//
you're reading...
Ekonomi, Kajian, Perubahan, Review

Harga Minyak Turun : Sebuah Catatan

Jusman Syafii Djamal
21 Januari 2016

Ada tulisan menarik dari Fred Fuid dalam blognya berjudul, What Airline Stocks Are Benefiting From Lower Oil Prices? Ditulis pada January 19, 2016 (Read more: http://www.benzinga.com/…/what-airline-stocks-are-benefitin…). Kurang lebih ia bilang begini.

Selama 18 bulan terakhir, harga minyak mentah WTI turun. Dari semula lebih $ 100 per barel menjadi kurang dari $ 30 per barel. Meskipun penurunan harga ini merugikan bisnis kalangan industri dan Negara penghasil minyak bumi, ada beberapa usaha yang mendapatkan keuntungan besar atas turunnya harga minyak.

Minyak merupakan komponen utama plastik, dan plastik digunakan dalam berbagai produk, barang-barang beragam seperti mesin pencuci piring, microwave oven, komputer, DVD, pipa, mainan anak anak , dan mobil. Jadi penurunan harga minyak bumi mengurangi biaya bahan baku produsen plastik, dapat meningkatkan pendapatan mereka dan memungkinkan penghematan biaya . Kemudian produsen produk akhir mendapatkan keuntungan dari biaya lebih rendah bahan baku plastik untuk produk mereka.

Penerbangan juga meneguk keuntungan dari harga bahan bakar yang lebih rendah. Asal saja mereka tidak melakukan lindung nilai atau hedge atas pembelian bahan bakar, yang biasa dilakukan karena bahan bakar selalu berluktuatip harganya dan biasanya bertengger diatas 50 dollar. Bahan bakar jet diproduksi dari minyak, sehingga ketika harga minyak turun, harga bahan bakar jet turun juga. Karena biaya bahan bakar adalah komponen beban terbesar maskapai penerbangan, selain tenaga kerja, penghematan biaya bahan bakar akibat turunnya harga minyak dapat signifikan dan memberikan pendapatan lebih besar untuk maskapai penerbangan.

Pengalaman dimasa lalu selama lima tahun terakhir yang memperlihatkan harga minyak berfluktuatip dan bertengger diatas 50 dollar menyebabkan maskapai penerbangan melakukan praktek lindung nilai. Agar tidak terjadi kerugian yang besar. Dalam istilah sederhana, praktek lindung nilai dalam maskapai penerbangan dapat mengunci harga pembelian bahan bakar di masa depan . Jadi lindung nilai ini membentengi maskapai dari kerugian.

Jika harga bahan bakar naik, maskapai dapat membeli bahan bakar pada harga lebih rendah sebelumnya telah terkunci. Tapi jika harga BBM turun setelah lindung nilai, maka hal sebaliknya terjadi.Ada beberapa maskapai penerbangan yang keputusan yang tepat, berkenan dengan lindung nilai ini.

American Airlines dan US Airways bergabung beberapa tahun yang lalu untuk menjadi American Airlines Group Inc. Pada saat itu, manajemen memutuskan untuk mengikuti jejak dari US Airways dan menghindari praktek hedging atau lindung nilai . Ini ternyata menjadi keputusan yang luar biasa. Sebab begitu harga minyak telah menurun , maka American Airline mengambil keuntungan dari harga jetfuel yang rendah.

Untuk kuartal laporan terakhir, pendapatan meroket hampir 80%. Pertumbuhan laba telah memungkinkan maskapai penerbangan memperoleh efisiensi lebih banyak pada biaya bahan bakar jet. Dan dapat digunakan untuk membenahi struktur usia armada.

Maskapai lain memiliki kiat terobosan yang lebih menarik pada penghematan bahan bakar. Delta Air Lines (DAL) beberapa tahun lalu membeli kilang pengolah avtur sendiri. Langkah ini telah menyelamatkan sejumlah besar uang maskapai selama beberapa tahun terakhir.

Apa catatan yang dapat dipetik dari penjelasan diatas ?

Kali ini Pemerintah telah lakukan langkah pembangunan infrastruktur dipelbagai pulau. Dalam dunia bisnis ini disebut pendekatan organik. Melalui proses pembangunan infrastruktur ada sasaran mempermudah konektivitas atau keterhubungan antar wilayah. Efisiensi dan produktivitas akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi muncul.

Langkah pertumbuhan ekonomi secara organik ini hendaknya diikuti oleh pendekatan anorganik. Yang tidak berfokus pada pembangunan fisik semata. Melainkan menggunakan pendekatan aliansi, merger dan akuisisi untuk mempercepat proses pelebaran unit pembangkit revenue atau prime mover peningkat efisiensi dan produktivitas asset yang dimiliki.

Dengan begitu langkah sistimatis berkesinambungan untuk secara bertahap mengurangi beban biaya operasi wahana transportasi, memiliki dampak multiplier yang besar, Melalui sinergi dan pendekatan yang tepat Pertamina pastilah mampu mengambil inisiatip untuk menurunkan biaya operasi wahana transportasi di Indonesia.

Saya membayangkan jika Pertamina bekerjasama dengan INACA atau assosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia mengakuisisi kilang pengolah avtur sendiri di Singapura, dimasa depan bukan tidak mungkin maskapai penerbangan domestic di Indonesia dapat ikuti jejak Delta Airline yang terus menerus mememiliki potensi penurunan biaya bahan bakar.

Maklum kebutuhan maskapai penerbangan di Indonesia dalam satu tahun avturnya melebihi angka 1,5 milyar liter atau 1,5 juta kilo liter. Dengan kata lain harga minyak yang turun hendaknya diantisipasi oleh Pertamina untuk melakukan proses restrukturisasi tata kelola penyediaan bahan bakar transportasi di Indonesia.

Orang jaman dulu punya pepatah Sebelum Hujan, Sediakan Payung. Mumpung harga minyak turun ada baiknya digunakan untuk memperkuat cadangan minyak bumi dan memperbesar lumbung pasokan serta memperkuat struktur industri pengolah bahan bakar di Indonesia.

Sebab bukan tidak mungkin konsolidasi Negara Penghasil Minyak untuk melawan tekanan harga minyak turun yang juga ikut menggerus pertumbuhan ekonomi mereka, akan menyebabkan dimasa depan harga minyak akan bangkit lagi ke level diatas 40 dollar.

Sinyal China yang telah menentukan langkah membeli bahan bakar diharga 40 dollar per barrel, merupakan tanda bahwa harga minyak memerlukan keseimbangan baru. Agar semua baik konsumen maupun produsen sama sama memiliki margin keuntungan untuk tumbuh.

Pada akhirnya seperti kata Adam Smith, market forces memiliki cara tersembunyi untuk menemukan keseimbangannya. Dan harga adalah indikator suatu keseimbangan antara demand dan supply yang didorong oleh interaksi market forces.

Ada pepatah bisnis lain yang juga perlu dipertimbangkan dimasa sulit. Yakni ” Mata jangan lepas dari bola”. Kecuali Messi dan Ronaldo dua bintang sepak bola yang mata kakinya jauh lebih tajam dari bola matanya. Maksudnya meski harga bahan bakar terus turun, dan nilai tukar dollar terhadap rupiah tetap berfluktuatip sehingga menekan keuntungan yang diperoleh dari penurunan harga minyak. Tetap saja bola yang sedang dimainkan sekarang ing salah satunya adalah tekad untuk menurunkan biaya logistik disemua kawasan ekonomi Indonesia, dan sekaligus mengintegrasikan wilayah pertumbuhan ekonomi. Keterhubungan atau konektivitas antar wilayah melalui pelbagai inisiatip pembangunan Infrastruktur yang diambil Presiden Jokowi.

Biaya Logistik Indonesia dimasa depan dapat diturunkan. Baik melalui pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, jalur kereta api, kapal dan bandara, Akan tetapi langkah jangka panjang ini dapat juga diikuti dengan pembangunan kilang minyak sendiri maupun juga memperkokoh struktur industri suku cadang komponen otomotip dan kenderaan bermotor roda dua lainnya. Persoalannya apakah struktur permodalan kita cukup kuat untuk memainkan kedua jurus itu dalam satu waktu bersamaan. Wallahu alam.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: