//
you're reading...
Creativity, E - Learning, Human being, Information Technology, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #63

Harry Santosa – Millenial Learning Center

#‎fitrah belajar dan nalar

Ada kekhawatiran dan kecemasan berlebihan dari banyak orangtua bahkan guru guru di sekolah ketika anaknya atau siswanya malas belajar, susah konsentrasi, tidak bisa duduk tenang, tidak mau menyimak ketika diterangkan dsbnya.

Ada juga orangtua yang ingin anaknya di HomeSchooling kan, kemudian merasa ragu terhadap dirinya, “apa yang bisa saya ajarkan pada anak anak saya jika mereka belajar di rumah, apakah saya mampu mentransfer begitu banyak pelajaran kepada anak anak saya, jangankan mengajarkan seabrek pelajaran, menemani anak menyelesaikan PR nya bisa jadi huru hara dan darah tinggi saya kumat”.

Ada lagi yang belajar menghipnotis anaknya agar rajin belajar. Ada lagi yang nampak lebih manusiawi, yaitu memanipulasi gaya belajar untuk menjejalkan pelajaran dan pengetahuan lalu merasa sudah memanusiakan manusia.

Begitulah,baik anak sekolah maupun “tidak sekolah”, umumnya perilaku dan paradigma kebanyakan orangtua dan guru, bahwa pendidikan adalah usaha keras dan berat untuk mengajarkan dan menjejalkan berbagai macam pengetahuan baik konten agama maupun konten akademis kepada anak anak, kalau perlu bahkan mendominasi dan memanipulasi.

Ujung ujungnya, jika pendidikan dipandang pengajaran seperti itu, maka anak dioutsource sepenuhnya ke guru sekolah untuk diajarkan.
Guru sekolah lalu kewalahan dan kemudian membiarkan siswanya “berburu” Bimbingan Belajar atau Bimbingan Tes.

Sudah dapat dipastikan, bimbingan belajar hanya sekedar menuntun anak agar bisa lulus ujian atau test dengan nilai setinggi-tingginya. Lalu semua menyangka telah terjadi proses pendidikan.

Yang terjadi di atas sebenarnya bukan proses pendidikan, namun ilusi pendidikan yang berangkat dari ketidakyakinan bahwa anak memiliki fitrah belajar yang hebat dari dalam dirinya sebagai bekal seorang khalifah di muka bumi.

Proses diatas adalah upaya lepas tanggungjawab karena berfikir pendidikan adalah pengajaran yang melelahkan.

Mereka tidak percaya bahwa anak anak sesungguhnya mau dan mampu belajar mandiri (self learning) sepanjang lingkungannya mendukung dan “membiarkannya belajar” dengan nyaman, bukan “membuatnya belajar” dengan tekanan.

Mari simak riset sederhana berikut.

Nun jauh di India, di kampung miskin, dimana ada anak anak miskin yang tidak pernah melihat komputer seumur hidupnya dan tidak bisa berbahasa Inggris, ternyata mampu belajar sendiri cara memakai komputer lalu kemudian belajar mandiri hanya dengan akses internet.

Seorang guru computer programming telah melakukan eksperimen di atas hanya dengan meletakkan komputer dengan akses internet dan berbahasa Inggris lalu mengizinkan anak anak kampung miskin itu menggunakannya tanpa diajarkan apapun.

Sekitar delapan jam kemudian, dia menemukan mereka berselancar di internet dan saling mengajari bagaimana caranya. Lalu guru itu berkata, “Mustahil, karena — Bagaimana mungkin? Mereka tidak tahu apa pun.”

Guru itu mengulangi eksperimen tersebut. Dia pergi sejauh 300 mil keluar New Delhi ke desa yang betul-betul terpencil di mana kemungkinan ada insinyur pengembang perangkat lunak lewat situ sangat kecil.

Karena idak ada tempat untuk tinggal, jadi dia meletakkan komputernya di sana, kemudian pergi, lalu kembali setelah beberapa bulan, dan menemukan anak-anak desa telah mampu bermain game di komputer itu.

Ketika anak desa itu melihat guru itu, mereka mengatakan, “Kami mau prosesor yang lebih cepat dan mouse yang lebih baik”

Sambil keheranan Kemudian guru itu bertanya, “Bagaimana mungkin kamu tahu semua ini?”

Anak anak desa itu mengatakan hal yang sangat menarik baginya. Dengan suara yang menjengkelkan, anak desa itu berkata, “Anda telah memberi kami mesin yang bekerja hanya dalam bahasa Inggris, jadi kami harus belajar sendiri bahasa Inggris untuk dapat menggunakannya.”

Untuk pertama kalinya, sebagai guru, dia mengaku baru mendengar kata “belajar sendiri” diucapkan secara lugas oleh anak anak.

Di desa terpencil lainnya, dilakukan percobaan serupa namun lebih rumit oleh guru itu. Disediakan beberapa komputer dengan bahan bahan BioTechnology Replikasi DNA yang telah di unduh di dalam komputer tersebut.

Lalu anak anak ditantang untuk belajar BioTechnology. Ketika anak anak itu bertanya, apa itu biotechnology? Guru itu hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan mereka.

Dua bulan kemudian, guru itu datang lagi, ternyata anak anak desa itu telah menguasai 30% biotechnology.

Lalu guru IT ini meminta seorang pemudi berusia 22 tahun yang sama sekali tidak paham biologi apalagi bioteknologi, untuk menemani anak anak ini, tidak untuk mengajarkan apapun, tetapi hanya bertindak seperti seorang nenek yang memberi semangat. Guru itu berpesan, “Berdirilah di belakang mereka. Ketika mereka melakukan apa pun, katakan saja, ‘Wow, bagaimana kamu melakukannya? Ada apa di halaman selanjutnya? Wah, ketika saya seumuranmu, saya tidak bisa melakukannya, dstnya.’ Kamu tahu kan apa yang nenek-nenek lakukan.”

Dalam dua bulan kemudian, anak anak desa terpencil telah menguasai Bio Teknologi, melonjak 50% sama seperti siswa siswa di sekolah kaya di kota besar dengan guru BioTechnology yang terlatih.

Begitupula secara tim, anak anak desa diminta berkelompok, setiap kelompok satu komputer. Lalu mereka diminta membuat riset dengan menggunakan sumber pengetahuan dari internet dan bebas berpindah kelompok jika kelompok lain lebih seru. Ternyata mereka benar benar bisa melakukan riset dengan mengorganisasi belajar mereka sendiri (Self Organized Learning)

Masih banyak rangkaian riset dengan bermacam ukuran dan model yang semuanya menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia adalah pembelajar tangguh sejati, hanya lingkungannyalah yang terlalu banyak menjejalkan dan mengajarkan sehingga anak kehilangan gairah fitrah belajarnya.

Hasil riset ini kemudian dituangkan dalam jurnal jurnal pendidikan masa depan maupun jurnal IT dan membuat banyak pakar kaget dan takjub. Tokoh guru di atas adalah Sugata Mitra, silahkan google pidatonya di TED.

Kesimpulan riset di atas adalah bahwa anak anak ternyata mampu belajar mandiri jika diberi kebebasan dan kesempatan. Guru atau orangtua sebaiknya jangan terlalu banyak mengajar apalagi banyak menguji dan memberi hukuman. Peran guru dan orangtua hanyalah memberikan idea menantang, semangat dan akses kepada sumber pengetahuan.

Jika gairah dan minat belajar anak anak menyala, maka sesungguhnya pendidikan telah berjalan. Anak anak akan belajar atas kemauan sendiri sepanjang hidupnya.

Sesungguhnya jika kita memahami dan mempraktekan bahwa tiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, termasuk fitrah belajar dan bernalar yang hebat, orangtua, guru dan lingkunganlah yang menyimpangannya.

Maka jika konsisten meyakini potensi fitrah, tanpa banyak intervensi dan dominasi seharusnya fitrah belajar dan nalar serta fitrah lainnya dari anak anak akan berbunga indah merekah. Mereka akan belajar dengan bahagia dan bergairah serta relevan dengan dirinya.

Maka di hari menjelang wuquf arofah ini, banyaklah bertasbih bertahmid bertakbir dan beristighfar, jika selama ini masih saja khawatir dan cemas, pesimis atau obsesif bahwa anak tidak mau dan tidak mampu belajar mandiri.

Kekhawatiran dan kecemasan itu sesungguhnya adalah wujud ketidakbersyukuran atas fitrah anak anak kita.

Sesungguhnya yang dibutuhkan anak anak kita bukan diajarkan berbagai macam pengetahuan, yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah dibangkitkan gairah fitrah belajarnya dengan idea menantang dan inspirasi hebat serta dorongan semangat sehingga mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya menuju peran Imaroh, memakmurkan bumi Allah SWT.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: