//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #64

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Anak anak kita telah lahir di belahan bumi bernama Indonesia, di suatu wilayah atau daerah atau suku di Indonesia. Apakah kebetulan?

Anak anak kitapun ditakdirkan berbahasa Indonesia atau berbahasa daerah atau bahasa suku di Indonesia. Bukankah Allah SWT yang telah mengajarkan bahasa kepada tiap manusia? Apakah kebetulan?

Struktur tubuh, paru paru dan pencernaan dsbnya telah dirancang cocok untuk hidup dalam iklim, cuaca, suhu, udara, air, makanan dan obat obatan yang ada dan tumbuh di negeri ini. Apakah kebetulan?

Anak anak kita juga telah hidup di negeri yang banyak hutan dan pohon yang memasok 80% oksigen dunia. Mereka telah hidup di negeri yang keanekaragaman hayatinya menjadi sumber berlimpah bagi riset, kesehatan dan pengobatan dunia. Apakah kebetulan?

Mereka, anak anak kita, telah hidup di negeri yang sumber energi terbarukannya terbesar di dunia. Mereka juga telah hidup di negeri yang separuhnya ditutupi air dengan perikanan yang berlimpah. Apakah itu semua kebetulan?

Lihatlah, secara karakter, etika dan budaya dari suku suku dan negeri negeri yang mendiami wilayah rentan gempa dan gunung berapi namun subur ini, hampir sama.

Yaitu, sangat religius sebagai sandaran hidup di daerah bencana vulkanik, sangat hormat pada ulama, suka gotong royong dan bercengkrama, ramah, suka berbagi dan suka harmoni, suka seni, suka saling asah asih asuh, sangat membenci perilaku curang dan khianat dstnya. Apakah ini kebetulan?

Sungguh ini semua bukan suatu kebetulan. Bukankah bagi orang beriman, tiada yang kebetulan di muka bumi? Semua adalah karunia dan takdir Allah SWT.

Allah berkehendak menciptakan manusia berbangsa bangsa dan bersuku suku agar memiliki identitas keunikan untuk dikenali dan selanjutnya memberi manfaat dan rahmat atas potensi keunikannya masing masing. Maka sesungguhnya tidak dibenarkan memubadzirkannya atau bahkan menghilangkannya.

Tentu ada maksud, ada purpose mengapa anak anak kita lahir pada dimensi tempat, pada kordinat tertentu di muka bumi. Sungguh Allah akan menguji siapa diantara manusia yang terbaik amalnya.

Setidaknya kita menyadari bahwa anak anak kita ditakdirkan untuk tidak hanya hidup di atas tanah dan air semata, namun harus mampu memberi manfaat dan menebar rahmat di atasnya dengan segenap potensi dirinya berpadu dengan potensi lokalitasnya, dimana bumi dipijak, yaitu untuk membangun peradaban terbaik di atasnya.

Untuk purpose itulah maka pendidikan yang berorientasi peradaban sejatinya mampu berangkat dari perspektif fitrah manusia lalu diinteraksikan, dikontekskan dan direlevankan dengan fitrah komunal dan sistem hidup.

Maka alangkah indah tumbuhnya jika semua potensi fitrah individual anak anak kita (fitrah keimanan, fitrah bakat dan fitrah belajar) relevan secara mengakar dengan potensi fitrah komunal alam dan lokalitas serta realitas sosial dan problematika ummat di atas bumi dipijak, dimana Allah SWT menempatkan mereka.

Perhatikanlah bagaimana sepanjang sejarah para penebar rahmat, para problem solver, para solution maker, para pahlawan kehidupan adalah mereka yang mampu mengkontekskan gairah fitrah keimanan mereka, gairah fitrah belajar dan nalar mereka, gairah dan passion fitrah bakat mereka dengan potensi lokal, kearifan dan realitasnya sehingga menjadi akhlak mulia.

Pendidikan bukanlah proses “understanding” dan “creating” yang terisolir, yang terlepas dan tidak mengakar dengan fitrah komunal, baik potensi lokal, potensi kearifan, potensi keunggulan alam, realitas sosial dan problematikanya dimana anak anak kita tinggal.

Mungkin fakta dan kenyataan sistem pendidikan hari ini bisa menjawab dan menjelaskan, mengapa banyak orang wellscholed, bertitel seumpuk, namun tidak punya karya solutif di masyarakat dan di lokalitasnya?

Mari kita renungkan, untuk apa kita didik fitrah belajar dan fitrah bakat termasuk fitrah keimanan anak anak kita, kita lengkapi dengan keterampilan dan pengetahuan (skill dan knowledge) seabrek jika tidak mampu direlevankan dan memberi solusi manfaat bagi ummatnya sehingga menjadi akhlak mulia?

Sesungguhnya sukses kehidupan adalah memberi manfaat pada lingkungan terdekat dari diri seseorang, yaitu negerinya atau ummatnya atau lokalitasnya baru kemudian melebar ke global. Juga bukan untuk menaklukan dunia, namun menebar rahmat dan manfaat bagi dunia dengan segala potensi individual, lokal dan komunalnya.

Dan semua itu dimulai dari pendidikan yang mampu menginteraksikan fitrah atau kodrat anak anak kita dengan fitrah atau kodrat komunal yaitu kodrat alam dan kehidupan masyarakat serta keunggulan dan kearifan lokal dimana anak anak kita tinggal sejak hari pertama pendidikan dimulai.

Sesungguhnya agama yang lurus dan fitri, hadir bukan seperti kolonialisme penjajah peradaban yang meniadakan dan mereplace serta menghilangkan potensi dan akhlak lokal namun agama yang lurus datang untuk menyempurnakan potensi dan akhlak lokal sehingga menjadi akhlak yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: