//
you're reading...
Creativity, Human being, Pendidikan

Asal-Usul dan Perkembangan Pendidikan Musik

Oleh Bagus Takwin

Pengantar
Saya sering diingatkan bahkan digugah untuk mengenang lebih dalam kejadian-kejadian di masa lalu saya oleh musik. Musik seperti menyimpan paket-paket kenangan. Saya mendengar satu lagu yang pernah sering saya dengarkan di satu masa, ingatan-ingatan tentang berbagai kejadian di masa itu muncul menggenangi pikiran saya. Bukan hanya obyek-obyek yang ada di kejadian itu melainkan juga perasaan, motivasi, semangat dan harapan yang ada waktu itu ikut menyertai. Saya sering menganalogikan musik sebagai tempat menyimpan ingatan seperti flashdisk atau hardisk.

Belakangan saya mendapat penjelasan dari Oliver Sack, juga beberapa ahli syaraf yang mengkaji musik, bahwa musik dapat menggerakkan kita kepada emosi tertinggi atau terdalam, mempersuasi kita untuk membeli sesuatu atau mengingatkan kita kepada kencan pertama. Musik dapat membuat kita mengusir depresi ketika hal lainnya tidak bisa melakukan itu. Kita ikut bergerak seiring ketukannya. Bahkan menurut Sack, daya musik lebih dari itu. Musik menduduki lebih banyak area otak kita dibandingkan bahasa. Kita, manusia, adalah spesies musikal. Banyak studi menunjukkan bahwa musik memiliki pengaruh signifikan terhadap kognisi manusia. Pelatihan musikal dapat mempengaruhi organisasi dan struktur anatomi otak. Musik memfasilitasi munculnya emosi yang dibutuhkan otak untuk berada dalam keadaan tenang sehingga berfungsi secara efisien, serta memiliki daya ingat dan kesiapan belajar yang tinggi.

Pengalaman saya juga mengajarkan bahwa musik dapat membantu saya menyeimbangkan diri, membuat nafas saya lebih teratur di saat-saat tegang, dan mengurangi keletihan dalam keadaan kurang istirahat. Tubuh saya dapat saya kendalikan agar lebih stabil dan nyaman dengan mendengarkan musik. Ketika harus mengerjakan tugas seperti menulis dalam tekanan, musik membantu saya untuk lebih tenang dan bekerja dengan irama dan tempo yang diperlukan secara teratur.

Berbagai studi mengenai pengaruh musik terhadap manusia sudah dilakukan. Dari situ diperoleh pengetahuan mengani pengaruh musik terhadap tubuh manusia, Robins dan Robins (1980), contohnya, menyatakan bahwa musik adalah medium antara aktivitas luar dan pengalaman dalam diri manusia. Musik berhubungan secara langsung dengan ujaran dan bahasa, dengan komunikasi dan pikiran, dengan ekspresi ketubuhan dan tarian, dengan emosi dalam rentang yang luas, serta dengan persepsi dan pengenalan pola bunyi dan bentuk. Ada juga studi yang fokus pada ritme dan persepsi. Pengenalan dan pembiasaan mengenali dan menghayati ritme, aksen dan alur musik dapat membantu orang melakukan koordinasi tubuh, pengendalian diri dan keseimbangan. Kebiasaan mendengarkan musik dapat membantu kita merangsang dan memperkuat kemampuan untuk menyaring bunyi yang terpapar kepada kita. Kita dapat fokus pada bunyi yang kita perlu dengarkan dan mengabaikan bunyi yang tak diperlukan dengan menemukan ritme dari apa yang perlu kita dengar, atau ritme dari situasi tempat kita berada.

Apa yang ditemukan oleh sains dewasa ini mengenai pengaruh musik terhadap pikiran, perasaan, tingkah laku dan keadaan fisiologis sudah dihipotesiskan sejak lama, bahkan sejak jaman Mesir Kuno dan Yunani Kuno. Dugaan mengenai pengaruh musik terhadap manusia itu menjadi dasar dari diselenggarakannya pendidikan musik. Dari sejarah kita dapat mengetahui asal-usul dan dasar dari pendidikan musik, lalu perkembangannya hingga pendidikan musik yang banyak berlangsung saat ini. Tulisan ini akan membahas secara ringkas akar-akar dan dasar pendidikan musik berdasarkan hasil penelitian sejarah, juga pendekatan dan metode pendidikan musik yang ada di beberapa negara.

Akar-Akar Pendidikan Musik

Meski secara tertulis pembahasan mengenai pendidikan musik kita temukan pada karya-karya Plato (428–348 SM) di Jaman Yunani Kuno, kemudian diteruskan oleh muridnya, Aristoteles (384-322 SM), akar pendidikan musik sudah ada di jaman Mesir Kuno jauh sebelumnya, sekitar abad ke-20 SM. Di Mesir ditemukan nisan yang mengindikasikan sudah berlangsungnya pendidikan musik, yaitu “Nikaure, ‘instruktur dari para penyanyi dari piramid Raja Userkaf” dan Rewer, “guru dari penyanyi kerajaan” yang hidup selama masa Dinasti Ke-5 (2563–2423 SM). Yang menarik di situ adalah nama guru musik disebutkan, sedangkan nama raja Dinasti Ke-5 tidak disebutkan. Sebegitu pentingnyakah guru musik sehingga namanya disebutkan dalam prasasti sejarah Mesir Kuno, sementara nama rajanya tidak disebutkan? Salah satu dugaan mengenai alasannya adalah karena pendidikan musik dianggap amat penting di Mesir Kuno. Itu perlu diteliti lebih jauh.

Jika kita membaca hasil penelitian para ahli Mesir Kuno yang mengkaji pendidikan musik di masa itu, kita temukan bahwa nilai dan prinsip pendidikan musik yang baik sudah didiskusikan dan diterapkan jauh sebelum bahasa tulis digunakan. Berbagai lukisan di dinding dan nisan dari jaman Mesir Kuno menggambarkan aktivitas pendidikan musik dan orang-orang yang membicarakan musik.

Temuan-temuan dari masa Mesir Kuno itu menggugah dan memberi inspirasi kepada Plato untuk memikirkan nilai dan prinsip pendidikan musik yang baik. Menurutnya, sekali kita memahami nilai dan prinsip yang baik dari pendidikan musik, maka itu akan bertahan hingga lebih dari 10.000 tahun berikutnya. Dari beberapa studi disimpulkan nilai dari pendidikan musik di masa sebelum Plato termasuk di Mesir Kuno di Yunani Kuno sebagaimana dikemukakan oleh David Whitwell (2011).
1. Pembentukan karakter adalah tujuan paling penting dari pendidikan musik dan mereka secara hati-hati memantau pengaruh pendidikan musik terhadap masyarakat.
2. Musik dapat dimengerti dalam lebih dari satu level.
3. Ada perbedaan pendidikan musik ekperiensial dan pendidikan musik konseptual, dan mereka menolak yang terakhir.
4. Mereka percaya hanya musik terbaik yang harus digunakan dalam pendidikan musik.
5. Mereka percaya pendidikan (juga pendidikan musik) harus disertai dengan disiplin ketat.

Nilai dan prinsip musik dari Mesir Kuno itu diteruskan oleh Plato dan orang Yunani Kuno. Menurut mereka pendidikan musik semestinya mempertemukan murid dengan musik dan secara praktis para murid mengalami musik. Musik tidak memerlukan notasi karena pada kenyataannya musik itu sendiri yang berpengaruh terhadap manusia, bukan representasi musik dalam bentuk tertulis atau simbol lainnya. Musik adalah hal kongkret yang dapat dikenali dan dihayati melalui pengalaman langsung. Musik mempengaruhi dan menghasilkan emosi pada pendengarnya, juga menggerakkan dan membentuk kebiasaan-kebiasaan pada diri orang yang mengalaminya. Tetapi, sekali lagi, menurut mereka hanya musik terbaik yang dapat memberikan pengaruh baik, bukan sembarang musik. Musik juga punya efek catharsis, pemurnian jiwa. Aristoteles memberikan penjelasan rinci mengenai peran musik sebagai media catharsis sebagaimana seni yang baik lainnya, seperti teater. Baik Plato maupun Aristoteles membahas musik sebagai bagian dari pedagogi, bagian dari pendidikan.

Plato juga membahas perihal pendidikan musik yang memadai untuk musikus, atau music major. Menurutnya, teori musik yang dikemukakannya bukan seperti apa yang dimaksud oleh para musikus. Menurutnya murid harus diajarkan bagaimana emosi dalam musik mempengaruhi pendengar dan bahwa murid harus mencintai gurunya. Musik membantu hubungan baik antara orang-orang, termasuk antara guru dan murid. Pendidikan musik, bagi Plato, bukan semata-mata untuk musik itu sendiri, melainkan untuk membantu orang membentuk pola dan harmoni pada diri dan masyarakatnya, untuk kemudian, lebih jauh lagi, mengetahui dan memahami kebenaran.
.
Diskusi Pendidikan Musik
Narasumber : Bagus Takwin

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: