//
you're reading...
Human being, Information Technology, Kajian, Life style, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Ketika seorang digital immigrant memandang dunianya saat ini…

Lukito Edi Nugroho
Lecturer – UGM
February 16, 2016

Dengan bertambahnya usia, kadang saya berpikir, capek juga ternyata mengikuti gaya hidup jaman sekarang yang dicirikan dengan perkembangan teknologi dan dinamika yang sangat cepat. Saya tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sebagai seorang ‘digital immigrant’ yang lahir dan besar pada jaman pra-digital dan sekarang ikut “menumpang hidup” pada jaman teknologi informasi, saya punya cara pandang sendiri yang mungkin dianggap kuno oleh anak-anak ‘digital native’ yang ibaratnya saat lahirpun sudah memegang gadget. Meskipun demikian, para digital immigrant punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh para digital native: wisdom yang diperoleh dari pengalaman hidup. Ternyata ada hal-hal menarik dari dunia digital yang bisa diteropong dari kacamata wisdom ini.

Kemudahan mengakses informasi memang memberikan kekuatan yang luar biasa, tapi yang mungkin tidak kita sadari adalah bahwa kita terekspos oleh arus informasi yang luar biasa deras. Ibarat sedang mengamati rangkaian gambar, kita menyaksikan sekuens dengan frame rate yang tinggi, sehingga menyulitkan untuk mencerna dan meresapi gambar-gambar tersebut. Efek negatifnya segera terlihat: kegagapan dalam mengelola informasi yang berujung pada tindakan-tindakan yang tidak bijaksana. Salah satu contohnya adalah kebiasaan membagi berita secara spontan tanpa melakukan cross-check, yang kita semua tahu sering berujung pada kekisruhan.

Ritme pengolahan informasi yang begitu tinggi juga menyebabkan proses context-switching (berpindah dari satu urusan ke urusan lain) berlangsung dengan frekuensi yang tinggi. Salah satu efek sampingnya adalah pikiran dipaksa untuk sering berganti topik, membuatnya menjadi sulit untuk berkonsentrasi pada selang waktu yang cukup lama. Salah satu buktinya adalah banyak anak sekarang sulit untuk fokus pada hal-hal yang memerlukan perhatian dalam jangka waktu lama (belajar, misalnya).

Potensi problem serius lain yang bisa muncul adalah ketidakmampuan orang sekarang untuk merefleksikan dan mengendapkan informasi yang diterima sehingga terinternalisasi di dalam dirinya. Proses refleksi dan internalisasi memerlukan waktu dan konsentrasi perhatian, tidak bisa dilakukan jika indra dan pikiran selalu sibuk menerima dan memroses informasi dengan laju yang begitu tinggi. Ketidakmampuan melakukan kedua hal ini membuat seseorang tidak bisa membangun akar yang kuat bagi pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikirannya. Yang muncul kemudian adalah pandangan dan pemikiran yang superfisial, yang mudah dipatahkan atau hanyut dalam arus pandangan/pemikiran lain yang lebih dominan. Saya kadang bertanya kepada mahasiswa tingkat akhir tentang rencana mereka setelah lulus, dan banyak di antara mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Entahlah, mungkin mereka belum punya pandangan yang mantap tentang sesuatu yang seharusnya sudah mereka pahami sejak dini.

Digital immigrant tidak mengalami situasi-situasi seperti di atas karena stimulus eksternal yang diterima tidak terlalu banyak. Pada jaman mereka tidak ada Facebook, Google, Youtube, dan sebagainya. Tidak ada gadget dan koneksi Internet. Sama seperti anak-anak digital native, mereka juga menonton tv, mendengarkan radio, atau membaca koran — semuanya adalah aktivitas yang menyerap informasi, tetapi mereka melakukannya dalam irama yang jauh lebih lambat. Mereka jadi punya cukup waktu untuk mencerna apa yang mereka tangkap. Mereka punya kesempatan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, kemudian memilih yang sesuai, lalu menginternalisasikannya. Untuk bisa melakukan apa yang dijalani oleh digital immigrant jaman dulu, kita perlu punya filter dan kemampuan untuk memperlambat ‘frame rate’ informasi yang diterima oleh indranya. Berikan jeda dan kesempatan bagi pikiran untuk mengolah informasi yang masuk. Caranya bagaimana? Cobalah jalani hidup seperti seorang digital immigrant. Jauhkan komputer dan gadget saat melakukan aktivitas yang memang tidak memerlukan alat-alat tersebut. Kalau lagi makan, yang diperhatikan itu piring dan isinya, bukan smartphone. Kalau lagi tidur, peluklah guling, bukan HP. Begitu ada waktu luang (tidak sedang melakukan aktivitas apapun, termasuk menggunakan komputer dan gadget), akan lebih mudah untuk meresapi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah bisa dipikirkan secara lebih mendalam.

Konektivitas ke Internet juga membuat siapapun mudah mendapatkan informasi yang diinginkan. Kemudahan-kemudahan yang datang silih berganti, disadari atau tidak, dapat melemahkan semangat juang yang amat diperlukan saat menghadapi kesulitan. Saat kuliah dulu, saya pernah pergi ke Bandung khusus untuk berburu buku fotokopian yang terkait dengan tugas yang sedang saya kerjakan. Kebiasaan saat itu, jika kita kesulitan tentang suatu hal, kita harus menunjukkan usaha maksimal sebelum boleh bertanya pada orang yang lebih ahli. Umpatan RTFM! (read the f***ing manual) umum sekali terdengar jika ada orang yang bertanya sesuatu tapi malas membaca buku petunjuk atau referensi yang ada. Jika kebiasaan jaman dulu tersebut diterapkan pada jaman sekarang, bisa-bisa tiap saat kita mendengar umpatan RTFM karena banyaknya orang yang tidak mau bersusah-susah berusaha dulu sebelum menanyakannya pada orang lain.

Pertanyaannya, salahkah sikap gampang bertanya tersebut? Mungkin tidak, karena sepertinya anak-anak sekarang mudah sekali bertanya tanpa sebelumnya melakukan eksplorasi terlebih dahulu. Meski demikian, saya pribadi merasa jika kita bisa mendapatkan solusi dari usaha kita sendiri, mengapa harus merepotkan orang lain? Menjadi resourceful (tahu ke mana harus mencari solusi) itu sebuah ketrampilan yang penting pada abad ke-21. Ketrampilan ini dibangun dengan dua unsur utama: kemauan untuk berusaha dan kemampuan untuk mengeksplorasi area-area yang berpotensi memunculkan solusi yang dicari. Contoh sederhana: apa yang terjadi saat kita memerlukan banyak referensi untuk penelitian, sementara tidak ada dukungan kepustakaan yang memadai? Orang yang resourceful pasti memilih untuk tidak menyerah. Ia bisa mengeksplorasi web melalui berbagai teknik dan tool pencarian, menghubungi para ahli untuk mendapatkan paper mereka, meminta bantuan teman yang sedang sekolah di LN untuk mengunduh paper-paper yang diperlukan, atau menggunakan jaringan Sci-Hub yang menghebohkan itu. Bukankah ada kepuasan tersendiri ketika usaha kita membuahkan hasil seperti yang kita inginkan?

Dalam mencari penyelesaian berbagai problem, kita sering kali mengeluh tidak punya sumber daya yang diperlukan. Nampaknya dalam jaman jejaring serba terhubung, pemikiran “aku harus memiliki sumber daya sendiri untuk bisa menyelesaikan problem-problemku” perlu dirombak. Sumber daya tidak harus berasal dari kita sendiri. Kita bisa mendapatkannya dari pihak-pihak di sekitar, kadang bahkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Kuncinya adalah kemampuan untuk memanfaatkan peluang melalui peran hub (penghubung). Singkat kata, dengan kemampuan ini kita bisa mengidentifikasi sisi demand dan sisi supply, serta menghubungkannya sehingga terbangun sebuah rantai relasi yang memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat, termasuk kita. Ilustrasi sederhana: saya dimintai bantuan dana oleh teman saya (si X) untuk membiayai sekolah anaknya, si Y, yang kebetulan pandai bermain musik. Sayangnya saya sendiri tidak punya uang. Kebetulan saya kenal teman saya yang lain, si Z, yang sedang mencarikan guru musik bagi anaknya. Apa yang bisa saya lakukan? Saya akan menghubungi Z bahwa saya kenal dengan Y yang bisa menjadi guru musik bagi anaknya Z. Dengan Y mengajar musik, maka kebutuhan biaya sekolahnya bisa terpenuhi dari honor mengajarnya. Siapa yang senang? Tentu saja X, Y, Z, dan saya.

Di sekitar kita banyak sekali terjadi situasi seperti contoh di atas. Agar kita dapat mengidentifikasi pihak-pihak yang memerlukan dan pihak-pihak yang bisa menyediakan apa yang diperlukan, perlu kemampuan untuk memotret jejaring di sekitar kita. Semakin luas jejaring kita, semakin besar potensi kita untuk mendapatkan sumber daya yang kita perlukan. Syarat kedua tentu saja adalah kemampuan komunikasi yang baik, dan tentu saja tidak hanya komunikasi di dunia maya. Pergaulan di dunia nyata sangat penting karena selalu ada titik-titik komunikasi kritis yang hanya bisa dijalankan di dunia nyata. Dalam contoh di atas misalnya, bagaimana saya bisa meyakinkan Z untuk memilih Y sebagai guru musik dan bukan mengambil guru musik profesional? Tanpa interaksi ketemu langsung atau setidaknya pembicaraan via telpon, rasanya misi itu tidak akan berhasil. Moral of the story: meskipun sekarang jamannya Internet, tetapi interaksi fisik di dunia nyata tetaplah penting.

(Ahh…saya jadi merindukan dunia saya yang dulu…)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: