//
you're reading...
Human being, Life style, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Tidak Puas

Eileen Rachman & Billy Latuputty
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 5 Maret 2016

Dalam kunjungan saya ke seorang klien, seorang wirausaha CEO sukses, dimejanya dituliskannya, The Boss Is Not Happy menghadap ke kursi kursi hadap. Reaksi pertama saya:”tega amat, Bapak ini” tetapi kemudian saya berfikir bahwa kalau dia happy dia tidak akan ada di meja kerjanya, dan tidak akan melakukan perubahan. Ketika saya tanyakan, mengapa tulisan itu dipasang di situ, beliau membalikkan signage itu dan ternyata terdapat pula tulisan yang sama menghadap dirinya.

Saya selalu harus menyatakan ‘perang’ pada diri sendiri:’Jangan cepat berpuas diri”, dan juga kepada tim saya” demikian katanya. Hal ini kemudian membuat saya jadi teringat pada seorang CEO sukses, yg juga selalu mengatakan pada putra putri dan timnya, bahwa: ”kita ini bukan nomor satu”, pasti ada yang lebih baik daripada kita.

Dalam dunia olah raga, kita mengenal Haile Gebrselassie asal Ethiopia, yang memecahkan 30 rekor lebih dalam lomba lari marathon. Banyak yang beranggapan bahwa Geb memang menang fisik dengan kakinya yang super panjang itu. Tetapi kemudian, para ahli olah raga mengambil kesimpulan bahwa ‘mental attitude” Geb lah yang sesungguhnya menentukan kesuksesannya.

Seusai memenangkan Marathon pertamanya di Berlin, di tahun 2007, Geb dikelilingi oleh para wartawan. Kalimat pertama yang diucapkannya adalah : “I can run faster.” Kemudian, hal ini ternyata benar dibuktikannya pada tahun berikutnya, ketika ia mampu mencapai garis finish dengan catatan waktu 27 detik lebih cepat. Demikianlah terjadi seterusnya, sehingga Geb dianggap sebagai contoh karakteristik atlit bermental juara. Atlit pada umumnya, merasa bangga ketika mereka berhasil meraih kemenangan. Namun seorang juara sejati tidak berhenti sampai di situ saja. Tidak lebih dari semenit sesudah menggenggam kemenangan, mereka memutuskan dan menyatakan bahwa mereka bisa lebih baik daripada prestasi sekarang. Mereka tidak pernah puas.

Banyak orang langsung berasumsi, bahwa orang yang tidak pernah puas, pasti tidak bahagia. Hal ini belum tentu benar. Orang bisa saja mempunyai mentalitas “selalu tidak puas”dan pada saat bersamaan bekerja penuh ‘passion’. Hal itu bisa terjadi dalam bidang olah raga, berwirausaha, maupun berkarir. Geb adalah contoh orang yang selalu tidak puas, tetapi selalu tersenyum dan tampak bahagia. Orang dengan passion yang tinggi pasti akan semakin bahagia bila ia tidak pernah mencapai puncak kepuasannya.

Tidak puas bukan disruptif

Ingat bahwa kita seringkali belajar dari ketidak puasan pelanggan, dan akhirnya kita mendapatkan ide untuk membuat produk yang lebih baik. Faham ini bukan faham yang negatif tetapi mungkin saja disruptif. Di jaman di mana hal-hal yang ‘mainstream’ akan berbahaya untuk terus dilakukan tanpa evaluasi, sikap waspada inilah yang nampaknya kita butuhkan. “Complacency’ bisa kita anggap sebagai kanker yang bersarang dan mengintai, dan begitu kita lengah, akan merusak mental kita. Keyakinan bahwa segala sesuatu pasti baik-baik saja dan akan terus berlangsung, demikian bisa menjebak kita dalam rasa nyaman yang palsu. Sementara dunia di sekeliling kita berubah tanpa henti, kita mungkin asyik berdiam dalam zona nyaman yang sejatinya tidak aman. Hal ini terjadi karena kita dibuai oleh kemapanan, malas melihat sekitar atau malah enggan menatap ke depan.

Banyak orang meneriakkan slogan untuk keluar dari ‘comfort zone’. Tetapi apakah kita memang keluar dalam arti yang sebenarnya?
Bagaimana caranya? Coba kita renungkan. Pertama-tama, bagaimana kita mencari masukan dari pelanggan? Apakah kita sekedar menanyakan apakah ia puas? Nemghitung angka kepuasan pelanggan, atau justru meminta kritikan dan saran perbaikannya? Jawaban umum tentang kepuasan adalah ‘ya’, karena orang justru juga malas untuk berpanjang-panjang menyatakan ketidak puasannya. Hal inilah yang sering meninabobokan kita dengan merasa bahwa tidak ada yang perlu diperbaiki lagi di pihak kita. Sebuah Hotel terkenal, bahkan memberikan hadiah kepada pelanggan yang menyampaikan keluhan, karena menurut mereka, keluhan adalah kesempatan perbaikan.

Hal lain yang juga selalu kita lupakan dan tidak kita biasakan adalah melakukan blusukan secara teratur. Kenyataan dilapangan itu tidak bisa digambarkan di laporan tertulis, apa lagi sekedar dalam bentuk angka-angka. Kita tetap harus menggunakan ketajaman indera kita, bahkan juga, indera ke enam kita, alias ‘common sense’ untuk mencium perkembangan pasar. Banyak orang membedakan antara pekerjaan kotor dan bersih, lantas mengalokasikan lebih banyak waktu di tempat yang aman dan nyaman. Padahal di tempat kotor itulah terdapat banyak sumber kemajuan. Tidak ada salahnya kita mengantar tamu untuk melihat-lihat kamar hotel, walaupun kita sudah menjabat sebagai GM hotel. Tidak ada salahnya sekali-sekali juga ikut memanggang ikan bakar, pada waktu restoran kita penuh, walaupun kita seorang manajer restoran. Dan tidak ada salahnya kita menuju tempat penyimpanan bahan baku yang paling ujung walaupun kita si empunya pabrik. Kejutan-kejutan yang kita dapatkan akan jauh lebih berharga daripada laporan survei manapun. Fakta-fakta terkini dan segar yang kita temui, akan menolong kita untuk tetap berjejak pada realitas.

Satu hal yang bisa menjadi upaya untuk berubah adalah mencoba cara yang selama ini kita tolak, bahkan kita hindari. Memikirkan ulang efektifitas dari pola kerja kita yang ‘baku’, dan membuka diri terhadap cara-cara baru, bisa membawa kita pada peluang-peluang yang tak terpikirkan. Tanyakan “Why not”? Dan kemudian cobalah, mungkin dengan investasi yang tidak usah besar dulu. Tetapi mentalitas mencoba ini harus dihidupkan dengan subur.

Jangan samakan pencapaian dengan kepuasan

Dalam ilmu psikologi ada istilah ‘hedonistic adaptation’ di mana seseorang akan merasakan kegembiraan yang amat sangat ketika membeli mobil, rumah ataupun benda lainnya. Tetapi kenikmatan tersebut hanya sementara karena tingkat kepuasan kita cenderung kembali ke titik netral. Justru hal inilah yang perlu kita adaptasi ketika bergembira terhadap pencapaian sasaran kita. Kita mesti cepat sadar, mengenai sifat ‘sementara’ itu. Menyadari kecenderungan alamiah ini dapat membuat kita lebih waspada untuk tidak terjebak dalam rasa nyaman yang menghambat peluang untuk maju. Kebahagiaan dari menikmati kesuksesan serta pencapaian adalah hal yang baik, namun menentukan tujuan-tujuan baru, melakukan cara-cara baru, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru serta berbagai pengetahuan yang saat ini terbentang luas, tetap adalah upaya menyediakan kesempatan bagi kita untuk berkembang. Hal-hal itu juga yang membuat kita lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan yang bergerak semakin hari semakin cepat.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: