//
you're reading...
Human being, Kajian, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Mengapa Memanjakan Anak itu Bukanlah Cara Mendidik yang Baik dan Benar…

Dewi Utama Fayza

Sangat penting untuk diketahui orangtua dan guru!
Mengapa Memanjakan Anak itu Bukanlah Cara Mendidik yang Baik dan Benar……

Orang tua dan guru harus mengetahui tenaga endogen dari dalam diri anak. Dapat menyesuaikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan keadaan si anak.

Bagi pendidik atau orang tua memahami soal tenaga endogen dari dalam diri anak (endogen) adalah sangat penting. Banyak sekali guru-guru yang merasa kesal melihat muridnya melakukan sesuatu tidak seperti yang diingini oleh guru. Guru lalu mengeluh dan menyesali si anak padahal si guru kurang memperhatikan tenaga endogen dari dalam diri anak yang begitu dahsyat. Sementara tenaga eksogen sebagian besar terletak dalam masyarakat sendiri dan sebagian kecil dari dalam keluarga si anak.

Dr. Maria Montesori, menceritakan suatu kejadian….
Kisah seorang anak yang tengah bermain bersama inang pengasuhnya (baby sitter). Saat jam pulang tiba, si anak masih saja asyik bermain mengisi embernya dengan batu-batu kecil. Supaya lekas ember itu terisi penuh, maka inang pengasuh menolong anak majikannya itu mengisikan batu ke ember hingga penuh. Dengan keyakinan si anak akan merasa senang dibantu. Ternyata yang terjadi justru si anak menangis meraung-raung. Ember yang hampir penuh berisi batu dibalikkannya sehingga tumpah-ruah segala isinya, berserak-serak. Penyebabnya karena si anak hendak mencoba sendiri tenaganya, tidak sekali-kali menghendaki ember yang penuh dibantu oleh pangasuhnya. Ia hanya ingin ia sendiri melakukannya. Ternyata tenaga endogen itu disalah-artikan oleh Inang pengasuh yang memunculkan kemarahan si anak.

Tiap-tiap anak mesti melalui proses tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Pendidik atau orang tua yang bijaksana harus memakai tenaga dari dalam ketika mereka mendidik atau mengajar si anak. Oleh karena tenaga endogen akan menjadi pertolongan besar. Tetapi tidak sedikit pula tenaga bathiniah “endogen” itu dihalangi atau ditolong tumbuhnya seperti kisah di atas.

Energi dari dalam diri anak ini harus diinsyafi oleh tiap-tiap pendidik atau orang tua yang kemudian dipakai mereka untuk menolong dalam mendidik atau mengajar. Memudahkan pekerjaan orangtua dan guru dengan menjamin hasil sesuai dengan keinginan anak. Sebaliknya kesulitan-kesulitan besar akan dirasakan sangat, jika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perkembangan tenaga dari dalam tadi.

Seperti kisah lain seorang bapak yang ingin menolong anaknya waktu anak kecilnya itu hendak naik ke atas kursi. Si bapak yang tidak mengerti lalu mengangkat si anak, diletakkan di atas kursi dengan penuh keyakinan telah berbuat baik terhadap anaknya. Alangkah terkejutnya waktu ia mendengar si anak menangis sekeras-kerasnya sebagai protes atas perbuatan si bapak. Tidak sekali-kali anak kecil belia itu hendak duduk di atas kursi. Ia hanya hendak mencoba tenaganya apakah ia sanggup memanjat ke atas kursi.

Kalau si bapak mengerti akan tenaga batin dari dalam diri anaknya itu, tentulah ia tidak akan menolong menaikkan si anaknya ke kursi. Tugasnya ringan saja, hanyalah menjaga supaya anaknya jangan sampai terjatuh.

Bagi kaum guru pemahaman kisah di atas penting benar. Dari percakapan dengan guru-guru acapkali terdengar keluhan-keluhan yang menunjukkan kesulitan yang dideritanya waktu mengajar seorang anak. Yang menyebabkan kesulitan itu kerap kali terletak dalam tenaga endogen anak yang tidak dihargai sepenuhnya atau dipandang seolah-olah tidak ada oleh guru. Apabila pemberian pelajaran disesuaikan dengan tenaga endogen itu, pasti hasil yang lebih baik akan dicapai oleh guru. (Arah Aktif, Engku M. Syafei, Menteri Pendidikan dan Pengajaran 1947)Engku Syafei sejak 68 tahun lalu sudah berbicara tentang “Passion”.

Passion is a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion, a compelling enthusiasm or desire for something.Mendidik dengan cara memudahkan, memanjakan, sesungguhnya telah melumpuhkan energi dari dalam diri anak.Kita bangga dengan buah pemikiran Ki Hajar Dewantoro sebagai Menteri Pendidikan RI pertama dan Engku Muhammad Syafei sebagai menteri Pendidikan dan Pengajaran berikutnya begitu sangat memahami cara mendidik yang sesungguhnya. Sayang jika kemudian hari, cara mendidik dan mengajar menjadi “hambar”. Kehilangan nilai-nilai pedagogis…Bak cara kerja dispenser yang hanya menuang air ke dalam gelas.

Selamat menjalani Jumuah Barokah

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: