//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #61

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Nampaknya memang sulit memahamkan para pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini bahwa pendidikan adalah upaya membangkitkan INSIDE OUT potensi kodrat atau fitrah, baik kodrat manusia (bakat, nalar, spiritual, moral), kodrat alam (local advantage, bio diversity dll) maupun kodrat kehidupan (local wisdom, social reality dll) dan sistem kehidupan atau agama yang diyakini.

Dengan membangkitkan semua potensi fitrah atau kodrat itu, pendidikan akan mampu membawa individu atau lokal menjadi berdaya dan mandiri menuju peran peradaban dan misi penciptaan baik individual maupun komunal.

Kehebatan seseorang atau sebuah bangsa itu bukan ditempuh dengan meniru kehebatan oranglain atau kehebatan bangsa lain, namun tumbuh selaras sesuai potensi keunikan atau kodrat bangsa itu.

Ketika sistem pendidikan didikte oleh kekuasaan, maka kita bisa lihat hasilnya. Ketahuilah bahwa pusat kekuasaan selalu tampil dengan tabiat OUTSIDE IN, yaitu mendominasi, mengintervensi, melakukan penjejalan, penyeragaman, mendikte, memasang target output penguasaan konten agar mudah terukur, selalu menganggap rakyat sebagai individu maupun komunitas terbelakang dan kosong dll akibatnya adalah hasil yang jauh dari manfaat yang berkelanjutan.

Wujudnya dalam praksis pendidikan ya menyebalkan, misalnya sains diukur dari banyaknya hafalan rumus bukan gairah meneliti (mubasyaroh), bakat diukur sebagai kumpulan ekskul fisik bukan kompetensi inti berbasis potensi, literacy diukur dari target jumlah membaca buku per minggu bukan gairah belajar dan berkreasi dan berkarya, shalih diukur dari banyaknya konten agama yang dikuasai bukan amal shalih, kearifan lokal diukur dari kesenian dan bahasa daerah yang dipelajari bukan dari kemampuan menggali potensi lokal untuk kemandirian lokal, program hijau diukur dari jumlah pohon yang ditanam serta piala bukan dari budaya hidup hijau dan ramah bagi bumi, dstnya.

Dengan begitu, maka hasil dari model persekolahan modern ini juga sangat tidak produktif dan kontradiktif dengan kodrat manusia, alam dan kehidupan serta sistem hidup atau agama diciptakan Tuhan.

Lihatlah sistem persekolahan membuat desa desa dan keluarga keluarga menjadi sangat tergantung, tidak mandiri bahkan sangat konsumtif. Justru desa desa yang murni atau keluarga yang tercerahkan, yang di dalamnya tanpa sekolah lebih mampu mandiri secara berkelanjutan daripada desa desa atau keluaega keluarga yang sudah kemasukan dan kecanduan sistem persekolahan.

Karena idea nya adalah pemusatan, maka persekolahan modern melahirkan mindset kekuasaan. Semua bisa diatur dan dibeli oleh kekuasaan. Pusat kekuasaan menjadi orientasi anak anak desa maupun anak kota. Cita cita bekerja dengan penghasilan besar di kota besar menjadi cita cita semua anak anak di dalam keluarga baik di kota maupun di desa desa. Alam fikiran, nalar, logika seolah telah diseragamkan menuju penjajahan dan perbudakan modern.

Penjajahan modern dimulai dari penjajahan pemikiran, dan itu dimulai di sekolah sekolah melalui penyeragaman cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak yang tidak relevan, robotik dan tanpa empati.

Berbagai program pendidikan menjauhkan anak dari akar dirinya, akar alamnya, akar kehidupan dan kearifan lokalnya serta akar agamanya. Misalnya program mengajar ke desa atau mengirim guru ke daerah hanya melahirkan anak desa yang semakin besar hasrat meninggalkan desanya dstnya.

Persekolahan membuat daerah tertinggal sudah pasti akan semakin ditinggalkan oleh anak cucunya. Semakin banyak desa ditinggalkan dan tidak mandiri maka dipastikan bangsa itu diambang semua kehancuran.

Akhirnya, disadari atau tidak bahwa sepanjang sekolah tidak digali dari dan tidak relevan pada fitrah manusia (bakat, nalar, moral, spiritual), pada fitrah alam, pada akar kearifan lokal dan realitas sosial, pada akar agama di komunitas dimana sekolah itu ada, maka sesungguhnya sekolah hanyalah ruang kosong yang berisi konten konten artifisial buatan pusat kekuasaan, yang tidak mengakar kemana mana dan tidak bermanfaat apa apa.

Persekolahan yang tidak mengakar kepada kodrat masyarakat dan kearifan serta keyakinan sekitarnya, adalah ruang terbuka untuk menjadi tunggangan kepentingan politis dan ideologis siapapun. Siapapun yang berkuasa bisa mendoktrin konten politis dan ideologis maupun bisnis semata.

Kerangka dan praksis pendidikan yang tidak digali dari jatidiri tiap individu maupun akar komunitas dan kearifan lokalitas hanyalah menggiring keluarga, desa dan lokalitas menjadi obyek perbudakan semata yang tidak berdaya. Sesungguhnya agama yang fitri datang bukan untuk melibas kodrat individual dan kodrat komunal, namun datang untuk menyempurnakan akhlak semua potensi itu dengan nilai nilai yang juga fitri.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬
#‎pendidikanberbasisfitrah‬‬‬‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: