak anak kita sendiri.
Mari bergandeng tangan membangun peradaban terbaik untuk anak anak kita, kita hantarkan mereka kepada peran peradaban terbaik sesuai fitrahnya, yang menebar rahmat dan manfaat dengan semulia mulia akhlak. Semoga Allah meridhai generasi anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: