//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

7 Cara Pengasuhan Penyebab Anak Terancam LGBT

Elly Risman

Bicara fenomena LGBT dari sudut pandang pengasuhan menjadi sangat menarik karena hampir semua penderita LGBT mengalami hal yang tidak menyenangkan di masa kecilnya. Apa kata Elly Risman mengenai fenomena LGBT? Bagaimana mencegah anak-anak kita dari jerat LGBT?

1. Orangtua yang Tidak Peduli
Ternyata menurut psikolog spesialis anak lulusan psikologi Universitas Indonesia ini, kebanyakan orang tua abai, kurang peduli, bahkan pingsan terhadap anak-anak mereka sejak merdeka sehingga menyebabkan para anak khususnya anak laki-laki menjadi lemah dalam BMM. Yaitu lemah dalam B yaitu berfikir, lemah dalam M yaitu memilih dan lemah dalam M yaitu Mengambil keputusan.

2. Kurangnya Sosok AYAH
Banyak dari para orang tua yang salah dalam pengasuhan anak laki-laki. Kenapa anak laki-laki? Karena menurut penelitian, otak kiri laki-laki selalu lebih kuat dibanding otak kiri wanita. Namun, sambungan antara otak kanan dan otak kiri pada wanita lebih baik. Sehingga para lelaki sangat mudah fokus pada suatu hal berbeda dengan wanita yang mampu memikirkan banyak hal dalam satu waktu.

Anak laki-laki menjadi banyak yang salah asuh karena kurangnya sosok ayah dalam kehidupannya untuk mengembangkan otak kirinya tersebut. Para ayah biasanya sibuk mencari nafkah sehingga hanya punya waktu untuk keluarga hanya beberapa jam di malam hari dan akhir pekan, itupun kalau tidak ada proyek apapun.

Jika dilihat, semakin modern ini para ayah semakin hilang peran dalam pengasuhan anak. Zaman dahulu, para ayah selalu mengusahakan agar punya banyak waktu dengan keluarga, sebut saja ayah dari Ibu Elly Risman ini. Beliau bekerja tak jauh dari rumah sehingga beliau selalu bisa menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anaknya solat berjamaah di masjid. Semakin kesini, sosok ayah semakin hilang dan tak lain hanya sebatas pencari nafkah, bahkan sang ibu pun banyak yang lebih memilih menjadi wanita karir. Lebih takut tidak punya uang daripada masuk neraka.

3. Anak Lelaki Terlalu Banyak Berinteraksi dengan IBU
Karena ayah tidak hadir, maka yang mendidik si anak laki-laki ini sepenuhnya adalah si ibu. Contohnya saja begini ketika si anak laki-laki masih kecil, si anak ini dijadikan bahan curhatan dan dumelan si ibu terhadap suami nya atau ayah dari si anak tersebut. Pada akhirnya si anak laki-laki ini akan membanding bandingkan sosok ayah nya dengan ayah ayah yg lain.

Belum lagi ketika si anak laki-laki beranjak dewasa. Dikarenakan selalu kemana-mana sama ibu dan kurang ajakan dari si ayah. Misalnya saja ketika menemani si ibu nyalon. Karena si anak laki-laki ini cuma menunggu sambil mondar-mandir tidak jelas, berkatalah si ibu “eh, kamu. daripada mondar-mandir gajelas, sekalian aja krimbath sana atau apa kek biar bersih dikit”. Nah, ini dia salah satu penyebab awal LGBT yang tertanam secara tidak langsung. Jadi siapa yang memulai? siapa yang mengajarkan?

4. Anak Perempuan Kurang Kasih Sayang AYAH
Selanjutnya si anak perempuan. Banyak sekali anak perempuan yang kekuragan pengasuhan sang ayah. Sang ayah pergi di subuh hari menitipkan uang jajan kepada si anak, pergi bekerja kemudian kembali malam hari. Banyak ayah yang mengira tugasnya hanyalah sebatas memberi nafkah untuk belajar si anak kemudian lepas tangan terhadap yang lain.

Kurangnya kasih sayang lawan jenis khususnya sang ayah kepada si anak perempuan ini meskipun hanya dari sekedar pelukan tidak sedikit yang menjadikannya pada akhirnya lebih nyaman mendapat kasih sayang dari sesama jenis.

Bagaimana sebenarnya akibat dari peran ayah yang lepas terhadap anaknya?

Menurut beberapa penelitian atas kurangnya peran sang ayah terhadap anaknya. Hilangnya peran ayah dapat menyebabak anak laki-laki menjadi nakal, agresif, narkoba, dan pada ujungnya seks bebas. Sementara pada anak perempuan akan berdampak depresi, dan selanjutnya seks bebas.

Ingat, peran orangtua sangat vital dalam awal terbentuknya LGBT.

5. Kurang Pemahaman AGAMA
Selanjutnya adalah kurangnya pemahaman agama, atau agama cuma sekedar lewat. Sejak sang ibu melahirkan, maka sang ibu itu sudah disahkan menjadi babbysitter Allah. Sudah merupakan tanggungjawabnya dan tanggungjawab si ayah lah pengasuhan si anak itu. Bukan justru menggunakan jasa babbysitter lain atau malah si nenek dan kakek yang mengasuh.

6. Terlalu Bebas Menggunakan GADGET
Kemudian yang paling umum sekarang adalah para orang tua banyak yang belum begitu paham dengan gadget seperti smartpone, tablet, dan komputer.

Anak laki-laki menjadi sasaran utama dari pornografi dan narkoba. mengapa? karena laki-laki memiliki otak kanan dominan yang lebih mudah fokus, memiliki hormon testosteron atau hormon seks yang lebih, serta penampilan fisik kemaluan yang di luar sehingga lebih mudah di stimulasi menjadikan anak laki-laki sangat mudah terserang pornografi dan narkoba. Dan para orang tua hilang kendali atas semua ini.

Anak laki-laki jaman sekarang ini sudah akil baligh di umur 11-13. Kenapa bisa begitu? Gizinya bagus, namun rangsangan seks nya juga bagus. Dapat dari mana? dari seluruh gadget yang di berikan para orangtua dengan cuma-cuma tanpa pengawasan, dengan mudahnya memberikan gadget bahkan dengan kuota internetnya yang melimpah tanpa pengawasan sedikitpun.

Menurut PBB sendiri berdasarkan survey yang dilakukannya, kota terbesar pengidap HIV/aids di usia 11-19 tahun adalah Bangkok, Jakarta, kemudian disusul oleh Hanoi. Prestasi yang sangat buruk bagi ibukota negara kita. Bahkan di Tarakan, jumlah pengidap aids pada usia anak lebih banyak dibanding pengidap aids dari para pelacur. Sungguh miris.

7. Anak Terpapar PORNOGRAFI
Semuanya berawal dari gadget, dari segala apps yang ada di dalamnya. Segala info dan hal negatif dengan mudah didapatkan anak dari gadget yang diberikan oleh orangtuanya sejak dini. Bahkan mengalahkan segala asuhan orangtuanya. Pada akhirnya orangtua hanya dijadikan sesosok penegak hukum yang dimana didepannya para anak menjadi sosok pribadi yang lain dibanding sosok pribadi aslinya di pergaulannya.

Pornografi masuk melalu mata, kemudian diolah dengan hati. Maka BMM tadi pada anak sangat penting bagi anak. Pada akhirnya merangsang dopamin, menyebabkan ketagihan, sehingga berusaha meniru bahkan mencoba.

Maka orang tua yang santai saja, merasa aman-aman saja dengan gadget dan segala hal yang diberikan kepada anaknya ini lah yang berbahaya.

Dan yang namanya pornografi itu pasti sepaket dengan LGBT. Berawal dari pornografi antar lawan jenis dan berujung pada rasa penasaran terhadap pornografi sesama jenis dan membawa kepada LGBT.

Pada akhirnya yang pertama adalah pulangkan lah sang ayah. Sosok ayah sangat penting, jangan sampai sang ayah hanya memberikan uang kotor yang pada akhirnya digunakan anak untuk mencederai otaknya sendiri. Begitu juga dengan sosok ibu yang merupakan pendidik dan pengajar yang paling utama bagi para anak.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: