//
you're reading...
Creativity, Human being, Leadership, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Respek

Eileen Rachman & Billy Latuputty
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 20 Feb 2016

Dalam suatu pertemuan evaluasi kinerja seseorang dimintai pendapat tentang apa yang harus dikembangkan lagi di dalam timnya. Ia lalu menuliskan hal ini di papan : Respek. Hal itu tidak terfikirkan oleh rekan-rekan setimnya, meskipun mereka terdiri dari para profesional yang cukup mumpuni dan sarat pengalaman di bidangnya. Ketika diskusi berlanjut ternyata banyak orang merasakan kurang adanya respek di dalam tim. Ada pemimpin yang merasa tidak di dengar anak buahnya. Ada juga anak buah yang merasa pendapatnya tidak dihargai dibandingkan bila atasannya yang mengemukakan suatu ide atau pendapat. Bahkan tidak adanya respek ini kemudian berkembang menjadi keengganan untuk menciptakan kekompakan tim. Setelah digali lagi nampaknya ada beberapa alasan yang mendasari kurangnya respek satu sama lain. Ada salah satu anggota tim, yang mengatakan bahwa atasan tidak tegas, tidak menegur perilaku anak buah yang kurang disiplin. Ada juga yang mengatakan bahwa atasan tidak becus, tetapi banyak menuntut. Tidak kurang pula ada anak buah yang merasa bahwa pekerjaannya selalu dianggap tidak sempurna, padahal sang atasan tidak memperjelas standar kesempurnaannya. Belum lagi, keluhan mengenai atasan yang tidak bisa berempati pada waktu, tenaga dan upaya anak buah. Orang yang mendengar diskusi ini langsung bisa memahami mengapa tim ini tidak bisa bekerjasama dengan baik, walaupun semua pihak tahu bahwa satu sama lain saling membutuhkan.

Banyak pimpinan dan pemilik usaha yang tidak bisa mengembangkan sikap respek ke anak buah yang memang dianggap berbeda kemampuan, pengalaman dan juga berbeda kepandaian dengannya. Bisa saja, hal ini disebabkan karena masih berlakunya penerapan prinsip teori X yang dikembangkan di jaman baheula dimana ada anggapan bahwa pada dasarnya orang itu malas, dan perlu dipecut agar produktif. Tetapi ada juga sebenarnya para pimpinan yang tidak ingin bersikap demikian, namun juga tidak tahu cara menyampaikan respek secara pas untuk menumbuhkan sikap dan atmosfir positif di dalam tim.

Respek ibarat jantung hubungan interpersonal

Walaupun bukan suatu istilah yang terlalu sering disebut sebut dalam koordinasi dan komunikasi tim, tetapi respek sebenarnya adalah dasar dari semua ‘event’ interpersonal. Anak kecil akan belajar merasakan respek, ketika ekspresinya direspons, dan didengarkan. Bila hubungan interpersonal digambarkan ibarat sebuah pohon, maka respek bisa kita samakan dengan batang utamanya. Setiap kita berkonflik, memperjelas tujuan, membriefing tugas, apalagi memberi feedback dan menuntut kesempurnaan, kita pasti menyertai pesan pesan kita dengan respek yang halus, bahkan tidak teraga, tetapi efektif. Bila ekspresi tersebut tidak didasari respek, maka biasanya hasilnya tidak optimal. Bisa kita bayangkan, betapa kinerja akan terganggu oleh karena ketiadaan ‘engagement’ di dalam organisasi, yang menurut penelitian Gallup mencapai 77 % , yang disebabkan pesan-pesan yang terkorupsi dengan warna negatif tanpa respek.

Kita sangat mengerti bahwa orang akan bekerja lebih baik, sepenuh hati kalau mereka direspek. Employees respond well to being treated well. Mereka akan bermindset produktif dalam situasi penuh respek. Bahkan di kemiliteran, banyak spanduk spanduk bertuliskan slogan : Take care of your people and they’ll take care of you. Jadi mengapa usaha untuk mewarnai lingkungan kehidupan dengan penuh respek ini tetap terasa sulit? Padahal, kita tahu, bahwa tanpa respek kita tidak bisa mencapai efektivitas. Apakah kita terjebak dalam struktur keorganisasian yang kaku sehingga membatasi kita untuk berelasi secara suportif, bukan sekedar direktif? Struktur mungkin membantu kita untuk bekerja secara tertib dan efisien, namun manusia bisa melesat lebih jauh untuk mewujudkan potensi maksimalnya ketika ia dihargai dan dihormati.

Memandang manusia sebagai : “people of value”

Birokrasi, sikap feodal, yang masih mengkotak kotakkan dan memilah-milah kelompok manusia sering menggiring orang untuk tidak merasa perlu menunjukkan respek. Pejabat yang dielu-elukan, diberi tempat khusus dan terpisah, pada akhirnya terbawa untuk melupakan “harga” orang orang disekitarnya. Pada saat saat ‘terpisah’ begini, banyak orang, pembesar maupun pejabat seakan lupa pada perlunya rasa percaya dan dipercaya, dan menempatkan pendekatan humanis yang tepat. Sikap kemanusiaannya bisa cenderung menipis, bahkan bisa bisa justru tumbuh menjadi sikap ‘kasar’ dan ‘bossy’. Padahal seorang pemimpin bukan hanya harus peduli terhadap pencapaian hasil kelompoknya, tetapi ia perlu menciptakan situasi positif yang memungkinkan tercapainya kinerja dan kerjasama terbaik di dalamnya.

Sebenarnya para manajer, atau pemimpin perlu selalu waspada tentang suasana yang selalu perlu dibuat kondusif ini. Ada beberapa hal yang sebenarnya bisa menjaga keseimbangan ini. Di lingkungan militer, ‘courtesy’ tetap dilakukan secara 360 derajat. Hormat dibalas hormat, salam dibalas salam. Membudayakan kata kata positif seperti “tolong”, “terima kasih”, dan senyuman adalah hal-hal yang kelihatannya sederhana namun memiliki pengaruh nyata dalam tim. Memberikan dukungan dalam penyelesaian pekerjaan, mengapresiasi prestasi, berdiskusi dalam situasi informal, atau menunjukkan minat terhadap sisi pribadi karyawan, adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencairkan kekakuan struktural dan membangun jembatan hubungan, Hal ini penting untuk menjaga sikap para atasan agar selalu mempunyai rasa respek ke bawahan. Di samping itu, unsur diversity dalam suatu lingkungan juga bisa membantu seseorang untuk belajar mengembangkan respek antar manusia dengan lebih cepat dibandingkan jika ia berada dalam kelompok yang terlalu homogen. Pengalaman interaksi dalam keberagaman dapat membangun kebiasaan saling memahami, berempati, serta terbuka terhadap berbagai sudut pandang, Dalam organisasi, upah karyawan yang setara dengan dunia luar juga bisa membantu karyawan untuk merespek dirinya sebagai profesional. Hal inipun dapat membantu membangun atmosfir kelompok. Hal yang juga pasti adalah adanya transparansi dan tidak pandang bulu terhadap penerapan aturan aturan kepegawaian, atau keanggotaan kelompok. Agar anggota tim merasakan perkembangan, kita juga perlu menciptakan peluang bagi setiap orang untuk mengembangkan potensinya. Intinya, ada banyak jalan yang dapat ditempuh untuk membangun hubungan yang didasari respek, Andapun bisa memulainya, sekarang.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: