//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kemandirian, Perubahan, Review

Landskap Ekonomi berubah ? Transformasi diperlukan ; Food for Thought

Jusman Syafii Djamal
Feb 5, 2016

Kini Landskap Ekonomi berubah tanpa disadari. Harga Minyak turun ke level 30 dollar perbarrel, yang tak pernah terjadi begitu cepat dalam sejarah ekonomi dunia. Negara yang tumbuh karena produksi minyak kini mengalami krisis. China yang tadinya tumbuh cepat tiba tiba melambat. Dollar terus saja perkasa. Teknologi “internet of things” kini merombak dan memporak porandakan semua model bisnis masa lalu.

Ekonomi tumbuh atau tidak disatu wilayah biasanya mudah dirasakan, tak mudah diukur. Sebab biasanya ekonomi makro memerlukan indikator yang terukur berdasarkan angka statistik. Tiap statistik memerlukan metode. Paling tidak harus ada waktu untuk lakukan survey. Sementara di lapangan, perubahan capat terjadi.

Salah satu indikator ekonomi adalah inflasi. Rakyat merasakan inflasi jika uang dikantong yang biasanya cukup satu bulan, kini hanya mampu bertahan tiga minggu. Semua ongkos naik. Indikator lain yang mudah dicerna oleh perusahaan adalah “cash flow”. Dulu penjualan mudah, kini revenue menyusut karena barang yang ada dipasar lambat terjual. Pasar dirasakan lesu atau menyempit, produk terus mengalir, terjadi penumpukan digudang, biaya penyimpanan meningkat. Ongkos naik. Pendapatan nyusut. Bleeding.

Semua indikator yang dirasakan oleh ekonomi rumah tangga dan ekonomi perusahaan biasanya sukar dicerna oleh ekonomi makro. Ekonomi makro selalu mengatakan inflasi rendah dibawah 3 %. Akan tetapi dipasar harga daging, harga susu , harga telur ayam, harga sayur meningkat terus. Kenaikan harga kebutuhan pokok kadangkala tidak cepat terdeteksi oleh tatacara ilmiah kita dalam menghitung angka inflasi. Ibu ibu rumah tangga kebingunan, di TV ada penjelasan inflasi rendah, kalau dipasar dompet cepat terkuras. Karenanya kadangkala kita kaget kok tiba tiba ada PHK di perusahaan. ??

Banyak alasan perusahaan untuk lakukan PHK, atau pemutusan hubungan kerja. Pengalaman saya ketika tahun 1998 jadi Ketua Tim Implementasi Retrukturisasi IPTN salah satu sebabnya ketika itu adalah karena krisis ekonomi Asia. Dollar menguat, nilai rupiah anjlok. IMF datang, kredit dan dukungan dana ke perusahaan di stop. Sementara perusahaan sedang dalam tahap menanam investasi pada pengembangan produk baru. Dukungan dana menyempit, uang masuk merosot. Arus kas lancar kering. Bleeding. Biaya jauh lebih besar dari Revenu. Dengan kata lain langkah efisiensi diperlukan.

Merujuk pada pengalaman pribadi dimana saya ‘terpaksa” ditransform oleh Presiden Habibie atas usul Mas Hari laksono selaku Dirut, ketika itu dari tupoksi Direktur Helikopter, Sistem Senjata dan Sistem Antariksa kemudian mendapat tugas sebagai Direktur Sumber Daya Manusia untuk melakukan program restrukturisasi perusahaan. Maka ada tiga langkah Perusahaan yang dilanda krisis ekonomi.

Ketika Cash flow dan Neraca kurang mendukung operasi. Dan bleeding terus menerus terjadi tiap bulannya, maka tidak ada jalan lain kecuali melakukan perombakan atas model bisnis dan mata rantai nilai tambah serta mata rantai pasokan dalam proses produksi barang dan jasa. Disebut Program Restrukturisasi Perusahaan. Tujuannya jelas Hentikan Bleeding atau pendarahan pada Cashflow, Tingkatkan Efisiensi dam Temukan Pasar dan produk baru.

Ada tiga ujung tombak yakni Pertama adalah Reorientasi Business. Meninjau kembali arah bisnis perusahaan untuk menelisik celah pasar yang mampu menjadi sumber mata air Revenu baru. Memutar arah bisnis produk diperlukan.

Biasanya langkah Reorientasi Bussiness akan diikuti oleh langkah kedua yakni Delayering Organization, memotong mata rantai proses pengambilan keputusan yang berbelit dan sentralistik menjadi terdesentralisasi. Merubah orgnaisasi kapal induk menjadi ratusan organisasi speed boat. Delayering Organization ini ditujukan untuk mendekatkan unit bisnis dengan celah pasar yang baru.

Baru kemudian diikuti dengan langkah pamungkas ketiga dan terakhir yakni yang bahasa akademisnya disebut dengan istilah Right Sizing ManPower. Dilangkah ketiga ini yang terjadi adalah perampingan baik volume pekerjaan maupun jumlah pekerja. Right Sizing berarti membangun kompetensi baru, layer pengambilan keputusan baru, organisasi baru.

Rumus sederhananya DEE, Decentralize, Empowerment and Enabling Process. Membuat tiap Job memiliki Value baru, tiap Job memiliki title tersendiri dan tiap Job memiliki hirarki berbeda. Dalam proses ini kadangkala meski pahit perlu ada langkah Pemutusan Hubungan Kerja. Metodenya bermacam macam sesuai dengan ketentuan berlaku.

Ketiga langkah Restrukturisasi ini sering disebut proses Transformasi Perusahaan. Merubah mindset dan paradigma business perusahaan serta orientasi business perusahaan. Sebab semua orang yang belajar ekonomi baik macro economy maupun micro economy pastilah mengenal arti “Business Cycle” yang mengenal istilah Embryonics phase, production phase, saturated phase. Growth, Stagnation and Declining.

Produk masuk kepasar, penetrasi untuk dominan dan menguasai pasar, terlalu lama dominan muncul teknologi baru dan pemain baru, lahir proses kekadaluarsaan dan produk tenggelam kalah bersaing. Dengan kata lain tiap siklus bisnis memerlukan langkah transformasi. Tiap perusahaan memiliki DNA masing masing untuk tumbuh berkembang dalam sikulus bisnisnya. Ada perusahaan yang tiap 3 tahun harus transform. Ada perusahaan yang punya waktu putar arah tiap lima tahun, ada yang sepuluh tahun.

Seorang Profesor Charles H Fine di MIT yang mengajar Business Transformation menulis buku tentang ini berjudul Clock Speed. Dalam bukunya CLOCKSPEEED: Winning Industry Control in the Age of Temporary Advantage by Charles H. Fine (Perseus Books, 272 pages) Prof. Fine menganalogikan perubahan produk dan perubahan akibat kekadaluarsaan dalam perusahaan dengan perubahan prosessor penggerak “power of calculation” komputer.

Perubahan processor dari pentium II, ke pentium III hingga dual core computer mempengaruhi daya kompetisi komputer. Begitu juga perusahaan. Yang lambat dalam menciptakan produk baru, proses baru dan model bisnis baru pastilah akan ketinggalan dilindas perubahan zaman.

Kecepatan Putaran Jam sebuah proses produksi, mata rantai produksi, pengembangan produk baru dan juga life cycle suatu unit atau perusahaan. Ahli ekonomi makro Schumpeter tahun 1930 mengenalkan terminologi “creative Destruction”, proses yang terjadi untuk menyesuaikan bangun organisasi perusahaan atau landskap ekonomi karena lahirnya cara cara baru dalam proses produksi, model bisnis dan juga perkembangan teknologi. Tiap creative destruction melahirkan proses efisiensi dan produktivitas model baru.

Dengan kata lain jika ada terjadi PHK sebagai pengamat kebijakan ekonomi makro sebaiknya kita tidak boleh menganggap ini peristiwa biasa. Per;u ada kajian. Sebab jangan jangan ini menunjukkan ada kebijakan ekonomi yang mempercepat proses ke kadaluarsaan perusahaan atau industri di Indonesia sehingga mereka tak mampu bertahan hidup disini.

Seperti juga ketika seorang ahli kegempaan dan Gunung Api seperti Mbah Surono pemahaman yang mendalam tentang Gunung Api memnyebabkan ia menggunakan indikator yang kasat mata.

Ketika disuatu daerah gunung api beliau melihat segala jenis binatang, baik burung, kijang, harimau ataupun gajah mulai menunjukkan tanda tanda gelisah dan melakukan proses migrasi atau pindah tempat. Pastilah ia tidak lagi mencoba mengejar burung, monyet atau rusa berlarian dan bertanya kenapa berlari dan pindah tempat. Ilmu weruh sadurunge winarah, akibat jam terbang dalam menghadapi krisis gunung api menyebabkan ia memprediksi kapan gempa dan gunung api akan terjadi.

Dengan kata lain tak perlu lagi kita bingung hadapi berita tentang PHK. Tetapi yang utama gunakan info tentang PHK ini untuk menjejaki dan mengevaluasi langkah yang diambil. Apa penyebab PHK pastilah jelas. Lnadskap bisnis berubah. Ada perpindahan dan pergeseran lempeng tempat ekosistem perusahaan yang menyebabkan terjadinya fenomena Besar pasak dari Tiang. Biaya lebih besar dari Revenue. Ongkos lebih gede dari penjualan. Kas mengecil, kemampuan bayar menurun. Mengapa ?

Bisa saja karena suku bunga pinjaman meningkat terus ? Mungkin saja karena impor barang setengah jadi lebih tinggi biaya dibanding impor produk jadi ? bisa saja karena ada tambahan beban pajak dalam setiap mata rantai proses produksi yang terus meningkat. Atau jika ada perusahaan berbasis ekspor, mungkin saja karena biaya ekspor atau larangan ekspor yang dikenakan tanpa pandang segmen dan kondisi perusahaan.Banyak faktor yang menyebabkan suatu fenomena. Yang diperlukan langkah antisipasi. Agar Tekad Presiden Jokowi yang menginginkan Ekonomi Indonesia terus tumbuh diatas 5 % bakal terwujut dalam lima tahun ini.

Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: