//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Motivasi, Perubahan

Industriawan Indonesia Harus Tangguh Segala Cuaca

Jusman Syafii Djamal
10 Februari 2016

Dalam sejarah, kita baru kali ini menghadapi situasi yang amat menarik dan menantang kemampuan berfikir dan daya inovasi yang dimiliki para industriawan dan entrepreneur. 

Kita kini berada dalam pasar global. Persaingan sangat ketat. Cita cita untuk melahirkan industri Nasional yang tangguh kini banyak tantangan. 

Tekad agar mampu menciptakan lapangan kerja, juga banyak ujiannya.

Dalam pasar yang terbuka, kini Produk Made in Indonesia, yakni roduk yang dibuat di bumi Indonesia oleh perusahaan dengan saham mayoritas Indonesia dan pekerja mayoritas Indonesia harus mampu bersaing dengan siapapun juga. 

Dan itu tidak mudah. 

Sebab semua investasi yang telah dikembangkan bertahun tahun untuk mendapatkan kepercayaan pasar, kini dapat hancur dalam sekejap. Digerus oleh produk sejenis yang masuk dari Negara lain tanpa bea masuk. 

Semua produk ciptaan Bangsa Indonesa dapat berantakan di pasar karena kalah cepat. Kalah harga. Dan kalah Kualitas. Pelanggan setia kini juga hilang, 

Ditengah arus produk berharga murah mudah diperoleh, pelanggan kini bisa memilih seenak hatinya. Asal harga terjangkau tak peduli buatan Indonesia atau buatan orang lain.

Apalagi kini kita seolah terpaksa memiliki kebijakan perdagangan yang sangat pro pasar dan cenderung amat liberal. 

WTO dan MEA seolah telah membelenggu para pengambil kebijakan politik kita untuk pro Produk Dalam Negeri. 

Kini nasib industri dalam negeri mirip seperti pemain sepak bola PSMS Medan ketika Nobon, Tumsila dan Roni Pasla masih bermain. 

Diatas Kertas menang terus. Tapi dilapangan sepak bola kalah dari Persija ataupun Persebaya. Wasit, Penonton dan Manager ini karena bola bundar. 

Paradigma Free Trade memaksa kita untuk memiliki pendapat seragam yakni Produk dalam negeri tak perlu dilindungi lagi. 

Sebab untuk apa dilindungi toh yang rugi nantinya konsumen. Jika pasar dibuka seluas luasnya pastilah pasokan akan semakin banyak dan harga akibatnya menjadi lebih murah. 

Dengan kata lain kalau ada perusahaan penanaman modal asing hengkang dari Indonesia , semua koor ini bukanlah soal yang besar. Yang utama barangnya ada tidak dipasar. Industri yang kalah bersaing normal tutup. 

Pandangan global ini menyebabkan kita lupa persfektip lokal. 

Tak banyak orang memikirkan produk lokal seperti kain tenun ikat, songket, batik tulis maupun segala jenis produk industri yang dihasilkan dari dalam negeri. 

Tak banyak yang berfikir bahwa Indonesia memiliki Industri Kereta Api INKA yang sudah mampu mengekspor gerbong dan lokomotip ke Kuala Lumpur ataupun Bangladesh. 

Tak banyak juga kita yang berfikir bahwa di Indonesia telah tumbuh pabrik karoseri bis, truk dan suv yang berkualitas dunia. 

Semua berfikir itukan cuma industri tukang jait dan kerjanya hanya merakit saja. Toh komponen dan bahan baku semuanya masih import dan menyerap devisa. 

Lupa bahwa industri itu dulu tumbuh atas dasar kebijakan Pemerintah yang mengedepankan pendekatan “substitusi import”. 

Mengurangi import dengan sebagian pekerjaan dipindahkan ke Indonesia. Transfer of Jobs and Know How before transfer of technology and industry. 

Semua kran import produk jadi kini dibuka luas. Yang tinggal di Indonesia kini hanya delivery center.

Kini semua berfikir bahwa No Policy in Industrial and Free Trade Policy are good policy. 

Tanpa kebijakan untuk melindungi industri dalam negeri adalah langkah yang baik dan benar. 

Kini Industri Nasionl harus tumbuh dengan kekuatan sendiri. Lupakan segala jenis insentip fiskal maupun moneter. Situasi global sedang sukar. 

Jadi kemampuan survival harus muncul dari diri sendiri. Tak mungkin diciptakan oleh kebijakan pemerintah.

Apalagi kini alasan nyata Masyarakat Ekonomi Asean sudah dicanangkan. Meski perjanjian itu tidak “binding” melainkan “voluntarily”. 

Kini semua produk boleh masuk dari sendok garpu, piring, celana dalam,segala jenis baju , segala kain atau batik printing, hingga capital goods seperti permesinan dan barang modal lainnya. 

Indonesia kini adalah pasar terbuka.

Untuk tumbuh berkembang jadi industriawan kini bukan soal mudah lagi. Harus benar benar bisa merangkak dari bawah. Seperti kerakap tumbuh dibatu. 

Semua industriawan kini harus berputar otak tujuh keliling. 

Mewujutkan Visi Presiden Jokowi untuk jadi tuan rumah di negeri sendiri dan memiliki kemampuan berdiri diatas kaki sendiri bukan soal yang mudah. 

Perlu sinergi dari semua elemen bangsa,

Sebab kalau orang seorang, kini cari modal kerja dan modal untuk bangun industri juga tidak mudah lagi. 

Suku bunga masih lebih tinggi. Cost of capital masih tinggi. Dan biaya untuk memproduksi barang di Indonesia termasuk tidak murah lagi. 

Meski begitu tekad untuk membangun kekuatan inovasi dan daya saing tidak boleh pudar. 

Sebab Hanya Industri yang tangguh yang mampu menjadi bumper pencipta lapangan kerja bagi generasi muda yang baru lulus sekolah. 

Untuk kelangsungan hidup suatu Bangsa diperlukan generasi muda yang tangguh dan serba bisa. Dan kita tidak boleh pesimis. 

Bangsa Indonesia pasti survive. Kita Optimis Semua dapat diatasi.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: