//
you're reading...
Creativity, Kemandirian, Leadership, Pendidikan, Perubahan

Notes on Technology

Jusman Syafii Djamal
Wednesday, January 20, 2016

Kumpulan tulisan saya sedang dikoleksi dan diedit oleh teman fb. Kebetulan ia seorang yg berlatar belakang keahlian sebagai sejarawan.

Saya kenal dia ketika ia mewawancari sy dimasa lalu untuk buat novell cerita tentang gerakan mahasiswa.
Hasilnya sebuah novel peristiwa ketika sy jd aktivis mahasiswa th 77/78. Bukunya berjudul Golak Ganesha.
Karenanya Hurri, saya minta kali ini untuk jadi editor dan sekaligus menyusun ratusan catatan fb saya dalam sebuah alur cerita. Kini buku itu sedang taraf akhir untuk naik cetak. Saya beri judul buku kedua catatan fb ini Notes on Strategy. Buku pertama berjudul Notes on Leadership.

Jika ini selesai sy punya rencana buat buku kumpulan catatan fb yg ketiga judulnya Notes on Technology.
Trilogi buku ini tidak mungkin lahir jika sahabat sahabat fb sy tidak mendorongnya. Inspirasi menulis buku lahir dari saran teman di fb yang kebetulan tidak punya waktu ikuti catatan lepas saya. Dia minta sy kumpulin dan dicetak jadi buku.

Mengapa Notes on Technology. Sebab hingga kini sy amati teknologi masih saja dipandang sebagai produk jadi. Teknologi dianggap dapat diperoleh dari supermarket dunia. Semua sudah tersedia dan diproduksi di Negara lain. Apa pula kita perlu pusingkan. Apa yang diperlukan mudah dibeli. Seperti mau handphone, banyak merk bisa di beli. Yang low End dengan harga dibawah 500 rupiah ada. Mau yang high end diatas 10 juta tersedia. Tinggal beli. Untuk apa punya industri handphone. Begitu juga dengan Bis. Mau pesan ribuan bis, mengapa sukar tinggal tender dan datangkan bis dari Swedia, Jerman ataupun China dan Jepang Korea. Kereta Api juga demikian, kenapa kita masih mempertahankan INKA di Madiun, toh ada industri kereta api Korea, China dan Jepang.

Atas nama Globalisasi, pasar bebas, MEA ,efisiensi, produktivitas, quality cost and delivery tembok untuk industri nasional tumbuh. Bukan untuk terjadi proses evolusi tumbuh berkembang. Tapi involusi mengkerut layu dan mati.Mengapa harus buat sendiri. Kata Made in Indonesia kini terasa asing ditelinga.

Dulu waktu sy masih kecil handuk, sabun, kecap, dan segala jenis produk rumah tangga ada label Made in Indonesia. Tahun 60 an Jembatan Semanggi, Stadion Senayan,Mesjid Istiqlal semua kontruksi dominan Made in Insinyur Indonesia. Tahun 70 an Textile, Sepatu, Baju banyak Made in Indonesia. Tahun 80 an produk elektronika, otomotip dan besi baja pipa gas dan pabrik petrokimia, buatan sendiri dari bumi indonesia. Tahun 90 an Bis, Kereta Api, Kapal dan Pesawat Terbang.

Kini setelah Asian Crisis, kepercayaan kita pada Industri dalam negeri juga runtuh satu demi satu. Kini semua orang bicara tentang perlunya Indonesia belajar menguasai Teknologi dari awal kembali. Back to square one, kata orang. Kita malah sibuk membangun cerita kita perlu belajar dari nol lagi. Semua kurangDulu Insinyur masih sedikit produk Made in Indonesia lumayan banyak. Kini Insinyur bertambah , Made in Indonesia makin berkurang.

Untuk dapat titel insinyur aja kini lebih sulit. Dulu lulus ITB dan ITS langsung disebut Insinyur, Ingineur. Sekarang Sarjana Teknik baru lulus tidak boleh dan tidak diakui gelar insinyur nya oleh Persatuan Insinyur Indonesia.Perlu pengalaman kerja dan testing serta ujian untuk diakui sebagai insinyur. Bahkan lulusan universitas ternama baik dalam negeri dan luar negeri tak boleh disebut insinyur. Yg dinilai pengalaman. Mau lulus MIT, Princeton , Grand Ecole Perancis, Dipl Ing dari Brausweigh atau Delft pun bukan insinyur perdefinisi. Perlu test ulang utk disertfikasi. Yg menguji siapa tdk penting. Yg utama Ada proses berbelit untuk diakui.

Tak heran ada ketakutan Indonesia kekurangan puluhan ribu insinyur. Karenanya kita boleh impor Insinyur. Asal warga negara asing kalau di negaranya disebut insinyur kitapun mengamini. Meski yg dari luar Negeri tak lulus Test Insinyur dari PII. Impor lebih utama dari ekspor.Program pembangunan infrastruktur kini didorong oleh Presiden Jokowi. Sebuah langkah berani.

Pembangunan infrastruktur oleh Presiden diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, efisiensi ekonomi dan juga menunrunkan biaya logistik di Indonesia. Satu kali tepuk banyak tujuan dapat dicaoai. Dengan begitu pembangunan infrastruktur harusnya jadi wahana transformasi keahlian dan pemnguasaan teknologi. Jadi arena untuk membangkitkan keahlian insinyur muda baru tamat ITS, UI, Gajah Mada, ITB dan perguruan tinggi yg punya prodi Fakultas Teknik.

Sayang kini begitu banyak aturan yang dibuat. Tak mudah mereka baru lulus sarjana menjadi tenaga inti. Sebab diperlukan dua tahun pengalaman untuk dapayt diakui keinsinyurannya. Sarjana Teknik tak boleh disebut insinyur. Jadi karenanya semua Sarjana Tekni harus merangkak dari bawah. Seolah hanya menguasai ilmu ketukangan dan bisa dimasukkan dalam arena bersaing dengan lulusan D1, D2 dan D4. Makin modern masyarakat makin berbelit sertifikasi.

Gelar insinyur pun kini dipandang sebagai produk jadi. Hanya yg berpengalaman dan lolos sebagai produk yg diakui. Padahal ketika ir Sutami memimpin proyek pembangunan Jembatan Semanggi dan Bung Karno perintahkan Rooseno, Sutami, Silaban bangun Gelora Bung Karno, Semanggi, Istiqlal yg memimpin dan dominan adalah insinyur muda baru lulus dan tak punya pengalaman.

Tahun 82 ketika Prof BJ Habibie terima sy jadi karyawan Nurtanio, beliau langsung bilang begini : jusman ada dua jalur untuk jadi insinyur proessional. Ketika bertemu pertama kali beliau memeluk saya. Sekarang kamu insinyur muda. Junior Engineer. Murid nya Toy (alm Prof Oetarjo Diran). Alm Ibu Ainun, yang selalu berada disebelah beliau, saya ingat kurang lebih beri komentar : “jusman jadi insinyur mesti rapi jangan pake jeans , kaos dan sepatu sendal kalau kekantor”. Sambil senyum. Sebab ketika iyu hari jumat dan saya dipanggil ketika sedang berjalan mau pulang dari kantor. Jadi karena mau naik motor tak pelak pakaian harus diganti . Ditengah jalan ada panggilan. Pakaian “perang” masih melekat.

Sungguh ingatan dari suatu Rendezvous, pertemuan awal yang membangkitkan semangat. Ada trust dari orang tua pada anak anaknya. Sejak itu saya selalu dikenalkan sebagai anak intelektual beliau. Dengan kata lain, yang ingin saya ketengahkan, adalah proses rekruitment sarjana baru selalu diberi motivasi untuk bangkit menjadi awal munculnya rasa cinta pada profesi. Tidak ada kendala. Sentuhan emosi dan pujian yang memancing “engagement”, keterlibatan hati untuk mengabdi profesi. Saya yang ketika itu baru lulus , tanpa diuji langsung diberi predikat Insinyur muda. Tak perlu menanti dua tiga tahun pengalaman. , Cukup dgn mengetahui sy murid Prof. O Diran yg dikenal baik, sy langsung dicemplungin untuk bekerja di Getafe Madrid, Pabrik Pesawat Terbang.

Tanpa pengalaman disana sy langsung diberi tanggung jawab dalam bidang rekayasa dan rancang bangun. Tupoksi sy cuma satu learning by doing. Duduk ditengah persoalan, terseret dalam gelombang persaingan. Jatuh bangun dalam proses introduksi teknologi, adopsi, difusi dan inovasi. Mastering technology through complexity of problems. Beliau bilang ini jalur pembudayaan.

Yg jalan kedua jalur Pendidikan, menguasai Teknologi melalui sekolah, laboratorium dan research di universitas. S1, S2 dan S3. Dua jalan sama penting dan terhormat u membangun manusia bersumber daya iptek.

Jalur pembudayaan Menguasai teknologi through learning by doing, ikuti teori Akamatsu social scientist Jepang tentang Geese Paradigm. Kumpulan Angsa Terbang. Maju menguasai teknologi secara berjenjang, bertingkat dan berkesinambungan.

Dengan kepercayaan yg sama tahun 1990 beliau nunjuk sy jadi Chief Project Engineer N250.Ketika awal ditunjuk tahun 90 megang jabatan tupoksi Chief project engineer, Sy tak punya pengalaman merancang pesawat terbang dari nol.

Toh Prof Dr Ing BJ Habibie percaya sy punya talenta untuk jadi airplane configurator development, tugas engineering yg sulit itu. Ia percaya pd generasi muda.

Dari pekerjaan insiyur muda yang baru lulus di perguruan tinggi seperti ITS, ITB, MIT , Delft, dan lain sebagainya pastilah memiliki bakat dan talenta untuk diasah dan dididik membangun ketekunan untuk menguasai keahlian. Gelar insinyur dijadikan titik awal membangun Craftmanship dan Managerial skill on managing Technology. Kini hal itu tak mungkin muncul kembali. Banyak tembok yg harus diliwati.Tak heran kita kekurangan insinyur.

Teknologi yg sering dianggap sebagai produk menyebabkan kita ingin ambil jalan pintas. Semua produk teknologi seolah dapat dilahirkan melalui surat perintah. Dengan batas waktu dan nilai harga tertentu untuk dikuasai. Karenanya lebih mudah membeli daripada menguasai. Padahal menguasai Teknologi tak bisa dilakukan dengan sekedar menganggapnya sebagai produk jadi, yang mudah diperoleh di supermarket. Teknology hanya bisa dikuasai dalam suatu tatanan dan rencana yang baik. Dan jika ingin dikuasai maka teknologi harus dipandang dalam perspektip dalam tiga dimensi. Sebagai Systems, Process dan Product.
Dan karenanya Teknologi menjadi bidang keahlian yg bergelut dgn keindahan produk, dan amat menyenangkan untuk ditekuni.

Ada ruang imajinasi, daya creative yg dibangun untuk ciptakan inovasi.Jika kita ingin bangun Bansa yg unggul, please Be Hungry and Foolish in mastering Technology kata Steve Jobs.

Dari pengalaman 20 tahun bekerja di industri pesawat terbang, sy punya keyakinan generasi muda Indonesia memiliki keunggulan dan mampu jadi insinyur yg menguasai Teknologi. Kita memiliki banyak talenta yg tidak pernah dipercaya dan diberi kesempatan.

Kita ribut ketika talenta ini bekerja di luar negeri. Jadi insinyur atau lead engineer di Boeing, Airbus, Microsoft, Facebook dst. Kita malah mengecap mereka tidak loyal dan brain drain. Bangsa lain menghargai kita minta Surat Ijin Bergelar Insinyur.Mengapa semua diam ketika ada yg bilang kurang insinyur puluhan ribu. Dan juga tak percaya pada keahlian manusia bersumber daya iptek Indonesia ?Karena insinyur seperti juga dokter, akuntan dan lawyer profesional biasanya diam dan hanya produk nya yg bicara ?

Begitu kira kira alasan mengapa buku ketiga catatan fb sy akan diberi judul Notes on Technology and Innovation.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: