//
you're reading...
Creativity, Motivasi, Perubahan, Review

“A Frame “, Bingkai dalam Pikiran” sebagai Wahana Inovasi”

Jusman Syafii Djamal
20 Februari 2016

Albert Einstein pernah bilang begini ” Jika aku diberi waktu satu jam untuk memecahkan masalah dan hidupku tergantung solusi, aku akan gunakan lima puluh lima menit untuk temukan pertanyaan yang tepat”.

Sebab pertanyaan yang tepat adalah inti atau core dari tiap solusi. Tiap pertanyaan yang baik membimbing kita bangun framework” . Tiap bingkai adalah wahana utama dan penting bagi daya imajinasi.

Melalui framework yang tepat sederetan pilihan ruang solusi terbuka luas. Persoalan menjadi terang benderang.

Melalui framework ada alat untuk membedakan mana yang didalam bingkai persoalan mana yang tidak. Mana ranting, daun dan batang mana akar masalah.

Seorang “fotographer” memiliki pemahaman tentang makna frame. Mereka dilatih ribuan potret untuk membangun frame dalam kepala ketika bertemu object foto.

Setiap tempat dan posisi telah melatih mereka untuk memusatkan perhatian pada object foto yang melahirkan keindahan. Frame menjadi focus utama dan langkah awal bekerja membangun keindahan solusi.

Ketika Forrest Glick, seorang fotografer membuka workshop fotografi di dekat Fallen Leaf Lake di California, ia menunjukkan kepada para peserta bagaimana tatacara melihat adegan dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Framing dan reframing untuk memotret sebuah objek dilatih dan diikembangkan sebagai dasar dari seni foto.

Dia meminta para peserta untuk mengambil gambar “wide-angle” untuk menangkap seluruh adegan yang mengalir didepan mata.

Ia meminta para peserta mengambil foto pohon-pohon dekat pantai. Forrest kemudian meminta peserta membawa fokus kamera berubah ubah, dekat dan jauh, mengatur diafragma yg mengatur cahaya masuk.

Objek dipotret lebih dekat hingga ketingkat mikroskopik. Para calon fotographer diminta ambil gambar dari bunga liar yang tunggal, atau kelopak bunga. Dekati dan fokus pada rincian keindahannya.

Dia menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengubah perspektif setiap saat dengan mengatur frame, bahkan tanpa berpindah tempat..

“Dengan hanya menggeser bidang pandang ke atas atau bawah, atau berputar kekiri atau kanan, Melalui latihan tak kenal henti, terus menerus setiap calon diasah menguasai seni mengembangkan “bingkai” dari objek.

Tentu saja, jika teknik ini dibarengi dengan keahlian menemukan posisi strategis dengan berjalan ke sisi lain dari danau, naik ke atas salah satu puncak, atau mengambil perahu ke air,

Kemampuan untuk menggeser frame lebih meningkat.

Seni menemukan posisi terbaik ini yang oleh Sun Tzu seorang ahli perang China disebut sebagai Shih.

Sebuah contoh klasik dari tatacara memahami makna framing and reframing dapat dilihat dari sebuah film dokumenter tahun 1968 berjudul “Powers of Ten”.

Kekuatan menakjubkan dari pembesaran atau pengecilan sudut pandang sebesar sepuluh kali.

Filem mini ditulis dan disutradarai oleh Ray and Charles Eames.

Karya ini dapat dilihat secara online, menggambarkan alam semesta dalam faktor sepuluh: ”

Melalui filem itu kita seolah piknik di tepi danau di Chicago,. Film terkenal ini membawa kita ke tepi luar alam semesta melalui sebuah telescope.

Setiap sepuluh detik kita melihat titik awal dari objek yang sepuluh kali lebih jauh sampai galaksi kita sendiri terlihat sebagai sebuah setitik cahaya di antara banyak titik lainnya.

Kemudian kita lembali ke memutar arah telescope ke bumi dengan kecepatan yang menakjubkan.

Kita bergerak ke angka pembesaran objek sepuluh kali lebih besar dari sebelumnya. Sampai kemudian focus menunju ke dalam-tangan seorang turis yang tertidur dipinggir pantai dengan sepuluh kali perbesaran setiap sepuluh detik.

Perjalanan telescope berakhir ketika berhasil memotret sebuah proton dari atom karbon dalam molekul DNA yang tersmbunyi sel darah putih, dari tangan turis yang tertidur itu.

Dengan kata lain file mini memperlihatkan kemampuan fikiran manusia untuk memperbesar dan melipat gandakan ruang solusi persoalan yang dihadapi atau meperkecil ruang itu.

Bagi Leadership pendorong inovasi, diperlukan Keahlian membangun macro view, Helicopter View yg dikombinasikan dengan kesabaran untuk mencermati microscopic view yg dikembangkan para staff.

Solusi yg indah ketemu hanya dengan merubah Frame atau Reframing our mind and soul ”

Semoga bermanfaat. Salam

Excerpt From: Tina Seelig. “inGenius.”

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: