//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Perubahan

Wawasan Inovasi

Eileen Rachman & Billy Latuputty
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas 27 Feb 2016

Kesadaran dan seruan untuk berinovasi sudah mengumandang di mana mana. Dalam awal tahun ini, beberapa seminar dan ‘workshop’ digelar untuk membangunkan semangat inovasi. Kita memang tidak bisa bertahan dengan cara cara konvensional bahkan ortodoks. Cara cara tersebut bagus pada jamannya. Bisa kita bayangkan bila nenek kita masih bertahan menggunakan mesin ketik saat sekarang untuk surat menyuratnya. Bukankah skenario ini sudah terlalu janggal untuk jaman sekarang. Kita sadari bahwa perusahaan yang berinovasilah yang sekarang maju. Tidak ada perusahaan yang ingin menjadi Kodak , atau Blockbuster lagi. Bench marknya pasti Apple, Google ataupun Netfix. Semboyan sekarang : “innovate or die” memang sudah disetujui orang. Kita sudah terinspirasi, takut, bahkan khawatir memikirkan kelangsungan bisnis kita. Tetapi bila kita lihat di sekitar kita, banyakkah orang yang sedang sibuk berinovasi, seperti halnya Steve Jobs almarhum, atau Larry Page, ataupun Mark Zuckerberg? Atau, apakah kita sudah menemukan cara, tentang bagaimana mengubah cara pikir kita, yang biasanya banyak menggunakan cara yang sudah ada, sudah mantap dan tiba tiba harus mulai mempertanyakan semua hal dan mempertanyakan ‘why not”? Mungkin konsep inovasi ini masih perlu digarap lebih lanjut dengan beberapa prinsip ‘action’. Tidak cukup kita kagum pada inovasi bila kita sendiri tidak bergumul dan berusaha melakukan terobosan. Kita perlu mampu merealisasikan apa yang sudah kita cantumkan dalam presentasi-presentasi keren dalam kehidupan sehari hari, terutama cara kerja kita. Situasi yang sering kita hadapi perlu bisa membangkitkan ‘sense of urgency’ dari inovasi ini. Kita tidak bisa terlena, dan berleha leha untuk menemukan cara baru menanggapi keadaan pasar. Waktunya adalah : sekarang.

Pilar Inovasi

Kita sering menemukan ide cemerlang, tetapi dalam banyak situasi, ide tersebut kemudian sulit direalisasikan. Disinilah kita lihat, bahwa dalam menginovasi orang sering menemukan kerumitan yang belum terbayangkan. Ungkapan ‘go digital’ tentunya disetujui semua orang. Tetapi bagaimana menggarapnya? Apakah kita memang bisa menggarapnya? Setiap lembaga dan perusahaan mempunyai sejarah dan riwayatnya masing-masing, yang kemudian akan menentukan apakah perusahaan itu bisa berinovasi atau tidak. Steve Jobs, bahkan keluar dari Apple, melakukan hal lain, dan kemudian kembali lagi, dan baru bisa berinovasi. Pabrik tua yang sudah menjalankan bisnisnya bertahun tahun, tidak bisa dalam semalam menentukan perubahan, untuk menjadi perusahaan yang belia bergaya startup. Tetapi kita harus percaya bahwa setiap perusahaan bisa berkembang. Perusahaan kopi “Warung Tinggi” kemudian dikembangkan menjadi salah satu cafe kopi pionir di indonesia, Bakoel Kopi. Di samping kompetensi untuk berfikir beda, kita juga membutuhkan obsesi yang tidak kecil. Kita perlu mempunyai tim, yang “membawa tidur” permasalahan dan mengeluarkan buah pikiran yang tidak sekali jadi. Untuk itu, kitapun bisa bertanya, apakah para pimpinan menyadari dan mengalokasikan kesabaran menunggu sampai para inovator ini mengeluarkan hasil produksinya. Ada pimpinan yang tidak sabar, dan segera menganggap bahwa berfikir terus dan membuat kesalahan sudah merupakan kegagalan. Jatuh bangun adalah bagian dari inovasi. Dulu kita menyebutnya eksperimen. Eksperimen masa kini lebih bersifat ‘just do it’, dan kesalahan dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Kegagalan adalah hal biasa sejauh kita belajar dari kesalahan dan dengan cepat memperbaikinya. Kesadaran ini dapat membebaskan kita dari ketakutan mengambil resiko. Dunia bisnis saat ini menjadi sangat amat dinamis sehingga jika kita memutuskan untuk berhenti mengambil resiko maka pada saat itulah kita mulai tertinggal.

Wawasan Bisnis

Kita sering berfikir bahwa berinovasi adalah memperbaiki produk dan jasa yang kita keluarkan. Banyak di antara kita yang berusaha keras, untuk menampilkan bentuk baru, bergaya baru dan berusaha untuk menyegarkan penampilan. Hal yang sering kita lupakan , dan sering membuat kita shock adalah kondisi, keadaan dan bahkan siapakah sebenarnya target pasar kita yang baru. Kita sering terkecoh dan berpegang pada kebiasaan berfokus pada para pelanggan, alias pasar kita yang sekarang. Kita lupa bahwa mereka sudah bertumbuh, berkembang, dan bahkan sudah menjadi tua pula. Pasar bisa kita bagi 3. Pasar yang sudah kita kenal dan layani, Pasar yang kita kenal tetapi belum terlayani, tetapi yang lebih penting adalah pasar yang sama sekali baru. Demikian pula dengan teknologi. Kita bisa menggunakan teknologi yang konvensional, dengan menganggap bahwa teknologi lain tidak cocok, atau terlalu mahal. Saat sekarang kitapun perlu sadar, bahwa ada teknologi baru. Untuk yang menemukan pasar baru, dan menguasai teknologi baru, kesempatan tentunya bisa 3 kali lipat, atau bahkan lebih bila dibanding dengan yang konvensional.

Problem Solving

Untuk menjadi inovatif kita tidak bisa sekedar ‘beda’ saja. Menjadi inovatif, dan berproduksi inovasi, akan berongkos mahal. Karenanya kita perlu juga berfikir dulu : masalah apa yang sangat urgen yang harus diselesaikan? Masalah ini harus di definisikan dengan benar. Kita ingat Steve Jobs sekembali ke Apple, mengajukan masalah kepada rekan rekannya, untuk menciptakan produk : “1000 songs in my pocket” yang kemudian menghasilkan i-pod. Tentunya definisi problem yang jenius begini, tidak mudah dibuat orang. Tetapi tanpa kemampuan mendefinisikannya, kita akan ngawur dan membuang enerji. Hanya dengan definisi yang tepat, kemudian kita akan membuat strategi pengembangan yang tepat. Ketrampilan untuk mendefinisikan problem bisa dilatih dengan cara mengajukan berbagai pertanyaan, membuka mata terhadap pola-pola yang ada di sekitar, sering berdiskusi, mengamati gerak para pesaing dan tentu saja berinteraksi dengan pelanggan maupun calon pelanggan. Kehausan untuk terus mencari tahu dan menggali informasi untuk menemukan data-data yang kokoh guna merumuskan masalah sangatlah penting nilainya dalam proses berinovasi. Tentunya hal-hal inipun harus dikombinasikan dengan pijar pikiran yang melampaui batas-batas, kegigihan mencari berbagai alternatif solusi, keberanian mengambil resiko dan kemauan untuk belajar dari jatuh bangunnya usaha. Karena pada akhirnya masalah haruslah diselesaikan dan peluang haruslah diraih untuk membuahkan hasil yang lebih baik.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: