//
you're reading...
E - Learning, Kajian

Proxy

Lukito Edi Nugroho
MARCH 13, 2016

Dalam dunia komputer, khususnya di bidang jaringan komputer, istilah “proxy” menunjuk sebuah komputer yang punya peran menghubungkan komputer-komputer lain (khususnya yang berada dalam lingkungan jaringan internal) ke jaringan yang lebih luas, Internet misalnya. Dengan proxy, pemakai yang semula terputus dari dunia luar menjadi mampu mengakses informasi yang ia perlukan dari Internet. Proxy membuat si pemakai mendapatkan manfaat dan kebaikan dari apa yang ada di luar lingkupnya.

Dulu saya pernah menjadi seperti si pemakai komputer di atas: tidak tahu tentang dunia di luar dirinya. Tepatnya begini: sebagai seorang bapak, dulu saya pernah merasa tidak banyak paham tentang anak-anak saya. Memang, tiap hari saya bertemu dan berkumpul dengan mereka, tetapi saya terkadang blank dengan pandangan, cara pikir, keinginan, ataupun perasaan mereka. Apalagi saya termasuk “bapak tradisional” yang tidak pernah belajar secara proper tentang bagaimana menjadi seorang bapak yang baik, apalagi bersentuhan dengan ilmu parenting. Semuanya dilakukan secara intuitif belaka. Akibatnya, sikap, perlakuan, dan respon saya terhadap mereka kadang tidak pas dengan apa yang seharusnya saya berikan. Manifestasinya macam-macam, dari ketidakpekaan terhadap perasaan dan harapan, sampai ke sikap-sikap yang berlebihan terhadap mereka. Jika kejadian itu muncul, saya bisa merasakannya, tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Blank.

Kondisi itu berlangsung sampai anak sulung saya kembali ke rumah setelah menyelesaikan studi S1nya di bidang psikologi. Dia melihat kelemahan bapaknya, lalu mulai mengajak diskusi, terutama tentang hubungan antara orang tua dan anak. Banyak yang dia sampaikan. Saya diajaknya menyelami cara pandang anak, bagaimana mereka berpikir, dan bagaimana harapan mereka terhadap orang tua. Intinya: saya dihadapkan pada dunia anak-anak, lalu diminta untuk memahami melalui eksplorasi saya sendiri.

Menjalani diskusi-diskusi dengan si sulung ini serasa menelusuri jalan berbatu. Rasanya seperti dibanting dan dihempas, terutama ketika saya dipaksa untuk merefleksikan sikap dan respon saya yang tidak benar terhadap anak. Tapi di sisi lain, saya juga melihat cahaya pencerahan. Saya jadi bisa memahami dunia anak-anak saya. Dan akhirnya saya bisa mulai belajar bersikap, berperilaku, dan memberi respon yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kembali ke proxy, si sulung telah menjadi proxy bagi saya. Saya yang tadinya tidak paham tentang anak-anak saya sendiri, dengan bantuannya, sekarang bisa lebih mengenal mereka dan dunianya. Dengan latar belakang bidang psikologi yang dikuasainya, dia menjelaskan kepada saya tentang perkembangan jiwa anak, hubungan kausalitas dalam relasi antara orang tua dan anak, dan banyak lagi pengetahuan baru tentang dunia anak-anak. Kami berdiskusi tentang perubahan-perubahan cara berkomunikasi, tentang perlakuan yang sesuai dengan tingkat kematangan anak, dan lain-lain. Semua itu hal baru bagi saya, dan dia menghadirkannya untuk saya. Dan yang mungkin juga dia tidak sadari, diskusi-diskusi itu menggerakkan saya untuk bereksperimen dan mengeksplorasi…

Hasilnya? Amazingly, terhadap perubahan cara pandang, sikap, dan perlakuan saya, mereka memberikan respon balik yang positif. Amat sangat positif. Sungguh karunia yang luar biasa bagi saya…

Jika direnungkan, sebenarnya yang dilakukan si sulung bukanlah sesuatu yang rumit. Dia melihat kelemahan dan kekurangan saya, lalu mengajak saya untuk mengamati dunia baru yang sebelumnya tidak saya ketahui. Itu saja yang dia lakukan, tetapi implikasinya luar biasa.

Alangkah indahnya jika masing-masing dari kita bisa menjadi proxy bagi orang-orang di sekeliling. Kita bisa membantu dalam menghadirkan sesuatu yang belum diketahui oleh orang-orang di sekitar kita, dan dari situ mereka kemudian bisa menarik manfaat. Siapapun kita, apapun profesi kita, rasanya kesempatan menjadi proxy sangatlah besar. Cukuplah dengan memahami apa kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang di sekitar kita, lalu hadirkan dunia baru yang kita ketahui dan bisa memberi manfaat kepada mereka. Ceritakan potensi kebaikan yang dikandungnya. Ajak mereka untuk melihat dunia baru itu dari sudut pandang yang berbeda. Selanjutnya temani mereka, ceritakan bagaimana cara memetik manfaatnya, lalu biarkan mereka mengarungi dan mengeksplorasinya sendiri untuk memperoleh sari-sari kebaikannya.

Ketika anak merasa gembira dengan keluarganya karena mereka tahu di sana mereka bisa memperoleh rasa aman dan nyaman…
Ketika murid bersemangat belajar dalam menggapai cita-cita karena mereka tahu cita-cita itulah masa depan mereka…
Ketika mahasiswa bergairah mengerjakan risetnya karena mereka tahu manisnya “madu pengetahuan” yang akan mereka peroleh sebagai buah dari riset mereka…
Ketika karyawan menunjukkan kinerja yang tinggi karena itulah satu-satunya yang dapat membawa perusahaan dan juga para karyawan ke kondisi yang lebih baik…
Itulah tanda-tanda bahwa kita sebagai orang tua, guru, dosen, ataupun pimpinan perusahaan berhasil menjadi proxy yang baik.

Tidak sulit bukan?

(Terima kasih Rizka, kamu telah membukakan sebuah dunia baru bagi bapak…)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: