//
you're reading...
Creativity, Kemandirian, Life style, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #65

‪Harry Santosa – Millenial Learning Center

#‎fitrahzaman‬‬‬‬‬
‪#‎genc‬‬‬‬‬

Hari ini anak anak kita adalah anak anak yang ummumnya kelahiran tahun 2000 ke atas, anak anak milennial yang lahir di awal milennium baru. Mereka disebut dengan Generasi C.

Generasi C disebut demikian karena huruf C mewakili mereka yang “always clicking, connected, communicating, content-centric, computerized, dan community-centric”.

Sementara generasi sebelumnya adalah Generasi X, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1960-1980, ciri khasnya adalah berpendidikan tinggi, aktif dan menjunjung keluarga. Generasi Y adalah mereka yang lahir tahun 1980 – 2000, ciri khasnya adalah suka menunda kedewasaan dan terlalu dekat dengan orangtua.

Riset pemetaan bakat menemukan bahwa sifat atau potensi bakat generasi ini berkebalikan 180 derajat dengan sifat atau bakat generasi sebelumnya. Apa yang menjadi potensi kekuatan generasi Baby Boomers atau Generasi X dan Y, termyata menjadi keterbatasan pada generasi C, begitupula sebaliknya.

Sederhananya begini, jika kita orangtua umumnya memiliki potensi keunikan lebih banyak ke otak kiri (analitis, keuangan, dll) , administratif, teknikal, pabrikasi dstnya, maka anak anak kita lebih banyak memiliki potensi keunikan pada otak kanan (desain, sintesis dll) dan hubungan interpersonal dstnya.

Pensikapan terhadap Generasi C beragam.

Sebagian kita, para orangtua mensikapinya dengan antusias. Mereka sepenuhnya melihat dari sisi positif dan produktifitas yang bisa dicapai era digital. Di rumah rumah mereka disediakan internet 24 jam sehari dengan kecepatan di atas rata rata. Anak anak sebebas bebasnya berselancar di dunia maya bahkan dipacu untuk berkreasi dan menjelajahi dunia maya sepuasnya. Digital lifestyle nampaknya jadi tuhan baru.

Seolah berkata “Hey guys, kini dunia digital sudah menjadi lifestyle, mau apa anak anda jika tidak becus menjadi generasi digital, jadilah generasi pencipta konten digital bukan konsumen konten digital. Di masa depan, apapun bakat dan minatmu semua berujung pada “screen”, yaitu tulisan, foto, audio, video yang bisa diintip orang lewat semua akses baik web maupun gadget”

Sebagian lagi mensikapinya dengan panik dan khawatir, bahkan nyaris paranoid. Yang dilihat hanyalah sisi negatif dari Generasi C dengan internetnya. Di rumah rumah mereka, pagar dan bendungan dibangun setebal tebalnya, filter dan saringan dibuat seketat ketatnya. Software Parent Control jadi gacoan handal.

Mereka sibuk memonitoring anak anaknya setiap saat setiap waktu. Mengecek berkala log pada pc, laptop dan gadget. Jika terdengar kata internet, maka bayangannya pasti pada hal hal negatif seperti pornografi, anti sosial, kecanduan game dstnya. Digital lifestyle seolah jadi setan baru.

Seolah berkata, “Awas, dunia sudah dikepung informasi berbahaya dari segala penjuru. Mau jadi apa anak anak anda jika hanya sibuk dengan layar laptop dan layar gadget. Anak anak dalam bahaya yang mengerikan, segera selamatkan mereka, lindungi dari pengaruh buruk internet. Jauhi dunia maya, dunia berbahaya, tidak ada yang anda dapat kecuali sangat sedikit kebaikan, sangat banyak sampah dan kemubadziran”

Sebagian yang lain mensikapinya dengan biasa saja, bagai air mengalir. Tidak penting banget. Antusias tidak, khawatir juga tidak. Seolah berkata, “Yah sudah zamannya, emang gue pikirin”.

Lalu bagaimana sikap terbaik.

Sikap terbaik adalah adalah memahami dengan terbuka potensi keunikan generasi C, amati seksama kekuatan sekaligus keterbatasannya. Lalu darisana kita merancang dan menerapkan pola pendidikan yang relevan.
Sesungguhnya tiap masa, tiap zaman, Allah hadirkan generasi yang khas dan unik sesuai zamannya. Generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Begitupula Generasi C, generasi yang juga memiliki potensi unik sesuai zamannya.

Jika potensi unik pada diri manusia mengandung potensi kekuatan dan keterbatasan. Jika potensi unik pada alam dan lokal juga mengandung potensi kekuatan dan keterbatasan. Maka potensi unik pada zaman atau generasi C juga memiliki kekuatan dan keterbatasan.

Jangan panik dan paranoid, juga jangan lebay obsesif, syukurilah fitrah zaman ini.

Sikap terbaik kita sebagai orangtua adalah menerapkan kaidah emas “fokus pada kekuatan dan siasati keterbatasan” . Artinya fokus pada hal hal positif yang produktif dan mensiasati hal hal yang tidak produktif yang akan menjadi kelemahannya.

Sesungguhnya kita tidak pernah mungkin memisahkan anak anak Generasi C dari keunikan fitrah zamannya, yaitu gadget dan internet. Kita juga tidak bisa melupakan bahwa dunia maya menyediakan begitu banyak ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat. Kita tidak bisa menutup mata dengan kenyataan anak anak kita menyukai hal hal baru yang inovatif dan idea menantang, komunitas yang berdaya, kepemimpinan yang terbuka dstnya.

Maka relevankan kekhasan generasi ini dengan fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, juga fitrah alam dan lokalitas agar generasi ini tidak sekedar berselancar di dunia maya atau tersesat di rimba informasi, namun dunia maya menjadi tempat kesibukan menggali dan mengembangkan spiritualitas, moralitas, bakat, belajar dan bernalar juga akhlaknya. Bertemu dengan orang orang baik yang relevan dengan bakat dan akhlak yang mulia.

Jika generasi ini suka hal hal baru yang inovatif dan idea idea menantang, maka arahkan keterhubungan dan kemahiran mereka di dunia maya untuk menemukan sumber pengetahuan, pakar dan komunitas yang relevan.

Jika generasi ini menyukai kepemimpinan yang terbuka, transparan, tidak anti kritik dstnya maka kepemimpinan ini sebaiknya dibangun di rumah kita dan di lingkungan. Orangtua maupun guru dengan tipe kepemimpinan klasik yang otoriter tempo dulu barangkali akan dijauhi oleh generasi ini. Generasi ini menyukai hubungan yang setara.

Jika generasi ini suka berkomunitas dan berkomunikasi, maka dorong agar mereka bertemu dengan komunitas online dan juga komunitas offline yang relevan. Seimbangkan keasikannya di dunia maya dengan keasikannya di dunia nyata dengan menyambungkan realita dan problematika sosial di dunia nyata sekitarnya dengan kemahiran mereka mengkomunikasikan masalah dan mencari solusinya di dunia maya lalu kembali membumikannya.

Semoga anak anak kita, generasi C, akan menjadi pembaharu dan pahlawan pada generasinya, yang membuat dunia dan peradaban lebih hijau dan damai. Generasi yang Allah ridha pada mereka, dan merekapun ridha pada Allah.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬‬‬‬‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: